
Hah? Aku tidak salah dengar, 'kan? Kak William mau menginap di sini? Tidak salah?
Ini tidak bisa dibiarkan. Pokoknya dia tidak boleh menginap di rumah ini? Kalau aku tidak tahan pura-pura membencinya bagaimana? Bisa-bisa aku menyerah. Aku masih belum puas membuat kak William mengejar-ngejarku. Aku tidak boleh menyerah sebelum melihat perjuangan besar yang dia lakukan untuk mendapatkan aku.
"Tidak boleh. Kak Will tidak boleh menginap di sini." Rina bersikeras melarang, takut rencananya bisa gagal.
"Kenapa?"
"Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh. Pokoknya kamu tidak boleh menginap di rumah ini." Rina sangat menekankan kata tidak boleh dalam ucapannya.
"Tapi ibu sudah mengijinkan aku untuk menginap di rumah ini, kenapa kamu malah bilang tidak boleh? Yang punya rumah ini sebenarnya siapa? Kamu, atau ibu?" tanya William.
"Mm ... yang punya ... ibu sih." Rina menjawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan.
"Nah, itu. Berarti aku boleh dong menginap di rumah ini karena aku sudah mendapatkan ijin dari pemilik rumah. Jadi kamu tidak punya hak untuk melarang-larangku. Oke." William melenggang masuk meninggalkan Rina setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Aku bingung, kenapa aku tidak boleh melarangnya untuk menginap di rumah ini. Rumah ini 'kan juga rumahku, milik kami sekeluarga.
Rina berlari menyusul langkah kaki jenjang milik pria itu. "Kak Will! Tunggu! Jangan masuk dulu!"
"Ibu! Ibu ...! Saya sudah datang, Bu!" William berteriak memanggil ibu Dian begitu dia sampai di ruang tengah.
Mendengar William berteriak-teriak memanggil ibunya, Rina merasa frustasi. Gadis itu menepuk jidatnya seraya berkata, "Aduh. Pakai acara teriak-teriak segala lagi."
Rina menarik lengan kekar pria itu agar segera keluar dari rumahnya. "Kak Will. Bisa diam tidak? Kamu itu sudah tua tapi kelakuanmu seperti bocah. Ayo, cepat pergi dari sini. Kamu tidak boleh menginap di rumahku."
"Maksud kamu apa mengatai aku seperti itu Rina? Hah?" William menatap Rina yang masih menarik lengannya.
"Iya, aku akui yang kamu katakan itu memang benar. Aku memang sudah tua. Tapi kamu juga menyukai om-om sepertiku bukan? Mengaku sajalah."
"Apa ibu tidak salah dengar tadi? Rina menyukai siapa?" Suara pertanyaan ibu Dian mengejutkan William dan Rina.
Keduanya segera memperbaiki postur tubuh mereka masing-masing sambil menjaga jarak agar ibu Dian tidak menaruh curiga pada mereka berdua.
"Tidak kok, Bu. Tidak ada apa-apa." Rina berkata sambil tersenyum paksa. "Iya, 'kan Kak Will?"
William tersenyum. "Ibu tadi cuma salah dengar. Tadi saya bilang kalau Rina itu suka makan oncom."
"Oncom? Sejak kapan Rina suka makan oncom?" Bu Dian terlihat kebingungan. Rina itu adalah putrinya tapi kenapa bisa dia tidak tahu hal itu.
__ADS_1
"Sejak ... sejak kami pergi berlibur di pantai baru-baru ini, Bu. Ibu 'kan tidak pernah ikut, jadi ibu tidak tahu."
"Oh ... begitu rupanya." Bu Dian mengangguk-ngangguk mengerti.
"Oh iya, Nak William, kamar tamu ada di sebelah sana." Bu Dian menunjuk ke arah ruangan yang ada di sebelah kanan.
"Rina, tolong bantu tunjukkan kamar untuk Nak William, ibu akan menyiapkan makanan untuk kalian berdua di dapur."
"Baik, Bu," jawab Rina.
"Bu. Ibu tidak perlu repot-repot menyiapkan makanan. Tadi sebelum saya menjemput Rina, saya sudah makan siang dengan klien."
"Rina juga masih kenyang, Bu."
"Oh, ya sudah. Kalau begitu, Ibu balik ke kamar dulu, ya?"
Setelah melihat ibunya masuk ke dalam kamar, Rina pun akhirnya bernapas lega.
Untung ibu tidak banyak tanya.
"Ternyata kamu pandai berbohong juga, ya?" William berkata sambil tersenyum dan menatap Rina yang tingginya hanya sejajar dengan dadanya.
"Tadi itu 'kan aku hanya membelamu. Kamu ini ternyata tidak tahu terima kasih ya."
