Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Dimakan Kasihan Dibuang Sayang


__ADS_3

Kehadiran Zoe dan Zack membuat tuan besar Dirgantara dan nyonya besar Dirgantara tidak bisa berbuat apa-apa. Mengetahui Kaaran dan Rania ternyata sudah memiliki putra dan putri yang sudah berumur 5 tahun membuat sepasang suami istri itu mau tidak mau terpaksa harus memberikan restu kepada Kaaran dan Rania untuk segera menikah.


Pesta pernikahan Kaaran dan Rania akan segera diselenggarakan 2 minggu lagi. Rencananya resepsinya akan diadakan di hotel bintang 5 milik Galaxy Group.


Tuan besar Dirgantara berkata kalau dia sendirilah nanti yang akan mengumumkan di depan awak media keberadaan kedua cucu kembarnya beserta kabar pernikahan Kaaran dan Rania yang akan segera diselenggarakan secepatnya. Sedangkan Kaaran tinggal mengurus persiapan pernikahannya seperti foto pre-wedding dan lain sebagainya.


Meski pun tuan besar Dirgantara dan nyonya besar Dirgantara tidak menyukai Rania sebagai menantu mereka kelak, tetapi keduanya sangat menyayangi Zoe dan Zack sebagai cucu kandungnya.


"Sayang, tinggallah bersama Grandpa dan Grandma di sini, kami sangat kesepian karena Papa dan Mama kalian tidak mau tinggal bersama kami di rumah ini." Nyonya besar Dirgantara mengajak Zoe dan Zack untuk tinggal bersama di rumah besar mereka.


Kaaran memutuskan untuk tidak tinggal bersama di rumah besar orang tuanya karena dia tidak mau Rania diperlakukan dengan tidak adil jika seandainya dirinya sedang berada di luar rumah. Pria itu tahu persis kalau papa dan mamanya tidak suka pada gadis pilihannya.


"Grandpa, Grandma, rumah kalian terlalu besar. Zoe dan Adik tidak suka tinggal di rumah sebesar ini. Di sini juga terlalu banyak orang yang tinggal, kami tidak suka tinggal bersama dengan orang asing." Zoe menjelaskan pada neneknya.


Tuan besar Dirgantara dan nyonya besar Dirgantara masih berusaha membujuk kedua cucunya untuk tinggal bersama mereka, tapi tetap saja jawaban Zoe dan Zack adalah tidak.


Tuan dan nyonya Dirgantara tidak bisa berbuat apa-apa, mereka juga tidak mau terlalu memaksa. Zoe dan Zack sudah mau datang mengunjunginya setiap hari minggu saja sudah cukup membuat mereka senang, apalagi jika kedua anak itu mau tinggal dan menemani mereka di sana.


...----------------...


Rina berjalan menghampiri William dengan tubuh yang sudah hampir polos. Setelah tadi dia membuka bajunya, dia juga ikut membuka kain penutup tubuh bagian bawahnya, yang tersisa hanya dua lembar kain dengan warna senada yang masing-masing menutupi barang-barang paling berharga miliknya. Sepertinya harga dirinya sebagai seorang wanita sudah hilang karena pengaruh obat yang tengah menguasai dirinya.


William berdiri mematung ketika Rina mulai menyentuhnya. Gadis itu sebenarnya tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak tahu bagaimana cara membuat seorang pria bergairah, karena ini adalah pengalaman pertama baginya menyentuh lawan jenis. Dia hanya mengikuti instingnya yang membutuhkan seorang laki-laki untuk membantunya bebas dari pengaruh obat perangsang tersebut.


Setelah menggerayangi dada bidang William, kini Rina beralih memeluk dan menciumi pria dewasa tersebut. Rasa malunya dan harga dirinya untuk saat ini sudah tidak ada, yang ada di dalam otaknya hanya satu tujuan, yaitu segera menghilangkan efek obat yang tengah menyiksanya dan membutuhkan pelampiasan secepat mungkin.

__ADS_1


William memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Rina. Biar bagaimana pun, dia sama seperti laki-laki dewasa normal pada umumnya. Tadi hanya melihat penampakan tubuh setengah polos Rina saja sudah berhasil membuatnya terpancing, apalagi jika sudah disentuh sedemikian rupa seperti ini. Pasti ada sesuatu yang sudah meronta meminta untuk dimasukkan ke dalam sarang.


Lagi pula, pria mana yang mampu menolak pesona gadis cantik seperti Rina. Masih tertutup saja mampu membuat laki-laki yang mengaguminya berfantasi yang tidak-tidak karena kecantikan parasnya, apalagi jika tubuh indahnya sudah terpampang nyata di depan mata seperti yang tengah disaksikan oleh William sekarang ini. Sebagai laki-laki normal, William merasa ini adalah godaan terbesar semasa hidupnya.


Mungkin ini yang dinamakan orang, dimakan kasihan dibuang sayang. Batin William.


"Kak Will, tolong aku." Rina kembali memelas memohon belas kasihan pada pria yang ada di dalam pelukannya.


