Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Kemarahan Rina


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Di tengah kesibukannya mengurus ini dan itu karena pesta pernikahan Kaaran dan Rania semakin hari semakin dekat, William masih sempat-sempatnya memantau pergerakan Rina di kampus.


Pria itu bahkan masih memiliki waktu untuk menyamar menjadi salah satu mahasiswa di kampus Rina. William mengenakan masker dan kacamata untuk menutupi wajahnya. Kemudian merubah tatanan rambutnya agar gadis pujaannya itu tidak bisa mengenalinya.


Di usianya yang sudah hampir menginjak pertengahan kepala tiga membuat William tidak bisa tenang. Jatuh cinta kepada gadis yang jauh lebih muda darinya yang juga merupakan primadona di kampus membuat William mengkhawatirkan banyak hal. Hal itu lah yang membuatnya menjadi sangat posesif seperti sekarang ini. Dia  tidak mau Rina-nya disentuh, didekati, apalagi sampai jatuh ke pelukan pria lain.


Saat William melihat ada salah seorang teman kampus laki-laki Rina yang mencoba mendekati gadis kesayangannya itu, William tidak akan segan-segan menariknya ke tempat sepi untuk memberinya peringatan. Jika pemuda tersebut tidak mengindahkan peringatannya, dia tidak akan segan-segan menghajarnya.


Semakin hari Rina mulai merasakan adanya keanehan ketika dirinya berada di kampus. Tidak ada lagi teman laki-laki yang berani menyapanya biar satu pun. Padahal sebelumnya para pemuda-pemuda itu berlomba-lomba untuk mendekati dan mencari perhatiannya.


Tapi sekarang, saat mereka melihat kedatangan Rina, para pemuda itu akan segera menghindar dengan ekspresi ketakutan seperti melihat dedemit. Mereka yang tidak sengaja berpapasan dengan gadis itu hanya bisa berpura-pura tidak melihat dan tidak menganggap keberadaannya. Melirik pun mereka tidak berani, takut bodyguard rahasia Rina melihatnya. Bisa gawat jika dia kepergok sedang mencuri pandang ke arah gadis itu.


"Hai Leo!" Rina menyapa Leo, salah satu teman baik dan teman akrabnya di kampus.


Gawat. Aku bisa dapat masalah kalau Rina sampai menghampiriku. Mendengar sapaan Rina, Leo segera balik badan dan memasang earphone di telinganya, berpura-pura tidak mendengar sapaan gadis itu.


Tidak ada kata teman, semua laki-laki sama di mata William. Termasuk dosen laki-laki yang masih muda yang seumuran dengannya. William benar-benar sudah tidak waras karena jatuh cinta pada gadis yang jauh lebih muda.


"Leo sama anak-anak yang lain kenapa sih? 3 Hari belakangan ini mereka kelihatannya aneh sekali." Rina bergumam sambil menggaruk kepalanya kebingungan, lalu segera berjalan memasuki ruang kelasnya.


Di dalam kelas, terlihat teman perempuan sekelas Rina sedang berkumpul bersama membahas gosip yang sedang hangat di kampus. Mereka semua seketika bubar begitu  melihat Rina memasuki kelas. Rina yang tidak tahu kalau ternyata dirinya lah yang telah menjadi topik pembicaraan hangat tetap bersikap seperti biasanya.


"Pagi, Sar!" Rina menyapa sahabat baiknya, Sari, sambil tersenyum sumringah seperti hari-hari sebelumnya.


Sebelum menjawab sapaan Rina, terlebih dahulu Sari melihat ke sekeliling ruangan. Semenjak datang, telinganya sudah dipenuhi oleh gosip murahan tentang Rina dan daddy-nya.


Setelah Rina duduk di sampingnya, sebagai sahabat yang baik, Sari pun langsung menanyakan kebenaran tentang desas desus yang sedang ramai diperbincangkan  oleh teman satu kampus mereka, kalau ternyata primadona kampus menjadi peliharaan seorang o'om tajir. Dan tentu saja Rina langsung menyangkal hal tersebut. Rina mengakui kalau dirinya memang menyukai pria yang  jauh lebih dewasa, tapi tidak dengan menjadi sugar baby o'om kaya raya.


