Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Aku ... Me-mencintaimu


__ADS_3

Rania menggigit jari telunjuknya keras-keras ingin memastikan bahwa itu dia sedang bermimpi ataukah tidak.


"Auwh, sakit." Rania meringis kesakitan. Dia bisa merasakan sakit di ujung jari telunjuknya. Itu berarti dia sedang tidak bermimpi sekarang.


Tapi kemana semua perginya orang-orang yang tadi ada di sana? Kenapa mereka semua menghilang secara bersamaan?


Apa semua orang bersekongkol untuk mengerjaiku? Kemana perginya mereka? Rania memutar badannya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan.


"Apakah ada orang?! Tolong! Suami saya tenggelam!" Rania berteriak sambil melihat ke sekeliling mencoba mencari bantuan.


"Zoe! Zack! Rina! Robot Papa! Dimana kalian?! Keluarlah! Aku tidak suka kalian semua bersembunyi dariku seperti ini!" Bulir demi bulir air mata Rania semakin membasahi pipinya. Dia merasa sangat khawatir dan ketakutan.


Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semua orang tiba-tiba menghilang? Dimana ini? Apa sekarang aku sedang berada di pantai berhantu seorang diri? Kenapa semua orang tiba-tiba lenyap semua? Seingatku tadi saat aku dan suamiku sedang berenang, masih banyak orang yang asyik berjemur di sana sini, yang berlalu lalang pun juga banyak. Apa jangan-jangan ini seperti yang terjadi di film-film, bahwa kami semua tersesat kemudian masuk ke pantai berhantu ini. Memikirkannya saja membuat Rania bergidik ngeri dan semakin ketakutan. Ditambah lagi rasa putus asa yang dia rasakan kian membesar saja.


"Kaaran!!! Kamu di mana?! Aku takut ...." Rania menangis sambil berjalan menuju air. Dia berniat untuk turun tangan sendiri mencari suaminya yang tenggelam.


"Kaaran ... hiks." Kali ini suara Rania mulai merendah. Sejak tadi dia tidak bisa berhenti menangis.


Dengan berbekalkan kemampuan renang dan menyelamnya, Rania mulai berenang dan menyelam kesana kemari mencari suami tercintanya. Dia baru menyadari betapa Kaaran sangat berharga begitu kehilangan pria itu.


"Kaaran! Kamu di mana?! Hiks hiks hiks." Air mata Rania dan air laut sudah bercampur jadi satu membasahi wajahnya.


"Kembalilah Kaaran! Aku berjanji tidak akan jahat lagi padamu! Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu! Dan aku juga berjanji akan mencintaimu sepenuh hati kalau kamu kembali sekarang! Aku takut Kaaran, aku takut ... hiks hiks." Rania terus-terusan menangis. Dia merasa semakin putus asa karena tidak bisa menemukan sang suami. Ditambah lagi dirinya seperti terdampar sendirian di pulau berhantu yang sangat sepi.


Meski pun pemandangan di sana sangat indah, ditambah lagi dengan cuaca yang sangat cerah, pikiran negatif dan rasa takut Rania sudah mengacaukan itu semua. Tempat indah itu sudah berubah menjadi sangat menyeramkan dan menakutkan baginya karena dia hanya tinggal seorang diri di sana.


Apa itu? Jangan sampai ikan hiu.


Rania berjalan mundur begitu melihat ada sesuatu yang bergerak di bawah air. Sepertinya ada makhluk hidup yang sedang berenang menuju ke arahnya.


Rania menelan salivanya dengan susah payah. Memikirkan hidupnya akan diakhiri dengan sadis oleh seekor ikan hiu membuatnya bergidik ngeri. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain berusaha untuk berenang secepat mungkin ke tepi. Semoga saja bisa selamat dari maut. Pikirnya.


Saat Rania berusaha sekuat tenaga untuk berenang ke tepian, tiba-tiba sebelah kakinya di tarik oleh sesuatu.


"AARGH!!!" Rania sangat terkejut, dia memekik ketakutan. Seandainya saat itu dia tidak sedang berada di dalam air, mungkin saja dia sudah jatuh pingsan.


