Alunan Melodi Romantikaku

Alunan Melodi Romantikaku
Bab 36 ~ Sepi Tanpamu


__ADS_3

Aku dan ayah pulang dengan membawa kabar bahagia yang sudah dikemas cantik, dan nantinya akan kami berikan kepada ibu dan adik-adikku. Kabar ini akan menjadi kado terindah yang dapat mengundang senyum manis dari ibu dan adik-adikku.


Ketika baru sampai di rumah, ternyata ibuku telah lama menanti kedatangan kami dengan rasa yang agak lain dari biasaya. Biasanya, ibuku cenderung untuk tenang meski keadaannya tidak memungkinkan.


Begitu juga dengan ketiga malaikat kecilku. Mereka memang selalu ingin tau dengan semua hal tentang diriku di dalam menjalani hari demi hari, namun jika itu berhubungan dengan masalah serius mereka tidak akan mau ikut campur. Seperti halnya tentang hasil kelulusanku.


Hari ini, semuanya mengambil perhatian penuh untuk mengetahui hasil kelulusan SMP ku itu. Tanpa rasa ragu yang membanjiri hati dan pikiranku, aku sekilas langsung memberikan sepucuk surat yang tadi aku terima kepada tangan yang berwarn sawo matang milik ibuku.


Aku kembali merasakan hawa yang tadi di sekolah sempat aku rasakan sebentar. Hawa dingin dan hening saat surat itu mulai dibuka perlahan oleh ibu. Belum ada satupun yang berani untuk bertanya dulu kepada ibu, Kini hanya ibu lah orang ketiga yang sudah tau akan maksud dari surat itu.


***************


Beberapa menit kemudian….


Kriik….kriik…kriiik…


Semuanya masih hening dan diam dengan suara hati masing-masing. Aku masih melihat rasa penasaran yang terpampang nyata pada raut wajah Melly. Sepertinya ia ingin sekali dengan secepat kilat merebut surat penuh misteri itu, karena terlalu lama untuk menunggu ibuku buka suara.


 


 


 


“ ALHAMDULILLAH… puji syukur nak, akhinya doa ibu terkabul juga” ucap ibuku bersyukur dan aku langsung tersenyum melihat ibuku.


“ Kakak lulus kan bu? iya kan bu??” tanya Melly mendorong-dorong tangan ibu.

__ADS_1


“ Iya sayaaang… kakakmu Alhamdulillah lulus!!” ucap ibuku yang spontan memeluk tubuh mungilku.


“ Yeee!! kakak lulus… kakak lulus….” Ucap Fandi dengan memulai aksinya.


Melihat tingkah kocak adikku yang berlari-lari kesana kemari, membuat dririku semakin gemas dengan adikku itu. Padahal ia sudah duduk di bangku kelas 2 SD, namun dunianya masih penuh dengan mainan dan keceriaan.


Tidak ada yang bisa mengganggunya dengan dunianya. Jika ada yang berani mengusik Fandi ketika ia sedang asyik bermain, maka orang itu dijamin akan menjadi sasaran empuknya. Ia rela mati-matian mengejar orang yang telah mengibarkan bendera perang dengannya.


“ Kak, jangan lupa traktir kita-kita makan ya!!” ucap Melly dengan ekspresi merayunya.


“ Eeeh… kakak lagi gak ada uang dek” ucapku murung.


“ Iiiiiiih kakaaaaak…..!!” ucap Fandi yang menghentak-hentakkan kaki kanannya ke lantai.


“ Yaaa gimana dong… kakak pengen sih traktir kalian makan tapi kakak beneran lagi gak ada uang!!” ucapku agak sedih karena merasa gagal jadi kakak yang baik.


“ Udah… udah!! kalau kakaknya gak ada uang jangan dipaksa gitu dong kakaknya” ucap ibu membelaku.


“ Emangnya Fandi sama Melly mau makan apa? biar ibu yang beliin” ucap ibuku lagi.


“Aku mau makan mie ayam bu” ucap Fandi yang terlihat senang.


“ Loh kok malah ibu yang beliin? kakak lah yang beliin, kan kakak yang lagi senang hari ini” ucap Melly yang selalu pengen cari gara-gara sama aku.


