
Mereka berlima sudah memulai sarapan mereka pagi ini. Kaaran duduk diantara Zoe dan Zack, sedangkan Rania duduk di samping Aditya.
"Kak Aditya, mau tambah telur?" tawar Rania.
"Ah, em ... tidak usah, Ra. Aku sudah kenyang." Sebenarnya Aditya menolak bukan karena dia sudah kenyang, tapi karena dia sudah tidak tahan dengan tatapan tajam yang ditujukan oleh Kaaran padanya. Apalagi dirinya duduk tepat di samping Rania, dan Rania juga dari tadi selalu mengajaknya berbicara membahas ini dan itu. Aditya yakin, Kaaran pasti sangat tidak suka melihat hal itu.
"Kenapa? Kak Aditya tumben sarapannya sedikit sekali, biasanya 'kan tidak begitu," ujar Rania.
Kaaran terkejut mendengar ucapan Rania. Rania bilang biasanya tidak begitu, berarti pria ini memang sudah sering datang kemari untuk sarapan.
Bukan sering lagi, tapi setiap pagi karena rumah mereka bersebelahan. Apalagi Aditya juga belum menikah dan hanya tinggal sendiri di rumahnya, jadi belum ada yang menyiapkan sarapan untuknya di pagi hari.
"Itu, tadi sebelum ke sini aku sempat makan sesuatu," bohong Aditya beralasan.
"Oh."
"Ehm." Kaaran berdehem, lalu menyodorkan piringnya ke arah Rania. "Aku yang ingin tambah, berikan saja telurnya padaku."
"Ambil saja sendiri." Rania berkata dengan ketus lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dia tidak mau meladeni Kaaran karena dia masih kesal gara-gara sosis nakal di kamarnya tadi.
"Eh, Rr-Ra, berikan saja telur itu padanya. Aku juga sudah tidak mau kok." Aditya merasa semakin gugup saja karena Kaaran semakin menatapnya dengan tatapan tajam seolah ingin membunuhnya saat itu juga ditambah lagi setelah Rania menolak untuk meladeni pria pencemburu itu.
"Biarkan dia mengambilnya sendiri, Kak. Dia 'kan juga punya tangan sendiri." Rania masih bersikeras tidak mau meladeni Kaaran.
Aduh Rara ... apa kamu ingin membuatku mati di tangan pria cemburuan dan posesif seperti dia? Batin Aditya, dia semakin takut melihat tatapan tajam Kaaran padanya.
Kaaran yang sudah tidak tahan dengan rasa cemburu yang dia rasakan di dalam hatinya memutuskan untuk segera meninggalkan meja makan. Dia sudah tidak berselera makan lagi melihat Rania yang begitu perhatian pada pria lain.
Zoe dan Zack hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua orang tuanya yang sudah seperti anak kecil.
Setelah punggung Kaaran tidak terlihat lagi, Aditya pun berkata pada Rania, "Ra, apa kamu ingin membuat kakak angkatmu ini mati di tangan pria itu?"
Rania berpura-pura kebingungan. Padahal dia memang sengaja ingin membuat Kaaran marah dan cemburu pada kakak angkatnya itu. "Apa maksud Kak Aditya? Kenapa dia harus membunuh kamu, Kak? Mana berani dia melakukan hal sekeji itu?"
"Mungkin dia memang tidak berani melakukannya sendiri, Ra, tapi dia bisa membayar orang berapa pun demi untuk melenyapkan nyawaku. Jadi tolong, aku minta berhenti membuatnya salah paham. Aku tidak mau mencari masalah dengan orang seperti dia," jelas Aditya.
"Kak Aditya tenang saja. Dia tidak akan berani macam-macam padamu. Aku yang akan melawannya jika dia berani menyentuhmu sedikit pun."
__ADS_1
Percuma aku berbicara dengan Rara. Dia tidak akan mengerti betapa menyeramkan pria cemburuan dan posesif seperti pria itu.
"Rara, aku tidak bisa tenang sebelum menyelesaikan kesalah pahaman ini dengannya." Aditya segera bangkit dari duduknya, ingin menyusul Kaaran di teras.
Sesampainya di teras, Aditya melihat Kaaran sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Dia mendengar Kaaran sedang membahas tentang penerbangannya bersama Rania dan kedua anak kembarnya menuju kota Merkurius.
Apa? Jadi dia ingin membawa Rara dan anak-anak ikut pulang bersamanya. Kenapa mendadak sekali? Apakah Rara dan anak-anak memang sudah setuju untuk ikut dengannya? Batin Aditya.
Tidak lama kemudian, setelah melihat Kaaran mengakhiri panggilan teleponnya, Aditya pun berjalan menghampirinya.
"Ada apa?" Kaaran bertanya dengan nada datar sambil tetap membelakangi Aditya. Ternyata dia memang sudah menyadari kedatangan pria tersebut sejak tadi.
Aditya menghentikan langkahnya ketika mendengar pertanyaan Kaaran. "Saya ingin berbicara dan meluruskan suatu kesalah pahaman di antara kita."
Kaaran berbalik menatap Aditya dengan gaya coolnya, kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku depan celana yang dia kenakan. "Katakan."
Aditya berjalan lebih mendekat lagi ke arah Kaaran. "Hubungan saya dan Rara tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami hanya sebatas kakak dan adik angkat. Jadi, kamu tidak perlu cemburu padaku."
