Alunan Melodi Romantikaku

Alunan Melodi Romantikaku
Bab 18 ~ Pendekatan (PDKT) part 2


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 2 siang, itu artinya bel pulang berupa suara jam pun segera berbunyi. Kami juga langsung serentak membereskan semua alat tulis yang sempat menumpuk memenuhi meja dari tadi pagi.


Setelah semuanya beres, kemudian buk guru memberi aba-aba untuk mulai berdoa sebelum kami meninggalkan ruang kelas pada hari ini. Namun, jangan khawatir ya kelas, besok kami akan kembali kesini dan keadaan itu akan selalu berlangsung sampai kami dinyatakan naik ke level selanjutnya.


Aku sungguh merasa letih sekali hari ini, dan ingin segera sampai di rumah kemudian langsung bertemu dengan sang kasur serta bantal yang selalu siap menyambut kedatanganku. Dan setelah siap berdoa, akhirnya aku bisa segera melangkahkan kakiku menuju rumah. Ketika aku baru mau keluar dari kelas, ternyata ada ketiga temanku yaitu Devi, Dian, dan Vivi yang berlari mengejarku.


“ Kamu kok kayak tergesa-gesa aja pulangnya Fel?” tanya Devi yang agak sedikit ngos-ngosan.


“ Iya nih, gak biasanya kamu kayak gini Fel,,, biasanya kan kamu belum mau pulang cepat, dan pasti selalu membujuk kami untuk belum pulang juga” ucap Dian penasaran.


“ Kamu gak sakit kan Fel?? soalnya kamu dari pagi tadi kayak kurang semangat gitu…” ucap Vivi yang spontan memegangi keningku dan tidak mau ketinggalan untuk perhatian denganku.


“ Haha… udah nanyanya kakak-kakak aku yang cantik dan imut…?” ucapku balik bertanya dan begitu senang dengan perhatian mereka.


“ Loh, kok kamu malah ketawa sih Fel? emang ada yang lucu apa??” tanya Dian yang sungguh heran dengan sikapku.


“ Gak ada yang lucu… cuma aku lagi senang aja gitu” ucapku tersenyum lebar.


“ Kok kamu bisa senang gitu, emangnya ada apa Fel?” tanya Devi yang ikut-ikutan.


“ Aku senang, karena hari ini aku baru aja dapat durian runtuh” ucapku menjelaskan dengan begitu senangnya.


“ Dapat durian runtuh kok malah senang Fel…? harusnya kamu nangis lah, soalnya kan pasti sakit banget kalau ketiban durian yang mau runtuh” ucap Vivi dangan begitu polosnya hingga membuat kami cekikikan menahan tawa.


“ Ampun deh Vi…” ucap Dian yang langsung menutup mukanya dengan telapak tangan.


“ Kok sekarang malah minta ampun pula, emangnya kamu salah apa Yan?” ucap Vivi yang semakin merasa kayak anak kecil yang tak berdosa.


“ Vivi… maksudnya Felly tuh bukan ketiban durian runtuh yang sebenarnya. Tetapi, itu merupakan istilah yang biasa digunakan oleh orang-orang apabila ia mendapatkan sebuah kesenangan… paham???” ucap Dian menjelaskan dengan begitu sabarnya.


“ Ooh gituuu… terus kamu tadi kenapa bilang ampun??” tanya Vivi yang masih belum mengerti semuanya dan begitu lemot.


“ Gak apa-apa kok Vi, Dian tadi cuma bercanda aja… gak usah terlalu di dengerin ya” ucap Devi menenangkan Vivi.


“ Hmmm, Iya deh,,,” ucap Vivi yang terdengar lesu.


“ Udah dulu ya semuanya, aku mau permisi pulang dulu” ucapku kembali melangkahkan kakiku.


“ Ya udah, ayok kita pulang semuanya” ucap Dian dengan begitu semangat.


Kami pun segera meninggalkan tempat kami berbincang itu, dan pulang ke rumah masing-masing. Mungkin diantara mereka, aku yang akan cepat sampai di rumah karena jarak sekolah dengan rumahku yang tidak begitu jauh.

__ADS_1


***********************


“ Lalalalalalalalalalala… yeyeyeyeyeyeyeyeyeye”


Aku berjalan menyusuri alur yang sesuai menuju rumahku. Aku terus berjalan sambil bernyanyi riang, agar perjalananku tidak terasa membosankan. Nyanyian aku tiba-tiba terhenti ketika ada sosok yang mengejutkanku, dan ternyata sosok itu adalah sosok laki-laki yang rasanya aku kenal. Siapakah dia????


Treng…treng…treng….


Nungguin ya???? Hehehe…


“ Hai Felly…!!” sapa sosok laki-laki itu dengan mengeluarkan senyum termanisnya..


“ Eh,,, hai juga… kamu bikin aku kaget aja deh” ucapku yang tersipu malu ketika melihat ke arah sumber suara.


“ Sorry… sorry.. kalau aku udah ngagetin kamu. Kamu gak sampai jantungan kan?” ucap sosok laki-laki itu lagi.


“ Gak lah, masa iya bisa sampai jantungan… oh iya, kamu kok bisa tau nama aku?” ucapku heran.


“ Tau dong, kan aku udah kenal sama ibu kamu… yaaa… aku tanya lah sama ibu kamu” ucap sosok laki-laki itu yang ternyata adalah Adit, dan merupakan tetangga baruku.


