Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Broken Heart


__ADS_3

Rania merasa terkejut dan tidak percaya mendengar ajakan menikah yang diungkapkan oleh Kaaran.


Apa? Apa aku tidak salah dengar? Dia mengajakku menikah. Perempuan bodoh mana yang mau dinikahi oleh pria brengsek seperti dia? Meski pun dia sangat tampan dan juga kaya raya, tapi aku tidak sudi menikah dengan pria playboy seperti dia. Bukannya bahagia, yang ada nanti aku malah akan dibuat menangis setiap hari olehnya.


Melihat Rania terdiam, Kaaran kembali bertanya. Kini pria itu sudah berlutut ingin memohon agar lamarannya diterima oleh gadis pujaan hatinya itu. "Rania, aku mohon, bersedialah menikah denganku. Aku berjanji, aku pasti akan membahagiakan kamu bersama anak-anak kita nanti."


"Maaf, aku tidak bisa menerima lamaranmu." Rania membuang muka, dia masih enggan menatap wajah pria tampan yang sedang berlutut mengemis agar lamarannya dia terima.


"Kenapa? Apa karena dulunya aku seorang playboy?" Untuk yang kedua kalinya Kaaran kembali berusaha menggapai tangan Rania tapi Rania kembali menepis tangannya. Gadis itu tidak ingin disentuh oleh Kaaran.


Dulu sama sekarang apa bedanya? Bukannya sama saja. Batin Rania. Dia masih mengira kalau Kaaran masih seperti dulu, suka bergonta-ganti partner ranjang setiap malam.


"Rania, asal kamu tahu, aku sudah berubah Rania. Aku sudah berubah semenjak mengenalmu. Sekarang, aku bukan Kaaran yang dulu kamu kenal." Kaaran masih berusaha membujuk Rania.


Dasar pria buaya. Kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu itu. Jangan mimpi, aku bukan perempuan bodoh yang bisa dengan mudah kamu tipu.


"Siapa pun kamu dan bagaimana kamu sekarang, aku tetap tidak peduli." Kali ini Rania memberanikan diri menatap Kaaran. "Kenapa? Karena sekarang aku sudah memiliki suami."


Kaaran kembali berdiri. Pria itu menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan Rania. "Tidak, Rania. Aku tidak percaya. Aku yakin, kamu pasti membohongiku lagi. Iya, 'kan?"


"Kalau kamu tidak percaya, ikutlah denganku. Suamiku sedang bermain bersama Zack dan Robot Papa di dalam." Rania memberanikan diri untuk menarik pergelangan tangan Kaaran dan membawa pria itu masuk ke dalam rumahnya. Kaaran hanya menurut saja kemana pun Rania membawanya.


Sesampainya di ruang keluarga.


"Itu dia suamiku, namanya Kak Aditya." Rania menunjuk seorang pria yang sedang bermain robot-robotan bersama Zack dan Robot Papa. "Dia sangat menyayangi Zoe dan Zack seperti anaknya sendiri. Lihat saja, dia bahkan menyempatkan waktunya untuk bermain dengan anak-anak meski pun sebenarnya dia itu sangat sibuk."


Kaaran masih belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Rania. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, seperti sedang mencari sesuatu. "Kalau laki-laki itu memang benar suami kamu, lalu kenapa aku tidak melihat foto pernikahan kalian di mana-mana?"


"Foto pernikahan kami memang tidak kami pajang di lantai bawah. Di lantai atas, foto kami sangat banyak, apalagi di dalam kamar. Foto sejak kami berdua berpacaran, kemudian bertunangan, hingga kami menikah, setiap momennya kami abadikan dan fotonya itu kami simpan di dalam bingkai dan sebagian besar kami simpan di dalam sebuah album besar. Apa kamu ingin aku membawamu naik dan melihat semuanya?" tanya Rania.


Kaaran menggeleng. "Tidak, tidak perlu."


Aku takut, saat aku melihat semuanya, aku tidak akan tahan untuk tidak menghancurkannya.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kamu." Rania melipat kedua tangannya di depan dada. "Bagaimana, apa sekarang kamu masih belum percaya juga kalau aku sudah menikah dengan pria lain?"


Kaaran terdiam. Dadanya semakin terasa sesak. Dia merasakan ada yang berbunyi 'krek' di dalam rongga dadanya.


Apakah ini yang namanya patah hati? Kenapa rasanya sangat tidak enak? Sangat menyakitkan dan menyesakkan dada.


Jika memang benar Rania sudah menikah, lalu bagaimana denganku? Apa yang harus aku lakukan? Akankah penantian dan pencarianku selama bertahun-tahun lamanya akan sia-sia begitu saja?


Untuk beberapa saat, Kaaran berdiri mematung menatap putranya bermain bersama Aditya. Hatinya semakin terasa sakit karena seharusnya dirinyalah yang berada di posisi Aditya.


