Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Hukuman Untuk Pembohong Besar


__ADS_3

Zoe dan Zack berlari ke arah Kaaran, diikuti oleh Robot Papa.


"Sayang, kenapa kalian bisa ada di sini?" Kaaran merasa heran melihat kedua anaknya tiba-tiba ada di sana juga.


"Kami ke sini karena ingin menyusul Papa." Zoe menjawab, diikuti anggukan Zack.


"Kalian ke sini karena menyusul Papa?" Kaaran masih belum mengerti bagaimana bisa kedua anaknya itu menyusulnya ke sana.


"Iya, itu benar, Papa," jawab Zoe dan Zack kompak.


"Tapi dari mana kalian bisa tahu kalau Papa ada di pinggir danau ini?" Kaaran bertanya untuk yang kesekian kalinya, tapi tetap saja dia masih bingung juga.


Zoe menjawab, "Itu karena Zack bisa melacak posisi Papa."


"Benarkah? Bagaimana bisa seperti itu? Bagaimana cara Zack melakukannya?" tanya Kaaran.


"Tentu saja bisa, Papa. Bagi Zack, melacak posisi seseorang itu sangat gampang. Asalkan, orang yang dicari itu masih ada di dalam ruang lingkup kota Pluto, Zack akan bisa menemukannya dengan mudah hanya dengan memasukkan foto orang itu ke dalam sistem aplikasi yang ada di dalam gadget mau pun komputer Zack," jelas Zack.


"Oh jadi seperti itu. Ternyata kamu jauh lebih hebat dari yang Papa pikirkan Zack." Kaaran benar-benar takjub dengan kehebatan putranya. "Oh iya, kalian kemari bersama siapa?"


Kaaran mengedarkan pandangannya ke sekitar danau, berharap Rania juga ada di sana, ikut menyusulnya sama seperti anak-anak mereka.


Meski pun Kaaran berpikir kalau Rania sudah menikah dengan pria lain, tapi dia masih berharap banyak pada ibu dari kedua anaknya itu. Pria itu berharap akan ada keajaiban yang mampu menyatukan dirinya dengan Rania sehingga dapat membina mahligai rumah tangga bersama keluarga kecil mereka.


Apa yang aku pikirkan?ย  Tidak mungkin Rania akan datang menyusulku kemari. Aku tahu kalau dia sangat membenciku. Apalagi dia juga sudah memiliki suami sekarang.


"Papa, kenapa Papa melamun?" tanya Zoe.


"Tidak, Sayang tidak apa-apa. Apa tadi kalian mengatakan sesuatu?" jawab Kaaran balik bertanya.


"Tadi Zack bilang, kami berdua datang kemari bersama Robot Papa." Zack kembali mengulang ucapannya yang tidak di dengar oleh Kaaran tadi.


"Oh, jadi ini yang namanya Robot Papa?" Kaaran menatap Robot Papa dari atas sampai ke bawah. "Jika dilihat secara langsung dan dari jarak yang sangat dekat, dia benar-benar sangat mirip dengan manusia. Hanya saja tinggi badannya terlalu pendek untuk ukuran pria dewasa. Kenapa kamu tidak membuatnya lebih tinggi lagi Zack?"


Zack menjawab, "Zack memang sengaja membuatnya seperti itu Papa. Kalau Robot Papa dibuat setinggi Papa, pasti akan sangat merepotkan nanti."


"Oh seperti itu." Kaaran mengangguk mengerti. "Oh iya, ngomong-ngomong apa cita-cita kalian, Nak?"


Zoe menjawab duluan, "Zoe bercita-cita ingin menjadi penyanyi sekaligus komposer ternama di seluruh dunia, Papa."

__ADS_1


"Kalau cita-cita Zack, Zack ingin membuat robot, alat elektronik, dan juga sistem yang bisa mempermudah pekerjaan umat manusia."


"Wah, hebat sekali. Papa dan mama pasti akan sangat bangga pada kalian nantinya." Karaan mengelus belakang kepala kedua anaknya dengan bangga.


Andai saja Papa bisa memiliki kesempatan untuk hidup bersama kalian, Papa pasti akan membantu kalian untuk mewujudkan cita-cita kalian masing-masing.


Melihat Kaaran kembali melamun, Zoe pun bertanya, "Apa yang Papa pikirkan? Kenapa Papa melamun lagi?"


"Apa Papa sedang memikirkan mama?" tambah Zack, ikut bertanya.


Kaaran tersenyum paksa, dia tidak menjawab pertanyaan kedua anaknya.


"Papa pasti akan sangat merindukan kalian nanti." Kaaran kembali membelai puncak kepala kedua anaknya.


"Memangnya Papa mau kemana?" tanya Zack.


"Papa ... apa Papa sudah lupa dengan janji Papa? Papa 'kan sudah berjanji kalau Papa tidak akan pergi meninggalkan kami lagi." Mata Zoe mulai berkaca-kaca.


"Iya, Papa. Papa jangan pergi." Zack memeluk papanya, disusul oleh Zoe.


Maafkan papa nak, karena papa belum bisa menepati janji pada kalian. Kaaran memeluk anak kembarnya dengan erat. Matanya juga ikut berkaca-kaca.


