
Perjalanan merah putih yang sedang aku lalui, memang hampir tidak aku temukan hadirnya rasa aneh itu lagi. Di lubuk hatiku ini pun seperti telah hilang akan ketertarikan dengan kaum laki-laki. Bukan berarti aku sudah tidak normal ya, namun memang seperti itu yang aku alami. Aku memiliki banyak teman, baik itu teman perempuan maupun teman laik-laki. Hari-hariku juga masih sama seperti masa dulu waktu di taman kanak-kanak. Kebahagiaan hidup selalu aku rasakan dengan kehadiran orang-orang yang aku sayang.
Jika kalian bertanya mengenai kemana pergi atau hilangnya rasa aneh itu maka aku hanya akan bisa terdiam dan membisu karena aku sendiri pun juga tidak tahu. Teman-temanku yang lain mungkin ada yang masih memiliki rasa aneh untuk orang yang disayanginya. Aku berkata seperti itu karena setiap hari mataku tidak pernah berhenti melihat keceriaan teman-temanku saat mereka duduk atau berbicara dengan sang pujaan hati.
Ooh iya, kalian belum tau kan kalau aku sekarang udah naik level lagi loh. Begitu panjangnya perjalanan merah putihku, hingga aku lupa menceritakannya. Hari ini aku berada pada level 3, maksudnya aku sekarang sudah berada di kelas 3. Di kelas 3 ini, seperti biasa aku selalu rajin datang ke sekolah dan guru-guru pun banyak yang sayang kepadaku. Selain level nya udah baru, teman-teman sekelasku juga banyak yang baru. Kalau teman lama masih ada juga kok yang satu kelas denganku, tetapi perbandingannya yaitu 3 : 7 atau lebih banyak yang barunya gitu.
Minggu kedua di level 3, ketika jam istirahat tiba...
Aku berniat mau ke kantin sekolah. Kali ini aku hanya berjalan sendirian, tiba-tiba Dodi yang merupakan teman baruku di kelas meletakkan sesuatu di kepala ku...
" Ada apa itu di kepalamu Fel? hewan kecil peliharaanmu ya??" ucap Dodi ketawa sambil menunjuk ke atas kepalaku.
Aku sontak kaget dan segera membuang sesuatu yang ada di kepala ku.
" Aaaah...apaan nih?" ucapku kaget dan langsung membersihkan kepalaku dari benda aneh itu.
" Kok dibuang Fel...imut tau ulatnya" ucap Dodi.
" Imut apaan coba...geli tauuuk" ucapku kesal.
" Emang imut kok ulatnya...sama kayak kamu imutnya Fel" ucap Dodi manja.
" Kamu samain aku dengan ulat ya? dasaaaaar" jawabku sambil mencubit lengan tangan Dodi.
" Beneran loh Fel..ulatnya imut..., kamu nya juga imut..." ucap Dodi makin manja.
" Makasih kalau kamu bilang aku imut, tapi...jangan jail gitu dong" ucapku ketus.
" Aku kan cuma mau bikin kamu ketawa Fel...emang gak boleh ya?" balas Dodi sedih.
" Boleh-boleh aja kok Dodi...tapi caranya gak kayak gini" ucapku menjelaskan.
" Ya udah deh...aku gak bakalan jail lagi" ucap Dodi menunduk.
" Janji ya?" ucap ku mengacungkan jari kelingking.
" Iyaa... aku janji Fel..jangan marah lagi ya!" ucap Dodi sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking ku.
__ADS_1
Dodi sepertinya mencoba mendekatiku dengan tingkahnya yang jail. Kejailan yang menurutnya bisa membuat aku tertawa, ternyata malah membuat diriku kesal dan emosi. Dodi suka sekali meletakkan sesuatu di kepalaku, seperti meletakkan seekor ulat kecil tepat di atas kepalaku. Ulat yang sebenarnya imut sekali itu, ia dapatkan dari ranting pohon yang tumbuh di halaman sekolah. Bukannya aku terhibur dengan ulat lucu itu, tetapi aku malah kesal dan ingin sekali menjewer telinga orang yang tega memisahkan ulat itu dengan keluarganya. Aku benar-benar geli dengan kehadiran ulat kecil itu di kepalaku.
Bel masuk kembali berdering, menandakan bahwa acara santai dan makan-makannya sudah selesai. Para siswa kembali kepada haknya masing-masing, dan begitu juga dengan para guru kembali kepada kewajibannya memberikan hak siswa.
Setelah proses tersebut dijalankan, maka waktu jeda untuk hari berikutnya pun datang. Maksudnya, waktu pulang ya guyss...hehe. Tujuannya, agar proses selalu berjalan sampai ia ditakdirkan untuk berhenti.
Ketika waktu jeda datang alias waktu pulang, Sosok Dodi kembali muncul ke permukaan dengan tingkahnya yang semakin jail.
