Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Menangkap Penipu Besar


__ADS_3

"Kenapa berhenti, Sayang?" tanya Kaaran.


"Itu, aku seperti mengenali orang itu." Rania menunjuk ke arah pria paruh baya tadi.


Kaaran melihat ke arah yang ditunjuk oleh istrinya. Dia sangat terkejut. Memang sudah lama dia mencari orang itu.


Itu 'kan Paman Boron. Pria tua itu, apa selama ini dia bersembunyi di negara ini. Menggunakan uang hasil dari  menipu untuk bersenang-senang. Hng, jangan harap kamu bisa lepas dariku kali ini. Kaaran tersenyum miring.


"Sayang, tunggu aku di sini dan jangan kemana-mana," titah Kaaran, sambil melepaskan tangannya yang saling  bertautan dengan tangan Rania.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Rania, penasaran.


"Aku ingin menyelesaikan urusanku dengan orang itu," jawab Kaaran.


"Urusan apa?" Rania menahan tangan suaminya. Dia masih belum mengerti. Entah ada urusan apa Kaaran dengan Boron? Pikirnya.


"Diam di sini, Sayang. Oke. Aku akan menceritakan semuanya nanti." Kaaran berkata dan Rania pun menganggukinya.


Kaaran berjalan dengan cepat ke arah Boron. Pria tua yang sedang bersenang-senang itu tidak menyadari kedatangan Kaaran. Jadi dia tidak ada usaha untuk kabur lagi kali ini. Dengan mudahnya Kaaran menyergapnya dari belakang kemudian mengunci kedua tangannya sehingga tidak bisa melawan apalagi sampai kabur.


"Hei, hei, hei! Ada apa ini?" Pria itu sangat terkejut. Dia  mengucapkan kalimat tersebut dalam bahasa asing.


Boron sudah sangat fasih berbahasa X karena dia sudah bertahun-tahun tinggal di sana. Jauh sebelum dia menipu Kaaran dengan mengambil uang 20 miliar milik keponakannya tersebut, dia memang sudah tinggal di negara tersebut. Pria tua itu ternyata cukup pandai menikmati masa tuanya. Dia memilih negara yang terkenal akan keindahan alamnya untuk dia tempati menetap.


(Note : Bahasa X ya guys karena Boron tinggal di negara X. Seandainya dia tinggal di Jepang yang dia pake ya bahasa Jepang. Hehe😁)


"Lepaskan! Siapa kamu?! Cepat lepaskan aku!" Boron memberontak ingin melepaskan diri dari Kaaran. Dia belum menyadari kalau ternyata Kaaran lah  yang telah menangkapnya.

__ADS_1


Kedua gadis cantik yang melayani Boron tadi hanya bisa berlari menjauh karena takut sekaligus terkejut seperti Boron. Mereka tidak mau mendapatkan masalah. Mereka hanya mengincar uang Boron saja.


"Apa kabar, Paman Boron?" Kaaran tersenyum miring sambil bertanya di dekat telinga pria tua itu.


Mendengar suara Kaaran, Boron sangat terkejut. Dia langsung menoleh melihat Kaaran yang ada di belakangnya. Tanpa melihat orangnya secara langsung pun pria tua itu sudah tahu siapa sebenarnya sosok pemilik suara bariton tersebut.


"Ka-Kka-Kaaran."


"Ternyata Paman masih ingat padaku. Aku pikir Paman sudah lupa. Hng." Lagi-lagi Kaaran tersenyum memamerkan senyuman miringnya.


"Tet-tentu, tentu. Pa-Paman, tentu masih ingat padamu, Nak. Paman tidak akan pernah lupa pada ... keponakan Paman sendiri." Boron berkata dengan terbata seolah-olah dia dan Kaaran sangat akrab. Ditambah lagi dia memanggil Kaaran dengan sebutan 'nak'.


"Hng. Nak?" Kaaran kembali tersenyum miring. Itu memang sudah menjadi ciri khasnya saat bertemu dengan orang yang tidak dia sukai atau saat bertemu dengan orang yang sudah berani membuatnya marah.


"I-iya. Apa salah kalau ... kalau, Paman memanggil kamu seperti itu? Kamu ... kamu itu anak saudara Paman. Jadi wajar kalau ... Paman memanggilmu seperti itu." Boron menelan salivanya dengan susah payah.


Sial sekali. Kenapa anak ini bisa menemukanku di sini? Apa mungkin aku masih bisa kabur darinya? Sepertinya mustahil. Boron merasa sangat putus asa.