Kaaran membuang mukanya lalu kembali membelakangi Aditya. "Siapa juga yang cemburu pada kalian berdua. Aku tidak cemburu."
Aditya tersenyum. Sebagai sesama lelaki, dia tahu kalau Kaaran tidak mau harga dirinya jatuh karena hal tersebut.
Meski pun Kaaran sudah berusia 35 tahun dan lebih tua 5 tahun dari Aditya, tapi usia mereka terlihat tidak jauh beda, bahkan Kaaran masih terlihat seperti usia 20-an, bukan 30-an. Berkat ketampanannya, dia terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya.
"Sebelumnya saya minta maaf, tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu saat berbicara di telepon," ucap Aditya.
"Tidak apa-apa."
"Apa kamu benar-benar ingin membawa Rara beserta Zoe dan Zack pulang ke kotamu?" tanya Aditya, ingin memastikan.
"Ya, itu benar. Dan aku juga sudah merencanakan pernikahanku dengan Rania." Kali ini nada bicara Kaaran sudah seperti seorang teman bagi Aditya.
Aditya tersenyum. "Aku sangat senang mendengarnya. Tapi asal kamu tahu, sebenarnya Rara masih sangat meragukan kamu. Dia hanya terpaksa bersamamu karena dia sangat ingin melihat kedua anaknya selalu bahagia."
Sejenak Kaaran menoleh ke arah Aditya. "Sepertinya kamu dan Rania sudah sangat dekat. Dia bahkan menceritakan semua itu padamu."
"Tentu saja, kami memang sangat dekat. Karena hanya aku satu-satunya orang yang dia anggap kerabat di kota ini. Kami berdua memang sudah seperti saudara kandung, suka dan duka kami hadapi bersama. Setiap ada masalah, kami selalu berbagi dan mencari jalan keluarnya bersama-sama."
__ADS_1
...----------------...
Keesokan harinya, Aditya mengantar Rania, Kaaran, Zoe, Zack, Robot Papa beserta Wiliam ke Bandara.
"Kak Aditya, aku pamit, ya?" Rania berpamitan sambil menangis dan memeluk Aditya dengan erat. Aditya membalas pelukan Rania, lalu menepuk bahu gadis itu dengan sangat pelan dan lembut.
Selama hampir 6 tahun tinggal di kota Pluto, Aditya lah yang sudah banyak membantu Rania. Mereka memang sudah dekat dan akrab layaknya saudara kandung.
Kaaran memalingkan wajahnya ketika melihat Rania berpelukan dengan pria lain. Meski pun dia sudah tahu kalau Rania dan Aditya tidak punya hubungan spesial, tetapi pria itu tetap saja tidak suka Ranianya disentuh oleh pria lain.
"Ehm!" Kaaran berdehem ketika merasa keduanya sudah berpelukan cukup lama.
Aditya langsung mendorong pelan tubuh Rania setelah mendengar suara deheman Kaaran. "Sudah, jangan menangis. Jangan lupa mengundangku untuk datang ke pesta pernikahan kalian nanti."
"Kamu bicara apa sih, Kak? Aku 'kan sudah bilang, kalau aku tidak mau menikah dengannya. Semua ini aku lakukan demi anak-anak." Rania berkata sambil berbisik pada Aditya, juga sambil menyeka air matanya yang masih menetes.
Aditya tersenyum lalu mengelus kepala Rania dengan lembut. "Menurut saja. Dia tidak seburuk yang kamu pikirkan. Lagi pula, ini semua kamu lakukan demi kebahagiaan anak-anak. Jadi semangatlah sedikit, aku yakin, dia pasti bisa membahagiakan kamu beserta anak-anak kaliana nantinya."
"Kamu juga, Kak. Setelah kami tinggal, segeralah cari pendamping hidup. Kamu ini sekarang sudah mapan dan dewasa, carilah seorang wanita untuk dijadikan sebagai istri, biar ada yang mengurus dan merawatmu nanti," pesan Rania.
Aditya kembali tersenyum. "Belum waktunya, Ra. Aku masih ingin bebas."
"Om Adit!" Zoe dan Zack berlari memeluk Aditya.
"Sayang ...." Aditya berjongkok dan memeluk kedua anak kembar itu. "Sering-sering video call Om, ya?"
"Iya, Om." Seperti biasa, Zoe dan Zack menjawab bersamaan.
"Tidak bisakah Robot Papa tinggal bersamaku saja, Zack?" tanya Aditya pada Zack.
"Tidak bisa, Om. Papa adalah teman baik Zack," jawab Zack. "Begini saja, Om Adit ambil saja semua robot pembersih untuk dibawa ke rumah mau pun ke toko Om Adit."
Aditya tertawa. "Ya, ya, ya. Itu lebih baik dari pada tidak ada sama sekali." Aditya kembali memeluk Zoe dan Zack. "Om pasti akan sangat merindukan kalian nanti."
"Kami juga pasti akan sangat merindukan Om Adit."
"Tuan! Sebaiknya kita masuk sekarang. Tidak lama lagi pesawatnya akan lepas landas," kata William, mengingatkan.
__ADS_1
"Oke." Kaaran berjalan menghampiri Aditya. "Aditya, terima kasih karena kamu sudah menjaga mereka bertiga dengan sangat baik selama bertahun-tahun."
"Tidak perlu berterima kasih, karena mereka sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri," ucap Aditya.