
Waktu terus berjalan, hari terus berganti, bulan dan tahun bahkan ikut pergi meninggalkan gadis kecil tadi. Setelah gadis kecil tadi yaitu aku menyelesaikan pendidikan di taman kanak-kanak, aku ternyata juga telah menyelesaikan rasa aneh yang sungguh konyol itu. Dengan bertambahnya usiaku, aku jadi menyadari bahwa perasaan anehku saat berada di taman kanak-kanak rupanya hanya sebuah fiktif belaka dan bersifat sementara saja.
Ketika jarak mulai berbicara, maka ketika itulah aku mulai jauh dari semua teman-temanku dan termasuk Riyan yang dulu pernah menjadi penyemangatku. Kini dunia baru datang menghampiriku dengan penuh senyuman. Pada dunia baru ini, aku lebih memperhatikan penampilanku di depan cermin. Selalu merasa ada yang aneh dengan penampilanku, selalu ingin memuji sosok diriku yang menurutku imut, dan selalu berusaha untuk menjadi gadis kecil yang bisa membuat bangga kedua orang tuaku.
***********************
Disuatu pagi, ketika ku hendak pergi ke sekolah aku tak pernah lupa untuk berpamitan dulu dan mencium tangan kedua orang tua ku. Kali ini sekolahku berada tidak jauh dari rumahku, jadi aku bisa melangkahkan kakiku sendiri tanpa bantuan pahlawanku yaitu ayah.
Tepat pukul 7:00 WIB aku telah berada di sekolah. Aku kembali mengulangi kebiasaanku untuk selalu menyapa dan tersenyum kepada semua orang yang aku temui. Aku terus berjalan, dan aku tak sengaja bertemu dengan guru idolaku yaitu buk Nora.
" Selamat pagi buk..." sapaku sambil tersenyum.
" Selamat pagi juga nak...gitu dong, pagi-pagi udah semangat" jawab buk Nora membalas senyumku.
" Iya dong buk, kalau pagi aja kita gak semangat gimana mungkin pelajaran bisa dapat kita cerna dengan baik buk" ucapku sok mengajari.
" Yups benar sekali...ini baru murid ibuk yang pintar" ucap buk Nora lagi sambil mengusap kepalaku.
" Terima kasih banyak ya buk" ucapku malu-malu.
" Iya sayang..." balas buk Nora tersenyum.
Aku langsung bergegas masuk kelas, ternyata ruangan kelasku pagi ini telah dipenuhi oleh banyak prajurit yang haus akan ilmu dan siap untuk bertempur.
Lili adalah teman sebangkuku, ia langsung menyapaku ketika aku mau duduk. " Pagi Felly..udah sarapan belum?" ucap Lili manja.
" Iya pagi juga Li...kamu kan tau kalau aku udah biasa sarapan dulu sebelum berangkat ke sekolah..." ucapku menjelaskan.
" Ooh iya..aku baru ingat kalau kepalaku tadi agak kejedot dikit sama pintu. Jadi, aku lupa Fel..maaf ya.." ucap Lili mencari alasan.
" Mulai deh nyari alasan... " gerutuku sambil menggeleng.
" Kan aku cuma mau perhatian aja sama kamu...emang gak boleh ya?" ucap Lili lirih.
" Iya,,,boleh kok..aku malah senang kalau ada yang bela-belain mau perhatian sama aku..Makasih ya!!" ucapku sambil memeluk Lili yang masih sedikit cemberut.
" Iya...sama-sama..Kamu udah ngerjain PR belum?" tanya Lili.
" Udah dong..aku kan anak rajin, emangnya kamu yang selalu malas.." ucapku sambil menunjuk Lili.
" Enak aja, bilang aku selalu malas.. aku cuma malasnya kadang-kadang tauuuk... " ucap Lili kesal.
" Iya deh,, kadang-kadang..sekarang lagi malas atau gak?" tanyaku sambil tertawa kecil.
" Sepertinya akhir-akhir ini aku mulai rajin, kan kamu yang buat aku selalu semangat belajar." ucap Lili senang.
__ADS_1
" Syukurlah kalau kamu udah gak malas lagi.. aku jadi ikutan senang lihat sahabatku senang" ucapku dengan penuh senyuman.
Bel masuk berdering mengejutkan kami yang sedang asyik ngobrol dengan penuh suka cita. Selang beberapa menit kemudian, buk Nora masuk dengan senyumannya yang begitu hangat.
" Pagi anak ibuk semua, bagaimana kabarnya pagi ini?" sapa buk Nora.
" Pagi juga buk, kami baik buk" jawab kami serentak.
" Syukurlah kalau kalian dalam keadaan baik, semuanya udah sarapan kan?" tanya buk Nora lagi.
" Sudah buk..." jawab kami sebagian.
" Kok gak semuanya yang jawab sudah...coba jelaskan kepada ibuk apa alasan kalian yang belum sarapan pagi?" tanya buk Nora penuh perhatian.
" Kalau aku belum sarapan karena aku telat bangun tadi buk, jadi aku gak sempat sarapan dulu buk" jawab Haris lesu.
" Oh gitu...besok-besok jangan tidur terlalu larut ya Haris..jadi bangunnya juga gak telat." ucap buk Nora lembut.
" Hmmm iya buk.." ucap Haris malu.
" Haris suka begadang tiap malam buk... dia suka main games online tuh buk" ucap Jaka penuh semangat.
" Apaan sih kamu Jak... jangan buka-buka gitu dong" ucap Haris menutup mulut Jaka yang merupakan teman sebangkunya.