"Lepaskan kakiku, lepaskan!" Rania memberontak dengan sekuat tenaga hingga akhirnya kakinya benar-benar terlepas.


"Hahaha."


Rania berbalik begitu mendengar suara tawa seorang laki-laki. Tangisannya kembali pecah begitu melihat seorang pria sedang mengenakan kaca mata renang serta alat bantu pernapasan.


"Dasar brengsek! Tega sekali kamu mengerjaiku seperti ini. Kamu benar-benar membuatku takut. Huhuhu." Rania memukul dan mendorong tangannya di atas permukaan air hingga akhirnya percikan air tersebut menerpa wajah Kaaran. Rania merasa sangat jengkel dengan kelakuan iseng suaminya itu.


Kaaran hanya tertawa menerima serangan dari Rania.  "Benarkah apa yang kamu janjikan tadi?"

__ADS_1


Rania tidak menjawab. Dia malah menagis sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. Dia merasa sangat malu karena sudah mengakui semuanya. Ditambah lagi dia sepertinya sangat ketakutan kehilangan pria itu.


"Sayang, jangan menangis. Aku melakukan semua ini karena aku ingin mengetahui perasaanmu padaku, dan sekarang aku sudah tahu semuanya dengan jelas."


Kaaran tersenyum bahagia sambil berjalan ke arah Rania. Rencananya untuk mengetahui isi hati sang istri terhadapnya sungguh sangat berhasil. Dan kini pria itu sangat yakin kalau wanita kesayangannya itu juga sudah membalas cintanya.


Kaaran hendak membawa Rania ke dalam pelukannya tapi istrinya itu menolak.


"Jangan sentuh aku!" Rania mendorong dada Kaaran hingga pria itu mundur beberapa langkah.


Mendapatkan penolakan, Kaaran tidak menyerah begitu saja. Pria itu malah tertawa sambil kembali berusaha untuk membawa Rania ke dalam pelukannya, dan yang kedua ini Rania tidak menolaknya lagi.


"Sudah, Sayang. Jangan menangis," bujuk Kaaran, sambil mencium puncak kepala istrinya. Rasa sayangnya pada wanita tersebut menjadi bertambah berkali-kali lipat.


"Kenapa kamu jahat sekali? Bercandanya tidak lucu tahu." Rania memukul-mukul dada Kaaran sambil terus saja menangis.


"Jadi kamu ingin aku tenggelam betulan?" goda Kaaran.


"Ih ... siapa bilang?" Rania kembali memukul dada Kaaran dengan manja.


Kaaran terkekeh. "Oh iya, tadi aku mendengar ada seseorang yang berteriak sambil berjanji padaku untuk-"


"Aku tarik semua kata-kataku yang tadi." Rania berkata dengan cepat dan memotong ucapan Kaaran. Mendengar Kaaran ingin mengulangi perkataannya sungguh membuatnya sangat malu.


"Kamu serius ingin menarik semua kata-katamu tadi? Hem." Kaaran bertanya sambil tersenyum tipis. Dia tahu istrinya itu hanya malu mengakui semuanya.


"Eh, eh, eh, jangan!" Rania menarik Kaaran agar keluar dari air.


"Kenapa kamu menarikku? Lebih baik aku tenggelam saja, kamu juga tidak mencintai aku sebagai suamimu."


"Siapa bilang aku tidak ... me-mencintaimu? Aku mencintaimu." Awalnya Rania terlihat ragu-ragu mengungkapnya tapi akhirnya dia menyatakan juga isi hatinya yang sebenarnya.


Kaaran merasa sangat bahagia melebihi apa pun. Kalimat yang sangat ingin dia dengar itu akhirnya terlontar juga dari mulut istrinya. "Benarkah? Coba ulangi sekali lagi."


"Tidak mau. Nanti pembaca geli membacanya kalau aku mengucapkannya lagi." Rania memutar badan membelakangi Kaaran. Wajahnya sudah merona kemerahan menahan malu.


Kaaran tersenyum, lalu memeluk istrinya dari belakang. "Terima kasih, Sayang. Aku lebih mencintaimu."


