
Kaaran dan William sedang dalam perjalanan menuju hotel. Mereka ingin beristirahat sambil memikirkan langkah apa lagi yang harus mereka ambil ke depannya. Perjalanan jauh dari kota Merkurius menuju kota Pluto ternyata cukup menguras tenaga mereka. Ditambah lagi aksi kejar-kejaran yang sempat mereka lakukan di dalam gedung.
Kini perasaan Kaaran sudah sedikit lebih lega, karena dia sudah menemukan Ranianya yang telah lama menghilang. Bukan hanya itu, kebahagiaannya juga semakin bertambah karena ternyata selama ini Rania telah melahirkan, merawat, dan membesarkan darah dagingnya.
"Will, apa kamu punya solusi mengenai masalahku ini dengan Rania?" tanya Kaaran. Dia tahu asisten pribadinya itu selalu bisa memberikan banyak solusi untuk setiap masalah yang dia hadapi.
William menjawab, "Saya sarankan, sebaiknya Tuan melakukan tes DNA untuk memastikan kalau tuan muda kecil dan nona muda kecil memang benar anak biologis Anda. Jika sudah terbukti kalau mereka adalah anak kandung Anda, Anda bisa dengan mudah menaklukkan nona Rania juga, Tuan."
Kaaran menjentikkan jarinya. "Ya, kamu benar sekali, Will. Aku sangat setuju dengan usulanmu itu. Tes DNA memang sangat perlu dilakukan dalam hal ini. Meski pun sebenarnya aku sudah sangat yakin kalau Zoe dan Zack memang anak kandungku."
...----------------...
Keesokan harinya, Kaaran datang menemui kedua anaknya di sekolah. Pria itu melambaikan tangan sambil tersenyum lebar ketika melihat kedua anaknya sedang bermain perosotan bersama teman-teman sekolahnya.
Melihat Kaaran melambaikan tangan, Zoe dan Zack pun segera berlari ke arah papanya. Kedua anak itu terlihat sangat senang dan bahagia dengan kedatangan Kaaran di sekolahnya.
"Papa!" teriak Zoe dan Zack.
Kaaran berjongkok lalu merentangkan kedua tangannya ingin memeluk kedua buah hatinya itu.
"Papa sangat merindukan kalian, Nak," ucap Kaaran saat memeluk kedua anak kembarnya.
"Kami juga sangat merindukan Papa." Zoe dan Zack balas memeluk papanya.
Setelah merasa cukup melepas rindu, Kaaran pun mengajak Zoe dan Zack untuk duduk di kursi taman yang tersedia di halaman sekolah.
"Papa, kenapa Papa kemarin tidak pulang ke rumah menemani kami bermain?" tanya Zoe, sambil mendongak menatap wajah Kaaran.
__ADS_1
"Iya, Papa. Kami sangat ingin bermain robot-robotan dengan Papa," tambah Zack, yang juga mendongak menatap papanya.
"Tidak, Dik. Itu kamu yang ingin bermain robot-robotan dengan Papa, sedangkan aku tidak. Aku hanya ingin Papa menemaniku saat aku bernyanyi di studioku," kata Zoe, meralat ucapan Zack.
Kaaran tersenyum. "Maafkan Papa, Sayang. Sebenarnya Papa juga sangat ingin menemani kalian, tapi sayangnya untuk saat ini Papa masih belum bisa." Kaaran mengelus lembut puncak kepala kedua anaknya. "Zoe, tadi kamu bilang kalau kamu punya studio? Studio apa, Sayang?"
"Iya, Papa. Zoe punya studio musik," jawab Zoe. "Zoe ini sebenarnya seorang youtuber cilik, apa Papa belum tahu hal itu?"
"Oh, ya?" Kaaran menggeleng. "Papa belum tahu, Sayang. Yang Papa tahu, ingatan kamu itu sangat tajam, dan kamu juga bisa menghitung jarak, tinggi badan, dan berat badan seseorang tanpa perlu menggunakan alat," jelas Kaaran. "Dan tentang Zack, yang Papa tahu, Zack itu sangat jago membuat robot. Hanya itu yang Papa ketahui tentang kalian."
"Makanya Papa, tinggallah bersama kami agar Papa bisa mengenali kami lebih dalam," kata Zoe.
"Iya Papa, Zack sangat setuju dengan ucapan Kakak Zoe barusan," timpal Zack.
