
Hatiku kala ini sungguh terasa campur aduk, antara sedih, sakit, kecewa, dan muak melihat adegan yang mereka lakukan. Semua orang juga tau bahwa mereka bukan anak-anak lagi, tetapi aku rasa semua itu belum pantas mereka tunjukkan di depan umum seperti yang telah aku lihat beberapa kali ini.
Aku sampai saat ini masih belum mengerti dengan maksud dan tujuan Adit memperlihatkan kemesraan itu. Ingin rasanya aku menampar wajah mereka berdua dengan tanganku, agar mereka tidak berbuat seperti itu lagi.
Hari ini adalah hari Minggu, aku hanya bisa tidur-tiduran di rumah jika kalender menunjukkan warna merah di hari Minggu. Seperti hari Minggu biasanya, setelah pekerjaan di rumah telah selesai aku lakukan pagi hari, maka setelah itu aku akan bersantai ria dengan anggota keluargaku di ruang tengah. Tapi kali ini aku hanya bisa menyendiri di teras depan rumahku saja.
Aku lebih suka menikmati angin yang berhembus. Suara angin yang niyur melambai seperti sedang berusaha menyejukkan suasana hatiku yang sedang panas. Ketika aku sedang asyik menikmati hembusan angin tersebut, tiba-tiba aku mendengar suara langkahan kaki yang berjalan mendekatiku.
“ Cieee asyiknya menikmati hembusan angin yang sepoi-sepoi…aku boleh ikutan gak?” ucap suara yang tidak begitu asing di telingaku.
Aku langsung tersadar dan berusaha melihat ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya aku, ketika aku mengetahui bahwa suara itu adalah suara sosok laki-laki yang kembali mencoba untuk menyakiti hatiku. Janji yang pernah ia ucapkan dulu, ternyata hanyalah sebatas obat penawar rasa sakit saja yang dulu pernah aku alami.
“ Kamu kok jadi murung gitu aku datang Fel?” tanya Adit sambil duduk di sebelahku dangan tingkah yang pura-pura tidak tau atau memang tidak tau.
“ Kamu ngapain kesini? aku lagi pengen sendiri!!” ucapku cuek.
“ Aku kesini karena aku udah rindu banget sama kamu Fel” ucap Adit yang biasanya bikin hatiku luluh, tapi sekarang aku malah benar-benar muak melihat wajahnya.
“ Udahlah, kamu gak usah coba untuk gombalin aku lagi!!” ucapku yang begitu kesal denagan Adit.
“ Loh, kok kamu jadi marah-marah kayak gini sih Fel? emangnya aku ada salah apa sama kamu?” tanya Adit yang sugguh ingin rasanya aku menonjok wajahnya dengan benda keras, agar wajahnya yang mempesona itu berubah menjadi hancur berkeping-keping.
“ Gak kok, kamu gak ada salah apa-apa sama aku… kamu kan orangnya baik, tidak sombong, dan rajin menabung!!” ucapku dengan ekspresi wajah yang mau muntah.
__ADS_1
“ Terus kenapa kamu tadi ngomong kayak gitu?” tanya Adit yang terlihat sangat lugu.
“ Gak apa-apa, aku sekarang cuma lagi pengen sendiri aja. Jadi, mending kamu pulang aja ya!!” ucapku yang berusaha untuk sabar.
“ Kamu ngusir aku ya Fel? aku kan cuma pengen ngobrol sama kamu” ucap Adit dengan wajah penasaran.
“ Hari ini aku lagi gak pengen ngobrol sama siapapun… aku harap kamu bisa ngrtiin kondisiku” ucapku yang terus mencoba untuk tenang dalam menghadapi makhluk seperti Adit.
“ Fel… Fellyyy… jangan usir aku ya, plissss!!” ucap Adit yang memohon kepadaku.
“ Tolong hargai aku ya… aku hari ini memang lagi gak mau diganggu” ucapku sambil berkata di dalam hatiku kalau aku gak mau diganggu oleh buaya darat kayak kamu.
“ Alasannya apa Fel… kenapa kamu lagi gak mau diganggu?” tanya Adit yang berlagak untuk bisa membuat aku iba melihatnya.
