
"Harus berapa kali aku bilang kalau aku ini tidak hamil. Kamu kenapa tidak mau mengerti juga sih?" Rania memasang wajah cemberut karena Kaaran terus-terusan memaksanya untuk diperiksa oleh dokter pribadi keluarga Dirgantara.
"Sudahlah, Sayang. Jangan cemberut seperti itu. Aku baru akan tenang kalau dokter Hani sudah selesai memeriksamu nanti."
Kaaran membawa Rania ke dalam pelukannya, lalu mengusap punggung istrinya itu dengan lembut. Sedari tadi Kaaran tidak membiarkan Rania banyak bergerak, hanya boleh duduk diam atau pun berbaring saja di atas tempat tidur, tidak boleh kemana-mana. Hal itu membuat Rania semakin kesal karena menurutnya Kaaran terlalu berlebihan.
Cup. Kaaran mendaratkan ciuman di kening Rania, cukup lama dan dalam.
"Jangan cemberut lagi ya, Sayangku. Turuti saja apa mau suamimu ini. Lagi pula, tidak ada salahnya juga 'kan kamu menuruti kemauanku?" Kaaran terus membujuk Rania sambil mengusap pipi istrinya itu dengan lembut menggunakan sebelah ibu jarinya.
Tidak lama kemudian, seorang dokter tampan yang seusia dengan Kaaran muncul bersama bi Nining, asisten rumah tangga mereka di villa tersebut.
"Loh, kenapa malah kamu yang datang Rey, mana istrimu?" tanya Kaaran. Dia merasa heran saat melihat yang datang malah dokter Reyhan, bukan dokter Hani.
Sepasang suami istri dokter tersebut adalah sahabat sekaligus dokter pribadi keluarga Dirgantara. Dulunya ayah dari dokter Hani lah yang menjadi dokter keluarga Dirgantara, tapi karena beliau sudah tua, jadi yang menggantikannya adalah putri dan menantu beliau.
"Istriku sedang tidak enak badan, jadi aku yang datang untuk menggantikannya," jawab dokter Reyhan, sambil meletakkan tasnya di atas meja dekat sofa yang tersedia di dalam kamar Kaaran dan Rania.
"Tapi yang mau diperiksa itu istriku, Rey. Bukan aku." Kaaran merasa tidak rela Ranianya disentuh oleh pria lain, sekali pun pria itu adalah seorang dokter.
"Memangnya kenapa kalau istrimu yang mau diperiksa? Aku juga bisa memeriksanya," kata dokter Reyhan, sambil mulai memasang sarung tangan medisnya.
Kaaran mengusap wajahnya dengan frustasi. "Aku tidak rela istriku disentuh oleh laki-laki lain."
Dokter Reyhan tergelak sambil geleng-geleng kepala. "Hahaha! Karaan ... Kaaran. Kamu ini lucu sekali ya. Aku ini seorang dokter, jadi kamu tidak perlu khawatir apalagi sampai cemburu padaku. Lagi pula, aku juga sudah punya istri yang tidak kalah cantiknya dari istrimu."
__ADS_1
Kaaran merasa malu sendiri mendengar ucapan dokter Reyhan. Sejenak kemudian dia terdiam dan berpikir, lalu akhirnya mengijinkan dokter tampan itu untuk memeriksa istrinya.
"Ya sudah, cepat periksa sekarang. Aku ingin tahu secepatnya, apakah istriku hamil lagi atau tidak?" kata Kaaran. Dia hanya bisa pasrah karena tidak punya pilihan lain. Siapa suruh jadi orang sangat tidak sabaran.
Setelah Rania selesai diperiksa oleh dokter Reyhan.
"Bagaimana hasilnya, Rey?Apa Rania benar-benar hamil lagi sekarang?" Kaaran bertanya karena sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil pemeriksaannya.
"Kaaran, sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu. Aku ingin tahu dulu, apa yang membuatmu berpikir bahwa istrimu hamil lagi?" Dokter Reyhan menatap Kaaran dengan tatapan serius.ll
Kaaran pun mulai menceritakan semuanya hingga akhirnya dia mengira kalau Rania sedang hamil.
