
Ibu Dian mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah William. "Nak William, Nak William. Kenapa melamun?"
"Eh, i-iya, Bu." William akhirnya tersadar dari lamunannya.
Ternyata sedari tadi dia hanya melamun membayangkan dirinya mengungkapkan perasaannya pada calon ibu mertuanya tersebut.
"Nak William sedang memikirkan apa? Dari tadi Ibu ajak bicara kok hanya diam dan melamun saja. Ada apa?"
"Tidak apa-apa kok, Bu. Saya hanya sedang memikirkan pekerjaan yang menumpuk di kantor saja," jawab William.
"Oh, kalau begitu ayo kita keluar ke ruang makan. Ibu sudah menata semua masakan kamu di atas meja makan."
"Baik, Bu."
"Lepas dulu celemeknya," kata bu Dian, lalu tertawa.
"Hehe. Iya Bu."
"Oh iya, Ibu mau naik sebentar memanggil Rina dan anak-anak untuk makan malam bersama."
"Baik, Bu."
Setelah ibu Dian berlalu dan naik ke lantai atas, William hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar.
Ternyata mendekati calon ibu mertua jauh lebih mudah daripada mendekati anaknya sendiri. Tapi kenapa rasanya susah sekali mengatakan kalau aku menyukai anak ibu? Mungkin jika aku mengatakannya sekarang itu masih terlalu cepat.
Tapi kalau aku tidak mengatakannya sekarang, mau tunggu sampai kapan lagi? Mau tunggu sampai rambutku satu per satu mulai beruban dan wajahku juga sudah mulai muncul keriput. Kalau sampai itu terjadi, mana mungkin Rina masih mau padaku. Dia pasti akan mencari pria yang jauh lebih muda untuk dia jadikan sebagai pasangan.
Pokoknya, Rina harus menjadi milikku sebelum usiaku mencapai kepala empat. Kalau sudah lewat dari itu, tamatlah sudah. Aku pasti tidak akan punya kesempatan lagi. Aku pasti sudah kalah saing sama mereka yang jauh lebih muda.
Kalau harus menunggu sampai Rina lulus kuliah dulu baru menikahinya berarti sekitar 3 tahun lagi. Saat itu umurku sudah masuk 37 tahun dan Rina baru 22 tahun. Astaga kenapa selisihnya banyak sekali sih? Membuatku tidak percaya diri saja.
__ADS_1
Ternyata hubungan beda generasi itu jauh lebih sulit dan jauh lebih rumit dari yang aku bayangkan. Aku sebenarnya lebih pantas dipanggil om dari pada di panggil kakak oleh Rina.
Tidak lama kemudian. Ibu Dian bersama Zoe dan Zack pun turun bersama ke meja makan.
"Rina mana, Bu?" tanya William, saat tidak melihat keberadaan gadis pujaannya.
Jangan-jangan Rina tidak mau makan malam karena dia tidak ingin bertemu denganku. Apa sebegitu bencinya dia padaku?
"Rina masih ada di kamarnya. Dia baru saja selesai mandi, sebentar lagi juga turun." Ibu Dian menjawab sembari duduk di kursi paling atas.
Zoe dan Zack masing-masing mengambil tempat duduk di dekat neneknya dengan posisi sejajar dan saling berhadapan. Sedangkan William duduk di samping kanan Zack.
"Oh."
Aku pikir Rina tidak mau makan malam karena ada aku di sini.
Tidak lama kemudian, senyuman tipis tersungging di wajah William begitu melihat Rina akhirnya ikut bergabung di meja makan. Gadis itu duduk tepat di samping kiri Zoe, otomatis Rina dan William juga duduk saling berhadapan.
"Ayo kita mulai makan malamnya sekarang," kata Ibu Dian begitu semuanya berkumpul di meja makan.
William belum mengungkapkan maksud baiknya pada ibu Dian karena menganggap waktunya belum tepat. Apalagi Rina masih sering ketus dan bersikap jutek padanya. Pria itu takut mendapatkan penolakan dari gadis kesayangannya itu.
...----------------...
2 Hari kemudian.
Begitu Kaaran dan Rania tiba di kota Merkurius, dia langsung menyerahkan Boron ke pihak yang berwajib.