Kaaran mengangguk-anggukkan kepalanya mengejek. "Aah ... seperti itu, ya? Baiklah. Karena Paman adalah saudara mamaku, jadi sebagai keponakan yang baik, aku akan membawa Paman kembali bersamaku pulang ke kota Merkurius."


Boron terlihat ketakutan. Dia menggeleng, menolak keinginan Kaaran. "Ti-tidak. Jangan, Nak. Paman sekarang sudah semakin tua. Paman tidak ingin kembali lagi ke sana. Paman lebih suka tinggal di sini."


Kalau Kaaran membawaku kembali ke kota Merkurius, aku yakin, dia pasti akan menjebloskanku ke penjara. Aku tidak mau. Aku tidak mau di tahan. Aku tidak mau kebebasanku direnggut.


"Jangan menolak, Paman. Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti dengan cara menghormati Paman seperti aku menghormati mama dan papaku."


"Tidak, tidak usah, Nak. Kamu tidak perlu melakukan semua itu. Kalau kamu ingin menghormati pamanmu ini, kamu hanya perlu mentraktir Paman makan malam. Dengan begitu ... kamu sudah cukup membuat Paman senang."

__ADS_1


"Pokoknya kalau aku berkata ya, berarti ya. Kalau aku berkata tidak, berarti tidak. Percuma saja Paman menolak. Apa Paman lupa kalau keponakan Paman ini paling tidak suka keinginannya ditolak?" Kaaran berkata dengan nada mengancam.


"Kaaran ... Paman mohon, Nak. Tolong lepaskan, Paman. Paman minta maaf. Tolong kasihanilah pamanmu ini, ya? Paman ini sudah tua. Paman tidak mau menghabiskan masa tua Paman di penjara." Boron berusaha untuk membujuk Kaaran, tapi sayangnya Kaaran tipe orang yang tidak mudah untuk dibujuk.


Sementara itu, kepala Rania sudah dipenuhi dengan banyak sekali pertanyaan. Dia merasa heran sekaligus penasaran.


Dari mana Kaaran kenal dengan paman Boron? Dan masalah apa sebenarnya yang ingin mereka selesaikan bersama? Kenapa Kaaran sepertinya sedang menangkapnya?


Rania segera berjalan menghampiri kedua pria itu. "Apa yang terjadi?"


"Ra-Rania?" Boron sangat terkejut melihat kedatangan Rania. Raut wajahnya terlihat semakin ketakutan.


Jadi ternyata selama ini Kaaran dan Rania sudah bertemu. Habislah aku. Mereka berdua pasti tidak akan memberiku ampun.


"Kaaran, kenapa kamu seperti sedang menangkap seorang penjahat? Apakah Paman Boron punya salah padamu?" Rania bertanya pada suaminya.


"Ya, kamu benar, Sayang. Aku memang sedang menangkap penjahat. Atau lebih tepatnya aku sedang menangkap seorang penipu besar," jawab Kaaran.


"Penipu besar?" Rania terlihat kebingungan.


Apa Kaaran sebelumnya juga pernah ditipu oleh paman Boron? Kalau memang begitu berarti sangat kebetulan sekali.


"Apa kamu juga pernah ditipu olehnya?" Rania kembali bertanya pada sang suami.


"Bukan pernah lagi, Sayang, tapi sudah sering. Dulu, saat dia bekerja di kantor pusat perusahaan kita, dia sering menggelapkan dana perusahaan. Setelah jabatannya diturunkan dan dipindahkan ke kantor cabang, dia malah membawa kabur semua aset berharga milik perusahaan cabang waktu itu. Dan dia juga pernah menipu uangku sebanyak 20 miliar."


"Wah, benar-benar luar biasa Paman Boron ini. Oh iya, kapan Paman membawa kabur aset perusahaan cabang?" Rania bertanya karena penasaran. Dia sepertinya ingin menggali banyak informasi mengenai suatu hal. Atau lebih tepatnya tentang Boron yang Kaaran ketahui.

__ADS_1


Kaaran pun menjelaskan bagaimana pria tua itu menipu dan membawa kabur aset-aset perushaannya.


"Kebetulan sekali, aku memang juga ingin menangkapnya. Dia juga sudah membawa kabur semua aset perusahaan ayah sehingga keluarga kami bangkrut dan jatuh miskin seperti sekarang. Gara-gara dia, ayahku jadi meninggal karena stres dan terlilit banyak hutang." Rania terlihat sangat marah dan benci pada Boron. Ternyata selama ini pria tua itu lah yang sudah menjadi biang keladi dari semua masalah yang menimpa keluarganya sekitar 6 tahun yang lalu.


__ADS_2