Kaaran tersenyum lalu merangkul bahu kedua anaknya. "Sebenarnya Papa juga sangat ingin tinggal bersama kalian, Nak. Tapi ... pasti mama kalian tidak setuju. Oh iya, sebenarnya Papa datang kemari, selain karena rindu pada kalian berdua, Papa juga ingin mengambil sampel rambut kalian untuk melakukan tes DNA."
"Tes DNA?" Zoe terlihat bingung.
"Hei, jangan bersedih, Sayang. Papa bukannya meragukan kalian. Papa sudah sangat yakin kalau kalian berdua itu anak Papa, apalagi wajah Zack yang sangat mirip dengan wajah Papa. Tapi ini tentang mama kalian, Nak. Mama kalian berkata kalau kalian itu bukan anak Papa, melainkan anaknya bersama dengan pria lain." Kaaran menjelaskan pada anak-anaknya agar tidak ada kesalah pahaman diantara mereka.
Zoe berkata, "Baiklah, Papa. Kami mengerti, mari kita lakukan tes DNA bersama-sama."
"Ayo Papa, kita buktikan pada mama kalau kami ini memang anak Papa," tambah Zack, bersemangat.
...----------------...
Beberapa hari kemudian, hasil tes dari laboratorium rumah sakit sudah keluar. Hasilnya menyatakan kalau Zoe dan Zack memang anak biologis Kaaran, bukan anak pria lain seperti yang dikatakan oleh Rania.
__ADS_1
Kaaran sangat bahagia mengetahui hal itu. Kali ini dia yakin, hasil tes itu pasti bisa membungkam mulut Rania.
Saat ini Kaaran dan William sedang dalam perjalanan menuju kediaman Rania bersama kedua anak mereka. Kaaran ingin segera memberitahukan kabar gembira itu pada kedua buah hatinya.
Beberapa saat kemudian. Kaaran sudah sampai di tempat tujuan. Dia berdiri tepat di depan pintu rumah sambil menekan bel. Tidak lama kemudian, Rania datang membukakan pintu.
Sebelum Rania membuka pintu rumahnya, dia memang sudah tahu kalau yang datang itu adalah Kaaran. Dia bisa tahu lewat monitor yang tersambung dengan CCTV serta mendengar sistem pemindai identitas menyebutkan nama pria itu.
"Ada apa lagi?" Rania bertanya dengan nada ketus. Dia masih marah karena persoalan Kaaran menciumnya di tempat umum beberapa hari yang lalu.
Kaaran tersenyum. "Rania, sedikit demi sedikit kebohonganmu mulai terungkap."
"Apa maksudmu?" Rania bertanya karena tidak mengerti. Kebohongan mana lagi yang Kaaran maksud.
Kaaran menunjukkan dua lembar kertas hasil tes genetikanya bersama Zoe dan Zack di depan wajah Rania.
Rania merebut dua lembar kertas tersebut dari tangan Kaaran lalu membacanya. Mata Rania membulat ketika mengetahui kalau Kaaran sudah melakukan tes DNA bersama kedua anak kembar mereka.
Kurang ajar. Kapan dia melakukannya? Kenapa aku tidak tahu? Anak-anak juga tidak bilang apa-apa padaku. Apa jangan-jangan, mereka bertiga bersekongkol merahasiakan hal ini dariku?
Rania semakin marah pada Kaaran. Dia segera menutup pintu rumahnya tapi Kaaran berhasil menahannya.
"Rania, tunggu Rania. Ayo kita bicara," kata Kaaran, sambil menahan agar pintu tidak sampai tertutup rapat.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan." Rania masih berusaha keras mendorong agar pintu rumahnya tertutup. Tapi sayangnya, dengan tenaganya itu mana mungkin dia bisa melawan tenaga Kaaran yang jauh berlipat-lipat ganda lebih kuat darinya. Dia jelas bukanlah tandingan pria itu.
Setelah beberapa saat saling adu tenaga dorong mendorong pintu, Rania akhirnya menyerah.
"Sekarang, cepat katakan. Apa lagi yang ingin kamu bicarakan?" Rania membuang muka tidak ingin menatap wajah pria itu.
__ADS_1
Kaaran mencoba meraih tangan Rania tapi Rania menghempaskan tangannya ketika tangan Kaaran menyentuh tangannya. "Bicara ya bicara saja, tidak usah pegang-pegang. Sangat tidak sopan."
Kaaran terdiam sejenak, mencoba mengambil napas sebelum mengungkapkan niat baiknya kepada wanita idaman sekaligus ibu dari kedua anaknya. "Rania, sekarang aku sudah punya bukti kalau Zoe dan Zack itu adalah anakku, anak kita berdua, Rania. Jadi ... ayo kita menikah."