
Keesokan harinya.
Begitu Samuel tiba di kota Merkurius, pria berumur 29 tahun tersebut langsung menuju kantor polisi di mana Boron sedang ditahan.
"Apa Paman tahu dimana Rania tinggal? Saya ingin bertemu dengannya Paman," tanya Samuel, di sela-sela obrolannya dengan Boron.
"Sam, Paman tidak tahu di mana Rania tinggal bersama suaminya sekarang. Yang jelas, Paman hanya tahu di mana alamat perusahaan suaminya."
Setelah mendapatkan alamat dari Boron, Samuel segera pamit undur diri. Apalagi waktu mereka bertemu juga sangat dibatasi, hanya beberapa menit saja.
Tidak perlu menunggu waktu hingga besok, Samuel langsung memesan taksi dan langsung menuju ke alamat yang diberikan oleh Boron tadi, yaitu alamat kantor pusat Galaxy Group.
Begitu tahu tempatnya, Samuel segera chek in di hotel yang paling dekat dengan perusahaan tersebut. Saat jam makan siang tiba, pria itu memilih untuk makan siang di restoran terdekat. Tidak disangka saat dia tengah menikmati makan siangnya, dia malah melihat Rania memasuki restoran bersama dua orang pria yang tidak lain adalah Kaaran dan William.
Itu Rania. Laki-laki yang menggandeng tangannya itu pasti suaminya.
Samuel terus memandang Rania tanpa berkedip hingga gadis itu hilang dari pandangannya. Ada perasaan cemburu yang timbul begitu melihat gadis yang dia cintai selama lebih dari 10 tahun sekarang sudah resmi menjadi milik pria lain.
Setelah 10 tahun, aku akhirnya bisa melihatnya kembali. Sekarang Nia sudah berubah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik. Dari dulu dia memang sudah sangat cantik, tapi sekarang dia terlihat semakin cantik lagi. Dan hingga detik ini, namanya masih terus tersimpan di dalam relung hatiku, tidak akan pernah tergantikan. Aku akui, aku cemburu melihatnya bersama pria lain.
...----------------...
Flash back on.
Samuel dan Rania terpaut usia 4 tahun. Saat pertemuan terakhir mereka sekitar 10 tahun yang lalu, pemuda itu mengajak Rania untuk jalan-jalan ke pantai. Mereka berdua sudah dekat dari kecil, jadi Samuel tahu apa yang Rania sukai dan apa yang tidak disukai oleh gadis itu.
Samuel merupakan anak kandung Boron, putranya bersama mantan pacarnya yang tidak mau dia nikahi. Karena saat itu Boron tidak mau bertanggung jawab, begitu Samuel kecil genap berusia 2 tahun, dia langsung diserahkan pada Boron kemudian ibu kandung Samuel pergi menghilang entah kemana.
Tidak ada yang tahu hal tersebut kecuali Boron seorang bersama ibu kandung Samuel. Boron tidak pernah mengatakannya pada orang lain karena dia tidak mau orang-orang tahu kalau dirinya memiliki anak hasil dari hubungannya di luar nikah. Jika ditanya, dia akan mengatakan pada orang-orang kalau Samuel anak kecil yang dibuang oleh orang tuanya di pinggir jalan. Karena dia merasa kasihan pada anak itu, dia pun lalu membawanya pulang ke rumah.
Kembali pada Rania dan Samuel. Saat itu mereka berdua sedang duduk bersebelahan di atas pasir tanpa menggunakan alas, sambil mereka menghadap ke arah pantai dan menikmati pemandangan indah yang tersuguhkan di sana.
Setelah merasa cukup mengobrol basa-basi, pemuda itu pun mengungkapkan alasan kenapa dia membawa Rania jalan-jalan ke tempat favorit gadis itu.
"Nia." Nia adalah panggilan akrab Samuel pada Rania.
__ADS_1
"Iya, Kak Sam. Ada apa?" tanya Rania. Sekilas dia melirik wajah pemuda itu.
"Aku ... aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Samuel menatap Rania lekat-lekat.
"Ada apa, Kak Sam? Katakan saja langsung. Tidak usah melihatku seperti itu? Aku jadi merasa aneh dengan tatapan Kak Sam yang seperti itu saat melihatku." Rania menjadi salah tingkah begitu ditatap terus menerus oleh Samuel.
Melihat ekspresi malu-malu Rania, tangan Samuel langsung mendarat di puncak kepala gadis itu. Pemuda itu lalu mengacak-acak rambut Rania dengan lembut sambil tertawa.
"Hentikan Kak Sam. Rambutku bisa berantakan nanti." Rania menurunkan tangan Samuel yang masih berada di puncak kepalanya.
Tatapan Samuel tidak bisa terelakkan dari Rania, dan kini pemuda itu menatapnya sambil tersenyum. Tapi bukan senyuman bahagia, melainkan senyuman yang mengandung kesedihan.
"Nia, aku pasti akan sangat merindukanmu nanti."
"Kak Sam, kamu ini bicara apa? Kamu seperti ingin pergi jauh saja." Rania balas menatap Samuel. Membayangkan pemuda itu pergi jauh darinya saja dia tidak sanggup, apalagi kalau sampai benar-benar pergi.
Sejenak Samuel terdiam.
"Aku memang ingin pergi jauh, Nia. Paman Boron ingin mengirimku untuk kuliah dan menetap di luar negeri."