"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Ikut aku, aku akan menunjukkan kamar untukmu." Rina berjalan mendahului William, pria itu pun mengekor di belakangnya.
"Ini kamarmu. Silahkan masuk dan beristirahat dengan tenang. Dan aku peringatkan, selama kamu ada di rumah ini, jangan pernah muncul di hadapanku. Mengerti?" kata Rina memperingatkan.
William tersenyum. Dia merasa sangat gemas melihat wajah jutek gadis itu. Pria itu pun segera masuk ke dalam kamar setelah mengucapkan kata terima kasih. Namun langkahnya seketika terhenti saat Rina mencekal lengannya.
"Tunggu dulu. Aku ingin bertanya sama kamu. Kenapa kamu ingin bermalam di rumah ini?"
"Kamu mau jawaban yang seperti apa? Yang jujur biasa saja atau yang paling jujur sekali?" tanya William, balik bertanya. Entah apa maksud dari pilihan yang diberikanya itu.
"Pilihan macam apa itu? Ya jelas aku mau jawaban yang paling jujur lah."
"Baiklah. Aku akan memberikan jawaban yang paling jujur. Jawabannya nya adalah, karena aku merasa lelah setiap hari harus berangkat pagi-pagi sekali untuk mengantar jemput tuan dan nona muda kecil ke sekolah. Jadi aku pikir kalau aku tinggal bersama saja di sini, itu akan mempermudah pekerjaanku nanti."
"Aku tidak percaya hanya itu alasannya. Aku yakin, Kak Will pasti memiliki maksud lain. Iya, 'kan? Ayo mengaku." Rina menatap William dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Maksud yang lain apa? Apa aku terlihat seperti orang jahat? Kenapa kamu mencurigaiku seperti itu?" William tidak terima sudah dicurigai oleh Rina.
"Ya mungkin saja kamu datang kemari karena kamu ingin mendekatiku." Rina berkata dengan penuh percaya diri.
William menyentil jidat Rina dengan pelan. "Bagus. Tingkat percaya dirimu ternyata lumayan tinggi juga rupanya. Tapi lain kali jangan GR seperti itu lagi. Aku ingin menginap di rumah ini murni karena ingin mempermudah pekerjaanku, tidak ada maksud lain sama sekali. Setelah tuan Kaaran dan nona Rania kembali, aku tidak akan datang lagi hanya untuk sekedar bermalam di sini. Mengerti?" William membuat Rina tidak bisa berkata apa-apa.
Memdengar ucapan pria tersebut sukses membuat Rina semakin kesal dan merasa malu sendiri. Dia sungguh berharap pria itu datang ke rumahnya karena ingin mendekati dan mengejar-ngejarnya.
"Permisi, aku mau istirahat dulu." William masuk kemudian menutup pintu kamarnya.
"Ih ... dasar tamu tidak punya sopan santun."
..._____________...
Sore hari, ruang dapur.
"Ibu mau masak apa?" William bertanya sambil menghampiri ibu Dian yang sedang menyiapkan bahan makanan di dapur.
"Eh, Nak William. Kenapa tidak istirahat dulu di kamar? Ibu akan memanggil Nak William kalau masakan ibu sudah siap."
"Tidak apa-apa, Bu. Setiap hari saya juga memasak untuk diri sendiri." William sudah berdiri di samping ibu Dian.
"Nak William pintar memasak?" tanya bu Dian, sedikit tidak percaya.
"Bukan pintar juga, Bu. Tapi bisa sedikit," jawab William. "Ya sudah, Ibu mau masak apa? Biar aku saja yang bantu."
1 Jam kemudian. Beberapa menu makanan sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan.
"Luar biasa. Nak William ini calon suami idaman rupanya. Selain tampan, pekerja keras, juga jago memasak. Ibu seperti sedang dimasakkan oleh chef di restoran-restoran mewah." Bu Dian memuji William setelah melihat kemampuan dan mencoba hasil masakan pria tersebut.
William tersenyum. "Terima kasih atas pujiannya, Bu."
"Oh iya, beruntung sekali wanita yang akan dinikahi oleh Nak William nantinya."
"Benarkah, Bu? Apa saya boleh jadi menantu Ibu?"
Ibu Dian terdiam. Sesaat kemudian tawanya langsung pecah. "Hahaha! Nak William ini bercandanya terlalu berlebihan."
"Saya tidak bercanda, Bu. Saya serius. Saya menyukai Rina anak Ibu."
__ADS_1
Bu Dian kembali terdiam. Dia merasa tidak percaya mendengar ucapan William barusan. Tapi melihat raut wajah pria itu membuat ibu Dian percaya kalau William benar-benar serius dengan ucapannya.