
Beberapa saat kemudian, 2 orang pelayan berjalan memasuki ruangan mereka. Dengan jantung yang sudah berbunyi dag dig dug, Rania memberanikan diri menoleh ke arah 2 pelayan yang baru datang tersebut. Gadis itu seketika bernapas dengan lega ketika melihat sosok kedua pelayan tersebut.
Huft ... syukurlah. Aku merasa sangat lega karena yang datang rupanya pelayan yang lain, bukan pelayan yang mirip dengan kak Sam tadi.
1 Jam kemudian.
Kaaran dan Haikal sudah selesai membahas mengenai kerja sama mereka. Setelah makan siang bersama, Kaaran, Rania, beserta William pun segera kembali ke Galaxy Group.
Saat dalam perjalanan, di dalam mobil, Rania lebih banyak termenung. Namun, dia menyembunyikannya dengan cara berbaring di pangkuan suaminya.
"Sayang, nanti sore aku ingin mengajak kamu bersama anak-anak untuk pergi jalan-jalan." Kaaran berkata sambil membelai kepala istrinya.
"Jalan-jalan ke mana?" Rania bertanya tanpa sedikit pun mengubah posisinya.
"Mm ... mungkin ke mall kalau kamu tidak keberatan," jawab Kaaran.
"Mall?" Rania berkata seraya bangkit dari posisi berbaringnya. Membayangkan dirinya pergi berbelanja sepertinya akan sangat menyenangkan.
Mungkin dengan pergi berbelanja ke mall, aku bisa menyingkirkan kak Sam dari pikiranku.
Eh, tidak tidak. Aku tidak mau pergi ke sana. Bukankah kemarin kami bertemu di sana. Lebih baik aku tinggal di villa saja menghabiskan waktu dengan bermain bersama anak-anak, Robot Papa, dan Kaaran. Aku takut, saat pergi keluar, apalagi di mall, aku akan bertemu lagi dengan sosok yang mirip dengan kak Sam itu. Kalau aku tetap berada di rumah, pasti akan lebih aman.
Jujur saja, sejak kemarin kak Sam memang sudah bergentayangan di pikiranku. Anehnya, saat aku bertemu dengan sosok yang mirip dengan kak Sam itu, dia seperti tidak mengenaliku sama sekali. Apa memang benar kalau pria itu memang bukanlah kak Sam tapi mereka hanya terlihat mirip?
Semoga saja benar begitu. Aku tidak ingin kemunculan kak Sam yang asli bisa mengacaukan kedamaian rumah tanggaku dengan Kaaran. Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi.
"Sayang, kenapa kamu melamun lagi?" tanya Kaaran.
Rania menggeleng. "Tidak, tidak ada apa-apa. Aku tadi hanya memikirkan ajakanmu. Aku rasa, sebaiknya kita tidak pergi ke mana-mana dulu. Bukankah kemarin kita sudah pergi ke mall, jadi aku pikir, lebih baik kita di villa saja, bermain bersama anak-anak. Bagaimana?" tanya Rania, memberi usul.
__ADS_1
"Terserah kamu saja Sayang. Aku akan menuruti apa pun keinginanmu." Kaaran merangkul bahu Rania lalu menyandarkan kepala istrinya itu di bahunya. Sebelah tangannya dia pakai untuk menggenggam tangan Istrinya.
...----------------...
Sementara itu di tempat lain. Setelah berhasil mengganggu pikiran Rania selama kurang dari 24 jam, Samuel kembali menemui Boron di kantor polisi.
"Paman Boron, saya sudah melakukan seperti yang Paman Boron katakan, dan sepertinya, rencana kita berhasil. Aku bisa melihat dengan jelas kalau Rania terlihat sangat terkejut saat melihatku, dan sepertinya, dia juga terlihat sangat gugup, Paman. Aku bisa melihat ketakutan Rania saat melihatku muncul di hadapannya saat dia sedang bersama suaminya," jelas Samuel. Wajah pria terlihat sangat sumringah, begitu pula dengan Boron.
"Bagus Sam, Paman merasa sangat senang mendengarnya. Secepatnya kamu harus mengacaukan rumah tangga mereka, kamu harus segera merebut Rania kembali dari pelukan Kaaran. Kamu harus merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kamu Sam."
Begitu lah, Boron terus memprovokasi Samuel agar putranya itu bisa membantunya membalaskan dendam meski pun dirinya tetap berada di dalam penjara.
"Iya Paman, Paman benar. Rania adalah milik Sam, Paman, bukan milik pria brengsek itu."
