
Note : Sepertinya cerita ini kurang mendapat antusias dari kalian ya😢 Tantangannya tidak lulus baik jumlah target like mau pun jumlah target komentar😅 Tapi Author sangat berterima kasih pada kalian semua karena kalian sudah mau mampir dan memberikan dukungan untuk cerita ini, baik berupa like, komentar, hadiah, vote, dan favorit. Tanpa kalian semua, pasti cerita ini sudah sepi kayak kuburan. Hihihi... Oops🙊😅 (Udah ya, sapa-sapaannya gak boleh kepanjangan)
...~Happy reading~...
...----------------...
Rania baru saja selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi sambil bersenandung dan hanya mengenakan jubah mandi berwarna putih. Rambut panjangnya digerai dan dibiarkan begitu saja.
"Na na na na na ...." Suara Rania terdengar sangat lembut dan merdu. Pantas saja suara Zoe sangat indah, ternyata bakat itu diturunkan dari sang ibu.
Rania tidak menyadari keberadaan Kaaran, padahal tadinya pria itu berdiri tidak jauh dari pintu kamar mandinya. Mungkin karena Rania tidak sengaja membelakangi pria itu, jadi dia tidak menyadari kehadirannya.
Rania melangkah ingin membuka pintu ruangan yang bersebelahan dengan pintu kamar mandinya. Ruangan itu berisi sistem pengganti baju otomatis buatan Zack.
Cara kerja sistem tersebut adalah, hanya dengan memilih salah gambar pakaian yang tertera di layar monitor sesuai selera, lalu tekan enter, maka dalam hitungan detik, secara otomatis, baju yang dipilih akan langsung melekat di badan. Jadi tidak perlu lagi bersusah payah dan membuang-buang waktu hanya untuk mengganti dan memakai pakaian sendiri.
Tapi terlebih dahulu sistem itu juga mempertimbangkan tinggi dan berat badan seseorang, serta stok baju yang masih tersedia di dalam lemari penyimpanan. Jika bajunya kekecilan atau tidak muat di badan, maka sistem akan berbunyi 'tteet' dan akan menyala lampu berwarna merah.
Kembali ke Rania. Baru saja Rania ingin memutar knop pintu hendak memasuki ruangan sistem pengganti baju otomatis, tiba-tiba saja sepasang tangan besar dan kekar melingkar di perut langsingnya.
Deg.
Mata Rania membulat, dia sangat terkejut ketika merasakan ada yang memeluknya dari belakang, terlebih lagi ketika dia tahu bahwa sosok itu adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi dan besar. Secara refleks Rania berteriak sekencang-kencangnya. "Aargh!!!"
"Sst. Jangan ribut. Nanti anak-anak mendengarkan kita." Kaaran berbisik di dekat telinga Rania.
Dari suaranya, Rania bisa langsung tahu kalau pria itu adalah Kaaran. "Kamu." Rania mulai berontak ingin melepaskan diri dari pelukan Kaaran. "Lepaskan aku brengsek! Apa yang kamu lakukan di kamarku?! Dasar laki-laki mes**! Lepaskan aku! Lepaskan! Cepat keluar dari kamarku!"
Kaaran tidak menghiraukan ucapan Rania, dia malah terus melingkarkan tangannya dengan erat di perut wanita kesayangannya itu.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang." Kaaran kembali berbisik di dekat telinga Rania, lalu menenggelamkan wajahnya di leher jenjang milik gadis itu.
"Ih geli. Lepaskan aku. Lepaskan." Rania terus berusaha memberontak. "Kamu ini mau apa sih? Jangan macam-macam padaku atau aku akan-"
"Aku tidak ingin macam-macam, Sayang. Aku hanya ingin satu macam, yaitu memberikanmu hukuman karena kamu sudah terlalu sering membohongiku." Kaaran tiba-tiba saja melepas tali pengikat jubah mandi Rania lalu menanggalkan jubah mandi itu secepat kilat dan melemparnya ke sembarang arah.
__ADS_1
"Aargh!!!" Rania berteriak sekencang-kencangnya ketika menyadari tubuh indahnya sudah terekspos.Â
Dasar pria kurang ajar. Jangan pernah bermimpi untuk melecehkanku lagi. Rasakan ini.
Prok! Hanya dengan satu kali tepukan tangan, kamar Rania seketika menjadi gelap gulita. Ternyata lampu di kamar Rania bisa mati dan menyala hanya dengan menggunakan sensor suara tepuk tangan, jadi tidak perlu lagi repot-repot menekan sakelar untuk menyalakan dan mematikan lampunya, begitu pun dengan lampu di ruangan lain.
"Eh, apa yang terjadi? Apakah sedang mati listrik?" Kaaran mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Sangat gelap. Dia tidak bisa melihat apa-apa.
Kenapa harus mati listrik disaat seperti ini sih? Mengganggu acara saja. Kaaran yang merasa kesal segera merogoh ponsel di dalam saku celananya. Dia ingin menyalakan senter.
"Rania." Kaaran memanggil Rania sambil mengedarkan cahaya senternya ke sekeliling ruangan. Tapi dia tidak melihat Rania di mana pun. Pasti Rania sedang bersembunyi agar Kaaran tidak jadi menghukumnya.
"Rania, kamu di mana, Rania? Keluarlah. Apa kamu tidak takut gelap? Ayo, kemarilah, Sayang."
Rania tidak menjawab, ternyata dia mengambil kesempatan untuk bersembunyi di kolom tempat tidur saat ruangan tiba-tiba menjadi gelap gulita.
