
Sudah tiga hari, mentari tidak lagi menampakkan sinarnya. Ia seperti hilang ditutupi oleh kabut yang sangat pekat. Begitulah kira-kira perasaan aku saat ini, yang sungguh tidak tau salahku apa. Beberapa orang yang aku sayang, kini telah pergi menjauhiku. Mereka adalah Adit, Dian, Devi, dan Vivi.
Ketika waktu istirahat tiba…
Aku melihat wajah Devi yang seperti merah barapi-api. Ia kayaknya sedang memohon kepada Dian untuk ditemani ke toilet.
“ Yan… temenin aku ke toilet dong” ucap Devi yang kebelet.
“ Iya, tunggu sebentar ya, aku mau beresin buku aku dulu” ucap Dian santai.
“ Cepat dong Yan… aku udah gak tahan nih” ucap Devi yang terlihat berkeringat dingin.
“ Tunggu bentar dong Dev!! buku aku masih tercecer nih… nanti bisa hilang loh” ucap Dian yang agak emosi dengan Devi.
“ Tapi aku beneran gak kuat lagi nahannya Yan, ayo temenin dong!!!” ucap Devi yang begitu memohon kepada Dian.
“ Kamu pergi sendiri aja kalau gitu, aku masih belum selesai beres-beresnya nih” ucap Dian yang seakan tidak peduli dengan Devi yang sudah lesu.
Melihat ekspresi Devi yang cukup menyedihkan itu, aku sungguh tidak sanggup. Devi benar-benar butuh bantuan, dan ia sepertinya tidak berani pergi sendirian ke toilet. Aku mencoba menghampiri Devi, kemudian aku menawarkan diri untuk menemaninya ke toilet.
“ Biar aku yang temenin ke toilet ya Dev!!” ucapku lembut.
__ADS_1
“ Gak usah, aku mau ditemenin sama Dian aja… kamu gak usah repot-repot” ucap Devi yang langsung membuat hatiku sedih.
“ Dian kayaknya lagi sibuk tuh, biar aku aja yang temenin ya…??” ucapku yang terus menawarkan diri.
“ Aku bilang gak usah ya gak usah… kamu gak dengar tadi aku bilang gitu?” ucap Devi dengan nada makin tinggi sambil wajahnya yang terus menahan mau ke toilet.
“ Kamu gak usah baikin kami kayak gitu deh Fel, kami udah gak mau lagi kamu tipu” ucap Dian yang selesai membereskan buku-bukunya.
“ Kalian sekarang kok jadi musuhin aku kayak gini, emangnya aku salah apa sama kalian hah?” tanyaku yang benar-benar tidak terima dengan semua ini.
Tanpa menjawab pertanyaanku sepatah kata pun, Dian dan Devi langsung berlalu meninggalkan aku. Mungkin karena Devi benar-benar sudah tidak tahan lagi mau ke toilet. Walaupun sebenarnya hatiku sungguh sedih sekali atas semua ucapan dan perlakuan teman-temanku itu, tapi aku hanya bisa bersabar dan berharap semoga mereka bisa kembali seperti dulu.
***************************
Setelah selesai berdoa, aku mencoba melihat ke arah teman-temanku yaitu Dian dan Devi. Aku selalu berharap agar mereka membalas tatapanku itu dengan semyuman. Tetapi, ternyata harapanku sia-sia. Jangankan senyuman yang aku dapatkan, mereka saja seperti enggan untuk berbalik menatapku. Mereka sebenarnya tau kalau aku sedang melihat ke arah mereka, namun mereka seperti seolah bersikap tidak tau.
Ooh iya… hari ini, Vivi yang imut tidak masuk loh readers!!. Kami mendapat kabar bahwa ia lagi demam. Aku ingin sekali bisa menengok Vivi bersama kedua temanku itu. Semoga niat baik dariku ini bisa dikabulkan oleh mereka dan membuat kami jadi akur lagi… semoga ya!!
“ Kita pergi tengok Vivi ke rumahnya yuk!!” ajakku sambil tersenyum penuh semangat.
“ Kalau mau pergi, pergi aja sendiri… aku masih banyak urusan!!” ucap Dian ketus.
__ADS_1
“ Kamu gimana Dev… mau gak kita pergi tengok Vivi?” tanyaku yang berharap kepada Devi.
“ Aku gak mau ah pergi sama kamu, nanti dipertengahan jalan… kamu tinggalin aku” ucap Devi yang seperti tidak suka denganku.
Dian dan Devi langsung pergi meninggalkan aku, setelah sempat mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Aku sungguh tidak percaya dengan sikap teman-temanku itu. Semuanya terjadi, hanya karena aku belakangan ini suka pulang cepat. Ini benar-benar alasan yang tidak masuk akal bagiku.
Aku sepertinya hanyut dalam kesedihan. Tidak ada lagi orang-orang yang bersedia melengkapi hidupku yang sunyi ini. Baru sebulan aku merasakan kebahagiaan itu. Sekarang, aku harus bersedia menelan pil pahit yang Tuhan berikan kepadaku. Pil pahit itu bukannya obat, tetapi racun yang dapat mematikan.
**************************
Aku kembali berjalan menyusuri tempat-tempat bisu yang pernah mempertemukan aku dengan Adit. Yups!!! di tempat aku berhenti inilah, aku dulu dikejutkan oleh yang namanya Adit, hingga hampir membuat detak jantungku berhenti sekejap. Aku memutuskan untuk menunggu kehadirannya lagi, dan semoga makhluk manis itu menampakkan wujudnya ke permukaan.
Kesedihanku makin mendalam. Tidak ada lagi harapanku untuk bisa kembali dekat dengan orang-orang yang aku sayang itu. Semua benar-benar telah pergi entah kemana. Hanya kerinduan yang saat ini menjelma di ingatanku. Kerinduan akan mentari untuk bisa hadir lagi membawa senyuman, dan menghapus kabut-kabut yang telah lama menutupi birunya langit.
Jujur,,, author sekarang benar-benar sedih banget bila mengingatnya. Mungkin hanya air mata yang akan bisa menenangkan hati yang galau ini readers!!
Menangis bersama yuk!!!😢😢
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Kehadiran readers untuk membaca tulisan-tulisan ini sangat author tunggu. Author juga berharap untuk jangan lupa vote, like, dan koment nya ya dan jadikan favorit…!!🥰🥰🥰🙏🙏🙏
__ADS_1
Jejak kalian sangat berarti untuk author… Trim’s!!🙏🙏