Ketika aku mengetahui bahwa ternyata yang membuat aku kaget itu adalah Adit, sikapku pun langsung berubah drastis. Aku benar-benar kaget setengah mati, karena sosok laki-laki yang sebelumnya hanya bisa aku pandangi dari jauh tidak taunya sekarang ia berada tepat di hadapanku.


“ Kamu pulangnya juga jam segini ya?” tanyaku sambil berusaha menutupi hatiku yang semakin bergejolak.


“ Iya sih, emangnya kenapa?” tanyaku dengan pipi yang kayaknya sudah kelihatan agak memerah.


“ Gak apa-apa, aku cuma senang aja karena itu berarti… kita bakalan bisa ketemu terus dong kalau pulang” ucap Adit yang spontan membuat jantungku semakin berdetak tidak karuan.


“ Hmmm… gak juga tuh, bisa jadi aja kan kamu udah pulang duluan atau aku nya yang udah pulang duluan” ucapku yang menunduk karena tidak kuat menatap mata Adit.


“ Aku yakin dan aku ramal, kita pasti akan terus bertemu di tempat ini” ucap Adit yang begitu yakin.


“ Kok bisa kamu lewat sini pulangnya? Bukannya sekolah kamu jauh kan, dan kamu pasti naik angkot tadi pulangnya?? tanyaku bertubi-tubi agar Adit berhenti membuat ramalan konyol seperti itu.


“ Emang benar sih sekolahku agak jauh dari sini, dan aku juga naik angkot pulangnya. Tapi, angkot tadi berhenti di ujung jalan sana makanya aku jalan kaki supaya bisa sampai di rumah” ucap Adit menjelaskan dan mampu membuatku begitu serius mendengarkannya.


“ Oooh gitu… bagus deh!!” ucapku spontan dan langsung tertunduk malu hingga membuat Adit terkejut kemudian tersenyum menatapku.


“ Bagus kenapa??” tanya Adit dengan sikapnya yang pura-pura tidak tau.


“ Eh… udah lupain aja, aku asal ngomong aja tadi” ucapku yang semakin malu ditatap oleh Adit seperti itu.

__ADS_1


“ Aku tau maksud kamu kok, kamu pasti senang kan bisa pulang bareng aku?” ucap Adit dengan begitu percaya diri nya.


“ Ah… apaan sih kamu, gak kok… siapa bilang aku senang, aku gak senang tuh” ucapku yang berusaha mencari beribu alasan.


“ Udah deh, gak usah bohong… aku tau kok kamu pasti senang kan bisa aku temenin pulang?” ucap Adit yang begitu yakin dengan tebakannya.


“ Huffft!! Aku gak tau” ucapku yang langsung berubah cuek dengan sikap Adit yang begitu PD.


“ Kok gak tau? tau ajalah…ya…ya?? lagian aku juga senang kok bisa jalan pula bareng kamu Felly Aprillia” ucap Adit yang mampu membuat jantungku langsung berhenti berdetak ketika ia menyebut nama lengkapku dengan sempurna.


“ Kok kamu bisa tau juga nama lengkapku ha?? padahal kan aku gak pernah ngomong sama kamu..” ucapku dengan nada agak tinggi hingga membuat Adit merasa terhakimi.


“ Tau lah, masa gitu aja aku gak tau” ucap Adit sambil memainkan alisnya sebelah dan tidak henti-hentinya menatapku.


“ Aku serius nih kamu tau dari mana?” tanyaku yang terus berjalan bersama Adit di sampingku.


“ Itu gak penting, aku tau darimana… yang terpenting sekarang tuh tentang kita” ucap Adit yang berusaha membuat hatiku meleleh.


“ Maksudnya tentang kita???” tanyaku yang benar-benar tidak tau arah pembicaraan ini.


“ Hehe terserah kamu mau maksudnya kayak gimana… pokoknya tentang kita lah” ucap Adit yang sungguh berani mengatakan itu.


“ Maksud kamu tentang kita yang bisa berteman kan?” ucapku yang berharap bukan seperti itu maksudnya.


“ Yaaa…begitulah kalau kamu maunya seperti itu” ucap Adit ketika kami sudah sampai di halaman rumahku.


“ Udah sampai nih Dit… a…ku mau masuk dulu ya” ucapku yang tiba-tiba gugup karena Adit kembali memberikan senyum termanisnya.


“ Ooh iya, gak kerasa ya? udah sampai aja,,, ya udah kamu masuk aja gih. Aku juga mau ke rumahku” ucap Adit langsung melihat ke rumahnya.


“ Oke… aku masuk dulu, makasih udah temenin aku ngobrol tadi” ucapku yang sungguh tidak begitu sadar kalau pipiku sudah makin memerah.


“ Iya sama-sama,,, besok-besok kita pulang bareng lagi ya!!” ucap Adit yang terlihat begitu berharap.


“ Iya semoga aja ya…” ucapku yang langsung berlari masuk ke dalam rumah.


Lambaian tangan Adit ternyata sedikit telat, karena aku sudah keburu masuk ke rumah duluan. Meski aku sudah masuk ke dalam rumah, tapi sebenarnya aku masih memperhatikan Adit yang masih berdiri di halaman rumahku itu. Aku seperti merasakan bahwa yang terjadi tadi adalah sebuah mimpi indah bagiku, dan mungkin aku belum mau bangun dari mimpiku itu.


~*********~~


Salam semangat buat para reader yang selalu setia mengikuti kisah ini…💪👍

__ADS_1


Author berharap moga selalu vote, like dan koment!!! Trim’s🥰😊


__ADS_2