"Permisi." Kaaran memutar badan dan segera beranjak meninggalkan rumah itu. Perasaannya sudah campur aduk, antara marah, sedih, kecewa, dan cemburu. Rasanya saat itu juga dia ingin segera terbang dan kembali ke kota Merkurius.


...----------------...


Sore hari, Zack tiba-tiba saja berlari keluar dari kamarnya. Anak itu berteriak memanggil-manggil kakak kembarnya. "Kakak Zoe! Kakak Zoe!"


Zack mulai memasuki studio Zoe yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya. Terlihat Zoe sedang melakukan rekaman sambil bernyanyi di depan kamera. Gadis kecil itu ternyata sedang membuat konten untuk diupload di kanal youtube-nya.


"Kakak Zoe! Rekamannya nanti saja! Ada sesuatu yang sangat penting!" Zack berteriak karena studio Zoe dipenuhi oleh suara berisik musik yang sedang mengiringi lagu nyanyian gadis kecil itu.


"Kemarilah! Matikan musiknya dulu!" teriak Zack. Zoe pun mengangguk mengerti.


Setelah keadaan studio sudah aman dari musik, Zack pun mendekat ke arah kakak kembarnya. "Kakak Zoe, cepat lihat rekaman ini."


"Rekaman apa, Dik?" Zoe terlihat bingung sekaligus penasaran.


"Papa kita, papa Kaaran ternyata pernah datang ke rumah kita tadi siang," jawab Zack.


"Benarkah?" Zoe berjalan menghampiri Zack.


"Iya. Tapi coba dengarkan, apa yang mama katakan pada papa." Zack mulai memutar rekamannya setelah Zoe berdiri di sampingnya untuk menonton rekaman video tersebut.


Rekaman video sudah di putar selama beberapa saat, Zoe menutup mulutnya ketika mendengarkan mamanya kembali membohongi papanya untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


"Astaga, Dik. Papa pasti sangat sedih. Om Adit itu 'kan cuma menganggap kita sebagai keponakannya, dan mama sudah dianggap seperti adik oleh om Adit. Kenapa mama sangat tega membohongi papa kita? Apa mama sebegitu bencinya pada papa Kaaran?" Zoe terlihat bersedih.


"Sudahlah Kakak Zoe, bukan waktunya kita bersedih. Sebaiknya kita segera mencari papa, jangan sampai papa pergi meninggalkan kota ini," kata Zack.


"Kamu benar, Dik. Sebaiknya kamu segera lacak posisi papa. Setelah ketemu, ayo kita temui papa kita dan jelaskan semuanya," kata Zoe.


"Ya, tadinya aku juga berpikir begitu." Zack mulai melacak posisi Kaaran di layar tabletnya. Dia mencari posisi Kaaran hingga ke sudut-sudut kota.


Tidak lama kemudian, Zack pun akhirnya bisa melacak dimana posisi Kaaran saat itu. "Ini dia, ketemu. Papa sedang duduk sendirian di pinggir danau."


"Maksudmu danau yang tidak jauh dari rumah ini?" tanya Zoe, ingin memastikan.


Zack menjawab, "Iya, tepat sekali Kakak Zoe. Sebaiknya kita segera berangkat sekarang sebelum papa pergi meninggalkan danau itu."


"Ayo, Dik. Kita jangan membuang-buang waktu."


...----------------...


10 Menit kemudian.


Zoe, Zack, beserta Robot Papa akhirnya sampai di danau. Mereka bertiga berangkat ke sana menggunakan taxi.


"Adik, cepat cari, di mana posisi papa sekarang?" Zoe berkata.


"Tunggu sebentar." Zack kembali melacak posisi Kaaran. "Nah, ini dia. Papa sekarang sedang duduk di pinggir danau, tepatnya tidak jauh dari sebuah pohon yang paling besar di sekitar danau ini."


Ketiganya mengedarkan pandangan di sekitar danau. Pandangan mereka terfokus pada sebuah pohon yang paling tinggi di pinggir danau tersebut.


"Itu dia pohon besarnya." Zoe menunjuk sebuah pohon besar yang letaknya di sebelah barat mereka. "Jarak dari tempat kita berdiri ke pohon itu sekitar 84 meter. Berarti kita bisa sampai ke sana dalam waktu 42 detik jika berlari dalam 98 detik jika berjalan santai. Kalian pilih yang mana?"


"Itu sih berdasarkan kemampuan berlari dan berjalanmu Kakak Zoe. Aku ini anak laki-laki, aku bisa berlari dan berjalan lebih cepat dari itu. Apalagi Papa, Papa bisa melakukan semua itu lebih cepat dari kita," protes Zack, yang dia maksud 'papa' di sini adalah Robot Papa.


"Ya, baiklah, baiklah. Kalian berdua sesuaikanlah dengan kecepatan berlariku. Jangan sampai aku ketinggalan."

__ADS_1


Setelah berlari selama sekian detik, mereka bertiga pun akhirnya hampir sampai di tempat dimana Kaaran terlihat sedang duduk termenung.


"Papa!" Zoe dan Zack berteriak secara bersamaan.


__ADS_2