
Selesai juga pelajaran yang berlangsung hari ini. Aku kembali mendapatkan kejutan yang luar biasa yang terjadi hari ini. Mulai dari dapat bangku di belakang, kemudian aku dapat teman baru lagi dan yang tidak kalah terkejutnya yaitu aku kembali dipertemukan dengan mereka yang pernah membuat aku terluka.
Satu lagi kejutan yang tadi aku saksikan adalah mereka berdua yang tidak lain dan tidak bukan adalah Dian serta Devi, yang tiba-tiba tersenyum kepadaku. Senyuman mereka bukan membuat aku senang, tapi malahan aku menjadi penuh curiga dengan maksud dari sikap mereka yang belum aku ketahui itu.
Aku sempat melihat ke arah mereka lagi, dan mereka pun langsung memberikan senyuman yang sungguh memiliki banyak makna tersirat untukku. Semua urusan berkemas dan bersiap-siap untuk pulangnya selesai, berdoanya pun juga sudah selesai. Kemudian aku segera mengambil langkah maju untuk pulang, tanpa mengeluarkan sepatah katapun kepada teman sebangkuku itu.
*****************************
Kini aku fokus melihat ke depan, terus berjalan dengan santai sambil berdoa moga aku bisa berjumpa lagi dengan Adit. Aku selalu menantikan kehadirannya setiap saat. Meskipun ia sering main ke rumahku sore hari, namun aku tetap saja ingin melihatnya sepulang sekolah. Aku ingin melihat wajahnya yang begitu letih setelah seharian bertarung dengan mata pelajaran yang sering aku sebut sebagai mata-mata.
Pucuk dicinta, wulampun tiba. Sosok yang selalu aku nantikan itu akhirnya benar-benar menampakkan pesonanya. Ia sepertinya ingin mengejutkanku dari belakang, tapi maaf ya!! aku sudah tau lebih dulu. Jadi… gagal deh!! hehe…
“ Udah… udah… aku udah tau kok, kamu pasti mau mengejutkan aku kan?” ucapku sambil berhenti dan berpura-pura tidak melihat ke belakang.
“ Loh,,, kok kamu bisa tau? padahal kan aku jalannya udah ngendap-ngendap kayak maling” ucap Adit yang kecewa karena gagal membuatku terkejut.
“ Yaaa aku pasti taulah, aku kan punya indera keenam” ucapku yang sok serius, hingga membuat Adit hampir percaya.
“ Kamu serius Fel? berarti kamu pasti tau semuanya dong tentang perasaanku” ucap Adit yang hampir keceplosan, kemudian segera menutup mulutnya dengan tangan.
“ Hah, maksud kamu…?” tanyaku yang tidak mengerti dengan ucapan Adit. Apakah yang ia maksud itu tentang perasaannya kepadaku atau gimana.
“ Hmmm, gak jadi… aku tadi asal ngomong aja kok” ucap Adit yang terlihat begitu malu.
“ Ooh gitu ya? ya udahlah kalau gitu” ucapku yang sebenarnya masih penasaran tapi gimana lagi kalau Adit tidak mau menjelaskannya.
“ Iya Fel, lupain aja. Ooh iya, tadi tu benar kalau kamu punya indera keenam?” tanya Adit yang sungguh penasaran dengan ucapanku tadi.
“ Kasih tau gak ya???” ucapku sambil tersenyum menatap Adit.
“ Ayolah kasih tau Fel… aku penasaran nih” ucap Adit dengan nada merengek kepadaku.
“ Hahaha kamu lucu deh… serius banget kayaknya tanggapin omongan aku tadi” ucapku sambil ketawa cekikikan.
“ Jadi…maksudnya… omongan kamu tadi gak benar ya?” ucap Adit yang meminta kejelasan tentang ini semua.
“ Ya enggaklah, aku mana ada indera keenam… kalau panca indera sih ada” ucapku sambil menggeleng untuk meyakinkan Adit.
