
Kediaman Keluarga Dirgantara.
Pagi ini Kaaran menyetir mobilnya sendiri. Dia membawa Rania beserta kedua anaknya untuk menemui kedua orang tuanya.
"Papa, tempat apa ini?" Zoe bertanya sambil mendongakkan kepalanya menatap kediaman kakek dan neneknya yang sangat besar, megah, dan mewah bak istana kerajaan.
"Itu rumah kakek dan nenek, Sayang. Papa sebenarnya tinggal di sini juga, bukan di villa," jawab Kaaran. "Ayo semuanya, kita turun."
Mereka berempat pun turun dari mobil. Kedatangannya sudah disambut hangat oleh puluhan pelayan di rumah besar itu.
"Tuan Muda, tuan besar dan nyonya besar sudah menunggu Anda di ruang makan. Mari saya antar." Pak Harun, seorang pria paruh baya yang bertugas sebagai kepala pelayan di rumah besar itu sejak Kaaran baru lahir hingga sekarang. Yaitu sekitar 35 tahun yang lalu.
"Hem." Kaaran mengangguk. Mereka berempat pun mengikuti pak Harun dari belakang. Mereka berempat berjalan sambil bergandengan tangan. Zoe dan Zack berada di tengah sedangkan Kaaran dan Rania berada di pinggir. Namun sebelum mereka memasuki ruang makan, Kaaran menyuruh kedua anaknya untuk menunggu di luar terlebih dahulu. Mereka akan dipanggil masuk ketika waktunya sudah tiba.
"Sayang, ayo." Kaaran mengajak Rania untuk masuk, tapi gadis itu terlihat sangat gugup saat ingin menemui calon mertuanya.
Kaaran tersenyum. "Kenapa? Kamu gugup, ya?"
Rania mengangguk. "Hem."
Kaaran pun menggenggam tangan Rania dengan erat. "Tenang Sayang, ada aku di sampingmu."
Kaaran menggandeng tangan Rania memasuki ruang makan dimana tuan dan nyonya Dirgantara sedang menunggu mereka di sana.
"Pa, Ma." Kaaran menghentikan langkahnya saat dirinya dan Rania sudah berdiri tidak jauh dari kedua orang tuanya.
"Ekhem. Kalian duduklah." Tuan Dirgantara berdehem sebelum mulai membuka suara.
Sementara itu, nyonya Dirgantara menatap calon menantunya dari ujung kepala hingga ujung kaki sejak mereka mulai memasuki ruangan. Entah bagaimana penilaiannya tentang Rania, wanita paruh baya itu belum berkomentar apa-apa.
"Ayo, Sayang." Kaaran mengajak Rania untuk duduk di seberang meja kedua orang tuanya.
"Siapa namamu dan berapa usiamu?" Nyonya Dirgantara bertanya setelah Kaaran dan Rania duduk di hadapan mereka.
"Nama saya Rania, Nyonya. Umur saya 25 tahun." Rania menjawab dengan gugup, tangannya sudah mulai gemetar.
__ADS_1
Ternyata seperti ini rasanya bertemu dengan calon mertua.
"Santai saja Sayang, jangan gugup begitu." Kaaran berbisik sambil kembali menggenggam tangan Rania. Dia mencoba menenangkan calon istrinya itu.
"Rania, usia kamu dan Kaaran terpaut 10 tahun. Apa kamu benar-benar mencintai anak saya dan bukan karena harta?" Nyonya Dirgantara kembali bertanya pada Rania dan dengan tatapan menyelidik. Ibu mana pun tidak akan ada yang rela anaknya salah dalam memilih pasangan hidup.
Rania menatap Kaaran yang duduk di sampingnya. Aku harus menjawab apa pertanyaan mamamu? Aku ini tidak mencintaimu. Kamu tahu itu, 'kan?
Kaaran mengangguk kecil pada Rania, seolah meminta gadis itu untuk mengiyakan saja pertanyaan dari ibu kandungnya itu.
Rania balik menatap nyonya Dirgantara. Demi kebahagiaan kedua anakku, aku harus melakukan yang terbaik.
"Iya, Nyonya. Saya tulus mencintai putra Anda dan bukan karena harta." Rania menjawab dengan mantap membuat Kaaran menaikkan sedikit sudut bibirnya.
"Kamu bilang tadi siapa namamu? Rania?" Kali ini tuan Dirgantara yang berbicara.
"Iya, Tuan." Rania menjawab dan mengangguk sopan.
"Siapa nama lengkapmu?" tanya tuan Dirgantara lagi.
