
Sesampainya di parkiran apartemen. William pun mengajak Rina untuk ikut naik ke unitnya.
"Sayang, ayo turun. Ikut aku ke atas," ajak William.
"Tidak usah Kak Will, aku menunggu di sini saja. Kak William cuma mau mengambil berkas, 'kan? Berarti tidak butuh waktu lama."
"Sayang ... bukan masalah lama atau tidaknya aku di atas, tapi aku mengkhawatirkan keselamatanmu jika aku meninggalkanmu di sini seorang diri. Aku tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu kembali terulang." William berusaha menjelaskan kekhawatirannya pada Rina.
"Baiklah, Kak. Lagi pula, aku juga baru ingat, kalau pria cacingan itu ternyata juga tinggal di sini."
Rina ikut keluar dari mobil bersama William. Mereka berdua berjalan menuju lift yang tersedia di ruang basemen sambil bergandengan tangan.
Keduanya tidak sadar, jika sepasang mata tengah memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Cih, mesra sekali." Pemuda yang tidak lain adalah Andre tersebut segera melajukan mobilnya meninggalkan lokasi apartemen.
Meski pun Andre benci melihat Rina bahagia bersama William sekarang, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. William bukanlah tandingannya.
.
.
Ting.
Pintu lift terbuka tepat di lantai 7 tempat di mana unit William berada. Letak unit William tidak jauh dari lift tersebut.
Pintu unit William terbuka setelah pria itu menggeser kartu aksesnya.
"Masuklah." William membuka pintu unitnya lebar-lebar, lalu menyuruh Rina untuk masuk ke sana duluan. Begitu Rina masuk, barulah pria itu juga ikut masuk, lalu menutup pintunya dari dalam.
Rina menyapukan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan.
"Sepertinya banyak yang berubah." Rina mendongak menatap William saat mengucapkan kalimat tersebut.
Aku ingat betul jika sofa yang dulu pernah aku tempati berbaring di sini berwarna abu-abu, kenapa sekarang malah berubah menjadi warna hitam?
"Sofanya sudah aku ganti, Sayang." William berkata seraya berjalan mendahului Rina.
"Duduklah dulu, aku ingin masuk ke dalam kamar untuk mencari berkas yang diminta oleh tuan Kaaran."
__ADS_1
Rina menurut. Gadis itu lalu duduk di atas sofa hitam yang tersedia di dalam unit tersebut.
Kenapa sofa yang waktu itu diganti, bukankah sofanya itu masih bagus dan juga masih baru?
Saat William masuk ke dalam kamarnya, Rina terus mengedarkan pandangannya melihatke sekeliling ruangan.
Unit kak William terlihat sangat rapi dan bersih. Kapan dia membereskan dan membersihkan semua ini? Bukankah selama ini dia sangat sibuk.
Saking bersih dan rapinya, Rina sampai berpikir, tidak akan ada yang menyangka jika unit tersebut hanya dihuni oleh seorang laki-laki.
Rina terus mengedarkan pandangannya melihat benda-benda yang tertata rapi di dalam unit tersebut. Namun tiba-tiba saja matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang terpajang di atas meja tepat di sudut ruangan. Karena penasaran, Rina pun segera berjalan menghampiri.
Eh, siapa perempuan yang bersama kak William di dalam foto ini? Apa ... perempuan ini mantan pacarnya?
Dari gaya berpakaian William dan gadis yang bersamanya di dalam foto itu, sepertinya foto itu diambil sekitar 10 tahun yang lalu.
Jika perempuan ini memang mantan pacar kak William, sepertinya gadis ini sangat spesial. Kak William bahkan masih menyimpan foto mereka berdua setelah sekian lama mereka putus.
Seketika Rina merasa cemburu pada perempuan yang ada di dalam foto itu. Padahal dia belum tahu pasti siapa sebenarnya gadis tersebut.
"Kamu sedang melihat apa Sayang?" Suara William tiba-tiba saja mengejutkan Rina. Dengan cepat gadis itu meletakkan bingkai foto tersebut kembali di atas meja.
