
Ketika memiliki waktu senggang saat jam istirahat kerja, William diam-diam datang ke kampus Rina.
Setelah robot serangganya mengunci Rina sebagai target, William pun kembali ke hotel untuk melanjutkan pengawasannya.
Kini pria itu bisa lebih tenang mengawasi pergerakan gadis pujaannya tanpa perlu turun tangan sendiri. Dan tentunya dia tidak perlu khawatir akan ketahuan karena ukuran robotnya yang sangat kecil seperti lebah. Apalagi robot itu sengaja dia atur agar terbang dengan jarak sekitar 5 meter dari Rina. Jadi Rina pasti tidak akan menyadari keberadaan robot kecil itu. Ditambah lagi suara robot tersebut sudah William silent.
Saat kembali ke apartemennya di sore hari saat jam pulang kerja, William merasa sangat merindukan Rina. William sebenarnya juga penasaran, kira-kira apa yang dilakukan oleh gadis cantik saat sore seperti ini.
Pria itu pun lalu duduk bersandar di sofa bersiap untuk menyaksikan Rina lewat monitor flight controller miliknya, alat yang dia gunakan untuk mengendalikan robot lebah pemberian Zack.
Di dalam monitor, William melihat gadis pujaannya sedang berbincang dengan ibu Dian di meja makan. Pria itu tersenyum saat melihat gaya duduk Rina yang menaikkan salah satu kakinya di kursi ketika duduk.
"Sepertinya nanti aku harus mengajarinya cara duduk yang baik dan sopan untuk perempuan." William berbicara sendiri.
Tidak lama kemudian, terlihat Rina berjalan menaiki tangga menuju kamarnya sambil bersenandung. Begitu sampai di lantai atas, gadis itu terlihat berputar-putar lalu menari seperti sedang berdansa dengan seseorang.
William tertawa menyaksikan tingkah konyol Rina sambil menggelengkan kepalanya. "Rina ... Rina."
Rasa lelah William karena bekerja seharian seketika menghilang begitu melihat tingkah laku konyol gadis pujaan hatinya. Pria itu merasa sangat terhibur dan seketika kembali bersemangat.
Mungkin karena lelah berputar-putar dan menari-nari sambil bernyanyi, Rina terlihat menghentikan aksi konyolnya kemudian berjalan memasuki kamarnya. Untungnya robot serangga itu sangat canggih dan cerdas sehingga bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Robot kecil itu segera masuk ke dalam kamar sebelum Rina menutup pintu kamarnya.
Begitu memasuki kamar, Rina terlihat melangkah menuju kamar mandi. Sepertinya gadis itu ingin mandi di dalam sana.
Melihat Rina memasuki kamar mandi, William segera meletakkan flight controller-nya di atas sofa.
"Tidak boleh. Aku tidak boleh melihatnya. Mengintip seorang gadis yang sedang mandi merupakan tindakan kriminal."
William menelan salivanya dengan kasar. Biar bagaimana pun dia sudah pernah melihatnya secara langsung. Dan hal itu membuat pikirannya tiba-tiba liar kemana-mana. Mulutnya berkata tidak tapi pikirannya berkata lain.
"Tidak. Tidak boleh." William berusaha kuat menahan diri.
"Aku tidak boleh seperti ini. Aku juga ingin segera mandi." William berdiri dari duduknya lalu melepaskan dasinya.
"Kenapa sore ini rasanya gerah sekali?" Pria itu pun segera berjalan memasuki kamarnya. Dia benar-benar meninggalkan flight controller-nya di atas sofa. Takut saat dia membawanya masuk ke dalam kamar, dia tidak tahan untuk tidak mengintip.
...----------------...
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Pesta pernikahan Kaaran dan Rania akhirnya diselenggarakan dengan sangat mewah dan meriah. Selain dihadiri oleh para sanak saudara, sahabat, kenalan, dan para kolega bisnis, pesta itu juga dihadiri oleh para petinggi di dalam negeri. Tidak heran karena keluarga Dirgantara adalah pengusaha terkaya dan nomor satu di negeri ini.
Kaaran dan Rania sedang berdiri di atas pelaminan menyambut para tamu undangan yang datang mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Kini mereka berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah terhitung sejak pagi tadi.
Begitu acara selesai, Kaaran mengajak para orang terdekatnya untuk kembali dan berkumpul di villa miliknya. Pria itu juga sudah menyuruh orang untuk menyiapkan kamar pengantin yang sangat romantis untuk dirinya dan sang istri di villa.
Kehadiran Zoe dan Zack membuat keduanya tidak bisa menghabiskan malam pengantin di kamar hotel seperti pasangan pengantin baru kebanyakan.
...----------------...
Malam hari, Villa.
"Jadi kapan Kak Adit akan kembali ke kota Pluto?" Rania bertanya pada kakak angkatnya yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri acara pesta pernikahannya dengan Kaaran.
