
Tidak terasa bahwa seminggu sudah aku bergelut di kelas baru ini. Sepertinya, kelas ini sudah mulai dekat denganku. Itu terlihat dari cara teman-temanku memperlakukanku. Tidak ada lagi kata-kata yang dulu pernah menyakiti hatiku. Mereka yang dulu memusuhiku, sekarang Alhamdulillah sudah tenang. Mungkin karena mereka kehilangan Vivi kali ya, hehe. Jadi, anggotanya berkurang.
Dian dan Devi memang tidak lagi memusuhiku, tapi mereka masih belum mau kembali berteman denganku seperti awal aku masuk SMP dulu. Mungkin mereka malu karena sikap mereka terhadapku dulu, atau mereka masih ada rasa tidak suka denganku. Entahlah…
“ Selamat pagi anak-anak!! silahkan kumpulkan PR matematika yang ibuk kasih minggu lalu” ucap buk Renita tegas.
“ Baik buk” ucap kami sambil berjalan ke depan untuk menyerahkan buku PR kami.
“ Oke,,, sekarang kita masuk materi baru, silahkan buka buku paketnya halaman 7. Ibu akan menerangkan terlebih dahulu, setelah itu tolong dicatat ya anak-anak semua!!” ucap buk Renita dengan wajah yang begitu serius.
“ Baik buk” ucap kami serentak lagi.
Buk Renita langsung berjalan ke papan tulis sambil menuliskan judul materi yang akan dipelajari hari ini. Kemudian dangan lugasnya, buk Renita mulai menerangkan tentang masteri tersebut. Kami di belakang antusias memperhatikan penjelasan dari buk Renita sambil mencatat poin-poin yang telah dituliskan di papan tulis.
Setelah buk Renita selesai menerangkan, beliau memberi kami latihan yang harus dikerjakan segera. Dengan semangat pagi yang masih menggebu-gebu, aku sungguh senang mengerjakan latihan matematika itu. Kalau boleh jujur sih, aku lebih suka sama pelajaran matematika dibandingkan pelajaran lainnya. Tolong dipahami jelas-jelas ya readers… bukannya aku gak suka sama pelajaran lain, hanya saja matematika yang paling aku suka.
“ Felly… kamu udah selesai belum?” tanya Rindu berbisik kepadaku.
“ Ada dua lagi yang belum Rin, emangnya kenapa?” ucapku yang terus menulis.
“ Ajari aku yang nomor 6 dong!! aku gak ngerti nih…” ucap Rindu memohon kepadaku.
“ Ooh oke, caranya begini….” ucapku sambil menjelaskan jalan soal yang nomor 6.
“ Makasih ya Fel, aku udah ngerti sekarang!!” ucap Rindu dengan penuh semangat.
__ADS_1
“ Iya sama-sama Rindu… syukurlah kalau kamu udah ngerti” ucapku tersenyum sambil melanjutkan latihanku yang sempat terhenti.
Bel tanda pelajaran pertama sudah berakhir pun berbunyi. Kami segera mengumpulkan latihan sebanyak 10 soal tadi ke depan. Buk Renita langsung mengakhiri pelajarannya, kemudian permisi keluar. Buk Renita juga meminta kepada salah seorang dari kami untuk membawa buku latihan matematika ke ruang guru.
****************************
Setelah setengah hari aku di sekolah, sekarang tibalah saatnya untuk mengistirahatkan badan dan otak di rumah. Kami segera bersiap-siap untu pulang ke rumah masing-masing. Seperti biasa, inilah saat-saat yang aku nantikan. Saat dimana aku bisa jalan pulang bersama Adit lagi.
Karena hubungan pertemanan antara aku dan Rindu semakin dekat, jadi kali ini aku akan pamit dulu kepada Rindu sebelum aku pulang. Sebelumnya aku memang tidak pernah untuk pamit kepada Rindu jika mau pulang, dan Rindupun juga seperti itu.
“ Kamu nanti pulangnya dengan apa Rin?” tanyaku yang spontan mengejutkan Rindu.
“ Ooh,,, biasanya sih aku pulangnya dengan angkot, tapi hari ini kayaknya aku dijemput deh sama papaku” ucap Rindu sambil berjalan di sampingku.
“ Cieee asyik dong dijemput…” ucapku sambil tersenyum melihat Rindu yang lagi senang.
“ Mungkin hari ini papa kamu gak sibuk-sibuk amat, jadi… ada waktu luang buat jemput kamu” ucapku yang sok bijak di depan Rindu.