...--------------...


Sementara itu, di waktu yang sama namun tempat yang berbeda. Di sebuah pusat perbelanjaan oleh-oleh khas kota Venus tengah ramai dikerumuni oleh banyak orang. Ternyata eh ternyata, demi melancarkan rencana yang sudah dia susun matang bersama dengan William, Rina, dan juga kedua anaknya jauh-jauh hari, Kaaran rela membayar mahal untuk menyogok semua pengunjung yang ada di sana. Sebagai imbalannya, semua pengunjung bisa berbelanja gratis sepuasnya di pusat perbelanjaan tersebut.


"Kira-kira apa yang sedang mama dan papa kalian lakukan sekarang di pantai?" Rina berkata sambil memilih dan memilah beberapa lembar baju yang tergantung rapi di rak toko.


"Entahlah, Tante. Semoga saja mama kami bisa segera jujur pada papa kami dan tidak egois lagi," jawab Zoe.

__ADS_1


"Iya, aku juga merasa sangat kasihan melihat papa sering dikatai kasar oleh mama. Meskipun tidak selalu, tapi sering. Papa Kaaran juga harus berusaha keras untuk membujuk mama saat mama sedang mengambek seperti anak kecil," timpal Zack.


"Kalian ini, masih kecil pemikiran kalian sudah seperti orang dewasa," kata Rina pada kedua keponakannya.


Setelah memilih beberapa lembar baju dan beberapa barang sesuai kebutuhan dan keinginannya, Rina pun beranjak keluar dari toko satu hendak berpindah ke toko yang lainnya.


Namun, saat Rina beserta kedua keponakannya dan Robot Papa keluar dari toko tersebut, mereka semua tidak sengaja bertemu dengan William sedang mengobrol dengan perempuan yang sama dengan yang tadi pagi, yaitu Celine.


Tiba-tiba perasaan Rina menjadi campur aduk, antara marah, sedih, dan cemburu. Gadis itu sangat tidak suka melihat pemandangan di depannya.


"Anak-anak, ayo kita pergi ke toko yang ada di seberang jalan sana," ajak Rina.


Melihat Rina menyeberang di jalanan bersama si kembar dan Robot Papa, William pun segera berlari menyusul mereka.


"Rina! Rina, tunggu!"


Rina tidak menggubris panggilan William. Dia terus berjalan cepat sambil menggandeng tangan Zoe, sedangkan Zack bergandengan tangan dengan Robot Papa.


"Kalian mau kemana?" tanya William, sambil berjalan beriringan dengan mereka berempat.


"Tante Rina ingin berbelanja di toko itu, Paman." Zoe menjawab sambil menunjuk bangunan yang berada tidak jauh di depan mereka.


William mengulum tawanya. "Tidak salah tante kalian ingin membawa kalian berbelanja di sana?"


"Memangnya kenapa, Paman?" tanya Zoe.


"Tidak, tidak apa-apa," jawab William.


Sesampainya di pintu masuk toko. Wajah Rina bersemu merah begitu membuka dan melihat isi di dalam ruangan yang dia anggap sebagai toko tersebut. Dengan cepat Rina kembali menutup pintu dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam.


"Anak-anak, ayo kita kembali ke tempat semula."


"Memangnya kenapa, Tante?" tanya Zoe kebingungan.


"Tidak apa-apa. Ayo cepat kita pergi dari sini," ajak Rina, sambil terburu-buru untuk pergi.


Tiba-tiba seorang pria bertubuh tambun muncul dari balik pintu dan berteriak, "Hei, Nona! Jika ingin menyewa tempat bersama pasanganmu, jangan membawa anak-anak!"


Sial. Memalukan sekali. Kenapa bisa ada tempat menjijikkan seperti itu di dekat pusat perbelanjaan seperti ini?


...----------------...


📌Note :


...Novel ini sedang mengikuti 'LOMBA UPDATE TIM'. Jangan lupa untuk memberikan dukungan vote kalian agar Author semakin bersemangat untuk menulis lebih banyak lagi....

__ADS_1


......~Terima Kasih~......


__ADS_2