Bagaimana pun Boron meminta maaf dan mengemis meminta belas kasihan pada mereka, Kaaran dan Rania tetap tidak peduli. Kesalahan yang pernah dilakukan oleh Boron sungguh sangat fatal. Tidak ada ampun lagi untuknya.
Bukti-bukti penggelapan aset perusahan cabang Galaxy Group, serta rekaman CCTV 6 tahun yang lalu saat Boron membawa Rania palsu ke hadapan Kaaran untuk mengambil upah 20 miliar juga sudah diserahkan pada polisi, tinggal mengumpulkan bukti dari pihak keluarga Blanco yang juga sudah ditipu hingga jatuh miskin dan bangkrut.
__ADS_1
Kini Kaaran baru menyadari, kenapa Boron bisa membuat wajah Rania palsu hingga 90% mirip dengan Rania yang asli. Ternyata dari kecil hingga Rania beranjak remaja, Boron sudah sangat dekat dan bersahabat dengan ayah Rahadian, ayah Rania dan Rina, hingga akhirnya menjadi saudara angkat. Hal itu memudahkan Boron untuk membuat wajah Rania palsu bisa sangat mirip dengan yang asli.
Selama 3 hari ditawan oleh Kaaran, Boron memang sudah memikirkan rencana untuk balas dendam. Setelah Kaaran dan Rania meninggalkan kantor polisi, Boron pun memulai aksinya.
"Pak, bisakah saya menelpon keluarga saya, Pak? Saya ingin memberikan mereka kabar kalau sekarang saya ada di penjara." Boron berkata pada petugas yang berjaga.
Setelah mendapat ijin, Boron pun lalu menelpon seseorang. Tidak perlu waktu lama untuk orang itu menjawab panggilan telepon dari Boron.
"Halo." Terdengar suara seorang laki-laki di ujung telepon.
"Halo, Sam. Ini Paman, Sam ...." Boron berkata dengan nada sedih dan lemah. Membayangkan dirinya menghabiskan masa tuanya di penjara merupakan suatu mimpi buruk yang berhasil membuatnya sangat ketakutan.
"Paman Boron?" Laki-laki yang dia panggil Sam itu bertanya untuk memastikan kalau dirinya tidak salah orang.
"Iya, Samuel. Ini Paman. Huhuhu." Boron akhirnya menangis.
"Paman! Paman Boron! Kenapa Paman menangis? Ada apa? Katakan padaku." Terdengar suara panik Samuel di ujung sana.
"Rania ... Rania bersama suaminya menjebloskan Paman ke dalam penjara. Huhuhu." Boron kembali menangis untuk menarik empati Samuel.
"Apa?! Kenapa Rania tega melakukan itu pada Paman? Memangnya Paman salah apa?" tanya Samuel.
"Dan ... se-sejak kapan, Rania menikah?" Suara Samuel terdengar ragu-ragu saat menanyakan hal tersebut.
"Untuk pertanyaanmu yang satu itu Paman tidak tahu pasti, Sam," jawab Boron.
"Oh." Terdengar nada putus asa yang keluar dari mulut Samuel.
"Sebenarnya bukan sepenuhnya salah Rania, Sam. Ini semua gara-gara suaminya yang bernama Kaaran Dirga itu. Si Kaaran itu ... si Kaaran itu sudah merebut semua harta kekayaan Paman lalu menjebloskan Paman ke dalam penjara." Boron mencoba memutar balikkan fakta untuk mencuci otak Samuel.
"Apa? Kenapa Rania bisa menemukan suami yang kejam seperti itu?" Kini Samuel mulai tersulut emosi. Dia tiba-tiba membenci Kaaran tanpa alasan yang jelas, hanya karena mendengar cerita bohong dan ujaran kebencian yang keluar dari mulut Boron.
__ADS_1
"Paman, Paman tenang saja. Samuel akan terbang hari ini juga untuk menemui Paman. Oke."
Setelah memutus sambungan telepon mereka, Boron tersenyum menyeringai. "Permainan seru baru akan dimulai. Kaaran, tunggu pembalasan Paman. Paman tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia bersama Rania."