"Rin, apa kamu mengenal laki-laki yang ada di dalam video ini?" Sari menunjukkan sebuah video yang juga ikut viral di kampus. Anehnya, hanya Rina satu-satunya yang tidak mendapatkan kiriman video tersebut. Entah siapa orang yang sudah merekamnya diam-diam kemudian menyebarkannya video itu.


Di dalam rekaman video, terlihat William sedang mengancam kemudian menghajar salah seorang mahasiswa di kampus mereka. Rina tahu jelas kalau mahasiswa yang dihajar oleh William di dalam video itu adalah Rony, salah satu pemuda yang selalu mendekati dirinya.


Astaga, itu 'kan kak William. Rina menutup mulutnya tidak percaya.


...----------------...


Rina yang merasa sangat emosi segera berangkat ke hotel Galaxy untuk menemui William. Dia tahu kalau pria itu pasti sedang berada di sana karena dia sedang ditugaskan untuk memantau perkembangan persiapan dekorasi ruangan yang akan ditempati  oleh Rania dan Kaaran untuk melangsungkan resepsi pernikahan.


Sesampainya di hotel Galaxy.


Baru saja Rina memasuki lobi hotel, dia sudah melihat William juga ada di sana tepat di depan meja resepsionis. Gadis itu pun segera menghampirinya dengan ekspresi wajah marah dan cemberut.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah pagi ini kamu ada kelas?" William bertanya begitu Rina berdiri tepat di hadapannya.


"Kak Will, aku mau bicara." Rina berkata dengan ketus.


William melihat ke sekeliling. Orang-orang yang ada di sekitar semuanya memperhatikan mereka berdua.


"Ikut aku, kita bicara di tempat lain saja." William menarik tangan Rina kemudian membawanya ke tempat yang sepi dan aman agar mereka berdua bisa lebih leluasa berbicara tanpa perlu takut pembicaraan mereka akan didengar oleh orang lain.


"Ayo cepat katakan, karena saat ini aku sangat sibuk." William menatap sekilas ke arah jam tangannya.


"Hng. Sangat sibuk? Apa aku tidak salah dengar?" Rina berkata dengan sinis.


"Rina, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat sedang marah padaku? Akhir-akhir ini kamu juga selalu menghindar dariku? Ayo jelaskan ada apa sebenarnya? Apa ada hubungannya dengan kejadian di apartemen waktu itu?"


Pipi Rina bersemu merah. Kejadian memalukan itulah yang sangat ingin dia hapuskan dari ingatannya untuk selama-lamanya. Dia tidak ingin mengingatnya apalagi membahasnya.


"Jangan bahas itu lagi." Rina membuang muka karena malu.


"Kenapa? Lalu apa yang membuatmu marah padaku?" tanya William. "Aku merasa tidak melakukan kesalahan apa pun padamu."


"Oh, begitu, ya? Lalu masalah di kampus, siapa yang sudah membuat ulah?" Rina bertanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam ke arah William.


"Masalah di kampus apa? Aku tidak tahu menahu mengenai masalah di kampusmu. Lagi pula, akhir-akhir ini aku sangat sibuk, bagaimana mungkin aku punya waktu untuk membuat ulah di sana?" bohong William.


"Aku tidak tahu siapa yang kamu maksud. Tapi yang jelas, orang itu bukanlah aku." William masih tidak mau mengaku, takut Rina semakin marah padanya.


"Hng. Sekarang aku jadi tahu, ternyata Kak William itu orangnya suka berbohong."


"Aku tidak berbohong Rina ...."


"Oh, ya? Lalu ini apa?" Rina mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan videonya pada William.


Habislah aku. Siapa yang sudah merekamku diam-diam? Dan darimana Rina mendapatkan video itu? Pasti ada seseorang yang mencari gara-gara denganku. Awas saja nanti, aku pasti akan memberikannya pelajaran.