“ Dasar kamu ya, udah bikin aku takut aja!!” ucap Adit dengan perasaan begitu lega.
“ Loh, kok kamu takut? kan aku gak apa-apain kamu” ucapku sedikit heran dengan perkataan Adit.
“ Hmmm maksud aku, aku takut aja gitu kalau kamu sampai tau tentang isi hatiku” ucap Adit yang menunjukkan rasa takutnya.
__ADS_1
“ Aku makin gak ngerti maksud kamu Dit… emangnya ada apa dengan isi hati kamu?” ucapku yang makin heran dan berharap agar Adit mengatakan bahwa ia suka sama aku. Aaaaah itu gak mungkin!!.
“ Gak ada apa-apa kok, aku takut aja kalau kamu sampai tau sama seseorang yang aku suka” ucap Adit menunduk malu.
“ Ooh ya… emang siapa orangnya yang kamu suka itu?” tanyaku yang sungguh penasaran dengan jawaban Adit.
“ Hmmm siapa ya?? kasih tau gak ya??” ucap Adit tersenyum sambil agak berlari meninggalkanku.
“ Hei!! kasih tau lah…” ucapku sambil berlari mengejar Adit.
Karena lari Adit yang makin lama semakin kencang, ternyata aku tidak berhasil mengejarnya. Ia sudah menghilang dari penglihatanku dengan sekejap. Mungkin ia sudah sampai di rumahnya dengan selamat. Ia hilang dengan membawa sebuah rahasia yang hampir aku ketahui sedikit lagi.
Hmmm…!!!.
Aku masuk ke rumah dengan perasaan campur aduk antara bahagia karena kehadiran Adit dan kecewa karena telah ditinggal oleh Adit saat jalan pulang tadi. Tapi… ya sudahlah, kenapa aku harus mikirin itu. Kalau orang yang ia suka itu aku… pasti lama kelamaan akan aku ketahui juga. Aaah kok aku jadi PD gini sih???.
“ Assalamu’alaikum!!” ucapku memberi salam kepada orang di rumah.
“ Wa’alaikum salam!!” ucap ibu dan adik-adikku menjawab salamku.
“ Eh kakakku sayang udah pulang… gimana asyik gak tadi di sekolah?” ucap Fandi sambil memegang tanganku.
“ Asyik dong dek… kakak tadi dapat teman baru lagi!!” ucapku memperlihatkan kebahagianku kepada adik-adikku.
“ Beneran nih kak? trus apa lagi yang buat kakak senang di hari pertama kembali ke sekolah??” tanya Fandi yang begitu penasaran dengan ceritaku.
“ Ibu… aku juga pengen masuk sekolah!!” ucap Fandi sambil merengek kepada ibuku setelah mendengarkan ceritaku.
“ Iya sayaaang, tenang aja… sebentar lagi kamu juga akan masuk sekolah kok sama seperti kakak-kakakmu” ucap ibuku sambil menenangkan Fandi yang makin rewel.
“ Yeee asyiiik…. Aku senang banget” ucap Fandi sambil berlari kegirangan menuju ruang tamu.
Fandi memang sudah tidak sabar lagi untuk masuk sekolah. Ia ingin sekali segera masuk SD dan bisa belajar dengan teman-temannya. Mendengar perkataan ibu tadi, membuat ia menjadi begitu bahagia. Hal itu sangat nampak dari raut wajah Fandi yang berlari kayak tadi.
Aku pun juga ikut bahagia sambil berjalan ke dalam kamarku. Mataku tidak pernah berhenti memandangi wajah adikku Fandi yang terus berlari kesana kemari. Aku yakin, bahwa ia saat ini tengah mengungkapkan kebahagiaan yang ia rasakan dengan cara berlari seperti ini. Ia akan berhenti sendiri nanti kalau ia sudah capek.