" Hai manis!!" ucap Dodi sambil mencubit pipiku.
" Awww...sakit tauuuk..." ucapku kesakitan dan mengusap pipiku.
" Sakit ya...sini aku elus-elus biar sakitnya hilang" ucap Dodi manja sambil mencoba mendekatiku.
" Iih apaan sih kamu...minggir sana jangan dekat-dekat" ucapku sambil mendorong tubuh mungilnya.
" Aku kan cuma mau ngobatin pipimu yang sakit itu aja" jawab Dodi menunduk. "Apa aku salah lagi ya" tanya Dodi bingung.
" Iya, kamu selalu salah kalau kamu kayak gitu terus" ucapku ketus.
" Kayak gitu gimana?" tanya Dodi makin bingung.
" Oh itu...iya deh, aku minta maaf!!" ucap Dodi sambil menempelkan kedua telapak tangan nya membentuk segitiga...
(sama kaki, atau sama sisi ya?? hehe)
" Lagi???" tanyaku kesal.
" Iya...lagi..." jawab Dodi lirih.
" Huffft... ya udah deh...ok..ok aku maafin lagii" ucapku sambil berlalu meninggalkan Dodi yang masih berharap maaf dariku.
" Fellyyy...kok aku ditinggalin?" panggil Dodi sedih.
Aku pulang dengan perasaan yang masih sedikit kesal. Entah kenapa sikap Dodi kepadaku itu buat aku malah benci sama dia. Mungkin Dodi berharap kalau aku bisa mengembalikan rasa aneh dulu lagi yang pernah sempat bersemi dalam hatiku waktu di taman kanak-kanak. Tetapi...kayaknya masih belum kembali. Maaf ya Dodi...!!
Author ikut sedih melihat usaha Dodi yang belum berhasil.
__ADS_1
Oh iya, aku juga lupa bilang nih...kalau pendidikanku sekarang bertambah. Jadi, paginya aku sekolah kemudian sorenya aku mengaji ke MDA. Sebenarnya, aku mengaji ke MDA itu dari mulai aku masuk ke level 2 dan sekarang sudah tahun kedua aku mengaji di sana.
Hari ini, sepulang sekolah aku tidak enak badan mungkin karena efek kesalku di sekolah tadi. Aku tetap memaksakan diri untuk pergi mengaji berharap hatiku bisa lebih tenang setelah melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an.
Ternyata...kekesalanku semakin bertambah dengan tingkah Agus yang mencoba merayuku. Agus adalah seorang teman mengajiku yang selalu hadir untuk menggangguku.
" Hari ini sungguh cantik ya Fel, sama seperti senyummu" ucap Agus tiba-tiba muncul tanpa ada undangan yang datang ke rumahnya.
" Oh ya? perasaan hari ini cuacanya jelek deh, terus aku juga gak senyum tuh" jawabku sambil menatap Agus yang aneh.
" Menurutku hari ini sungguh cantik karena aku sedang bertemu dengan sang bidadari yang baru turun dari langit" ucap Agus terus merayuku.
" Hmmm...mulai deh keluar kata-kata super gombalnya" ucapku menggeleng.
" Aku serius loh Fel...kamu itu adalah bidadari yang dikirimkan Tuhan untukku" jawab Agus yang bikin aku muak.
" Bidadari apaan..? kirimnya lewat mana tuh?? lewat kantor pos ya??? atau lewat angin???" tanyaku bertubi-tubi biar Agus bingung dan berhenti merayuku.
" Aku juga gak tau lewat mana..yang pasti lewat doa aku lah" ucap Agus sambil terus tersenyum.
" Udah ya Agus...aku mau masuk dulu...udah mulai mengajinya tuh..nanti kita kena marah loh sama ustadzah kalau berdua kayak gini.." ucapku mencari alasan.
" Iya deh...iya..ayo kita masuk!!" ucap Agus mencoba menggandeng tanganku tetapi aku langsung berjalan cepat menjauhinya.
Sikap Agus yang selalu merayuku membuat aku malas kalau bertatap muka dengannya. Aku lebih memilih untuk tidak bertemu dengannya atau pura-pura tidak melihat sosok dirinya yang menurutnya ganteng itu.
Meskipun ada dua orang yang berusaha untuk mencuri hatiku, namun tetap saja rasa aneh yang dulu pernah ada masih belum bisa kembali lagi. Jangan kan rasa aneh itu akan kembali, senyumku saja kayaknya susah untuk aku berikan kepada mereka.
💫✨💫✨💫✨💫✨💫✨💫✨💫✨💫✨
**Ayo semangat bacanya para reader..biar author juga makin semangat...💪💪😊**
__ADS_1
**Jangan lupa like dan koment ya...pliss**!!🙏