Samuel menggeleng. "Aku tidak tahu kapan aku bisa kembali. Atau mungkin saja aku tidak akan pernah kembali lagi ke sini."
Mendengar jawaban Samuel, mata Rania menjadi berkaca-kaca. "Tapi kenapa ...?"
"Aku juga tidak tahu apa alasannya, Nia. Aku hanya menuruti kemauan dan perintah paman Boron saja. Biar bagaimana pun, selama ini dia yang sudah membesarkan aku hingga menjadi seperti sekarang ini. Memberiku makanan enak, memberiku tempat tinggal yang sangat layak, pendidikan yang sangat layak pula. Serta fasilitas seperti mobil mewah, ponsel mewah, ATM, barang-barang mewah, dan lain sebagainya. Aku hanya ingin menjadi orang yang tahu balas budi, Nia."
Sejujurnya Samuel juga tidak ingin dan tidak rela pergi menjauh dari gadis itu. Dia sangat mencintai Rania, hanya saja, yang membuat dia tidak menyatakan perasaannya sebelumnya karena dia sadar diri bahwa Rania adalah putri seorang pengusaha sukses dan kaya raya sedangkan dirinya tidak tahu asal usulnya dari mana. Yang Samuel tahu, dirinya sangat beruntung karena sudah ditemukan oleh orang sebaik Boron yang mau membesarkannya dengan sukarela dan dengan sangat baik seperti anak-anak dari kalangan berada pada umumnya. Dia tidak tahu kalau ternyata Boron melakukan itu semua karena dirinya memanglah putra kandung Boron.
Mendengar Samuel ada kemungkinan tidak akan kembali lagi, Rania menjadi marah. Gadis itu segera bangkit dari posisi duduknya lalu berlari meninggalkan Samuel sambil menangis.
"Nia! Tunggu Nia!" teriak Samuel, sambil ikut bangkit dan berlari mengejar Rania.
Begitu Samuel berhasil menyusul Rania, pemuda itu langsung membawa Rania ke dalam pelukannya dan memeluknya erat-erat, seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Aku minta maaf, Nia. Aku minta maaf." Samuel ikut meneteskan air matanya.
__ADS_1
Cukup lama Rania menangis dan diam di dalam pelukan Samuel. Tidak ada pemberontakan dan penolakan sama sekali karena sejujurnya dia juga sangat menyukai pemuda itu. Samuel adalah cinta pertama Rania. Selama ini mereka memang sangat dekat dan akrab, hanya saja tidak ada ikatan hubungan yang dinamakan pacaran.
"Kak Sam, bisakah kamu menolak permintaan paman Boron? Demi aku. Hm." Rania mendongak menatap Samuel dengan tatapan penuh harap, berharap pemuda itu akan menuruti permintaannya.
Samuel ikut menatap Rania lekat-lekat. "Sejujurnya aku berat mengatakan ini. Tapi ... tapi aku benar-benar tidak bisa, Nia. Aku mohon mengertilah. Kamu tahu 'kan kalau selama ini paman Boron sudah memperlakukan aku dengan sangat baik seperti anaknya sendiri. Bagaimana mungkin aku menolak permintaannya sedangkan ini pertama kalinya dia memintaku melakukan sesuatu?"
Keduanya terlihat sangat putus asa. Air mata mereka sudah tidak bisa terbendung lagi, semakin lama semakin mengalir dengan deras.
"Nia, sebelum aku pergi, aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu." Samuel menangkup pipi Rania dengan kedua tangannya, sambil menatap kedua manik mata gadis itu dalam-dalam.
"Aku mencintaimu, Nia. Sangat sangat mencintaimu."
Pernyataan cinta Samuel membuat Rania semakin sakit hati. Untuk apa menyatakan cinta jika akhirnya harus berpisah juga? Pikir Rania.
Rania mendorong dada Samuel dengan sekuat tenaga sehingga membuat pemuda itu mundur beberapa langkah.
"Aku membencimu, Kak Sam! Aku sangat membencimu!" Dengan air mata yang semakin mengalir deras, Rania berlari meninggalkan Samuel.
"Nia! Rania! Tunggu!" Samuel berlari mengejar Rania. Namun laju larinya terhalang ketika mobil mewah hampir saja menabrak dirinya.
Tin! Tin!!! Bunyi klakson mobil mewah tersebut berbunyi dengan sangat keras dan berhenti tiba-tiba ketika sedikit lagi menabrak tubuh Samuel.
"Hei anak muda! Kalau mau berlari itu di lapangan! Jangan di tengah jalan! Kamu mau mati konyol apa?! Hah?!" teriak supir mobil mewah tersebut yang tidak lain adalah William.
"Ma-maaf, Om." Samuel segera melangkah ke pinggir jalan. Sejujurnya dia merasa sangat kaget, hampir saja nyawanya melayang sia-sia.
"Lajukan kembali mobilnya, Will. Kita sedang terburu-buru."Kaaran memberi titah pada William.
"Baik, Tuan."
Setelah William melajukan mobilnya kembali. Samuel hanya bisa menggusap wajahnya dengan kasar karena dia sudah kehilangan jejak Rania.
Keesokan harinya, saat Samuel berangkat ke bandara, dia masih berharap Rania akan mengantar kepergiannya. Namun sayangnya, Rania tidak muncul sama sekali hingga akhirnya dia benar-benar terbang ke luar negeri.
Flash back off.
__ADS_1