
"Sebenarnya kamu mau membawaku ke mana?" Rania merasa sangat penasaran karena saat itu Kaaran menutup kedua matanya dengan kain tebal, jadi dia tidak bisa melihat apa pun.
"Ikut saja." Kaaran tersenyum sambil terus menuntun Rania menyusuri pinggir pantai. Setelah berjalan selama kurang lebih 5 menit, Kaaran akhirnya melepaskan tangannya dari tangan Rania.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Rania, sambil ingin membuka kain penutup matanya.
Melihat hal itu, Kaaran segera mencegahnya. "Tunggu dulu. Jangan dibuka dulu."
"Kenapa? Jadi, kapan aku harus membukanya?" tanya Rania, tidak sabar.
"Nanti dulu. Jika waktunya sudah tiba, kamu pasti akan membukanya sendiri."
Kaaran berjalan menghampiri sebuah sound system yang memang sudah dia sediakan sebelumnya bersama William. Kaaran mengambil sebuah microphone kemudian menyalakan musik.
Musik? Rania segera membuka kain penutup matanya tanpa perlu menunggu perintah dari Kaaran. Gadis itu sangat penasaran, apa sebenarnya yang Kaaran siapkan untuk dirinya.
Tempat apa ini? Cantik sekali. Apa dia yang menyiapkan semua ini untukku? Rania menutup mulutnya ketika menyadari kalau dirinya ternyata sedang berdiri di bawah sebuah terowongan yang berhiaskan bunga-bunga berwarna merah, pink muda, dan putih. Sangat indah sekali.
Tunggu dulu. Sebenarnya dia mau apa? Apa dia ingin menyanyikan sebuah lagu untukku? Rania melihat Kaaran berjalan ke arahnya sambil memegang sebuah microphone dan tersenyum manis menatap dirinya.
Saat Kaaran berdiri di depan Rania dengan jarak sekitar 2 meter, pria itu pun mulai menyanyikan sebuah lagu sesuai dengan iringan alunan musik yang tengah melantun.
...Di ujung cerita ini...
...Di ujung kegelisahanmu...
...Kupandang tajam bola matamu...
...Cantik, dengarkanlah aku...
...Aku tak setampan Don Juan...
...Tak ada yang lebih dari cintaku...
...Tapi saat ini 'ku tak ragu...
...'Ku sungguh memintamu...
...Jadilah pasangan hidupku...
...Jadilah ibu dari anak-anakku...
...Membuka mata dan tertidur di sampingku...
...Aku tak main-main...
...Seperti lelaki yang lain...
...Satu yang kutahu...
...Kuingin melamarmu...
...Aku tak setampan Don Juan...
...Tak ada yang lebih dari cintaku...
...Tapi saat ini 'ku tak ragu...
__ADS_1
...'Ku sungguh memintamu...
...Jadilah pasangan hidupku...
...Jadilah ibu dari anak-anakku...
...Membuka mata dan tertidur di sampingku...
...Aku tak main-main...
...Seperti lelaki yang lain...
...Satu yang kutahu...
...Kuingin melamarmu...
...Uu-uu...
...Uu-uu...
...Jadilah pasangan hidupku...
...Jadilah ibu dari anak-anakku...
...Membuka mata dan tertidur di sampingku...
...Aku tak main-main...
...Seperti lelaki yang lain...
...Satu yang kutahu...
...Kuingin melamarmu...
Sepanjang Kaaran menyanyi untuknya, Rania hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Mendapat perlakuan romantis seperti itu membuat hati Rania meleleh.
Selama ini Rania membenci Kaaran, tapi entah mengapa, sore ini Rania merasa kalau Kaaran berhasil meluluhkan hatinya yang keras. Rania merasa kalau Kaaran benar-benar tulus mencintainya. Ketulusan itu benar-benar terpancar dari mata Kaaran. Rania bisa melihatnya dengan jelas.
