Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Meteran Dan Timbangan Berjalan


__ADS_3

Kaaran membawa Zoe ke dalam pelukannya. "Putriku ... maafkan Papa karena baru mengetahui keberadaanmu sekarang, Nak."


Zoe tersenyum bahagia. Pelukan papa asli benar-benar terasa hangat dan nyaman untuknya. Sangat berbeda dengan pelukan Robot Papa buatan Zack. Kalau Zack juga mencobanya, dia pasti akan ketagihan.


Setelah puas melepas rindu, Kaaran pun bertanya, "Zoe sayang. Apa kamu bisa membawa Papa untuk bertemu dengan mama dan saudara kembarmu?


Zoe mengangguk dan menjawab dengan mantap. "Tentu saja, Papa."


"Tapi Zoe, apa kamu tahu jalan pulang ke rumah, Nak?" Kaaran khawatir Zoe tidak tahu arah jalan pulang. Biasanya, anak sekecil Zoe belum mengerti apa-apa.


Zoe mendengus. "Papa, jangankan arah jalan pulang, jarak tempat ini dengan rumah saja Zoe masih ingat."


"Benarkah? Memangnya jarak rumah kalian ke tempat ini berapa?" tanya Kaaran.


Zoe menjawab. "Jarak rumah dari tempat ini dalam satuan sentimeter adalah, tiga juta tujuh ratus tiga puluh satu ribu enam ratus empat puluh lima sentimeter."


Kaaran dan William tertawa. Mereka berpikir, kalau gadis kecil itu hanya mengarang.


"Papa dan Paman tidak percaya?" Zoe menatap Kaaran dan William dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


"Tidak, bukan begitu Zoe. Kami hanya tidak habis pikir bagaimana mungkin kamu bisa menghitungnya hingga sedetail itu." Kaaran masih saja tertawa setelah mengatakannya, membuat Zoe kesal saja.


"Jangankan jarak rumah dari tempat ini, percakapan Papa dan Zoe beserta Paman itu pun Zoe masih ingat." Zoe ingin membuktikan kalau dirinya tidak mengada-ngada soal jarak yang dia sebutkan tadi.


Kaaran dan William saling tatap. Mereka berdua masih saja tertawa.


"Papa dan Paman diamlah, dengarkan Zoe baik-baik. Zoe akan mengulang semua percakapan kita bertiga dari awal." Zoe pun kemudian mengulang semua percakapan mereka tanpa kurang atau lebih satu kata pun. Serta urutan percakapan mereka tidak ada yang tertukar sama sekali. Benar-benar sama persis.


Kaaran dan William hanya bisa mengangakan mulut mereka melihat Zoe melakukannya.


Bagaimana mungkin Zoe bisa mengingat semua percakapan kami dengan tepat dan sama persis seperti itu? Batin Kaaran.


Luar biasa. Ingatan nona muda kecil sangat tajam. Sangat cerdas. Batin William.


"Dan satu lagi. Papa, ayo berdiri di dekat Paman itu." Zoe menyuruh Kaaran untuk berdiri di dekat William.


Kaaran pun kemudian melakukannya meski pun dia merasa bingung kenapa putrinya itu menyuruhnya melakukan hal tersebut. "Lebih dekat lagi, Papa."


Setelah Kaaran dan William berdiri berdampingan dengan posisi tegak, Zoe pun kemudian menatap keduanya secara bersamaan dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Tinggi badan Papa 180 cm, sedangkan tinggi badan Paman 187 cm. Dan satu lagi, Berat badan Papa 70 kg, sedangkan Paman 75 kg."


William bertepuk tangan karena takjub. Luar biasa. Nona muda kecil benar-benar sangat genius. Dia seperti meteran dan timbangan berjalan saja.


"Zo-Zoe. Bagaimana caranya kamu melakukan semua itu, Nak? Kamu benar-benar sangat cerdas."

__ADS_1


"Bukan cerdas lagi, Tuan. Putri Anda ini sangat genius." William menyela ucapan Kaaran.