Kamu jauh lebih menakutkan daripada kegelapan ini brengsek. Dasar Laki-laki mes**.
Sementara itu, Kaaran mulai berjalan ke arah pintu. Tadi saat dia baru pertama kali masuk, dia melihat ada sakelar lampu di dekat pintu kamar. Dia ingin mengetes apakah listriknya benar-benar padam ataukah tidak.
"Aneh." Kaaran menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil bergumam. Dia merasa sedikit kebingungan. "Tadi siapa yang mematikan lampunya, ya?"
Kaaran kembali berjalan ke arah di mana dia berdiri sebelumnya. Dia ingin kembali mencari Rania. "Rania ... Kamu di mana Rania? Keluarlah. Jangan bersembunyi."
Rania menutup mulutnya rapat-rapat dengan sebelah tangannya, jangan sampai dia mengeluarkan suara dan membuatnya ketahuan oleh Kaaran.
Hush, hush, pergilah. Jangan mendekat, jangan mendekat. Jantung Rania semakin berdetak kencang ketika melihat kaki Kaaran semakin lama semakin mendekat ke arahnya.
"Rania ... Rania ... keluarlah, Sayang. Jangan sembunyi. Kita ini bukan anak kecil lagi, jadi kamu tidak usah mengajakku bermain petak umpet." Kaaran berkata sambil mencari Rania di balik meja, di balik lemari rias, lalu di balik kursi.
"Oh, aku tahu. Jangan-jangan kamu sedsng bersembunyi di kolom tempat tidur, ya?" tanya Kaaran, sambil berjalan ke arah tempat tidur.
Sial. Kenapa dia bisa tahu? Habislah aku .... Rania benar-benar putus asa, kali ini firasatnya berkata, dia pasti akan ketahuan dan pasti akan mendapatkan hukuman mes** dari Kaaran.
Prok! Baru saja Kaaran ingin mencari Rania di kolom tempat tidur, tapi tiba-tiba lampu kembali padam.
__ADS_1
"Aneh, kenapa lampunya tiba-tiba mati lagi?" Kaaran mendongak kebingungan, melihat ke sekeliling yang gelap gulita, tidak ada cahaya sedikit pun.
Tunggu, tunggu, tunggu. Barusan itu aku mendengar suara tepuk tangan, 'kan? Setelah itu lampunya mati. Tadi awalnya juga seperti itu. Kaaran mulai memikirkan cara memecahkan teka-teki lampu di kamar Rania.
Setelah beberapa saat berpikir, Kaaran akhirnya mengerti. Ahha ... ya, ya, ya. Aku tahu. Mungkin seperti ini caranya.
Kaaran mengangguk-nganggukkan kepalanya lalu mencoba menepukkan tangannya satu kali. Dan ternyata, lampunya benar-benar menyala. Kaaran mencoba bertepuk tangan sekali lagi, lampunya kembali padam.
Kaaran tertawa. "Oh, jadi rupanya seperti itu cara mainnya ya."
Habislah habislah habislah aku. Bagaimana dia bisa mengerti caranya? Rania mulai gemetar ketakutan. Dia yakin, setelah ini dia pasti akan menjadi mangsa Kaaran.
Aku tidak mau, aku tidak sudi disentuh oleh pria brengsek itu lagi. Zoe ... Zack, tolong mama, Nak. Mama dalam bahaya.
Kaaran mendudukkan pantatnya di atas tempat tidur Rania. Terpancar jelas senyuman kemenangan di wajah tampannya. "Aku tahu kamu ada di bawah. Keluarlah, Sayang. Apa kamu tidak merindukan tehnik permainanku? Aku tahu kamu sangat menyukainya waktu itu."
Pertanyaan macam apa itu? Sangat memalukan. Dasar laki-laki mes**. Meski pun Rania tahu dirinya pasti akan kalah, tapi dia tidak mau menyerahkan diri begitu saja. Dia masih mau berjuang mempertahankan harga dirinya sebagai seorang perempuan.
"Rania, aku beri kamu pilihan, kamu mau keluar sendiri atau kamu mau aku membantumu keluar dari bawah sana?" tanya Kaaran.
Rania menjawab dalam hati. Aku tidak memilih dua-duanya. Yang aku mau, kamu segera keluar dan pergi dari sini.
"Baiklah, Sayang. Karena kamu tidak mau keluar sendiri, jadi aku yang akan membantumu keluar." Kaaran segera turun dari tempat tidur lalu ingin menarik Rania keluar dari bawah sana.
Sebelum Kaaran sempat menariknya, Rania kembali bertepuk tangan hingga kamar kembali gelap.
Kaaran tidak mau kalah, dia juga bertepuk tangan untuk menyalakan kembali lampunya. Begitu seterusnya. Yang mereka lakukan hanya bertepuk tangan secara bergantian untuk menyalakan dan mematikan lampu.
Kaaran mendengus kesal. "Baby, berhentilah bermain-main denganku. Jangan biarkan aku bermain kasar."
Kaaran segera menyalakan senter di ponselnya, lalu menarik kedua kaki Rania hingga akhirnya keluar dari kolom tempat tidur.
Rania memberontak. "Aah! Lepaskan! Lepaskan aku!"
"Tidak akan." Kaaran melemparkan tubuh polos Rania naik ke atas tempat tidur lalu bersiap untuk menerkamnya. Berpuasa selama hampir 6 tahun membuat pria itu menjadi tidak sabaran.
__ADS_1