Alunan Melodi Romantikaku

Alunan Melodi Romantikaku
Bab 12 ~ Harapan Romantika yang Sia-Sia


__ADS_3

Langkahku semakin pasti menghadapi perang besar yang siap memakan aku hidup-hidup jika tidak memiliki senjata yang lengkap. Sudah hampir seminggu ini, aku dan teman-temanku di level 6 mengikuti ujian akhir kelulusan. Dengan penuh semangat dan doa yang terbaik selalu terucap.


Selang beberapa hari kemudian, ujian akhir pun telah usai. Semua penat yang terasa dalam menaklukan mata-mata itu, kini telah berganti dengan senyum dan rasa syukur. Sekarang yang kita tunggu adalah sebuah harapan berupa sepucuk surat yang menentukan hasil dari segala yang tertanam di masa merah putih. Enam tahun sudah, kami bergelut dengan mata-mata itu dan telah menciptakan sebuah keluarga yang sangat harmonis.


***********


Hari ini, aku dan teman-teman dekatku berencana mengadakan acara makan-makan. Acara itu kami adakan di sebuah kafe yang berada di dekat sekolahku. Rencana awal acara ini datang dari ide Haris, yang ingin sekali untuk berkumpul sebelum kami berpisah menuju dunia baru masing-masing.


Haris mengutarakan keinginannya itu ketika kami sedang duduk-duduk di gerbang sekolah.


" Teman-teman... kalian mau gak kalau nanti sore kita ngumpul?" ucap Haris penuh harap.


" Ide bagus tuh Ris... ayook..!" ucap Fikri begitu semangat.


" Hmmm... emangnya mau ngumpul dimana?" tanyaku penasaran.


" Di taman aja gimana? seru loh" ucap Nita memberi saran.


" Kalau masalah tempatnya gak usah dipikirin... aku udah nyiapin tempat yang bagus untuk kita ngumpul" ucap Haris menjelaskan.


" Cieee bos kita udah menyiapkan tempat toh.. bakalan dibayarin juga gak ya?" ucap Fikri sambil ngeledek.


" Masa iya Haris yang bayarin kita... kamu ini ada-ada aja deh" ucapku kesal dan membela Haris.


" Kok kamu yang jadinya gak enak Fel? kan aku cuma becandain Haris" ucap Fikri heran.


" Udah-udah... gak apa-apa... kali ini aku emang terniat mau ngajak kalian makan, jadi yang pastinya aku juga yang bakalan traktir kalian" ucap Haris begitu ikhlas.


" Kamu serius Ris... ? emangnya kamu udah kerja ya?? dan emangnya kamu udah gajian??? tanya Nita bertubi-tubi, hingga membuat kami semua bingung.


" Hussh... udah-udah gak usah terlalu dipikirin... anggap aja ini kali terakhir aku bisa bayarin kalian makan" ucap Haris yang membuat kami jadi takut.


" Kamu ngomong apaan sih Ris... gak baik tau ngomong kayak gitu" ucapku benar-benar takut kehilangan.


" Tau tuh Haris... ngomongnya kayak orang mau pergi untuk selamanya aja" ucap Nita seperti menahan kesedihan.


" Bukan gitu maksud aku... kalian jangan berpikiran yang aneh-aneh gitu dong" ucap Haris merasa tidak enak.

__ADS_1


" Gimana kita gak mikir yang aneh-aneh coba... kamu duluan kan yang ngomong kayak gitu" ucap Fikri sedikit kesal.


" Hufft... maaf deh kalau kalian jadi berpikiran seperti itu... aku gak ada maksud apa-apa kok" ucap Haris merasa bersalah.


" Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi ya Ris... walaupun nanti sore mungkin adalah hari terakhir kita bisa ngumpul, dan makan bareng sebelum besok kita bakalan berpisah untuk mengejar impian kita" ucapku sedih.


" Iya... tetapi aku percaya bahwa gak ada yang gak mungkin kalau Allah berkehendak,,, bisa aja kan kita dipertemukan kembali" ucap Nita makin sedih.


" Iya... iya... sekali lagi aku minta maaf ya, karena udah bikin kalian takut" ucap Haris yang merasa sungguh tidak enak.


" Ok lah... santai aja lagi" ucap Fikri berusaha mencairkan suasana.


" Ya udah kalau gitu, nanti sore jangan lupa ya... kita ngumpul di kafe dekat sekolah... jam 15:00 udah nyampe disana... ok??" ucap Haris sambil mengeluarkan sepedanya dari parkiran dan berlalu meninggalkan kami.


Aku, Nita, dan Fikri hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Haris. Kami pun kemudian juga berlalu meninggalkan tempat yang mungkin bakalan memiliki kenangan yang tidak bisa terlupakan nantinya. Gerbang sekolah bagi kami juga merupakan sebuah tempat bisu yang banyak mengukir sejarah di masa merah putih ini.