Melihat Rina tersenyum paksa, William segera berjalan menghampiri gadis itu. William bisa menebak, kekasihnya itu pasti sudah melihat foto yang memang sengaja dia letakkan di sana.
"Kamu sudah melihat foto ini?" William bertanya sambil tersenyum menatap foto yang ada di dalam bingkai tersebut.
"Hem," gumam Rina.
"Apa kamu ingin tahu, siapa gadis yang ada di dalam foto ini?" tanya William.
Rina menggeleng. "Aku tidak mau tahu."
Kak Will pasti ingin membuatku cemburu dengan menceritakan mantan pacarnya yang dia anggap spesial itu. Jangan harap.
Rina melangkah hendak meninggalkan William yang masih berdiri di sana. Namun, langkahnya terhenti ketika William mencekal pergelangan tangan gadis itu.
"Kamu mau pergi ke mana Sayang?" tanya William.
Rina terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" William kembali bertanya ketika melihat tingkah Rina yang semakin aneh. Dan lagi-lagi Rina tidak menjawab pertanyaan pria itu.
Melihat hal itu, William menjadi curiga. Jangan-jangan, Rina cemburu pada Wilona.
William tersenyum. Dia akan merasa sangat senang jika Rina benar-benar cemburu padanya. Itu artinya, gadis itu memang benar-benar sayang padanya.
William menarik tangan Rina agar gadis itu semakin mendekat ke arahnya.
"Sayang, apa kamu cemburu pada gadis cantik yang ada di dalam foto ini?" William berkata sambil memeluk leher Rina dari belakang.
"Siapa juga yang cemburu? Aku tidak cemburu." Hati dan ucapan Rina tidak sinkron. Hatinya merasa cemburu tapi bibirnya berkata tidak.
"Sayang, kamu tahu tidak, jika kamu bersikap seperti ini, ini menandakan bahwa kamu memang sedang cemburu." William berkata sambil tersenyum.
Rina tidak menjawab, dia malah memalingkan wajahnya.
"Kamu tahu tidak, gadis yang ada di foto ini sama spesialnya dengan kamu."
Hng, kenapa malah menyamakan aku dengan perempuan lain? Aku sangat tidak suka. Kak William menyebalkan sekali.
Mendengar ucapan William barusan, Rina merasa semakin kesal. Dia mencoba melepaskan tangan William yang melingkar di lehernya, tetapi William malah semakin mengeratkan pelukannya, bahkan sekarang dia sudah memeluk Rina menggunakan kedua tangannya.
"Lepaskan." Rina kembali berusaha memberontak tapi William tetap tidak mau melepaskannya.
"Sayang, kamu tahu tidak. Gadis yang ada di dalam foto itu adalah mendiang adikku."
Apa? Jadi ternyata aku cemburu pada adik kak William sendiri. Memalukan sekali. Tapi tunggu dulu, kak William tadi bilang mending adik, berarti adiknya itu sudah meninggal.
"Namanya Wilona. Jika saja dia tidak menderita gagal jantung, pasti sekarang dia sudah menikah dan punya anak." William tetap bercerita, meski pun dari luar Rina nampaknya tidak peduli akan hal itu, padahal di dalam hatinya, gadis itu menyimak cerita William dengan sangat baik.
Apa? Jadi adiknya kak William meninggal karena gagal jantung. Kasihan sekali.
"Kapan adiknya Kak William itu meninggal dunia?" Kali ini Rina sudah mau berbicara kembali dengan kekasihnya itu. Dari nada bicaranya, sepertinya suasana hati gadis itu sudah kembali membaik seperti sedia kala.
"Wilo meninggal 8 tahun yang lalu, dan foto ini diambil 2 tahun sebelum dia meninggal," jelas William.
"Oh." Rina mengangguk pelan pertanda mengerti.
Setelah merasa suasana hati Rina sudah membaik, William pun segera melepaskan pelukannya. Sampai di sini William bisa mengambil kesimpulan, bahwa menjalin hubungan dengan gadis yang jauh lebih muda, dia harus banyak-banyak melatih kesabaran. Dia harus bersabar menghadapi sikap Rina yang terkadang kekanak-kanakan menurutnya.
__ADS_1