Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Samuel Bergentayangan


__ADS_3

Melihat penampakan Samuel yang muncul tiba-tiba di perusahaan sang suami, pikiran Rania seketika kembali tidak tenang. Ibu dua anak itu duduk di atas sofa di dalam ruangan suaminya sambil termenung, memikirkan banyak hal mengenai ini dan itu.


Semoga saja kak Sam tidak ada niat untuk mengganggu rumah tanggaku. Aku takut, Kaaran akan marah jika tahu mengenai kedekatanku dengan kak Sam di masa lalu.


Kaaran yang melihat sikap istrinya yang berbeda dari biasanya pun menjadi Heran.


"Sayang, ada apa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Kaaran bertanya sembari menghampiri Rania lalu duduk di samping istrinya itu.


Rania menggeleng. "Tidak ada apa-apa?"


Meski pun Rania berkata tidak ada apa-apa, tapi Kaaran tidak mau percaya begitu saja.


"Kalau tidak ada apa-apa, lalu kenapa kamu terlihat aneh begitu? Apa yang sedang kamu pikirkan Sayang, hm? Aku tahu, kamu pasti sedang memikirkan sesuatu saat ini." Kaaran kembali bertanya sambil merangkul bahu istrinya.


"Benar-benar tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit mengantuk. Semalam aku kurang tidur karena ... memikirkan masalah kita kemarin." Rania menguap lalu setelah itu dia tersenyum dipaksakan. Dia tidak ingin suaminya curiga.


"Serius?" tanya Kaaran, ingin memastikan.


"Iya, aku serius." Rania berusaha meyakinkan Kaaran.


Kaaran terdiam sejenak. Pria tampan itu menatap wajah istrinya lekat-lekat.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Rania.


Cup. Sekilas Kaaran mendaratkan ciuman di bibir mungil istrinya. " Tidak apa-apa, Sayang."


Kaaran bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kursi kebesarannya.


"Sayang, pukul 10 pagi nanti aku akan ada rapat dengan klien penting di AA Restaurant, apa kamu ingin ikut?" tanya Kaaran.

__ADS_1


Rania mengangguk. "Tentu saja aku ikut. Kenapa kamu masih menanyakannya? Bukankah biasanya aku memang selalu ikut ke mana pun kamu pergi?"


"Tidak, bukan begitu Sayang. Maksudku, tadi 'kan kamu bilang kalau kamu kurang tidur, jadi aku pikir, mungkin kamu ingin beristirahat di sini saat aku pergi," jelas Kaaran.


"Seingatku Restoran AA itu lumayan jauh,'kan? Jadi aku pikir aku bisa beristirahat di dalam mobil saat dalam perjalanan menuju ke sana. Pokoknya aku tidak mau ditinggal di sini." Rania berkata sembari berjalan menuju ke arah Kaaran lalu memeluk suaminya itu.


Aku tidak mau ditinggal di sini sendirian, apalagi setelah melihat kemunculan sosok yang sangat mirip dengan kak Sam. Yang aku takutkan, sosok yang aku lihat tadi pagi itu memang benar dia. Ah, semoga saja itu tidak benar, dan semoga saja tadi pagi aku hanya salah lihat. Aku sangat berharap, laki-laki berseragam OB yang aku lihat sekilas tadi pagi hanya mirip dengan kak Sam. Iya, semoga saja benar begitu.


...****************...


Pukul 10 pagi, AA Restaurant


Pagi itu Kaaran, Rania, dan William sudah sampai di restoran mewah tersebut. Di dalam sebuah ruangan VIP restoran, terlihat kedatangan mereka memang sudah disambut hangat oleh klien penting tersebut.


"Selamat datang Pak Kaaran." Pria berpenampilan rapi dengan setelan jas berwarna biru malam itu mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Kaaran, Rania, beserta William dengan sangat ramah.


Pria muda berpenampilan rapi dan menawan bak pimpinan-pimpinan perusahaan pada umumnya itu bernama Haikal Wijaya, pimpinan perusahaan S.W Group, perusahaan kedua terbesar setelah Galaxy Group yang dipimpin oleh Kaaran saat ini. Pagi itu Haikal datang bersama sekretaris sekaligus kekasihnya yang bernama Hanna.


Setelah semuanya saling berkenalan satu sama lain, barulah mereka berlima mengambil tempat duduk mereka masing-masing.


