
Sudah 3 bulan berlalu semenjak Kaaran dan Rania menikah. Selama mereka menikah, Kaaran memperlakukan Rania dengan semakin baik lagi. Bukan hanya Rania, tapi kedua anak mereka juga. Kaaran juga membantu kedua anaknya itu untuk sedikit demi sedikit bisa mencapai cita-cita mereka masing-masing.
Selama 3 bulan tersebut, Rania belum mengakui perasaannya pada Kaaran. Padahal sebenarnya dia juga sudah jatuh cinta pada suaminya itu. Dia masih enggan mengakui perasaannya karena harga dirinya yang dia junjung tinggi.
Selama beberapa bulan ini, bagaimana hubungan William dengan Rina? Apakah sudah ada kemajuan? Jawabannya adalah tidak. Hubungan mereka masih saja jalan di tempat, masih sama seperti sebelumnya.
Meski pun begitu, William tidak pernah berhenti memantau pergerakan Rina menggunakan robot lebah pemberian Zack. Jika dia mendapati laki-laki lain mendekati gadis pujaannya, pria itu tidak akan segan-segan datang menyambangi dan memberikan peringatan pada rivalnya tersebut.
Pagi itu di hari libur, Kaaran membawa orang terdekatnya untuk jalan-jalan ke pantai. Laut adalah tempat favorit Rania. Apabila Kaaran tidak terlalu sibuk dengan urusan perusahaan, dia pasti akan meluangkan waktu untuk membawa istri tercintanya itu ke sana.
Saat dibawa jalan-jalan ke pantai, Rania terlihat sangat senang dan bahagia, karena dia sangat suka bermain air. Namun, ketika dia dibawa ikut ke kantor oleh Kaaran, Rania lebih suka diam dan terlihat sangat bosan.
Meski pun Kaaran selalu memanjakannya, Rania sebenarnya tidak terlalu suka jika Kaaran selalu bersamanya selama 24 jam non-stop setiap hari. Dia juga ingin memiliki kehidupan yang sama seperti wanita normal pada umumnya. Dia ingin memiliki waktu bebas untuk dirinya sendiri (me time) saat suami berangkat bekerja dan anak pergi ke sekolah meski pun hanya sebentar.
Tapi Kaaran melakukan semua itu karena dia memiliki alasan tersendiri kenapa dia tidak ingin meninggalkan Rania hanya berdua di villa bersama dengan bi Nining saja. Pria itu takut jika istrinya itu kabur lagi seperti kejadian beberapa tahun yang lalu. Kaaran tidak ingin kejadian seperti itu kembali terulang. Dia tidak akan pernah sanggup jika Rania kembali meninggalkannya untuk yang kedua kalinya. Apalagi sekarang ada Zoe dan Zack yang harus mereka besarkan dan rawat bersama-sama.
...----------------...
Sesampainya di pantai pasir putih di kota Venus.
Kali ini mereka berlibur di tempat yang lebih jauh dari sebelumnya. Pantai pasir putih tersebut memang dikenal sebagai salah satu pantai pasir putih terindah di negeri ini. Bahkan pantai itu terkenal hingga ke mancanegara.
Mobil yang dikemudikan oleh William sudah terparkir rapi bersama mobil para pengunjung lainnya. Seluruh penumpang kecuali Rina pun turun dari mobil.
Zoe, Zack, dan Robot Papa langsung berlari berhambur ke arah pantai ingin segera bermain di pasir. Bukan hanya Rania, ternyata kedua anak itu juga sangat menyukai pantai sama seperti mamanya.
"Hah ... akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di pantai ini." Rania tersenyum bahagia sambil mengitarkan pandangannya ke sekeliling. Sejak dari dulu Rania memang selalu ingin pergi ke tempat itu. Dia sungguh merasa takjub melihat keindahan alam yang disuguhkan di pantai tersebut.
"Kamu suka?" tanya Kaaran yang tiba-tiba berdiri di samping Rania.
