
Tin! Tin!
Bunyi keras klakson mobil William membuat Rina terlonjak kaget. Gadis cantik itu baru saja keluar dan sedang berdiri tepat di depan pintu gerbang kampusnya.
Bikin orang kaget saja." Rina bergumam sambil memegangi dadanya. Jantungnya seketika berdebar cukup kencang karena kaget dengan suara bising klakson mobil William.
"Ayo masuk!" teriak William dari balik pintu mobilnya.
Tanpa berkata apa-apa Rina langsung menerima ajakan pria itu karena dia sadar menolak pun akan percuma.
William tersenyum sambil menatap Rina lekat-lekat begitu gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Rina, sedikit salah tingkah.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya sedang merasa senang saja karena akhirnya aku bisa bertemu denganmu," jawab William.
"Sebenarnya ... aku sangat merindukanmu," imbuh William sebelum kembali memacu mobilnya menuju kediaman keluarga Blanco.
Deg. Jantung Rina berdegup cukup kencang. Gadis itu membuang wajahnya malu-malu karena dia tidak ingin wajah tersenyumnya dilihat oleh pria yang sedang duduk di sampingnya itu.
Sebenarnya akhir-akhir ini Rina juga sangat merindukan pria itu. Bahkan dia sempat berpikir yang tidak-tidak dan menyangka kalau William sudah menemukan gadis lain sebagai penggantinya karena pria itu tidak pernah muncul lagi setelah pulang dari rumahnya. Untung saja saat itu William sangat sibuk jadi tidak sempat mengawasi dirinya lewat layar monitor. Hampir saja kartu as nya terbuka.
Begitu mobil melaju, tidak ada lagi obrolan di antara keduanya. Cukup bahasa tubuh mereka yang menjelaskan. William memberanikan diri untuk mengambil satu langkah lebih maju. Dia bosan begini terus, selama berbulan-bulan mengejar Rina tapi tidak ada kemajuan yang berarti.
Pria itu memberanikan diri menggenggam tangan Rina. Anehnya, tidak ada penolakan sama sekali yang diberikan oleh gadis itu.
Apakah Rina sudah lelah berpura-pura jual mahal? Mm ... sepertinya begitu, karena cukup Mahen saja yang pura-pura lupa, Rina jangan. Gadis itu hanya cukup berpura-pura jual mahal saja pada William. Kalau pura-pura lupa seperti judul lagu Mahen, bisa bahaya. Bisa-bisa William benar-benar akan berpaling pada gadis lain.
__ADS_1
Karena merasa tidak mendapatkan penolakan, William merasa sangat senang dan bahagia. Sepertinya memang sudah ada kemajuan besar antara dirinya dengan Rina. Pria itu terus menggenggam tangan gadis itu dan tidak pernah mau melepaskannya biar sejenak pun, hingga akhirnya mobilnya sudah dia parkir di halaman depan rumah besar kediaman keluarga Blanco.
Mesin mobil William sudah dia matikan, tapi pria itu merasa masih enggan untuk melepaskan tangan Rina. Begitu pula dengan Rina, dia juga sepertinya enggan menarik tangannya dari genggaman pria dewasa itu.
Rina merasa serba salah. Di lain sisi, dia masih ingin mempertahankan image-nya sebagai gadis yang tidak mudah ditaklukkan oleh laki-laki. Di lain sisi, dia juga merasa risih karena banyak netijen yang menyalahkannya karena terlalu jual mahal. Dia sebenarnya sangat takut apa yang dikatakan oleh para netijen benar-benar kesampaian. Rina tidak akan rela jika William sampai diembat oleh gadis lain.
Cukup lama keduanya diam seribu bahasa dalam mobil hingga akhirnya William mantap memutuskan untuk menyatakan cintanya saat itu juga.
Jika sebelumnya dia takut ditolak, lain halnya dengan kali ini. Dia sudah bertekad bulat untuk menyatakan cintanya sekarang juga, detik ini juga. Urusan ditolak belakangan, dia masih bisa berusaha mengejar lagi lain kali jika pernyataan cintanya itu ditolak.
Pertama-tama, William mencium punggung tangan Rina dengan lembut, cukup dalam dan lama. Hal itu menandakan betapa dalamnya rasa cinta yang dia miliki untuk gadis itu. Dan William berharap semoga Rina bisa mengerti dengan hal kecil semacam itu tanpa perlu dia menjelaskan panjang kali lebar dengan kata-kata.
Rina terkejut. Sepertinya pertahanannya kali ini benar-benar akan runtuh dan hancur berkeping-keping. Dia bahkan tidak bisa lagi menolak meski pun hanya sekedar menarik tangannya dari genggaman pria itu. Apalagi saat William mencium punggung tangannya, sepertinya ada aliran listrik tekanan rendah yang mengalir dan menjalar dari tangan hingga menuju dan tepat tersambung di hatinya. Merasa tidak ada penolakan, William semakin berani untuk mengambil langkah yang lebih maju lagi, yaitu pernyataan cinta.
