
"Zoe, Zack, Mama ingin bicara berdua dengannya, Sayang. Bisakah kalian berdua masuk ke dalam dulu?" kata Rania. Zoe dan Zack pun segera melepaskan pelukannya dari Kaaran.
"Masuklah dulu, Nak. Papa ingin membicarakan hal yang sangat penting berdua dengan Mama kalian." Kaaran mengusap kepala kedua anaknya dengan lembut sambil tersenyum.
"Baik, Papa." Zoe dan Zack menjawab secara bersamaan.
Setelah kedua anak kembarnya masuk ke dalam rumah, Rania pun mengajak Kaaran untuk berbicara di tempat lain.
"Sebaiknya kita jangan bicara di sini. Sekitar 1 kilo meter dari rumah ini ada kafe, sebaiknya kita bicara di sana saja."
Rania tahu persis, jika mereka berdua berbicara di teras atau pun di dalam rumah, pasti akan ada yang menguping pembicaraan mereka. Rania tidak mau, apa yang akan dia katakan pada Kaaran nanti didengar oleh kedua anaknya.
"Kenapa kita tidak bicara di dalam saja? Kenapa mesti di tempat lain?" Kaaran merasa heran dengan keputusan Rania.
"Ya karena saya punya alasan tersendiri," jawab Rania sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh, seolah-olah dia sangat membenci pria yang sedsng berdiri di hadapannya. itu.
"Apa alasannya?" tanya Kaaran, penasaran.
"Karena saya tidak mau anak-anak menguping pembicaraan kita," jawab Rania.
"Baiklah, terserah kamu. Aku akan menuruti apa pun kemauan kamu. Kamu sudah mau berbicara denganku saja aku sudah sangat senang." Kaaran tersenyum sambil menatap wajah Rania tanpa mau berkedip sedikit pun.
Sementara itu, Zoe dan Zack terlihat kecewa karena mereka tidak bisa menguping pembicaraan kedua orang tunyanya meski pun menggunakan kemampuan menguping Robot Papa karena jarak kafe yang cukup jauh.
"Yah ... mereka mau pergi ke kafe. Berarti kita tidak bisa menguping pembicaraan mereka." Zoe menghembuskan napasnya dengan kasar lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Mau bagaimana lagi, Kakak Zoe? Kemampuan menguping Robot Papa hanya sampai radius 100 meter. Kalau sudah lebih, ya tidak bisa lagi." Zack juga sama dengan Zoe, sama-sama terlihat kecewa.
Zack terlihat memikirkan sesuatu. "Mm ... mungkin setelah ini aku akan mencoba membuat robot perekam audio dan video yang menyerupai serangga. Bisa terbang, bisa menyusup, dan yang terpenting tidak akan ketahuan karena ukurannya yang sangat kecil."
__ADS_1
"Ide bagus, Dik. Aku setuju dengan idemu itu. Kamu ini memang sangat hebat." Zoe mengacungkan jempolnya ke arah Zack. "Dengan begitu, di lain waktu kita bisa menguping pembicaraan mama dan papa kemana pun mereka pergi."
...----------------...
Hanya berselang beberapa menit kemudian, Rania dan Kaaran sudah sampai di kafe. Mereka mengambil tempat duduk di meja yang sepi dan agak jauh dari pengunjung yang lainnya.
"Rania, sebaiknya kita memesan makanan atau pun minuman terlebih dahulu sebelum kita memulai pembicaraan," kata Kaaran. Sedari tadi pandangan pria itu tidak bisa lepas dari wanita yang duduk di seberang mejanya.
"Tidak, tidak perlu. Saya tidak ingin berlama-lama di sini, lagi pula saya masih punya banyak kerjaan di rumah," tolak Rania.
Kaaran terdiam sejenak. "Mm ... baiklah. Kalau begitu, lebih baik kita memulai saja pembicaraannya sekarang," kata Kaaran.
"Oke, saya hanya ingin mengatakan kalau Anda bukanlah ayah dari anak-anak sa-" Rania belum selesai berbicara tapi Kaaran sudah memotong ucapannya.
"Kalau aku bukan papa kandung Zoe dan Zack, lalu siapa papa kandung mereka? Aku tahu persis kalau aku adalah laki-laki pertama yang pernah menyentuhmu." Kaaran tidak mau mempercayai ucapan Rania yang mengatakan kalau si kembar bukanlah anaknya.
"Apa maksud Anda? Saya tidak mengerti. Menyentuh apa maksud Anda? Lagi pula, saya juga tidak mengenal siapa Anda." Rania masih terus berpura-pura.