“ Iya juga sih… oh iya kamu pulangnya sama apa?” ucap Rindu yang juga ingin tau.
“ Hmmm… kalau aku pulangnya sama kaki Rin, hehe… rumahku kan gak terlalu jauh dari sekolah. Yaaa paling sekitar 2 kiloan lah” ucapku menjelaskan.
“ Lumayan capek juga tuh kalau jalan” ucap Rindu yang seperti membayangkan dirinya jalan sejauh itu.
“ Gak kok, aku kan jalannya santai aja. Lagian aku gak sendirian kok jalannya, ada teman aku juga gitu” ucapku menjelaskan agar Rindu tidak mencemaskanku.
__ADS_1
“ Ooh gitu, teman kamu cewek apa cowok?” tanya Rindu yang kelihatan ingin tau sekali.
“ Hmmm cowok Rin, teman aku itu tetangga aku dan ia bukan murid sini” ucapku sambil tersenyum, hingga membuat Rindu curiga dengan kedekatan kami.
“ Cieee… kamu suka ya sama teman cowok kamu itu? ayo ngaku…” ucap Rindu menebak dengan begitu tepat.
“ Aaaah apaan sih kamu!! udah dulu ya, aku mau pulang dulu” ucapku yang tersipu malu dan langsung kabur menghindari pertanyaan Rindu.
Sepertinya pertanyaan itu akan jadi boomerang bagiku, karena yang aku lihat bahwa Rindu adalah anak yang rasa ingin tahunya begitu tinggi. Siap-siap saja kalau besok aku bakalan diintrogasi lagi mengenai pertanyaan hari ini yang belum terjawab. Semoga aja ia lupa ya readers!!.
Aku terus melanjutkan langkahku menuju arah rumahku sambil berharap bisa bertemu dengan Adit lagi di persimpangan jalan menuju komplek sebelum komplek rumahku. Aku berjalan sambil bernyanyi riang dan membayangkan wajah Adit yang selalu terlintas di fikiranku.
Sesampainya aku dipersimpangan jalan komplek, langkahku terhenti sejenak dan aku beristirahat dulu di bawah pohon cemara yang ada disini sambil menunggu kedatangan Adit. Setelah hampir 10 menit aku menunggu Adit, ternyata akhirnya ia datang dan berjalan ke arahku. Kali ini aku ingin mengejutkan Adit seperti yang pernah ia lakukan terhadapku.
Ketika aku mulai mengambil aba-aba untu mengejutkan Adit, ternyata ada seorang cewek yang berjalan menghampiri Adit. Sepertinya cewek itu tinggal di komplek ini, dan aku melihat kalau Adit dan ia begitu akrab sampai-sampai berjalan sambil pegangan tangan. Pemandangan yang aku lihat itu sontak membuat hatiku sungguh sakit. Akhirnya aku memutuskan untuk berlari pulang dengan perasaan yang begitu hancur.
Aku masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam. Aku juga menangis tersedu-sedu, hingga membuat semua orang di rumahku menjadi terkejut. Semuanya langsung menanyakan tentang penyebab aku menangis, tapi aku hanya diam dan tidak mau berbicara sedikit pun.
Ibu dan adik-adikku sungguh bingung dengan sikapku hari ini yang begitu lain dari biasanya. Belum pernah sebelumnya aku pulang sambil menangis seperti ini. Ibuku hanya bisa membiarkan aku untuk tenang dulu. Kalau aku sudah tenang, mungkin baru bisa aku ditanya sangkaan ibuku.
Pemandangan yang aku lihat tadi benar-benar menyakitkan. Adit dan cewek itu terlihat begitu dekat dan mesra sekali. Aku saja yang sudah lama dekat dengan Adit, belum pernah tanganku dipegang saat jalan dengannya. Tapi cewek itu… kenapa Adit sungguh senang memegang tangannya ya?? apakah cewek itu yang disukai oleh Adit?? lalu apa maksud perlakuannya terhadapku selama ini??? Aaaaaah…. Kepalaku mulai sakit…
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sungguh jahat Adit ternyata ya readers?? sungguh tidak disangka sama sekali, ia telah mempermainkan perasaan Felly hingga membuat Felly menangis. Bagaimana kelanjutannya… apakah Adit akan menjelaskan ini semua atau ia akan bersikap pura-pura tidak tau??
__ADS_1
Ikuti terus kisahnya ya readers… dan jangan lupa tinggalkan jejak!!🥰🥰🥰👍👍