"Rencananya besok pagi," jawab Aditya.
"Kenapa terburu-buru sekali, Kak? Kamu 'kan baru datang tadi malam." Rania terlihat cemberut. Dia dan kedua anaknya masih sangat merindukan pria itu.
"Huh, dasar. Berarti Kak Adit tidak ada niat untuk datang ke pesta pernikahanku." Rania memukul lengan Aditya dengan pelan. Pria itu hanya tertawa melihat wajah cemberut Rania.
"Om Adit!" Zoe dan Zack berlari menghampiri Aditya dan mamanya yang sedang duduk di ruang makan.
"Iya, Sayang. Om sangat merindukan kalian berdua." Aditya memeluk Zoe dan Zack secara bersamaan.
"Kami juga, Om," kata Zack.
Setelah melepas pelukan mereka, Zoe pun bertanya, "Om Adit, kenapa Om Adit tidak tinggal saja di sini bersama kami?"
"Tidak bisa Zoe. Om 'kan punya rumah dan toko di sana. Ditambah lagi rumah yang kalian tinggalkan yang juga harus Om jaga. Siapa yang akan mengurus semuanya kalau Om ikut pindah ke sini bersama kalian?" jawab Aditya balik bertanya.
"Bagaimana kalau Om Adit jual saja semuanya kemudian Om membangun bisnis baru di kota ini?" Zack memberikan usul.
"Mm ... sepertinya ide bagus. Nanti Om akan pikirkan lagi baik-baik," jawab Aditya.
...----------------...
__ADS_1
Kaaran dan Rania mengadakan pesta kecil-kecilan bersama orang-orang terdekat mereka di taman belakang villa.
Seperti sebelumnya, William dan Rina bertugas membakar daging, sosis, dan jagung. Tapi kali ini mereka menggunakan mesin pemanggang buatan Zack. Bukan lagi alat pemanggang manual seperti sebelumnya.
Sesekali Rina memasukkan daging potongan kecil yang sudah matang ke dalam mulutnya, William yang melihat hal itu juga meminta₩ Rina untuk melakukan hal yang sama padanya.
"Rina, tolong suapi aku juga. Aaa." William membuka mulutnya berharap Rina akan menyuapinya juga.
Rina diam saja. Gadis itu tidak menggubris ucapan William, seolah dia tidak mendengar sama sekali permintaan pria itu.
Memang enak? Kamu dulu juga memperlakukanku seperti ini. Sampai mulutku berbusa sekali pun, kamu tetap tidak mau berbicara denganku. Sekarang aku yang memperlakukanmu seperti itu, bagaimana rasanya? Enak tidak? Batin Rina.
"Auwh! Panas sekali." William berpura-pura memekik agar bisa menarik perhatian Rina.
Rina terkejut. Rasa khawatir di hatinya tentu saja sangat besar karena hingga detik ini dia masih sangat menyukai William. Dia sebenarnya ingin meriksa lalu mengobati tangan William, tapi dia berpura-pura tidak peduli dan memilih berpura-pura sibuk melakukan hal lain. Dia takut harga dirinya jatuh di depan pria itu.
Kejam sekali dia. Apa dia sudah tidak ingat bagaimana aku menolongnya saat tangannya terbakar waktu itu? Batin William.
"Ada apa Paman William?" Zack datang menghampiri.
"Tidak apa-apa, Tuan Muda Kecil. Tadi saya hanya sedikit terkejut. Saya lupa menggunakan alat saat mengangkat jagungnya.
"Oh, kalau begitu lain kali hati-hati ya, Paman," pesan Zack.
William mengangguk. "Oh iya, Tuan Muda Kecil, apa Anda bisa membuat alat atau sistem yang bisa membuat orang bisu bisa berbicara?" William bertanya pada Zack seraya melirik Rina.
"Membuat orang bisu bisa berbicara?" Zack terlihat memikirkan ucapan William. "Apakah orang bisunya bisu dari lahir Paman?"
"Tidak juga. Hanya saja orang bisu itu memiliki kelainan dan sedikit aneh. Dia hanya bisu saat diajak berbicara oleh satu orang saja," jawab William.
Rina merasa tersindir mendengar ucapan William.
"Zack sayang, apakah kamu bisa membuat alat atau sistem yang bisa membuat orang yang lupa ingatan bisa mengingat kembali kejadian di masa lalu? Sepertinya ada seseorang yang lupa bagaimana dirinya memperlakukan seseorang di masa sebelumnya." Rina melirik sinis ke arah William. Kali ini dia balik menyindir pria itu.
Mendengar sindiran Rina, William hanya bisa memasang wajah datar. Dia tahu kalau gadis itu pasti sedang balas menyindir dirinya.
"Mm ... maaf, Paman, Tante, sepertinya aku tidak bisa membuat alat atau pun sistem yang seperti itu."
__ADS_1