Hasutan Boron beserta ambisi Samuel untuk merebut Rania dari pelukan Kaaran sepertinya sudah membutakan mata hati pria itu. Dia sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kaaran yang dia anggap sebagai pria brengsek tetaplah brengsek di matanya. Padahal sekali pun dia tidak pernah melihat Kaaran memperlakukan Rania dengan buruk, justru malah sebaliknya. Sepertinya cintanya yang buta juga sudah ikut membutakan mata dan hatinya.
...----------------...
Kaaran dan Rania sedang menemani sepasang anak kembarnya, Zoe dan Zack untuk bermain, ditambah dengan Robot Papa.
"Mama, Papa, Adik, Robot Papa, Zoe ingin mengajak kalian semua untuk membuat rekaman video klip untuk lagu terbaru yang baru saja selesai Zoe ciptakan," ucap Zoe pada anggota keluarganya yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
Gadis kecil itu baru saja selesai menciptakan sebuah lagu bertemakan keluarga bahagia beserta instrumen musiknya. Dia terinspirasi dari keluarganya yang saat ini sudah lengkap, tidak sama seperti dulu sebelum mereka bertemu dengan Kaaran, papa kandungnya.
"Lagu apa Sayang?" tanya Kaaran pada putrinya itu.
"Lagu yang bertemakan keluarga bahagia, Papa. Judulnya 'Happy Family'," jawab Zoe.
Kaaran dan Rania tersenyum mendengarkan penuturan putri mereka. Sejenak keduanya saling tatap. Saat itu Karan dan Rania duduk di kursi yang bersebelahan.
__ADS_1
"Oh, ya?" kata Kaaran. Dia merasa sangat gemas dengan putrinya itu.
"Iya, Papa. Bisakah Papa meluangkan waktu Papa untuk syuting video klipnya? Zoe ingin memasukkannya ke dalam kanal youtube Zoe," jelas Zoe. Gadis kecil itu tahu betul kalau papanya sangat sibuk.
Kaaran menarik Zoe untuk duduk di pangkuannya. "Tentu saja bisa Sayang."
"Hore ...!" Zoe terlihat sangat senang mendapatkan persetujuan dari Kaaran.
"Papa ... Zack juga mau dipangku oleh Papa." Zack berkata seraya berjalan ke arah Kaaran dan Zoe.
"Sini Sayang." Kaaran menarik tangan Zack, lalu memangku kedua anaknya itu di masing-masing di atas pahanya.
"Ekhm, mentang-mentang sekarang sudah ada Papa, jadi sekarang kalian berdua sudah tidak sayang lagi sama Mama, hm?" Rania sengaja menggoda kedua anak kembarnya.
"Mama ...." Zoe dan Zack berkata secara bersamaan. Kedua anak itu lalu turun dari pangkuan Kaaran dan beralih memeluk Rania yang duduk tepat di samping Kaaran.
"Mama, kenapa Mama bicara seperti itu?" tanya Zoe.
"Iya, Ma. Zack dan Kakak Zoe juga sayang sama Mama kok. Kami berdua sayang sama Mama dan Papa. Kami sangat menyayangi kalian berdua," ujar Zack saat dirinya dan Zoe tengah memeluk mamanya.
"Iya, Ma, adik benar. Jadi Mama jangan pernah berkata seperti itu lagi, ya?" tambah Zoe, memperingatkan.
Rania tersenyum, lalu mencium kedua anaknya secara bergantian. "Mama hanya bercanda, Sayang. Mama hanya menggoda kalian berdua."
"Ekhem, mentang-mentang keluarga kalian sudah utuh, jadi kalian sudah melupakan aku." Kali ini Robot Papa yang angkat bicara.
Dulu, sebelum Zoe dan Zack bertemu dengan Kaaran, Robot Papa lah yang berperan sebagai pengganti Papa mereka.
Zoe dan Zack terkekeh melihat wajah menyedihkan Robot Papa, begitu pula dengan Kaaran dan Rania.
__ADS_1
"Papa Robot ...." Zoe dan Zack lari berhambur memeluk Robot Papa, sampai-sampai mereka bertiga terjatuh dengan posisi Zoe dan Zack berada di atas Robot Papa.
Ting! Bunyi kepala Robot Papa yang berbenturan dengan lantai marmer. Ketiganya pun tertawa bersama, mereka semua tidak mempedulikan hal itu karena Robot Papa tidak merasakan sakit sama sekali.