Kali ini William tidak bisa berkutik, Rina sudah memegang bukti kebohongannya.


"Rina, it-itu. Aku bisa jelaskan."


"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku minta, Kak Wiliam jangan pernah mendekati aku lagi, dan aku juga tidak mau bicara lagi dengan Kak William."


Rina melenggang pergi meninggalkan William. Namun langkahnya terhenti ketika William menarik tangannya dari belakang.


"Rina, Rina. Tunggu Rina. Dengarkan penjelasanku dulu."

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, semuanya sudah jelas. Aku sangat kecewa padamu Kak Will." Rina terlihat sungguh marah. "Jangan kejar aku atau aku akan semakin marah padamu."


William mengusap wajahnya frustasi ketika melihat Rina pergi meninggalkannya. Dia juga takut pada ancaman Rina. "Kenapa jadinya malah seperti ini?"


Nng nng nng. Seekor serangga tiba-tiba terbang dan berputar-putar di atas kepala William.


William mengibas-ngibaskan tangannya mengusir serangga itu. "Huss, huss, pergi sana, pergi. Kenapa bisa ada serangga di hotel bintang lima seperti ini?"


Setelah beberapa saat William mengusir serangga itu tapi tetap saja binatang kecil itu tetap terbang dan berputar-putar di atas kepalanya dan tidak ingin pergi menjauh.


"Serangga macam apa ini? Kenapa sepertinya tidak takut pada manusia? Apa jangan-jangan, tubuhku bau, ya?" William bicara sendiri sambil mencium jas yang dia kenakan lalu mencium kedua ketiaknya secara bergantian.


Tiba-tiba terdengar suara tawa dua orang anak kecil yang muncul dari balik tanaman hias. "Hahaha! Paman William lucu sekali."


"Tuan Muda Kecil, Nona Muda Kecil, sedang apa kalian di sini, dan sejak kapan kalian bersembunyi di sana?" William menatap kedua anak kecil itu dengan tatapan keheranan lalu berjalan menghampirinya. Anehnya, serangga yang terbang di atas kepalanya itu tetap saja mengikutinya kemana pun dia pergi.


"Jalan-jalan." Zoe dan Zack menjawab bersamaan.


"Hush, hush. Kenapa serangga ini selalu saja mengikutiku? Tuan Muda Kecil, Nona Muda Kecil, awas, sepertinya serangga ini ingin menggigitku, ayo cepat kita sembunyi bersama-sama," ajak William.


Zoe dan Zack kembali terbahak. "Hahaha. Itu robot serangga, Paman William. Bukan serangga sungguhan, jadi dia tidak akan menggigit."


"Robot serangga? Tapi kenapa dia mengikutiku terus?" tanya William, bingung.


"Itu karena aku sudah mengunci Paman sebagai target," jawab Zack.


"Target apa maksudnya?" William semakin kebingungan.


"Bukan apa-apa, Paman. Kami hanya ingin bermain-main saja," jawab Zack. "Apa Paman tidak sadar kalau kami sudah mengikuti Paman sejak tadi?"


William menggeleng. "Tidak."


"Ayo, Dik. Kita tunjukkan rekamannya pada Paman," kata Zoe.


Zack pun memutar hasil rekaman robot serangganya itu lalu menunjukkannya pada William.


"Wah, hebat sekali. Robot sekecil itu bisa merekam video dengan sangat bagus," puji William. "Bisakah saya meminta Tuan Muda Kecil untuk membuatkan satu yang seperti ini untuk saya juga?"


"Paman mau pakai untuk apa?" tanya Zack.


"Saya mau mengawasi keponakan saya yang sering bandel di sekolah," jawab Kaaran. "Tapi apakah robot serangganya bisa dipakai untuk mengawasi seseorang dari jauh?"


Sebenarnya bukan keponakan, tapi Rina. William sengaja berbohong kepada kedua anak itu.

__ADS_1


"Bisa, Paman. Paman ambil saja yang ini, aku bisa membuatnya lagi nanti setelah kembali ke rumah," kata Zack.


__ADS_2