"Oh iya, sebaiknya kita pesan minum dulu sebelum memulai rapatnya," usul Haikal.


"Terserah Pak Haikal saja, kami hanya mengikut," ucap Kaaran.


Tidak lama kemudian, seorang pelayanan laki-laki datang menghampiri mereka.


"Selamat pagi, Tuan, Nona." Pelayan laki-laki itu menyapa dengan nada sopan dan ramah bak pelayan-pelayan restoran pada umumnya.


Mendengar suara pelayan laki-laki itu, perasaan Rania seketika berubah menjadi tidak enak, jantungnya juga seketika berdetak tidak karuan. Rania merasa sangat tidak asing dengan suara pelayan tersebut. Dia pun lalu mendongakkan kepalanya menatap ke arah pelayan laki-laki yang sedang berdiri tepat di sampingnya saat itu.

__ADS_1


Deg. Seketika jantung Rania berdetak semakin tidak karuan. Dengan cepat Rania segera mengalihkan pandangannya dari pelayan itu, apalagi saat melihat pelayan laki-laki itu juga tengah menatapnya.


Untung saja pemandangan itu tidak disaksikan oleh Kaaran karena saat itu Kaaran sedang mengobrol dengan Haikal. Jadi, perhatiannya saat itu tidak terlalu fokus pada istri yang duduk di sebelahnya.


Kak Sam? Apa itu benar-benar dia? Atau mungkin aku hanya salah lihat. Tidak mungkin. Ini pasti hanya halusinasiku saja. Mana mungkin kak Sam bekerja sebagai pelayan di restoran ini. Sangat tidak masuk akal.


Rania masih belum percaya dengan apa yang dia lihat.


Aku yakin, yang aku lihat tadi pagi itu pasti hanya halusinasiku saja, tidak mungkin 'kan kak Sam ada di mana-mana, berprofesi sebagai Office Boy (OB) dan bekerja pelayan di restoran ini, benar-benar tidak masuk akal. Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain hanya mengikutiku ke mana pun aku pergi? Lagi pula, dia tahu dari mana kalau aku akan pergi ke restoran ini? Kalau memang dia benar-benar mengikutiku, tidak mungkin juga dia bisa langsung siap dengan seragam pelayan sebelum aku sampai di dalam ruangan ini. Benar-benar tidak masuk akal bukan.


Rania masih merasa belum percaya kalau pria itu adalah Samuel, pria dari masa lalunya. Atau lebih tepatnya, cinta pertamanya.


"Sayang, kamu mau pesan apa?" Kaaran bertanya pada Rania tapi istrinya itu malah keasyikan melamun.


"Sayang." Panggilan Kaaran yang kedua ini akhirnya menyadarkan Rania dari lamunannya.


"I-iya. Kamu bilang apa tadi? Maaf, aku tidak mendengarnya." Rania berusaha menyembunyikan kegugupannya di hadapan sang suami.


"Maaf, Nona. Anda ingin memesan apa?" Kali ini Samuel yang bertanya pada Rania. Pria itu memang sengaja ingin membuat Rania semakin salah tingkah di hadapan semua orang, terutamanya Kaaran. Samuel memang sangat ingin menghancurkan rumah tangga Kaaran dan Rania, lalu membawa kembali Rania ke pelukannya.


"Ak-aku ... aku, aku memesan ... aku memesan ...." Rania terlihat semakin gugup, bahkan untuk memesan minuman saja dia sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi.


Kaaran merasa semakin aneh dengan sikap istrinya. Namun, pria itu tidak menaruh kecurigaan sedikit pun. Dia hanya berpikir kalau istrinya pasti sedang tidak enak badan.


"Sayang, kamu baik-baik saja 'kan?" Kaaran bertanya sembari memeriksa kening Rania.


"Badan kamu tidak panas." Kali ini tangan Kaaran beralih menggenggam tangan Istrinya. "Tapi aneh, tangan kamu terasa sangat dingin. Ada apa Sayang? Katakan padaku."


Rania menggeleng sambil tersenyum dipaksakan. "Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa. Aku pesan minum sama seperti yang kamu pesan saja."

__ADS_1


"Baiklah, Sayang."


Setelah Kaaran memesan makanan untuk Rania, Samuel pun segera pamit undur diri. Pria itu berjalan keluar dari ruangan sambil tersenyum menyeringai.


__ADS_2