"Karena itu lah aku berpikir istriku sedang mengidam. Bukankah kata orang-orang, wanita yang sedang mengidam itu biasanya memang seperti itu. Mereka tidak sabar ingin memakan sesuatu tapi setelah memakannya sedikit mereka langsung bilang sudah kenyang."
Ternyata hanya gara-gara itu. Tadi itu aku tidak berselera makan karena aku baru saja bertemu dengan kak Sam setelah sekitar 10 tahun tidak pernah bertemu dengannya. Dan itu membuat aku jadi memikirkan dirinya secara terus menerus. Biar bagaimana pun, kak Sam itu adalah masa laluku, cinta pertamaku. Aku tahu aku salah jika memikirkan pria lain selain suamiku, tapi aku tidak bisa mengendalikan pikiranku sendiri. Semakin aku berusaha melupakannya maka aku menjadi semakin mengingatnya. Semua tentang dirinya, dan tentang kami di masa lalu.
Semenjak pertemuan mereka beberapa jam yang lalu, Rania tidak bisa menyingkirkan Samuel dari pikirannya. Dia tahu hal itu salah besar dan tidak seharusnya dia lakukan. Tapi sepertinya pikirannya itu memiliki aturannya sendiri, tidak bisa dia atur sesuka pemiliknya.
Sekeras apa pun Rania berusaha untuk tidak memikirkan pria dari masa lalunya itu, tapi tetap saja wajah Samuel tetap terngiang-ngiang di pikirannya, tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Jika Kaaran sampai tahu kalau Ranianya memikirkan pria lain, suaminya itu pasti akan sangat murka. Untung saja Zack tidak bisa membuat sistem pembaca pikiran. Rania sangat bersyukur akan hal itu, karena jika tidak, Rania tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya.
"Istrimu sedang tidak hamil," kata dokter Reyhan.
Dokter berwajah tampan yang memiliki kulit wajah putih bersih dan mulus tanpa adanya kumis, jenggot, beserta jambang yang menghiasi wajahnya itu masih berusaha mengulum senyum setelah mendengar penjelasan konyol dari sahabatnya.
__ADS_1
"Ti-tidak hamil?" Kaaran merasa kecewa dan0 tidak percaya. Padahal tadinya dia sudah merasa sangat senang dan bersemangat membayangkan Rania mengandung anak ketiga mereka.
Hm, kenapa bisa, ya? Padahal selama ini 'kan aku tidak pernah berhenti berusaha. Gumam Kaaran dalam hatinya.
"Iya. Istrimu memang tidak hamil. Mungkin dia tadi tidak memiliki selera makan karena suasana hatinya sedang buruk. Kondisi sangat lah baik dan sangat sehat."
"Aku justru jadi curiga padamu. Apa jangan-jangan, kamu selalu membuat istrimu stres dan terkekang dengan sifat posesifmu yang berlebihan itu?" Dokter Reyhan menatap Kaaran dengan tatapan menyelidik.
Kaaran terdiam. Dia memikirkan ucapan dokter Reyhan barusan.
Apa betul yang dikatakan oleh Reyhan? Rania seperti itu karena dia stres dan terkekang dengan sikapku? Apa selama ini aku tidak memperlakukan istriku dengan baik? Tapi aku rasa tidak. Selama ini aku selalu memperlakukan istriku seperti ratu.
Karena merasa tugasnya sudah selesai, dokter Reyhan pun segera pamit undur diri. Dia masih banyak urusan di luar sana.
Kaaran menghampiri Rania yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Sayang."
Mendengar suara Kaaran memanggilnya, Rania segera bangkit lalu duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.
"Aku bilang juga apa? Aku ini tidak hamil. Kenapa kamu tidak mau percaya juga? Dan malah main panggil-panggil dokter segala." Rania mengomel sambil mengerucutkan bibirnya.
Kemunculan Samuel yang tiba-tiba membuat kacau pikiran dan suasana hati gadis itu. Bukan karena masih mencintai pria dari masa lalunya itu, tapi yang membuat Rania khawatir adalah, jika pria itu nantinya akan sering muncul dan membuat Kaaran menjadi curiga.
Saat ini Rania sudah menerima Kaaran sepenuhnya untuk menjadi suami satu-satunya sampai akhir hayatnya tiba.
__ADS_1