Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Menghindar


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Rina bersama dengan Sari sahabatnya berpisah di area parkiran kampus. Seperti biasa, Rina pulang dan pergi ke kampus menggunakan jasa taksi online.


Gadis itu berdiri tidak jauh dari pintu gerbang kampus menunggu taksi yang baru saja dia pesan. Namun saat dia tengah menunggu taksi, tiba-tiba dia melihat Andre sedang berjalan ke arahnya.


Tentu saja Rina segera menghindar dan berlari menjauh. Dia tidak ingin bertemu dengan laki-laki yang sekarang ini sangat dia benci. Tapi sayangnya, saat Rina menoleh, Andre juga berlari mengejarnya.


"Rina! Tunggu!" teriak Andre, sambil terus berlari mengejar Rina.


Cowok brengsek itu mau apa lagi sih?


Rina semakin mempercepat laju larinya. Namun sekuat dan sekencang apa pun dia berlari, Andre tetap bisa menyusulnya.


"Tunggu Rina, tunggu." Andre menarik pergelangan tangan Rina membuat langkah gadis itu terhenti.


"Lepaskan!" Rina menghempaskan tangannya dari genggaman Andre. "Jangan sentuh aku. Dasar cowok brengsek. Masih berani kamu muncul di hadapan aku, hah?"


"Rina, aku minta maaf. Aku salah, aku khilaf. Tolong maafkan aku, ya?" Andre memohon dengan wajah memelas di hadapan Rina.


"Tidak mau. Tidak ada kata maaf atas perbuatan kamu kemarin." Rina segera berlalu meninggalkan Andre tapi Andre tidak mau menyerah begitu saja.


"Rina, Rina, Rina, tunggu." Andre kembali menarik pergelangan tangan Rina.


"Apa lagi sih? Lepaskan tangan aku. Aku tidak sudi disentuh oleh orang seperti kamu."


"Rina, aku mohon. Maafkan aku, ya? Aku tahu aku sudah membuat kesalahan besar. Tapi aku mohon, bisa kah kamu memaafkan aku? Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


"Pokok nya aku tidak mau. Pergi sana. Jangan pernah dekati aku lagi."


"Rina aku mohon, itu semua aku lakukan karena aku sangat mencintai kam-"


"Lepaskan tangannya." Suara bariton seorang pria mengejutkan Rina dan Andre.


Seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan jas hitam, lengkap dengan kacamata hitam sedang berdiri tidak jauh dari mereka.


Pria ini, pria ini 'kan yang sudah menghajarku waktu itu. Kenapa dia bisa muncul lagi di sini? Batin Andre. Dia sangat terkejut sekaligus heran melihat kemunculan William yang menurutnya selalu datang disaat yang tidak tepat.


Andre melepaskan cengkeraman tangannya dari tangan Rina. Pemuda itu berjalan menghampiri William. "Urusan Anda apa sih sebenarnya? Kenapa Anda selalu ikut campur urusan saya dengan pacar saya?"


Andre sengaja mengaku-ngaku di depan William agar supaya pria itu tidak ikut campur urusannya dengan Rina.

__ADS_1


William tersenyum mengejek mendengar Andre mengakui Rina sebagai pacar. "Kamu pikir, aku percaya dengan ucapanmu barusan? Jangan mimpi."


Bug. Bogem mentah mendarat di pipi kiri Andre. Tubuh Andre terdorong ke belakang. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


"Hei! Kenapa kamu memukulku lagi? Apa sebenarnya masalahmu?" Andre berjalan mundur dengan pelan. Setelah sempat mengadu kekuatan beberapa hari yang lalu dengan William, pemuda itu menjadi kapok. Dia tidak mau lagi kembali ke rumah sakit setelah baru keluar tadi pagi.


"Kamu mau tahu kenapa aku memukulmu?" William menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk Andre. "Karena kamu sudah mengaku-ngakui Rina. Apa kamu tahu, Rina itu siapaku? Rina itu milikku, jadi jangan coba-coba macam-macam dengannya."


Andre terbahak. "Lucu sekali. Hahaha." Andre tertawa sambil memegangi perutnya. "Om, kalau bicara itu jangan sembarangan. Yang muda dan tampan sepertiku saja tidak disukai oleh Rina, apalagi o'om sepertimu. Hahaha."


Mendengar ejekan Andre, William menjadi geram. Kurang ajar. Rasakan ini.


Bug. Kali ini gantian pipi kanan Andre yang mendapatkan pukulan dari William.


Setelah menghajar Andre, William pun memberikan peringatan pada pemuda itu agar tidak mengganggu dan mendekati Rina lagi. Jika Andre masih berani mengganggu Rina, William berjanji tidak akan melepaskannya lain kali.


Saat Andre lari dan kabur karena ketakutan, William menoleh dan mencari keberadaan Rina.


"Kemana dia? Bukannya tadi dia berdiri di situ." William mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tapi dia tidak menemukan sosok gadis cantik yang dia cari. William ingin menghubungi Rina tapi dia tidak memiliki nomor ponsel gadis itu.


"Mungkin dia sudah pulang. Lebih baik sekarang aku kembali ke kantor."


...----------------...


