
Note : Maaf baru lanjut guys. Beberapa minggu lalu mertua Author sakit parah, kemudian beliau meninggal dunia 10 hari yang lalu, jadi Author baru sempat melanjutkan ceritanya sekarang.
...----------------...
Setelah mengambil berkas yang diminta oleh Kaaran, William dan Rina pun segera meninggalkan unitnya itu.
"Setelah mengantarmu pulang nanti, aku akan segera pergi ke villa untuk mengantar berkas ini pada tuan Kaaran. Apa kamu tidak mau ikut ke sana, Sayang?" William berkata saat dirinya baru memulai untuk melajukan kembali mobilnya.
"Tidak usah mengantarku kembali Kak, aku ingin ikut bersama Kak William ke sana. Rasanya ... aku sangat merindukan si kembar, padahal baru kemarin dan hari ini saja kami tidak bertemu," ucap Rina.
"Baiklah Sayang. Kalau begitu, kita akan segera meluncur ke sana." William berkata sambil tersenyum. Itu artinya, dia dan Rina akan bersama lebih lama lagi.
"Oh iya Kak Will, sebaiknya hubungan kita ini dirahasiakan dulu dari orang-orang terdekatku. Karena untuk sementara, aku tidak ingin mereka tahu dulu mengenai hubungan kita," ujar Rina.
"Memangnya kenapa kamu ingin menyembunyikan hubungan kita Sayang? Apa kamu malu memiliki pacar yang usianya jauh lebih tua dari kamu?" William berkata sambil fokus munyetir dan sesekali melirik ke arah Rina.
"Bukan begitu Kak, jangan salah paham dulu. Usia Kak William sama sekali tidak jadi masalah untukku. Hanya saja ... untuk sementara aku ingin kita berdua menjalin hubungan dengan lebih tenang tanpa diketahui oleh siapa pun."
"Baiklah Sayang, apa pun itu keputusan kamu, aku akan menghargainya. Tapi ada syaratnya, kamu harus selalu setia padaku dan tidak melirik pria lain mana pun selain aku."
"Kak Will ini bicara apa sih? Jika aku ingin melirik pria lain, sudah aku lakukan sejak dulu, Kak. Untuk apa aku terus mengejar pria kaku yang dingin seperti es balok jika aku memiliki ketertarikan pada pria lain?"
Rina sengaja menyindir William secara terang-terangan. Dia ingin pria itu kembali mengingat semua perlakuan dingin yang diberikan oleh pria itu terhadapnya.
"Sudahlah Sayang, tidak baik membahas mengenai hal -hal yang sudah lama berlalu, karena itu bisa saja menjadi pemicu perdebatan di antara kita berdua. Kita harusnya fokus pada masa sekarang dan masa depan kita berdua ke depannya. Aku berjanji, selama kamu menjadikan aku sebagai pasangan kamu satu-satunya, aku pasti akan selalu memperlakukan kamu dengan sangat baik dan hangat. Tidak ada lagi pria kaku dan dingin seperti es balok yang kamu sebutkan tadi." William tersenyum setelah mengucapkannya.
"Cih, ternyata Kak Will ini pandai sekali mengalihkan topik pembicaraan." Rina berkata sambil ikut tersenyum. Dia tahu, pria nya itu sengaja menghindari topik permasalahan.
Usia William yang matang dan pemikirannya yang dewasa membuat Rina semakin betah bersamanya. Bahkan jika harus bersamanya seumur hidup, gadis itu tidak akan keberatan sama sekali.
__ADS_1
...****************...
Villa Kaaran.
Di dalam ruangan khusus yang dibuat Kaaran untuknya, Zack sedang menyusun sebuah program terbaru, yaitu program untuk robot terbarunya.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu buat Zack? Kenapa kamu tidak mau memberi tahukannya padaku?" tanya Robot Papa, penasaran.
"Lihat saja nanti Papa Robot, ini adalah kejutan untukmu," jawab Zack. Dia sengaja merahasiakan hal itu dari Robot Papa. Jika sudah ketahuan duluan, namanya bukan kejutan lagi, jadi tidak akan seru.