“ Apaan sih kamu Melly… kan kakak udah bilang, kalau kakak lagi gak ada uang. Kalau ada uang udah kakak beliin dari tadi!!” ucapku yang agak geram dengan ucapan Melly.


“ Seharusnya kakak tuh nabung, biar bisa traktir kami makan. Udah jelas-jelas kakak mau lulus!!” ucap Melly yang seketika membuat hatiku panas.

__ADS_1


“ Eh kamu kalau mau beli sesuatu… beli aja sendiri!! kamu kan banyak uang!!” ucapku yang pengen rasanya mencubit pipinya keras-keras karena saking kesalnya.


“ Kalau aku yang beli… itu mah bukan kakak yang traktir dong!! ucap Melly yang tidak pernah mau kalah dari kakaknya.


Melihat kedua anak gadisnya yang sedang bergaduh tidak menentu, akhirnya ayahlah yang ditunjuk sebagai wasit yang bertugas mengamankan pertandingan pada siang hari ini. Pertandingan kali ini sudah melewati batas aturan, jadi wasit berhak ikut campur menyeret pemain-pemainnya keluar. Jika ada yang tidak mau menerima aturan tersebut, maka dipastikan pemainnya akan diberhentikan dan bahkan permainan juga ikut berhenti.


Sudah berapa skor permainannya ya? ah sepertinya hasil skor ini tidak akan bisa mempengaruhi keputusan wasit yang mutlak karena tidak dapat diganggu gugat. Sedangkan ibu, Fandi, dan si kecil Sindi hanya berkesempatan untuk menjadi penonton yang diizinkan duduk pada barisan pertama sekelas VVIP.


“ Kalian kok hobi banget berantem hah? tadi lagi baik-baiknya, eh sekarang tiba-tiba malah berantem!!” ucap ayahku agak keras.


“ Emang gak bisa ya, kalau sehari aja gak berantem? Felly? Melly?” tanya ayahku sambil melihat tajam ke arahku dan Melly.


“ Aku tadi cuma baik-baik aja ngomongnya yah… Melly tuh yang suka banget pancing kemarahanku” ucapku dengan nada suara agak tingi dan melotot agar bisa membuat Melly takut dan tidak berkutik.


“ Kok malah aku yang disalahin sih?” ucap Melly yang seakan tidak terima.


“ Udahlah… aku mau masuk kamar dulu yah, bu” ucapku yang berjalan menuju kamar.


Aku membuka pintu kamar dengan hati yang sungguh tidak karuan antara sedih, kesal, dan bahagia. Tanpa pikir panjang, aku segera menanggalkan baju seragamku yang sudah hampir tiga tahun ini membalut tubuhku. Aku pun langsung mengambil baju rumah yang sudah terlebih dahulu aku letakkan di atas kasur.


Setelah aku pastikan baju dan celana itu terpasang di tubuhku, kemudian aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk berudhu’ dan lekas aku mengerjakan shalat Zuhur yang hampir saja aku lalaikan.


Aku mulai shalatku dengan niat, kemudian takbir dan itu berlangsung sampai salam. Aku juga tidak lupa berdzikir dan berdoa, sembari meminta ampun atas semua dosa yang pernah aku lakukan.


Pikiranku saat ini langsung kosong setelah aku selesai shalat. Hanya ketenangan dan kedamaian yang mengiringi hatiku yang tadi sempat kacau. Tidak ada lagi rasa sedih dan amarah yang semula merasukiku.


Tapi, ada perasaan aneh yang sampai saat ini masih menghantuiku. Rasa kehilangan itu masih saja menggelayuti hatiku. Rasa sepi karena sosok dirinya yang dulu telah pergi, kini mulai aku rasakan lagi. Semua kenangan manis itu masih terbayang olehku dan entah sampai kapan semua akan berlalu dan berputar kembali ke zona awal sebelum aku kenal dengan sosok laki-laki itu.

__ADS_1


Hidupku memang selalu diramaikan oleh kedua orang tua dan adik-adikku. Tetapi, entah kenapa kekosongan itu kini seakan mulai menghampiriku. Rasanya seperti ada yang hilang dari diriku saat aku membiarkan ia pergi. Semakin aku mencoba untuk melupakan kenangan-kenangan itu, maka akan semakin besar rasa sepi yang melandaku yang dikarenakan telah hilangnya sebuah harapan.


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


__ADS_2