Setelah selesai menyanyikan lagu dengan judul 'Melamarmu' dari 'Badai Romantic Project', kini Kaaran berlutut di hadapan Rania sambil mempersembahkan sebuah cincin berlian untuk gadis kesayangannya itu.
"Rania, menikahlah denganku." Kaaran menatap Rania dengan tatapan penuh harap dan penuh cinta.
Kaaran benar-benar membuat Rania tidak bisa berkata-kata.
"Sayang, menikahlah denganku." Kaaran kembali mengulangi ucapannya setelah melihat Rania terdiam cukup lama.
"U-untuk apa ... kamu melamarku? Bukankah tanggal pernikahan kita sudah ditentukan?" Ucapan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Rania. Dia sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa, tapi dia juga tidak mau langsung berkata iya begitu saja.
Kaaran tersenyum. "Tentu saja aku harus melamarmu, Sayang. Maafkan aku karena urutannya terbalik. Biasanya orang melakukan prosesi lamaran dulu baru menentukan tanggal pernikahan, tapi kita malah sebaliknya. Dan aku tahu, itu semua adalah salahku yang terlalu terburu-buru ingin menikahimu."
Rania terlihat salah tingkah di hadapan Kaaran. "Mm ... apakah lamaran ini masih perlu?"
"Tentu saja, Sayang. Kamu adalah wanita paling spesial di hatiku, jadi aku harus memperlakukan kamu dengan spesial pula,"jawab Kaaran, sambil menekankan kata spesial dalam ucapannya. "Tidak mungkin 'kan aku menikahimu tanpa pernah melamarmu secara resmi?"
"Kalau aku menolak lamaranmu, apakah pernikahan kita akan dibatalkan?" tanya Rania sambil menahan diri agar tidak tersenyum. Sejujurnya dia merasa sangat senang diperlakukan dengan sangat romantis oleh Kaaran.
"Tidak boleh. Kamu tidak boleh menolakku, kalau kamu menolak, aku akan memaksamu agar mau menerimaku," jawab Kaaran.
__ADS_1
Rania tersenyum tipis sambil membuang muka. Dasar, dia memang tidak pernah berubah, masih saja seperti dulu, selalu memaksakan kehendaknya.
"Bagaimana Sayang, apa kamu bersedia menjadi pasangan hidupku, dan menjadi ibu dari anak-anakku?" Kaaran kembali bertanya.
"Hais. Yang satu itu 'kan sudah, kenapa mesti ditanyakan lagi?" protes Rania.
Kaaran menghela napas. "Sayang, bisakah kamu tidak banyak protes? Tinggal bilang iya saja apa susahnya?"
Rania tidak menjawab, dia malah tertawa. Melihat hal itu, Kaaran merasa sangat bahagia. "Ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa seperti itu saat bersamaku. Apakah ini berarti, kamu sudah mulai menerima keberadaanku, bukan karena terpaksa lagi?"
Pipi Rania bersemu merah. Sejujurnya apa yang dikatakan Kaaran memang ada benarnya, tapi dia tetap masih ingin jual mahal dan bersikap dingin seperti sebelumnya pada pria itu.
"Tidak. Siapa bilang? Aku mau menikah denganmu hanya demi anak-anak. Lagi pula, aku juga tidak mau memberikan hatiku pada laki-laki playboy sepertimu." Rania berkata dengan ketus.
Kaaran segera bangkit dari posisinya, ingin memberikan penjelasan pada Rania. "Sayang, aku benar-benar sudah berubah, sekarang aku tidak seperti yang kamu kenal dulu. Kamu yang sudah mengubahku menjadi seperti sekarang ini."
Rania memutar badan membelakangi Kaaran sambil bersidekap. "Aku tidak percaya."
"Sayang, kamu mau bukti apa lagi kalau aku memang sudah berubah? Bukankah selama kita dipertemukan kembali, kita selalu bersama setiap hari selama 24 jam. Apa itu masih belum cukup juga untuk membuktikan semuanya?"