"Rania Blanco?" Tuan Dirgantara terlihat berpikir sejenak. "Apa kamu ... putri Rahadian Blanco?"
"Iya benar, Tuan. Saya putri sulungnya," jawab Rania.
Bagaiamana tuan Dirgantara bisa tahu nama ayah? Rania merasa sedikit penasaran.
Tuan dan nyonya Dirgantara saling menatap, keduanya terlihat menggelengkan sedikit kepalanya. Entah apa maksudnya?
Kaaran dan Rania juga saling menatap. Apakah ini pertanda bahwa mereka tidak akan mendapatkan restu?
...----------------...
Saat jam pulang kampus, Andre memang sudah menjemput Rina menggunakan mobilnya. Pemuda itu membawa Rina ke sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari kampus. Kata Andre, dia sudah menyewa kafe itu untuk dia tempati merayakan ulang tahunnya yang ke 21 tahun.
Sesampainya di sana, terlihat 4 orang sahabat Andre yang duduk bersama pasangannya masing-masing. Mereka semua sudah sampai lebih dulu dan menunggu di kafe tersebut.
__ADS_1
"Wah, Bro. Aku akui kamu sangat hebat, ternyata kamu benar-benar bisa membawa primadona kampus datang bersamamu ke sini," celetuk salah seorang sahabat Andre yang Rina ketahui namanya adalah Dion.
Andre hanya menanggapi ucapan Dion dengan senyuman, sambil menggenggam tangan Rina berjalan menghampiri sahabat-sahabatnya yang sudah menunggunya dan berkumpul di sebuah meja panjang.
Rina merasa sedikit terkejut ketika Andre menggenggam tangannya. Gadis itu tidak menyangka Andre bisa selancang itu padanya. Dia ingin melepaskan tangannya tapi Andre menggenggamnya dengan sangat erat, sehingga sulit terlepas.
Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan sifat kak Andre hari ini? Rasanya dia tidak seperti biasanya. Gumam Rina dalam hatinya.
Andre memperlakukan Rina seperti layaknya seorang ratu di hadapan para sahabatnya. Setelah menarik kursi untuk diduduki oleh Rina, Andre pun kemudian ikut duduk di samping gadis itu. Mereka duduk sangat dekat sekali sehingga membuat Rina merasa kurang nyaman. Tapi gadis itu berusaha bersikap santai apalagi dia tahu betul kalau kakak seniornya itu memang sudah lama menaruh hati padanya.
"Sebaiknya kita memesan makanan sekarang. Aku sudah lapar," kata Andre.
"Terserah kamu, Bro. Ini 'kan acara kamu," kata salah seorang sahabat Andre lagi.
1 Jam Kemudian, satu per satu sahabat Andre sudah mulai pulang dengan perut yang sudah terisi penuh. Kini hanya tinggal Rina dan Andre berdua di sana.
"Kak Andre, aku juga sudah mau pulang." Rina berkata sambil meraih tasnya yang ada di atas meja.
"Aku antar kamu pulang ya," tawar Andre. Rina mengangguk dan tersenyum.
"Tapi habiskan dulu minuman ini sebelum kita pulang. Biar minumannya tidak mubazzir." Andre mendorong segelas jus jeruk ke arah Rina.
"Hm." Rina menurut begitu saja dan menenggak jus jeruk itu hingga habis tak bersisa.
Bagus. Andre tersenyum puas ketika melihat Rina menghabiskan minuman itu.
"Ayo, Rin." Andre mengajak Rina untuk keluar dari kafe.
"Iya, Kak." Rina berjalan berdampingan dengan Andre, tapi tiba-tiba saja dia merasa kepalanya sangat pusing.
"Aduh, aduh, kenapa kepalaku pusing sekali?" Rina tiba-tiba melingkarkan tangannya di lengan Andre agar dia tidak terjatuh. Sebelah tangannya juga memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Tidak lama kemudian, gadis itu tidak ingat apa-apa lagi.
Ternyata obatnya bekerja secepat ini. Tidak salah aku menaruh obat dengan dosis yang lebih tinggi. Andre tersenyum puas lalu menggendong Rina yang sudah tidak sadarkan diri masuk ke dalam mobilnya.
"Rin, jangan salahkan aku jika aku berbuat seperti ini. Aku sangat mencintaimu tapi kamu selalu saja menolak cintaku tanpa alasan yang jelas." Andre mencium punggung tangan Rina kemudian melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.
__ADS_1
Ternyata cinta yang bertepuk sebelah tangan sudah membutakan mata pemuda itu. Dia rela melakukan apa saja asalkan bisa memiliki gadis pujaan hatinya.