Rania mengangguk. "He'em."
Kaaran tersenyum. "Aku senang kalau kamu suka. Ayo kita susul anak-anak."
Kaaran dan Rania berjalan sambil bergandengan tangan menghampiri Zoe dan Zack yang sedang berlari kejar-kejaran di pinggir pantai.
Sementara itu, Rina belum keluar dari mobil. Dia baru mau berganti pakaian di dalam sana, sedangkan William memang sengaja menunggunya di luar tidak jauh dari tempat mobil yang mereka kendarai diparkirkan.
Di dalam mobil, Rina berganti pakaian sambil menyaksikan William sedang dihampiri oleh seorang wanita cantik yang berpenampilan sangat se*si karena hanya mengenakan bik**i saja.
__ADS_1
William dan wanita itu terlihat sangat akrab. Mereka berdua bahkan cium pipi kanan dan kiri begitu bertemu.
"Cih, dasar, o'om genit." Rina menggerutu kesal begitu melihat William bermesraan dengan wanita lain.
Rina merasa tidak suka melihat William bermesraan dengan wanita lain. Tidak bisa dia pungkiri, dia merasa cemburu karena biar bagaimana pun, William masih merajai hatinya hingga detik ini.
Beberapa menit kemudian, Rina telah siap dengan baju pantainya. Gadis itu pun keluar dari dalam mobil. Dia berjalan cepat di belakang William menuju ke arah pantai tanpa mau melirik dan mempedulikan keberadaan William yang masih mengobrol dengan wanita tadi.
William menoleh melihat ke arah Rina. "Celine, sampai ketemu lagi ya. Bye."
"Oke. Bye," jawab wanita bernama Celine tersebut.
William segera berlari menyusul Rina. Setelah berada sekitar 3 meter di belakang gadis itu, William pun memelankan langkahnya.
...----------------...
Beberapa jam kemudian.
Kaaran sudah menemani Rania berenang dan bermain air cukup lama. Apa pun akan dia lakukan asalkan istri kesayangannya itu merasa bahagia bersamanya.
Namun, saat Rania naik duluan ke daratan dan meninggalkan Kaaran di dalam air yang cukup dalam, tiba-tiba pria itu berteriak meminta pertolongan. Kepalanya sudah mulai timbul tenggelam di dalam air.
Rania yang baru saja naik hanya menganggap jika pria itu hanya bercanda dan berpura-pura tenggelam.
"Bercandanya tidak lucu." Rania berkata sambil terus berjalan ingin menghampiri Rina yang sedang berjemur di atas pasir.
"Tolong! Kakiku keram!" Setelah berteriak selama beberapa kali, seluruh tubuh Kaaran kembali tenggelam setelah itu tidak muncul lagi.
Mendengar teriakan Kaaran yang terakhir, Rania kembali berbalik, tapi dia sudah tidak melihat penampakan pria itu. Setelah menunggu selama sekitar setengah menit, perasaan Rania mulai tidak enak. Feeling-nya mulai merasakan firasat buruk.
Kenapa dia tidak muncul? Apa dia benar-benar tenggelam?
"Kaaran! Berhenti bercanda! Candaanmu itu tidak lucu! Tahu tidak?!" Rania berteriak ke arah pantai, tapi Kaaran tidak kunjung muncul juga.
Rania berbalik menatap William yang juga ikut berjemur tidak jauh dari Rina.
"Will! Tolong, Will! Sepertinya Kaaran benar-benar tenggelam!" Rania merasa jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
William terkejut mendengarnya. Pria itu segera bangkit dan berlari ke arah Rania.
__ADS_1
"Ada apa, Nyonya?" tanya William.
"Sepertinya Kaaran tenggelam. Cepat tolong dia, Will. Dia tenggelam di sana tadi," jawab Rania sambil menunjuk ke suatu arah. Dia juga sudah mulai terlihat panik.