" Apa benar Haris yang dikatakan oleh Jaka barusan?" tanya buk Nora lembut.
Dengan senyum yang lebar, buk Nora memberi nasehat kepada Haris untuk tidak begadang lagi tiap malam.
" Haris...!! dengar ya nasehat ibuk..kita boleh kalau mau main kayak main games online itu, tapi...kita harus ingat waktu juga ya nak" ucap buk Nora lembut dan penuh dengan kasih sayang.
" Iya, baik buk...aku gak akan kayak gitu lagi" jawab Haris malu dan menunduk.
" Dengar tuh Ris apa kata ibuk, jangan cuma iya iya aja" kataku menegaskan.
" Iya nonaaaa... aku bakalan dengerin apa kata ibuk dan kata kamu kok" ucap Haris dengan tingkah lucunya hingga membuat seisi ruangan kelas jadi tertawa.
Melihat tingkah lucu Haris, aku jadi ingat sosok masa laluku itu yang dulu juga suka buat aku ketawa dengan tingkahnya. Tapi, entah kenapa rasa aneh yang aku kenal itu sekarang seakan sudah tidak ada lagi. Sikapku kepada semua teman laki-lakiku sama saja. Tidak ada perlakuan istimewa yang aku berikan kepada salah seorang diantara mereka.
Aku tidak sadar kalau ternyata aku telah lama melamun membayangkan masa laluku dulu, hingga aku tidak mendengar Lili sedang berbicara denganku.
" Felly...Felly..oooh Felly..." ucap Lili gemes.
" Eh iya Li, ada apa??" tanyaku kaget.
" Itu...ada kecoa di kepalamu" ucap Lili menakutkan aku.
__ADS_1
" Serius Li?? mana kecoa nya?? tolong buangin dong!!" ucapku benar-benar takut.
Lili ketawa cekikikan melihat ekspresiku. Semua orang jadi melihat ke arah kami karena telah membuat heboh. Buk Nora pun hanya menggelengkan kepala melihat aku dan Lili yang berhasil mengagetkan seisi kelas.
" Kalian kenapa..? bikin kami kaget aja.. aku jadi gak fokus nih" ucap Sisi kesal.
Nah, ini lah ratu yang super sok di kelas kami.. sok cantik, sok imut, sok kaya, sok gaul, sok pintar..., dan lain-lain. pokoknya banyak sok nya deh. Namanya Sisi Ratu Cantika. Karena namanya ada kata Ratu, jadi kami harus menganggap nya seperti ratu walaupun nama panggilannya Sisi.
" Sorry...sorry udah buat ratu kaget..gak sampai jantungan kan?" ucap Lili mencemooh.
" Tenang aja Li, ratu kita aman terkendali kok" balas Jaka meyakinkan.
" Apaan sih kalian, mau cari ribut sama aku?? ayo sini kalau berani" ucap Sisi dengan nada tinggi dan melotot.
Mendengar kelas semakin heboh, akhirnya buk Nora lebih tegas mengamankan kondisi kelas.
" Udah...udah...jangan pada ribut..ayo sekarang kita belajar dan kumpulkan PR kalian semua.." ucap buk Nora tegas.
" Baik buk.." jawab kami serentak.
Suasana kelas menjadi hening dan kondusif. Pembelajaran pun terasa begitu khidmat dan menyenangkan. Tidak ada lagi yang berani membuat heboh setelah melihat buk Nora bersikap tegas seperti tadi.
Dunia baru ini yang ku sebut dunia merah putih memang adalah dunia yang penuh semangat bagiku. Aku mulai tahu dengan sebuah cita-cita dan ingin sekali aku meraihnya ketika sudah dewasa nanti. Semangat dan tekad yang aku punya mampu membuat diriku selalu berprestasi di sekolah. Jiwa persaingan sungguh terasa jika ada yang ingin maju ke depan untuk mengalahkanku.
Aku pada saat itu seolah terlupa dengan kata aneh yang dulu pernah aku kenal dan aku rasakan. Hanya sebuah prestasi yang memenuhi hati dan pikiranku, serta hanya sebatas keinginan untuk selalu bisa membuat kedua orang tuaku bangga dengan diriku.
Masa merah putih kian berpacu dengan semangatku yang terus membara. Aku memang benar-benar hilang ingatan tentang perasaan terhadap seorang laki-laki. Pikiranku hanya dipenuhi oleh kesungguhanku dalam menggapai cita-cita.
Perjalanan dalam menggapai impian dan cita-cita itu begitu mulus aku rasakan. Tidak banyak dan bahkan hampir tidak ada kerikil-kerikil tajam yang dapat menghambat langkahku. Level dasar hingga level selanjutnya telah aku lalui dengan pasti. Dalam setiap perjalananku itu, aku selalu bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepadaku. Angka satu tidak pernah terlepas dari tanganku dan nilai rapor yang aku peroleh terlihat seperti taman bunga. Begitu indah dan cantiknya angka-angka yang menari di dalamnya sehingga membuat hatiku semakin senang dan bangga dalam pencapaianku. Hal itu juga yang dirasakan oleh kedua orang tuaku ketika raporku berada di tangan beliau.
πΈπΌπΈπΌπΈπΌπΈπΌπΈπΌπΈπΌπΈπΌπΈπΌ
**Ayo reader semua..silahkan like dan koment**
**biar author makin semangat meluncurkan**
__ADS_1
**Bab-bab selanjutnya**...πππ₯°