"Iya, Papa. Kalau Papa ingin pergi karena mama, sebaiknya jangan pergi, karena sebenarnya mama sudah membohongi Papa lagi." Zack ingin meluruskan kebohongan mamanya terhadap papanya.


"Apa maksudmu, Zack?" tanya Kaaran, bingung.


"Iya, Papa. Adik benar. Mama sudah membohongi Papa tentang om Adit." Zoe ikut menjelaskan. Kedua anak itu tidak ingin kehilangan papa kandungnya karena keegoisan mamanya.


"Apa maksud kalian? Coba jelaskan lebih detail lagi, Sayang?" tanya Kaaran, belum mengerti juga.


"Papa dengarkan Zoe, mama itu membohongi Papa mengenai om Adit. Om Adit itu, bukan suami mama," jelas Zoe.


"Iya, Pa. Om Adit itu hanya menganggap kami seperti keponakannya, dan menganggap mama seperti adiknya sendiri," sambung Zack.


Senyuman di wajah Kaaran akhirnya mengembang. "Benarkah? Jadi ... jadi mama kalian cuma membohongi Papa tentang pernikahannya dengan laki-laki yang bernama Aditya itu?"


"He'em." Zoe dan Zack mengangguk mengiyakan.


Kini senyuman Karaan semakin melebar. Dia merasa sangat lega mengetahui fakta yang sebenarnya.

__ADS_1


Rania, awas kamu ya. Kamu harus diberi hukuman nanti. Ini sudah yang kesekian kalinya kamu membohongiku.


"Sebenarnya dari mana kalian tahu mengenai hal ini? Tidak mungkin 'kan mama kalian sendiri yang menceritakan hal ini pada kalian berdua." Kaaran merasa sangat penasaran.


"Zack tahu dari rekaman CCTV, Papa. Awalnya Zack merasa sangat senang melihat mama membawa Papa masuk ke dalam rumah, ternyata mama hanya ingin menunjukkan bukti palsu atas kebohongannya pada Papa."


Sampai di sini Kaaran semakin tahu, bahwa kedua anaknya itu jauh lebih cerdas dari yang dia pikirkan sebelumnya. Bahkan mereka berdua bisa membantu orang dewasa menyelesaikan masalah.


...----------------...


Tidak terasa hari sudah menjelang petang. Kaaran bersama kedua anaknya beserta Robot Papa akhirnya sampai di rumah. Mereka berempat diantar pulang oleh William. Sementara itu, William kembali ke hotel setelah menyelesaikan tugasnya.


Zoe dan Zack membawa Kaaran masuk ke dalam rumah mereka lalu naik ke lantai atas.


"Mama kalian kemana? Kenapa Papa tidak melihatnya di mana pun tadi?" tanya Kaaran. Matanya mencari-cari keberadaan Rania di setiap ruangan yang dia lewati tadi.


"Oh, kalau jam segini, biasanya mama sedang mandi di kamarnya Papa," jawab Zoe.


"Mandi?" Kaaran tersenyum jahat dalam hati saat mendengar kata 'mandi'. Membayangkannya saja sudah membuatnya menjadi bersemangat, apalagi jika bisa menyaksikan Rania secara langsung. "Oh iya, di mana kamar mama kalian?"


Zack menunjuk kamar yang paling ujung. "Itu Papa, yang paling ujung."


Kaaran tersenyum sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Oh, yang itu, ya?"


"Kalau pintu yang warna pink itu kamar Zoe, Papa, sedangkan pintu yang berwarna biru itu kamar Zack." Zoe menjelaskan pada Kaaran agar papanya itu tidak kebingungan nantinya.


"Oh. Lalu ruangan di sebelah kamar Zack itu ruangan apa?" tanya Kaaran.


"Itu studio Zoe, Papa." Zoe menjawab sambil tersenyum.


"Oh, baiklah. Sekarang Papa sudah mengerti. Sebaiknya kalian masuk ke kamar kalian masing-masing dan mandi. Papa juga ingin mandi dan membersihkan diri. Tubuh Papa sudah sangat lengket karena keringat." Kaaran mencoba mengusir kedua anaknya secara halus, agar nantinya dia bisa masuk ke dalam kamar Rania tanpa ada yang mengganggu.


"Baik, Papa." Zoe dan Zack menjawab secara bersamaan. Kedua anak itu pun kemudian masuk ke dalam kamarnya masing-masing.


Kaaran berjalan ke arah kamar Rania. Dia tersenyum evil saat mendapati pintu kamar Rania tidak terkunci. Sudah saatnya memberikan hukuman kepada pembohong besar.


...----------------...


โš  WARNING!!!

__ADS_1


Hai Readers! Apa kabar? Semoga baik dan sehat-sehat selalu yah.๐Ÿ˜ Oh iya, Author punya tantangan kecil nih buat kalian semua. Jika kalian bisa membuat bab ini memiliki minimal 50 like dan minimal 30 komentar (gak boleh spam komen ya), Author akan dobel up besok. Oke๐Ÿ˜‰ sampai di sini kalian bisa mengerti 'kan peraturannya? Selamat mencoba.๐Ÿ˜


__ADS_2