Hari ini Kaaran mengajak Rania beserta kedua anaknya untuk jalan-jalan ke pantai. Kaaran juga mengajak William, Rina, dan juga bu Dian, tapi sayangnya bu Dian tidak bisa ikut karena dia akan mengadakan arisan dengan teman-temannya di rumah.


Ting! Ting! Bunyi klakson sebuah mobil mewah terdengar nyaring. Seorang gadis muda mengenakan gaun model sabrina motif floral dengan panjang selutut tengah berlari keluar dari balik pagar rumahnya. Gadis itu juga memakai topi bundar berukuran sedang khas pantai, sambil membawa tas ransel yang menggantung di punggungnya.


"Maaf membuat kalian, me-nung-gu." Ucapan Rina terbata di akhir kalimatnya karena dia melihat William yang duduk dibalik kemudi.


Ternyata dia juga ikut. Seandainya aku tahu dia akan ikut berlibur, aku pasti tidak akan ikut. Sebenarnya aku ikut berlibur karena aku ingin melupakan kejadian beberapa hari lalu, tapi kalau begini, bagaimana aku bisa melupakannya? Batin Rina.


"Dek! Masuk yuk! Kenapa kamu malah berdiri dan bengong di situ?" teriak Rania.


"Eh, i-iya, Kak." Rina tersadar dari lamunannya, lalu segera masuk ke dalam mobil di jok penumpang bagian depan tepat di samping William, karena di jok penumpang bagian belakang ditempati oleh Kaaran, Rania, Zoe, Zack, juga Robot Papa. Satu-satunya kursi yang bisa Rina tempati duduk hanyalah di samping William.


Berbeda dengan Rina yang terlihat gugup dan salah tingkah, William malah memasang wajah datarnya seperti biasa. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka berdua.


...----------------...


Sepanjang hari Rania banyak menghabiskan waktu liburannya bersama kedua anak kembar dan adiknya dengan bermain air dan berjemur di pinggir pantai. Sedangkan Kaaran dan William menghilang entah kemana saat waktu siang baru menjelang.

__ADS_1


Saat waktu sore tiba, Kaaran dan William baru kembali. Rencananya malam ini mereka akan bermalam di hotel yang lokasinya tidak jauh dari pantai dan besok sore mereka baru akan kembali.


Kaaran berjalan menghampiri Rania yang sedang duduk selonjoran beralaskan pasir bersama Rina. Sedangkan Zoe, Zack, dan Robot Papa sedang asik bermain bersama membuat istana pasir.


"Papa!" Zoe dan Zack berteriak memanggil Kaaran begitu melihat pria itu datang.


"Sayang ... anak Papa." Kaaran memeluk Zoe dan Zack secara bersamaan.  Setelah itu dia berjalan menghampiri Rania.


"Sayang, ikut aku. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Kaaran mengulurkan tangannya pada Rania.


"Kemana?" tanya Rania. Dia terlihat kebingungan dan belum membalas ukuran tangan Kaaran.


"Sudah, Kak. Jangan banyak tanya, langsung ikut saja," ucap Rina, sambil tersenyum.


Kaaran menarik kedua tangan Rania lalu membantunya berdiri.


"Tunggu dulu. Memangnya kamu mau membawaku ke mana?" Rania kembali bertanya.


"Rahasia." Kaaran tersenyum, lalu berbalik pada Rina. "Rina, tolong jaga anak-anak. Kami ada urusan sebentar."


Rina menjawab, "Baik, Kak."


Setelah melihat Kaaran dan Rania pergi, William pun berjalan menghampiri Rina, lalu duduk sekitar 1 meter di samping gadis itu.


Rina yang menyadari kedatangan William segera berdiri dari duduknya. Dia tidak ingin dekat-dekat dengan pria itu.


"Mau ke mana? Kenapa selalu menghindar dariku?" William bertanya sambil menarik tangan Rina.


"Siapa yanga menghindar? Saya cuma ingin pergi ke toilet," kata Rina beralasan. "Tolong lepaskan tangan saya."


William dengan perlahan mulai melonggarkan cengkeramannya hingga akhirnya tangan Rina lepas dari genggamannya.


"Saya titip anak-anak." Rina berjalan dengan cepat menuju toilet.


Tidak jauh dari toilet, Rina bertemu dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal. Laki-laki itu tiba-tiba saja mencolek pipi Rina. "Hai cantik, boleh kenalan?"


"Ih apaan sih? Jangan kurang ajar, ya?" Rina menepis tangan laki-laki itu lalu semakin mempercepat langkahnya menuju toilet.


Tidak sampai 10 menit kemudian, Rina akhirnya keluar dari kamar kecil. Gadis itu ingin kembali ke pantai, tapi dia merasa heran melihat laki-laki yang sudah menggodanya tadi terlihat babak belur.


Aneh. Orang itu kenapa bisa tiba-tiba bonyok begitu? Perasaan tadi dia baik-baik saja sebelum aku masuk ke toilet.

__ADS_1


Rina menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berjalan melewati laki-laki tersebut. Laki-laki itu terlihat ketakutan saat melihat Rina dan segera berlari menjauh.


Orang itu kenapa sih? Melihatku seperti melihat hantu saja.


__ADS_2