"Siapa bilang 24 jam? Tadi saja kamu menghilang selama berjam-jam."
"Itu karena aku pergi menyiapkan ini untuk kamu Sayang. Aku sendiri yang turun tangan menyiapkan. semua ini untuk kamu, William hanya membantuku sedikit," jelas Kaaran.
Rania kembali terdiam. Setelah itu dia berbalik dan merebut kotak cincin dari tangan Kaaran. "Sini cincinnya, biar aku pakai sendiri. Karena percuma saja aku menolak, toh ujung-ujungnya kamu juga akan memaksaku menikah denganmu."
Kaaran tersenyum. Dia lalu berkata dengan lembut, "Sini, Sayang. Biar aku yang pakaikan."
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Rania membelakangi Kaaran sambil mengulum senyum, lalu memakai cincin lamaran itu di jari manis kirinya.
Wah, cincinnya cantik sekali.
Semnatara itu, Kaaran menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ternyata menjinakkan hati perempuan yang satu ini lebih sulit dari yang aku bayangkan.
...----------------...
Rina berjalan kembali ke area pinggir pantai dimana kedua keponakannya sedang bermain di sana. Di sana, Rina melihat William sedang duduk sambil menjaga anak-anak yang sedang bermain.
Sesampainya di sana, Rina segera mengambil tempat duduk di sisi yang berlawanan dengan tempat duduk William. William duduk di sisi kanan benteng pasir yang dibuat oleh anak-anak sedangkan Rina duduk di sisi sebelah kiri.
William yang melihat Rina duduk di sisi yang berbeda segera bangkit dan beranjak menghampiri gadis itu. Pria itu ingin melakukan pendekatan pada Rina, sama seperti Rina mendekatinya dulu. Namun sayangnya, disaat Rina ingin menjauh darinya, pria itu malah mendekat.
Rina yang memang sengaja ingin menghindar dari William segera bangkit dan berpindah tempat duduk ketika William duduk di sampingnya.
William tidak mau menyerah, begitu melihat Rina berpindah tempat duduk, dia juga ikut pindah dan duduk di samping Rina. Sama seperti sebelumnya, Rina kembali menjauh ketika William duduk di dekatnya. Namun belum sempat Rina mengambil tempat duduk kembali, William sudah mengekor di belakangnya. Hingga akhirnya tidak ada yang duduk, yang mereka berdua lakukan hanya berjalan berkeliling mengitari anak-anak yang sedang bermain. Rina tidak akan berhenti jika William tidak berhenti mengikutinya, sedangkan William juga tidak mau berhenti mengikuti Rina jika gadis itu tidak menghentikan langkahnya.
"Paman William, Tante Rina. Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian berdua terus berjalan mengelilingi kami dari tadi?" tanya Zoe.
"Iya, kalian sedang bermain apa? Apa kalian berdua juga sedang bermain sama seperti kami bertiga?" tambah Zack ikut bertanya.
William dan Rina menghentikan langkah kaki mereka masing-masing. Sejenak mereka berdua saling memandang.
"Kami sedang bermain kucing-kucingan, Tuan Muda Kecil, Nona Muda Kecil," jawab William. "Saya sebagai kucingnya, dan tante kalian sebagai tikusnya."
Enak saja. Kalau aku tikus dan dia kucing, berarti dia akan memangsaku nanti saat dia berhasil menangkapku. Protes Rina dalam hati.
Rina menyanggah ucapan William dengan cepat. "Tidak, yang dia katakan kurang tepat. Sebenarnya kami berdua sedang berperan sebagai petugas keamanan yang sedang bertugas berpatroli mengelilingi benteng agar terhindar dari serangan musuh dari luar."
__ADS_1
William tersenyum. Ternyata dia pintar juga mengarang alasan.