Dari dalam rumah, aku masih bisa melihat wajah Adit yang seperti orang bingung atas sikapku itu. Aku benar-benar tidak tau akan semua yang telah direncanakan oleh Adit. Jika benar ia telah memiliki pacar, kenapa juga ia masih mencoba untuk mendekatiku.
Sikap yang ia tunjukkan kepadaku memang berbeda dengan sikap yang ia tunjukkan kepada cewek itu. Ia memang tidak pernah mau berani untuk bermesraan denganku, karena mungkin aku memang bukan pacarnya. Tetapi siapa yang tau kalau cewek itu adalah pacarnya… bisa jadi ia hanya pengen bermain-main dengan cewek itu saja atau ia sengaja membuat hatiku panas.
Kapan ia bersedia untuk menjelaskan ini semua padaku. Aku sudah menunjukkan kepadanya kalau hatiku saat ini sedang panas. Apakah mungkin ia bisa mengerti dengan kondisi hatiku saat ini atau ia akan berpura-pura tidak tau saja??.
Aku masih melihat sosok Adit yang terdiam begitu lama duduk di teras rumahku. Ia seperti sedang memikirkan suatu beban yang cukup berat, dan tidak bisa ia pikul sendirian. Entah apa yang saat ini menjadi buah pikirannya, apakah ia memikirkan sikapku yang berubah drastis kepadanya atau malah ia masih memikirkan cewek jahat itu??.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya keberadaan Adit di teras rumahku ternyata sudah tidak ada lagi. Aku masih berharap agar ia mencoba kembali memperbaiki hubungan kami ini. Tapi, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi jika ia masih saja bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir aku juga bodoh, kenapa waktu aku melihat Adit bermesraan dengan cewek itu aku malah bersembunyi dan mencoba lari meninggalkan mereka. Seharusnya, aku menampakkan wujudku di depan mereka terutama Adit, kemudian melihat bagaiman ekspresi yang ditunjukkan oleh Adit.
Aku kembali sejenak mencoba melupakan kejadian yang memilukan itu. Aku bergegas cepat masuk kamar untuk bisa menenangkan kegundahan hatiku ini saat melihat Adit. Sikapku yang tiba-tiba berubah layu dan berjalan begitu cepat, ternyata menumbuhkan reaksi tanda tanya bagi adikku yaitu Melly.
“ Kak!! kakak kenapa lagi? tadi kan udah mulai membaik” ucap Melly yang langsung menghentikan langkkahku.
“ Kakak gak kenapa-kenapa kok dek… kakak cuma mau pengen istirahat di kamar aja” ucapku yang berusah menyembunyikan kesedihan yang melandaku saat ini.
“ Aku gak percaya sama kakak… kakak pasti lagi bohong kan sama aku?” ucap Melly sambil menatapku dekat-dekat.
“ Apaan sih kamu anak kecil, kamu sok tau deh!!” ucapku yang pura-pura tertawa untuk mengkelabui si ratu usil.
“ Udahlah kak!! gak usah bohong… aku udah kelas 6 loh. Jadi… aku bukan anak kecil lagi” ucap Melly dengan gayanya yang sok jadi orang dewasa.
“ Ooh iya ya… adik kakak udah besar ternyata, kakak lupa!!” ucapku sambil membelai kepala Melly.
Aku dan Melly bisa dikatakan seperti anak kembar. Dari kecil, kami selalu diperlakukan seperti anak kembar oleh kedua oran tua kami. Mungkin karena usia kami yang hanya selisih 2 tahun, jadi ukuran tubuh kami pun terlihat hampir sama besar. Tapi, untungnya aku masih lebih tinggi daripada si ratu usil itu.
Setelah aku membelai kepala Melly, aku segera masuk ke dalam kamar dan pintu kamar pun aku kunci agar si ratu usil tidak bertindak saat ini. Aku saat ini memang sedang membutuhkan ketenangan untuk bisa melupakan kenangan manis bersama Adit salama kurang lebih dua tahun ini. Moga berhasil ya readers!!
🌼🌺🌼🌺🌼🌺🌼🌺🌼🌺🌼🌺🌼🌺🌼🌺
Ayoo!! buruan vote dan jadikan novel ini sebagai novel favoritmu...🙏🥰
__ADS_1