"Apa?! Bagaimana mungkin tuan Kaaran bisa tenggelam, Nyonya?" William terlihat tidak kalah paniknya.
"Kalau tidak salah dia bilang tadi katanya kakinya keram." Rania menjawab dengan suara yang terdengar bergetar.
"Gawat." William segera berlari dan menyeburkan dirinya ke dalam air, kemudian berenang ke arah yang ditunjuk oleh Rania.
Ya Tuhan. Semoga saja dia baik-baik saja. Rania terlihat sangat pucat dan hampir saja menangis.
Dengan perasaan khawatir dan harap-harap cemas, Rania terus menyaksikan William berenang dan menyelam kesana kemari mencari Kaaran. Namun sayangnya, sepertinya Kaaran tidak ditemukan.
Sudah hampir 5 menit William mencari Kaaran di dalam air tapi dia tidak kunjung menemukan atasannya itu.
Rania mulai menangis histeris. Perasaan takut mulaui menghampiri dirinya. Dia sangat takut Kaaran benar-benar meninggalkannya untuk selama-lamanya. Membayangkannya saja dia tidak sanggup.
"KAARAN!!! Di mana kamu! Keluarlah! Jangan bercanda! Huhuhu," teriak Rania. Dia sungguh berharap Kaaran hanya bercanda dan berpura-pura tenggelam.
Sepertinya William juga sudah mulai menyerah mencari Kaaran di dalam air. Sudah hampir 10 menit dia mencari, tapi pria itu tidak kunjung menemukan atasannya juga. Tidak ada pilihan lain selain kembali ke daratan.
"Maaf, Nyonya. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin mencari tuan Kaaran, tapi saya tidak bisa menemukannya. Sepertinya tubuh tuan Kaaran sudah terbawa jauh oleh ombak." William berkata dengan raut wajah penuh penyesalan karena tidak bisa menyelamatkan tuannya.
"Tidak, Will. Kamu tidak boleh berhenti mencarinya. Cepat kembali cari dia!" Rania mengguncang tubuh William sambil terus meneteskan air matanya.
William menurunkan tangan Rania yang mencengkeram kuat lengan kekarnya. "Sekali lagi saya minta maaf, Nyonya. Saya tidak bisa mencarinya seorang diri. Saya akan meminta bantuan orang lain. Nyonya yang sabar ya. Kita doakan saja semoga tuan Kaaran baik-baik saja dan bisa segera terselamatkan."
"Apanya yang baik-baik saja, Will? Ini sudah hampir 10 menit. Apa kamu pikir orang yang tenggelam selama itu bisa baik-baik saja, Hah?!" Rania terlihat sangat frustasi. Dia sampai berbicara dengan nada tinggi pada William.
"Maaf, Nyonya. Tapi saya juga tidak bisa berbuat apa-apa." William pun berjalan meninggalkan Rania untuk pergi mencari bala bantuan.
"Will! Kamu mau kemana, Will! William! William!" Sekeras apa pun Rania berteriak, tapi pria itu tidak mempedulikannya sama sekali.
"Brengsek kamu William! Aku pastikan aku akan memecatmu nanti! Ecamkan itu!" Rania sudah tersulut emosi. Perasaan takut, sedih, dan khawatir yang dia rasakan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Rania melihat ke sekeliling. Dia ingin meminta bantuan orang lain yang ada di sekitar untuk menolong Kaaran. Tapi entah kenapa pantai tiba-tiba menjadi sangat sepi. Kemana semua orang-orang yang tadi berjemur di bawah terik sinar matahari siang ini? Kenapa semuanya tiba-tiba menghilang? Di saat seperti ini kenapa dia hanya seorang diri. Kemana kedua anaknya? Kemana Rina, adiknya? Dan juga kemana Robot Papa yang sudah seperti keluarga untuknya? Kemana mereka semua? Kenapa tidak ada yang datang menenangkan dan menghiburnya?
"Apa mungkin sekarang aku sedang bermimpi?"
__ADS_1