William menatap mata sendu Rina dalam-dalam. Ada perasaan tidak tega dan berdosa jika harus merenggut mahkota gadis itu. Tapi dia juga tidak tega melihat Rina yang sudah sangat tersiksa karena menginginkannya sebagai pelampiasan hasrat.


"Aku tahu ini tidak benar, Rina. Tapi kita tidak punya pilihan lain, kamu harus segera diobati." William segera menggendong Rina masuk ke dalam kamarnya, lalu membaringkan gadis itu di atas tempat tidurnya.


William mulai membuka baju kaos beserta celana joger yang tengah dia kenakan dan hanya menyisakan celana boxer berwarna hitam yang masih menutupi benda pusaka yang terlihat sudah menonjol dibalik kain penutupnya.


Rina tersenyum senang ketika melihat penampakan roti sobek yang menghiasi perut William. Tidak salah dia menyukai om-om ini sejak lama. Namun, dia juga terlihat malu-malu ketika melihat ukuran batangan William yang lumayan besar. Ini pertama kalinya Rina melihat benda seperti itu meski pun belum melihatnya secara langsung, hanya bayangannya saja dari balik kain.


"Kenapa Kak ...?" Rina terlihat marah dan kecewa pada William. Gadis itu menatap William dengan tatapan tajam. Dia merasa dirinya dipermainkan oleh pria itu.


Sementara itu, William mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menyesali perbuatannya barusan. "Rina, aku minta maaf. Tadi, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri."


"Tidak apa-apa, Kak. Ayo lanjutkan, aku sudah tidak tahan lagi ...." Rina terlihat sangat frustasi ketika William menolak untuk melanjutkan permainan mereka.


"Tidak, aku tidak mau. Aku takut, setelah kita berdua melakukannya, kamu akan sangat menyesalinya begitu sadar nanti. Aku tahu kamu seperti ini karena pengaruh obat, bukan keinginan kamu sendiri," jelas William.


"Kak William! Kamu menyebalkan sekali!" Rina berteriak karena marah. Jika William tidak mau menolongnya, lalu bagaimana caranya dia bisa menghilangkan efek obat tersebut. "Aku bisa gila kalau begini!"

__ADS_1


"Tenang Rina, tenang" William mencoba menengkan Rina yang sudah hampir terlihat menggila. "Kamu tenang saja, aku pasti akan membantumu bebas dari pengaruh obat itu, tapi tidak dengan memasukkannya."


William segera membopong Rina masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin gadis itu mandi air dingin bersamanya agar hawa panas yang ada di dalam tubuh mereka masing-masing bisa segera menghilang.


...----------------...


Beberapa jam kemudian. Efek obat perangsang yang tadinya menguasai Rina sudah menghilang, tanpa harus menyerahkan kesuciannya kepada pria yang belum resmi menjadi pasangan hidupnya.


Kini Rina tengah duduk di dalam mobil sambil termenung dan menatap ke arah luar. Setelah kejadian tadi, gadis itu menjadi pendiam dan sering melamun. Dia merasa sangat malu jika mengingat bagaimana dirinya menggoda William tadi.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Biarkan kejadian itu menjadi rahasia kita berdua. Lain kali kamu harus hati-hati dalam memilih teman pria." William berkata sambil tetap fokus menyetir mobilnya. Sesekali pria itu melihat sekilas ke arah Rina.


Saat itu William sedang mengantar Rina pulang. Setelah kejadian tadi, William tidak bisa membiarkan Rina pulang seorang diri. Siapa tahu Andre masih berani datang untuk mengganggu gadis itu.


Rina tidak membalas ucapan William. Kejadian tadi benar-benar membuatnya kehilangan muka di depan pria itu. Ditambah lagi, dia merasa kecewa pada William karena pria itu tadi sempat hilang kendali dan hampir saja menodainya.


Setelah beberapa saat William melajukan mobilnya, akhirnya mereka sampai di depan pintu gerbang rumah Rina.


"Kita sudah sampai." Ucapan William membuyarkan lamunan Rina. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan.


Setelah melepas safety beltnya, Rina pun berkata pada William, "Kak William, saya mohon, tolong rahasiakan kejadian tadi. Dan saya juga mohon, kita lupakan semuanya, anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi diantara kita."


William tidak tahu kenapa dirinya merasa sakit hati mendengar ucapan Rina barusan. Padahal kedengarannya biasa saja dan wajar-wajar saja. Ditambah lagi cara bicara dan nada bicara Rina yang terdengar sangat datar dan dingin, berbanding terbalik dari sebelum-sebelumnya. Kali ini William merasa, mereka berdua sudah seperti orang asing.


"Terima kasih sudah mengantar saya pulang," tambah Rina, lalu segera turun dari mobil William. Gadis itu tidak menoleh sedikit pun ke arah pria itu dan langsung masuk ke halaman rumahnya.

__ADS_1


Melihat Rina hilang di balik tembok pagar rumahnya, William memegang dadanya yang terasa ngilu sembari bergumam, "Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sakit hati mendengar ucapannya yang seperti itu? Apa jangan-jangan, aku sudah mulai jatuh cinta padanya?"


__ADS_2