"Ya, maksudku tadi juga seperti, Will."


...----------------...


Beberapa saat kemudian. Zoe, Kaaran, beserta William sedang dalam perjalanan pulang menuju kediaman Rania bersama si kembar.


Saat tengah dalam perjalanan, Zoe pun tiba-tiba ingin menelpon Zack. Dia ingin segera memberitahukan kepada adik kabar gembira mengenai mengenai Papa mereka kepada adik kembarnya tersebut.


"Adik, aku sekarang sedang bersama Papa di sini." Zoe berkata saat panggilan suaranya dijawab oleh adik kembarnya.


"Papa? Bagaimana mungkin? Papa masih ada di sini bersamaku." Yang Zack maksud dengan papa adalah Robot Papa, bukan papa sungguhan seperti yang Zoe maksud.


"Bukan itu maksudku. Yang aku maksud di sini adalah papa kita yang asli, bukan Robot Papa buatanmu." Zoe berusaha menjelaskan kesalah pahaman Zack.


"Adik, kamu di mana sekarang? Kalau mama ada di situ, segera lah menjauh sebentar, karena mama tidak mau bertemu dengan papa kita."


"Baiklah, kami baru saja sampai di rumah. Aku akan segara masuk ke kamarku dulu." Zack segera bangkit dari duduknya, lalu mengajak Robot Papa untuk ikut masuk ke dalam kamar bersamanya. "Papa, ikut denganku ke kamar."


"Ayo." Robot Papa dan Zack pun berlari masuk ke dalam kamar Zack.


"Kakak Zoe, sekarang aku sudah masuk ke dalam kamarku. Cepat katakan, apa kita juga punya papa yang asli seperti teman-teman kita yang lain?" Zack semakin penasaran. Dia terlihat begitu antusias.


"Tentu saja kita juga punya. Kamu tahu, wajahku sangat mirip dengan wajah mama, 'kan?" kata Zoe sebelum mulai menjelaskan pada adik kembarnya.


"Apa kamu tahu, wajahmu mirip dengan siapa?" Gadis kecil itu masih main tebak-tebakan dengan adiknya.


"Tidak. Aku tidak tahu." Zack menggeleng.


"Ya tentu saja wajahmu sangat mirip dengan wajah papa kita yang asli," kata Zoe lagi. Gadis kecil itu terlihat sangat bersemangat, seperti mendapatkan mainan baru yang sangat disukainya.


Zack langsung berdiri dari duduknya. Dia juga terlihat sangat senang sekali. "Benarkah? Aku jadi penasaran, seperti apa wajah papa kita?"


"Kamu ini bagaimana sih, Dik. Kalau kamu penasaran, kamu tinggal melihat wajah kamu saja di cermin. Seperti itu lah wajah papa kita tapi versi orang dewasa."


"Kakak Zoe, tadi kamu bilang papa ada di situ bersamamu, bukan?" Zack semakin penasaran ingin melihat seperti apa penampakan wajah papa kandung mereka.


"Tentu saja, Papa ada di sini bersamaku. Kamu tahu, tadi Papa memelukku, rasanya sangat hangat dan nya ... man sekali. Berbeda dengan Robot Papa yang dadanya keras dan tidak empuk."


Jelas saja, karena kulit Robot Papa terbuat dari karet silikon, bagaimana mungkin bisa disamakan dengan manusia?


"Kakak Zoe, jaga bicaramu. Kamu membuat Robot Papa sedih." Zack segera memeluk Robot Papa yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Biar bagaimana pun, Robot Papa memiliki tempat tersendiri di hati Zack. Selama beberapa tahun ini, Robot canggih dan pintar tersebut selalu menemani Zack kemana pun Zack pergi. Menemani Zack bermain, juga menemani Zack tidur.


"Iya, iya, maaf Robot Papa, Zoe hanya bercanda. Setelah Zoe pulang nanti, Zoe akan menyanyikan sebuah lagu untukmu sebagai permintaan maaf. Bagaimana?" Zoe mencoba bernegosiasi dengan Robot Papa.