William sedikit menyondongkan tubuhnya ke arah Rina, sebelah tangannya masih saja enggan melepaskan tangan gadis itu. Tangan besarnya masih saja menggenggam tangan Rina dengan erat sembari mengusapnya dengan sangat lembut menggunakan ibu jarinya. Sedangkan tangan yang sebelahnya lagi dia gunakan untuk meraih dagu Rina karena sepertinya gadis itu enggan menatapnya secara langsung. William tahu Rina hanya malu melakukannya bukan karena benci apalagi jijik menatap wajah tampannya yang awet muda itu.
Penyebabnya ya itu tadi, sepertinya Rina sudah lelah dihujat oleh netijen. Jika kali ini dia masih jual mahal juga dan masih berani menolak William, dia yakin, netijen pasti akan semakin gencar menghujatnya dan meminta Author agar membuatkan pemeran baru seorang gadis cantik yang akan merebut William darinya. Ternyata gadis itu masih terlalu polos karena dia masih terlalu memikirkan dan memasukkan dalam hati komentar negatif orang-orang tentangnya.
Hem, melihat caraku menulis sepertinya aku sudah mulai tertular virus somplak Masku yang di sebelah😜 Tapi beruntungnya karena masih belum terlalu parah ya pemirsa sekalian, masih gejala ringan😅 Author tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Author ikutan somplak akut seperti beliau🤣🤣🤣
Oke, kita kembali serius, dan fokus pada William dan Rina yang sebentar lagi hm ... mungkin akan jadian🤔 Kita lihat saja nanti akan dibawa kemana hubungan mereka. Seperti kata salah satu grup band papan, yaitu Armada.
Mau dibawa ke mana hubungan kita? 🎶 Eaaa🤣😅
Nah, loh? 🙄🤦♀️
Ekhem! Kali ini Author benar-benar serius. Setelah mereka berdua saling tatap, William pun mulai menyatakan perasaannya pada Rina.
__ADS_1
"I love you." William menatap dalam kedua manik mata milik Rina. Gadis itu juga melakukan hal yang sama meski pun awalnya dia masih malu-malu.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rina. Namun dilihat dari sorot mata dan bahasa tubuhnya, sepertinya gadis itu memberikan lampu hijau pada pernyataan cinta yang baru saja pria itu lontarkan. Dan hal itu membuat William semakin berani untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi. Ya, dia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Sasarannya adalah bibir ranum milik Rina.
Namanya juga laki-laki, dikasih hati minta jantung. Dikasih sedikit, malah ingin mengambil yang lebih banyak lagi. Apalagi kalau wanitanya hanya diam dan menurut saja seperti yang dilakukan oleh Rina.
Semakin lama jarak wajah antar keduanya semakin menipis. Keduanya sudah sama-sama memejamkan mata sebelum bibir keduanya saling menyatu.
Namun ketika jarak yang tersisa hanya tinggal beberapa senti lagi, tiba-tiba ada yang mengetuk kaca pintu mobil William dari luar. Dan itu sukses membuat keduanya tersadar dari apa yang hampir mereka berdua lakukan.
"Ibu." Rina berkata sambil berbisik dan menunjuk ibu Dian yang berdiri tepat di samping mobil William.
"Oh."
William dan Rina kembali pada posisi mereka masing-masing. Berusaha untuk menetralkan kembali detak jantung yang tadinya sudah berdebar tidak karuan.
"Ekhem." William berdehem agar suaranya bisa kembali netral sebelum akhirnya dia turun dari dalam mobilnya untuk bertemu dan berbicara dengan calon ibu mertuanya itu.
"Kenapa Nak William tidak keluar dari tadi?" tanya bu Dian begitu melihat William keluar dari dalam mobil. Namun, sebelum William menjawab pertanyaannya, putri bungsunya juga ikut keluar dari dalam mobil tersebut.
"Loh, Rina? Rupanya kamu juga ada di dalam." Ibu Dian menatap keduanya secara bergantian dengan tahapan penuh kecurigaan, seolah meminta penjelasan tanpa perlu dia bertanya langsung.
Sebelum ibu Dian terlanjur berpikir yang tidak-tidak, William pun berusaha menjelaskan. Namun penjelasannya itu sudah jelas melenceng dari kejadian yang sebenarnya.
"Begini, Bu. Tadi Rina ketiduran di dalam mobil, jadi saya harus membangunkannya dulu sebelum kami turun dari mobil."
"Oh ... begitu." Bu Dian berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya wanita paruh baya itu tidak mau percaya begitu saja dengan ucapan William.
__ADS_1
Pasti mereka berdua ada apa-apanya. Batin bu Dian, curiga.