Cih. Laki-laki brengsek ini menyebutku apa tadi? Raniaku? Heh, berani sekali dia. Sejak kapan aku menjadi Ranianya?
"Maaf, sebelumnya saya harus memperjelas satu hal. Anda ini sudah salah mengenali orang, saya bukan orang yang Anda maksud. Nama saya adalah Rara. Ra ... ra. R-A-R-A. Bukan Rania."
"Rania, berhentilah membohongiku. Aku tahu, kamu itu adalah Raniaku yang asli, bukan Rara seperti yang kamu sebutkan tadi."
"Rania yang asli apa? Saya 'kan sudah bilang, nama saya ini Rara, bukan Rania. Dan asal Anda tahu, Anda itu bukan ayah dari anak-anak saya, karena ayah mereka bernama Adit. Bukan Anda, yang bahkan namanya pun tidak saya ketahui. Bagaimana mungkin saya bisa memiliki anak dari pria yang tidak saya kenal sama sekali?" Rania masih bertahan pada aktingnya.
Kaaran terdiam sambil memikirkan sesuatu. Dia terus menatap Rania lekat-lekat.
"Untuk memastikan kamu adalah Raniaku yang asli atau bukan, hanya ada satu cara." Kaaran berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekat ke arah Rania. Pandangannya dari tadi memang tidak pernah lepas dari wanita itu. Semenjak mereka dipertemukan kembali, tatapan Kaaran tidak pernah terelakkan darinya. Tatapan yang penuh arti, penuh dengan cinta, dan kerinduan.
__ADS_1
Rania yang merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik dan tatapan Kaaran, merasa harus waspada segera berdiri dari duduknya. Apalagi pria itu semakin lama semakin mendekat ke arahnya.
"Anda mau apa? Jangan macam-macam ya, kita ini sedang berada di tempat umum. Kalau Anda macam-macam, saya akan berteriak," ancam Rania, sambil berjalan mundur dan sedikit panik.
Namun sayangnya, belum juga Rania sempat menjauh, Kaaran dengan gerakan cepat sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping milik Rania, dan kini tubuh mereka sudah menempel satu sama lain.
Rania sangat terkejut dan gugup. "Ka-kamu mau apa? Jangan ku-"
Belum juga Rania menyelesaikan ucapannya, Kaaran sudah membungkam bibir gadis itu menggunakan bibirnya. Rania memberontak. Dalam hitungan detik, mereka berdua sudah menjadi tontonan pengunjung lain.
Setelah merasa cukup mengambil bukti, Kaaran pun segera melepaskan Rania.
"Laki-laki kurang ajar!" Rania mengusap bibirnya dengan dengan kasar dan dengan perasaan marah. Dia merasa Kaaran sudah melecehkan dan mempermalukannya di depan umum. Rania mengangkat tangan kanannya ingin menampar pipi Kaaran, tapi pria itu menahan tangannya.
"Kamu tidak bisa membohongiku lagi, Rania. Kamu adalah Raniaku, bukan Rara."
"Laki-laki brengsek. Jangan sembarangan bicara kamu ya." Rania semakin emosi karena Kaaran menahan tangannya.
"Aku tidak sembarangan bicara. Aku punya bukti yang cukup kuat. Itu buktinya." Kaaran menunjuk adik kecilnya menggunakan matanya.
Wajah Rania memerah menahan malu melihat sesuatu yang menonjol dibalik celana Kaaran. "Dasar Laki-laki mesum!"
"Kamu tidak bisa mengelak lagi, kamu adalah Raniaku karena kamu berhasil membangunkannya."
Rania sangat marah pada Kaaran. Dia menghentakkan tangannya hingga terlepas dari cengkeraman pria tersebut. Setelah itu, dia segera berlari keluar meninggalkan kafe sambil terus memaki Kaaran dalam hati.
Dasar laki-laki kurang ajar, Laki-laki brengsek, Laki-laki mesum. Aku sangat membencinya.
Rania segera menghentikan taxi begitu dia keluar dari kafe.
__ADS_1
Sementara itu, Kaaran terus senyum-senyum sendiri sambil kembali mendudukkan pantatnya di atas kursi. Dia tidak peduli dengan tatapan pengunjung lain yang sedari tadi menatap ke arahnya.
Sabar adik kecil, untuk sementara kembalilah tertidur. Saat ini aku sudah menemukan sarangmu. Kamu hanya perlu bersabar sebentar lagi. Ini han'ya masalah waktu, aku berjanji, aku pasti akan memanjakanmu dalam waktu dekat.