"Baiklah, Zoe. Papa tidak akan sedih lagi," kata Robot Papa. Robot itu memang sangat pintar sekali layaknya seorang manusia. Jika orang pertama kali melihatnya, pasti tidak percaya kalau dia adalah Robot. Hanya saja, tinggi badannya terlalu pendek untuk ukuran pria dewasa normal pada umumnya. Tinggi badan Robot Papa hanya 150 cm saja.


Kaaran yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan anaknya akhirnya angkat bicara. "Zoe, bagaimana mungkin robot bisa bersedih?"


"Tentu saja bisa, Papa. Robot buatan Zack itu berbeda dengan robot buatan orang lain," jelas Zoe.


"Kakak Zoe, apa itu suara papa kita?" Zack semakin terlihat antusias ketika mendengar suara seorang laki-laki dewasa.


"Iya, apa kamu ingin melihatnya? Ayo kita lakukan video call sekarang."


"Baiklah." Zack langsung setuju dengan ajakan Zoe.


Sementara itu, Zoe mengeluarkan tablet dari dalam tasnya lalu memberikan pada Karaan "Papa, pegang ini. Kita akan video call dengan Zack. Dia ingin melihat wajah Papa."


Kaaran tiba-tiba saja mencubit pipi Zoe lalu menciumnya. Pria itu merasa sangat gemas sekali melihat putrinya yang sangat pandai berbicara seperti orang dewasa. Begitu pun pada Zack, Kaaran juga sudah tidak sabar ingin melihat dirinya versi junior.


Kaaran sudah memegang tablet Zoe dengan kedua tangannya, lalu membuat benda itu sedikit lebih dekat ke arah wajahnya.


Zoe berkata, "Oke Papa, panggilannya sudah terhubung. Kita tinggal menunggu Zack menjawab panggilannya."


Hanya berselang beberapa detik kemudian, panggilan videonya sudah terhubung. Kaaran menatap wajah seseorang di layar gadget tersebut dengan tatapan heran.


Tidak mirip sama sekali. Kenapa wajah putraku terlihat sangat tua?


Melihat ekspresi wajah aneh Kaaran, Zoe pun bertanya, "Ada apa, Papa?"


"Mm ... ini, kamu dan William tadi berkata kalau wajahku dan Zack sangat mirip. Tapi kenapa wajahnya malah seperti ini?" Kaaran mengarahkan layar ke arah Zoe.


Zoe terbahak. "Hahaha. Papa sedang dikerjai, itu wajah Robot Papa."


"Benarkah? Wajah robotnya terlihat sangat mirip dengan wajah manusia. Bagaimana Zack bisa membuatnya hingga sebagus itu?" Kaaran menggaruk kepalanya merasa takjub dengan hasil karya putranya. Dia baru sadar, ternyata kedua anaknya itu sangat genius.


"Nanti saja Papa tanyakan setelah kita sampai di rumah," jawab Zoe. "Adik! Muncullah! Jangan bersembunyi! Papa ingin melihatmu! Bukankah kamu juga penasaran ingin melihat wajah papa kita seperti apa!" Zoe berteriak. Dia tahu kalau adiknya itu pasti sedang bersembunyi.


Tidak lama kemudian. Perlahan-lahan Zack mulai menampakkan wajahnya sedikit demi sedikit. Hingga pada akhirnya seluruh wajahnya memenuhi satu layar.


"Halo, Papa!" sapa Zack, sambil memamerkan gigi susu kecilnya yang rapi dan putih bersih.


Kaaran memamerkan senyuman bahagia saat pertama kali melihat wajah putranya. "Halo, Zack ... kamu benar-benar mewarisi ketampanan Papa, Nak."

__ADS_1


Zoe menatap Kaaran sambil bersidekap lalu menggelengkan kepalanya.


Ternyata papa narsis juga orangnya.


__ADS_2