
"Terima kasih, Papa. Zoe akan berusaha yang terbaik agar bisa lolos audisi kemudian memenangkan kompetisi itu." Zoe berkata dengan semangat yang berapi-api.
Kaaran baru saja mendaftarkan putrinya untuk mengikuti ajang kompetisi musik berskala internasional. Dengan memenangkan kompetisi tersebut, maka cita-cita Zoe untuk menjadi penyanyi sekaligus komposer ternama dunia akan lebih mudah terwujud.
Lomba itu diikuti oleh orang-orang berbakat dalam bidang musik dan tarik suara dari berbagai belahan dunia, jadi bisa dibilang lawan Zoe kali ini lumayan berat.
"Kompetisinya masih lama, Sayang. Kamu masih punya banyak waktu untuk berlatih meningkatkan skill. Kamu masih punya waktu 6 bulan lagi untuk berlatih mempersiapkan diri mengikuti seleksi nantinya. Jika kamu berhasil lolos dan masuk menjadi salah satu peserta dalam kompetisi tersebut, Papa berjanji akan memberikan kamu hadiah yang besar," janji Kaaran pada putrinya itu.
"Benarkah, Papa?" tanya Zoe dengan mata berbinar.
Kaaran tersenyum. "Tentu saja, Sayang. Papa ini tipe orang yang selalu menepati janji. Papa tidak suka ingkar janji."
Setelah selesai dengan Zoe, kini Kaaran berbalik pada putranya, Zack. Karena dia sudah berusaha membuka jalan untuk membantu Zoe mewujudkan mimpi dan agar tidak terkesan pilih kasih, maka pria itu pun juga menyiapkan kejutan untuk putranya. Semuanya sudah dia rencanakan dengan baik semenjak beberapa waktu yang lalu.
Kaaran berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Zack, sambil kedua tangannya memegang kedua bahu putranya itu.
"Zack, karena kamu bercita-cita ingin membuat mesin dan robot yang bisa memudahkan pekerjaan umat manusia, maka Papa akan membantu kamu untuk mewujudkan keinginan tersebut. Minggu lalu, Papa sudah meninjau sebuah lahan kosong untuk ditempati nantinya membangun pabrik yang besar untuk kamu pakai mewujudkan mimpi-mimpimu itu. Papa akan memberikan modal yang sangat besar agar kamu bisa memproduksi lebih banyak robot, mesin dan juga sistem untuk dipasarkan agar orang-orang juga bisa menikmati hasil karyamu, Nak. Dan yang paling penting, nantinya kamu juga akan menjadi pemimpin di tempat itu. Kamu akan segera
menjadi direktur utama di usia muda, Zack."
"Benarkah, Papa?" tanya Zack, setengah tidak percaya. Anak itu merasa sangat senang sekali.
"Iya, Sayang. Papa serius," jawab Kaaran, meyakinkan.
__ADS_1
"Terima kasih, Papa. Zack sangat senang sekali. Papa memang papa 0yang terbaik." Zack langsung memeluk Kaaran saking senangnya.
...----------------...
Keesokan harinya.
Samuel kembali menjenguk Boron di penjara. Dia membawakan makanan enak dan selimut untuk pria paruh baya tersebut.
"Terima kasih banyak, Sam. Kamu sangat perhatian pada Paman." Boron berkata sambil tersenyum. Pria paruh baya itu menggenggam punggung tangan putranya dengan lembut.
"Memang sudah seharusnya, Paman. Siapa lagi yang harus memperhatikan Paman kalau bukan saya." Samuel balas menyentuh punggung tangan Boron.
"Oh iya, Sam. Apakah kamu sudah bertemu dengan Rania?" tanya Boron, penasaran.
"Sebetulnya, kami belum pernah bertemu, Paman. Tapi aku sudah pernah melihatnya bersama suaminya kemarin." Samuel tersenyum kecut lalu menunduk setelah menjawab pertanyaan pria paruh baya di seberang mejanya.
Dulu, aku mengirim Samuel pergi ke luar negeri karena aku tidak ingin dia menjalin hubungan dengan Rania. Sebab, jika waktu itu dia sampai menjalin hubungan dengan gadis itu, dia bisa saja menggagalkan rencanaku untuk mengusai seluruh harta kekayaan keluarga Blanco.