Nita dan Fikri masih tampak dari jauh oleh ku kebersamaan mereka yang penuh canda tawa menuju kediaman masing-masing. Sedangkan aku hanya terdiam sendiri memandangi warna jalan yang seperti ikut bersedih meratapi nasib romantikaku yang malang. Rumah Nita dan Fikri memang searah, makanya mereka bisa pulang bersama. Rumahku sebenarnya searah dengan Haris, dan hanya beda kompleknya saja tetapi entah kenapa Haris sekarang sudah mulai menjauh dari aku. Maksudnya, perlakuan Haris tidak seperti dulu lagi kepadaku. Aku berharap, moga ini hanya sebatas perasaanku saja.


***********


Ketika jam sudah menunjukkan pukul 14:00, aku baru terbangun dari tidurku dan baru aku ingat bahwa ada janji di kafe dengan teman-temanku. Dengan segera, aku langsung berjalan menuju kamar mandi dan siap-siap dengan tampilan yang mungkin agak sedikit berbeda dari biasanya. Setelah dandananku rapi, kemudian aku bergegas keluar dan tidak lupa pamit dengan kedua orang tuaku.


" Kamu mau pergi kemana Felly?" tanya ibuku penasaran.


" Aku mau pergi makan sama teman-temanku bu" ucap ku menjelaskan.


" Ooh asyik ya... anak ayah mau pergi makan-makan... ayah dan ibunya gak diajak?" ucap ayahku yang mencoba merayuku.


" Ayah ini ada-ada aja deh... ini kan acara anak muda yah" ucapku yang agak malu dengan sikap ayah.


" Hehe ayah kan cuma bercanda... ya udah pergilah, tapi pulangnya jangan malam-malam ya" ucap ayahku sambil tersenyum.


" Ok ayah... ok ibu" ucapku sambil melambaikan tangan.


" Ingat ya Fel... pulangnya jangan malam-malam" ucap ibuku sedikit berteriak karena aku sudah berjalan menjauhi rumah.


" Iyaa bu.." ucapku yang juga ikut berteriak agar kedengaran sama ibuku.

__ADS_1


Aku terus berjalan menyusuri alur cerita yang belum tau arahnya kemana. Aku melangkahkan kakiku sambil sedikit bernyanyi, agar perjalananku yang tidak begitu jauh terasa menyenangkan dengan masih menggenggam sebuah harapan tentang Haris.


Pukul 14:45 aku sudah berada di depan kafe, dan aku langsung mencari keberadaan ketiga temanku itu. Ternyata, Haris sudah sampai duluan dengan tampilan yang sungguh mempesona. Melihat wajah Haris yang semakin tampan itu, membuat jantungku terasa berdetak sangat kencang. Tapi, sumpah Haris seakan tidak peduli dengan kehadiranku.


" Haris... kamu udah dari tadi nyampe ya?" tanyaku penuh harap.


" Aku mau kesana dulu bentar" ucap Haris yang tidak mau menjawab pertanyaan aku dan langsung pergi meninggalkanku.


Mendengar perkataan Haris itu, membuat hatiku terasa terhiris oleh pisau yang sangat tajam. Tidak biasanya Haris bersikap seperti ini kepadaku. Aku benar-benar mengeluarkan air mata seketika dan bertanya-tanya apa aku ada salah terhadapnya?.


Beberapa menit kemudian, Nita dan Fikri baru muncul ke permukaan. Seperti nya mereka sempat melihat air mataku yang menetes.


" Kalian kok baru nyampe sih...? aku udah dari tadi nunggu nih" ucapku yang berusaha menyembunyikan kesedihanku.


" Maaf ya Fel... udah bikin kamu nunggu... Haris udah datang kan?" ucap Nita melihat ke dalam kafe.


" Udah kayaknya" jawabku sedih.


" Kalau Haris udah datang, kok kamu sendiri aja disini?" tanya Fikri seperti mau menghakimi Haris.


" Kalian gak berantem kan Fel?" tanya Nita penasaran.


" Gak kok... kami baik-baik aja kok" ucapku menutupi kejadian tadi.


Sepertinya Nita dan Fikri sungguh tidak percaya dengan perkataanku. Mereka merasa kalau aku dan Haris memang seperti ada perang dunia. Karena mereka tau kalau tidak biasanya aku dicuekin oleh Haris seperti ini.


Akhirnya kami tetap melanjutkan acara makan-makan dengan suasana yang terasa berbeda. Hanya diam yang banyak mengisi acara kami ini tanpa mau menanyakan apa sebenarnya yang terjadi kepada Haris.




✨💫✨💫✨💫✨💫✨💫✨💫✨💫✨💫



**Ikutin terus ya kisah selanjutnya readers**..

__ADS_1



**Jangan lupa untuk selalu tinggalkan vote, like dan koment nya**!!🙏😊🥰


__ADS_2