"Memangnya apa yang sedang kamu buat untukku?" Bukannya berhenti bertanya Robot Papa malah semakin penasaran.
"Papa Robot, aku 'kan sudah bilang, aku tidak mau memberitahukannya padamu. Jadi sebaiknya kamu keluar dari sini, jangan mengganggu konsentrasisiku."
"Ya, baiklah, baiklah, kalau itu yang kamu mau." Begitu diusir oleh Zack, Robot Papa pun segera keluar dari ruangan itu.
"Sebenarnya apa yang ingin dibuat Zack untukku, kenapa dia tidak meminta bantuanku? Biasanya mau melakukan apa pun selalu meminta bantuanku. Aneh." Robot Papa bergumam seraya berjalan menuju studio Zoe.
"Halo Papa Robot, bisakah kamu membantuku memperbaiki microphoneku yang rusak ini?" tanya Zoe, sambil menunjukkan barangnya yang rusak pada robot canggih tersebut.
"Tentu saja, dengan senang hati Zoe. Itu adalah keahlianku, memperbaiki barang-barang yang rusak." Robot Papa berkata seraya tersenyum.
Robot canggih itu tak ubahnya manusia pada umumnya, cara bicaranya, ekspresinya, dan lain sebagainya.
.
.
Sementara itu di lantai bawah.
__ADS_1
William dan Rina baru saja sampai, keduanya pun sama-sama masuk ke dalam villa.
"Kak Rania!" Rina berteriak begitu melihat Rania dan Kaaran bersantai di halaman samping villa.
"Hai, Dek!" Rania balas memanggil, sambil melambaikan tangan memberi kode agar Rina dan William yang menghampiri mereka ke sana.
"Kak Will, ayo kita ke sana."
"Hem." William bergumam membalas ajakan kekasihnya.
Begitu sampai di villa, William kembali bersikap seperti biasanya, seolah-olah dia dan Rina tidak ada hubungan apa-apa.
"Ini berkas yang Anda minta, Tuan." William menyerahkan sebuah map pada Kaaran.
"Hm, letakkan saja dulu di meja," perintah Kaaran. "Oh iya Will, aku ingin memintamu untuk mengatur pesta perayaan ulang tahunku bulan depan."
"Siap, Tuan. Apakah Tuan Kaaran memiliki request-an tema tertentu untuk pesta perayaan ulang tahun Tuan kali ini?" tanya William.
Sebelum memulai mengerjakan tugasnya, terlebih dahulu William ingin mengetahui dengan pasti seperti apa pesta yang diinginkan oleh atasannya itu.
"Ulang tahunku kali ini ... aku ingin sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Aku ingin kita merayakannya di pantai."
Satu-satunya alasan kenapa Kaaran ingin merayakan ulang tahunnya di pantai adalah, karena Rania sangat menyukai tempat tersebut.
Selain itu, ini juga adalah kali pertamanya Kaaran akan merayakan ulang tahunnya bersama istri dan kedua anaknya. Kaaran ingin, pesta ulang tahunnya kali ini bisa menjadi lebih berkesan dari sebelum-sebelumnya.
"Oh iya, dan satu lagi. Aku ingin kita semua beserta para tamu yang hadir wajib mengenakan topeng. Dengan begitu, pesta ulang tahunku kali ini pasti akan lebih seru dan jauh lebih berbeda dari sebelum-sebelumnya."
"Baiklah Tuan, saya akan merancang semuanya sesuai dengan yang Tuan inginkan. Oh iya, untuk lokasinya, apakah Tuan Kaaran memiliki pilihan tertentu? Di pantai mana Tuan ingin merayakan pesta ulang tahun Tuan?"
__ADS_1
"Untuk tempat perayaannya, aku akan mendiskusikannya dulu dengan Rania. Kamu siapkan saja dulu yang lainnya, lokasinya nanti aku kabari," jelas Kaaran.
"Baik, Tuan."