Tapi sekarang ceritanya berbeda, aku sepertinya harus memanfaatkan Samuel untuk membalaskan dendamku pada Kaaran. Siapa suruh anak itu sudah berani berurusan denganku. Boron membatin sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan memikirkan rencana busuknya.
"Sam, Paman lihat, kamu masih sangat mencintai Rania. Apa itu benar? Paman tidak salah, 'kan?" tanya Boron berbasa-basi.
Samuel terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan Boron, tapi malah tersenyum paksa. Seperti ada kekecewaan dan kesedihan yang tergambar jelas pada raut wajah tampannya itu.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu menjawab, Sam, Paman sudah tahu jawabannya. Sekarang, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Saya juga tidak tahu, Paman. Sekarang Rania sudah menikah dengan pria lain, saya takut ... saya takut mengganggu rumah tangganya, apalagi sampai merusak kebahagiaan Rania, Paman. Kalau sekarang Rania sudah bahagia dengan suaminya, saya juga akan mencoba mencari kebahagiaan saya sendiri di luar sana." Samuel kembali menunduk. Meski pun bibirnya berkata seperti itu, tapi sejujurnya hatinya belum merelakan Rania bersama dengan pria lain.
"Sam, hei. Apa yang kamu katakan? Asal kamu tahu, Rania itu sama sekali tidak bahagia dengan pernikahannya. Suaminya itu sebenarnya sangat kejam, Sam." Boron mencoba menghasut Samuel agar mau merebut Rania dari Kaaran meski pun secara tidak langsung.
"Tapi kemarin saya lihat sepertinya Rania sangat bahagia Paman."
Boron tersenyum sinis. "Itu kelihatannya dari luar saja, Sam. Tidak ada yang tahu rasa sakit dan rasa sedih yang dia pendam di dalam sini." Boron menunjuk dadanya sendiri.
"Kamu pasti sangat terkejut jika mengetahui kalau ternyata suami Rania itu adalah seorang pria brengsek yang suka bermain perempuan. Kalau kamu tidak percaya, coba saja cari artikelnya di internet mengenai siapa Kaaran Dirga itu sebenarnya. Kamu akan mengetahui banyak kebenaran di sana dan jika kamu sudah mengetahuinya, Paman akan memberitahukan kamu cara yang paling ampuh agar Rania bisa segera lepas dari pelukan suaminya itu."
Samuel mendongak menatap Boron, tapi dia belum berkomentar apa-apa. Entah apa yang sedang dia pikirkan mengenai sepasang suami istri yang kemungkinan akan dia rusak rumah tangganya nanti.
Melihat ekspresi wajah Samuel, Boron kembali menyentuh punggung tangan putranya itu. "Sam, Paman sangat peduli dengan kebahagiaan kamu. Kamu satu-satunya orang yang paling dekat dengan Paman, dan Paman sudah menganggap kamu seperti anak Paman sendiri. Kalau kamu bisa segera menemukan kebahagiaan kamu, Paman pasti juga akan ikut merasa bahagia."
"Kebahagiaan kamu adalah Rania bukan?" imbuh Boron, bertanya.
Samuel mengangguk pelan. Dia mengiyakan namun terlihat jelas bahwa dia masih ragu.
Saat dalam perjalanan pulang menuju hotel, Samuel nampaknya benar-benar memikirkan semua ucapan Boron. Sepertinya dia sudah mulai terpengaruh.
Apakah Rania benar-benar tidak bahagia dengan pernikahannya? Apakah dia benar-benar hanya berpura-pura bahagia untuk menutupi kesedihan yang dia rasakan selama ini?
__ADS_1
Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Samuel. Hingga akhirnya dia benar-benar penasaran tentang Kaaran.
Aku harus mencari tahu mengenai suami Rania. Apakah benar seperti yang dikatakan oleh paman Boron tadi? Bahwa laki-laki yang sekarang menyandang status sebagai suami Rania itu adalah seorang laki-laki brengsek. Kalau memang benar iya, aku akan melakukan apa pun untuk merebut Niaku kembali.