*************************************
Aku sudah istirahat sebentar untuk menghilangkan rasa letihku pada hari ini. Aku segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu’. Setelah aku selesai memakai baju, kemudian aku langsung mengerjakan shalat Asyar.
Setelah selesai shalat, aku keluar menuju dapur dan melihat ibu yang sedang asyik menyiapkan sesuatu. Apakah itu ya??.
“ Bu, ada yang bisa aku bantu gak?” ucapku sambil memeluk ibu dari belakang.
__ADS_1
“ Hmmm… udah selesai, baru mau sok menawarkan bantuan” ucap ibuku menggeleng.
“ Iya, maaf deh bu… habisnya tadi aku capek banget. Ibu juga kenapa gak bangunin aku tadi?” ucapku yang membela diri.
“ Duuuuh, anak ibu capek banget ya?? kasihan…” ucap ibuku yang seperti menertawakanku.
“ Ibu kok malah ngetawain aku sih? aku beneran capek loh bu…” ucapku sambil sedikit ngambek kepada ibuku.
“ Iya deh ibu percaya kok. Oh iya… tadi katanya kamu mau bantuin ibu kan?” ucap ibuku sambil senyum-senyum sendiri dan seperti ada yang mau direncanakan.
“ Oke, emangnya mau dibantuin apa bu?” tanyaku dengan penuh semangat.
“ Hmmm… tadi ibu ada buat bubur kacang ijo. Terus ibu sengaja buatnya banyak” ucap ibuku yang berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
” Waaaah,,, kok bisa banyak bu? emangnya nanti malam ada acara ya bu??” tanyaku yang langsung memotong pembicaraan ibuku.
“ Bukannya gitu… makanya jangan suka motong omongan ibu. Jadi begini… tolong kamu anterin bubur yang udah ibu siapkan di atas meja makan ke rumah yang di sebelah itu ya!!” ucap ibuku tersenyum sambil mengarahkan tunjukannya ke arah rumah Adit.
“ Maksud ibu…. anterinnya ke rumah Adit gitu?” tanyaku yang sontak kaget.
“ Iya… emangnya ke rumah siapa lagi? tetangga kita yang dekat kan cuma Adit dan keluarganya” ucap ibuku menjelaskan dengan sabar.
“ Iya deh bu…!!” ucapku sambil berjalan agak gugup ke rumah Adit. Mungkin ini kali pertama aku berani ke rumah Adit. Kalau sebelumnya, aku hanya lewat saja di depan rumahnya. Tapi sekarang… aku bakalan masuk ke rumahnya loh readers!! doakan aku ya readers!!...
“ Assalamu’alaikum!!” ucapku memberi salam ketika sudah sampai di depan rumah Adit.
“ Wa’alaikum salam!!” ucap seseorang menjawab salamku dan menyambut kedatanganku.
“ Eh Adit… mama sama papa kamu mana?” tanyaku basa basi.
“ Papaku lagi kerja, kalau mamaku ada tuh di dalam, mau aku panggilin?” ucap Adit sambil tersenyum.
“ Ah gak usahlah Dit… aku kesini cuma mau anterin ini” ucapku sambil menyerahkan mangkok yang udah lama terdiam di tanganku.
“ Ooh gitu… emangnya itu apa?” tanya Adit yang begitu polosnya.
“ Masa iya kamu gak tau deh ini apa… ini namanya bubur kacang ijo…” ucapku menjelaskan dengan sabar.
“ Oooooooh, makasih ya Fel… sampein juga makasih aku kepada ibu kamu” ucap Adit yang kembali tersenyum.
Hampir aja aku pingsan melihat senyum Adit yang begitu manis. Tapi, untung saja itu tidak terjadi. Aku segera pamit pulang, tanpa menjawab perkataan makasih dari Adit. Aku merasakan bahwa saat ini rasa cintaku kepada Adit makin bersemi.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Terus vote, like, dan komentnya ya readers!!
Trim’s…🙏🙏🙏