
"Sayang, aku minta maaf ya. Tadi aku hanya terlalu senang karena berpikir kalau kamu hamil anak ketiga kita." Kaaran berusaha menjelaskan karena dia tidak mau Rania mengambek terus padanya.
"Hem." Rania merajuk. Dia kembali berbaring lalu memunggungi Kaaran. Mood-nya saat ini sangat buruk, jadi dia tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Sayang ..." panggil Kaaran dengan nada manja tapi Rania malah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Melihat hal itu, Kaaran juga ikut berbaring lalu memeluk Rania dari belakang.
"Sayang ... jangan marah dong. Ya, ya." Kaaran terus berusaha membujuk istri kesayangannya itu agar tidak mengambek lagi.
"Aku seperti itu karena aku sangat berharap kita bisa menambah anak lagi, Sayang. Aku ingin punya anak lagi dari kamu. Kamu tahu sendiri 'kan kalau sekarang anak kita, Zoe dan Zack sudah besar, memang sudah waktunya mereka punya adik sekarang."
Meski pun tidak digubris, tapi Kaaran tidak pernah berhenti mengajak Rania berbicara. Hingga akhirnya mereka berdua sama-sama tertidur.
...----------------...
Saat sedang istirahat dan bersantai di dalam kamarnya, William kembali memantau pergerakan Rina lewat layar monitor yang tersambung dengan robot lebah miliknya. Pria itu tersenyum bahagia saat melihat gadis pujaannya itu sedang guling-guling di atas tempat tidur. Terlihat jelas kalau saat itu Rina juga tengah berbahagia.
Saat ini dua insan yang usianya berselisih cukup jauh itu tengah merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Hati mereka berdua sudah saling berpaut satu sama lain. Kini hati mereka berdua terasa bagaikan taman bunga yang sedang bermekaran, sangat indah dan penuh dengan warna. Bisa dibayangkan 'kan betapa bahagianya mereka sekarang.
Seketika William jadi terpikir untuk menghubungi Rina, tapi sayangnya dia belum memiliki nomor kontak gadis yang baru beberapa jam lalu menjadi kekasihnya.
"Sial. Padahal aku sangat merindukannya. Aku benar-benar sangat merindukan Rina." William mengusap wajahnya dengan kasar. Melihat Rina lewat layar monitor saja rasanya tidak cukup. Dia ingin mendengar suara gadis itu, atau kalau tidak, sekedar bertukar pesan lewat chat pun tidak apa-apa. Yang penting mereka berdua bisa saling berkomunikasi.
Sayang sekali, hati yang sudah terlanjur nyaman dan berbunga-bunga itu harus terhalang komunikasi.
"Aku harus meminta nomor Rina pada siapa? Tidak mungkin 'kan aku memintanya pada nona Rania, apalagi tuan Kaaran. Mereka pasti akan mencurigaiku nanti."
"Ah sudahlah. Mau bagaimana lagi? Besok pagi, aku akan datang menjemput Rina dan mengantarnya ke kampus."
Rindu, aku biarkan kamu menyiksaku malam ini. Batin William.
...----------------...
Keesokan harinya.
__ADS_1
Pagi ini Rania sudah tidak marah lagi pada Kaaran. Ya, seperti itulah pasangan suami istri. Masalah apa pun semuanya bisa diselesaikan dan dibicarakan baik-baik tanpa perlu membiarkan masalah kecil mau pun besar berlarut-larut.
Seperti biasa, pagi-pagi begini Rania pasti sedang bersiap-siap untuk ikut ke kantor pada sang suami. Sedangkan si kembar Zoe dan Zack pastinya sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Rania menarik napasnya dalam-dalam. Dia ingin menghempaskan Samuel jauh-jauh dari pikirannya. Dia tidak mau bayangan pria itu terus menerus bergentayangan dan terngiang-ngiang di pikirannya.
Pagi ini berbeda dari kemarin. Jika kemarin Rania sulit mengontrol hati dan pikirannya, sekarang berbeda, dia sudah lebih bisa mengendalikan semuanya dengan baik.
Rania berpikir, jika pertemuannya kemarin itu dengan Samuel hanyalah suatu kebetulan saja. Dia berharap semoga mereka tidak dipertemukan lagi lain kali. Rania sangat ingin menjaga perasaan Kaaran seperti Kaaran yang selalu menjaga perasaannya selama ini.
Dalam membina rumah tangga, keseimbangan relasi antara suami dan istri, yakni hubungan kesetaraan harus dibangun berdasarkan sikap saling pengertian, saling memberi, dan saling percaya. Kesetaraan dalam hal ini bukan berarti sama rata, tapi proporsional dalam memenuhi kewajiban dan memperoleh hak sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Setelah Kaaran keluar dari ruangan sistem pengganti baju otomatis, Rania kembali merapikan dasi suaminya itu.
"Oke, sudah rapi. Ayo kita turun sekarang, anak-anak pasti sudah menunggu kita bersama asisten William di meja makan," kata Rania.
"Sebelum berangkat, transfer energi positifnya dulu dong, Sayang." Kaaran berkata sambil menunjuk pipinya minta di cium.
Rania tersenyum, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya itu. Kemudian mencium beberapa titik wajah yang ditunjuk oleh Kaaran.
Mereka berdua pun lalu berjalan bersama menuju lantai bawah. Di ruang makan, terlihat si kembar bersama William dan juga Rina menunggu di meja makan.
"Loh, Dek, kamu kok ada di sini?" tanya Rania keheranan.
"Aku kangen sama ponakan aku, Kak. Memangnya aku tidak boleh datang ke sini pagi-pagi?" ujar Rina.
"Tidak, bukannya begitu, Dek. Kakak hanya tidak menyangka saja. Justru Kakak malah senang kalau kamu datang kemari," kata Rania.
"Oh iya, kamu ke sini naik apa?" imbuh Rania, seraya berjalan bersama Kaaran untuk bergabung bersama ke 4 orang itu.
"Aku dijemput Kak William."
"Oh." Rania mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
Usai sarapan bersama, mereka ber-enam pun berangkat bersama. Pertama-tama William melajukan mobilnya menuju sekolah Zack, setelah itu mengantar Kaaran dan Rania ke perusahaan. Dan yang terakhir, William mengantar Rina ke kampus.
__ADS_1
"Apa kamu mau aku jemput nanti saat jam pulang kampus?" tanya William.
Saat itu William sudah menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang kampus.
"Mm ... lebih baik tidak usah, Kak. Aku takut kak Rania sama kak Kaaran curiga sama hubungan kita."
William menggenggam sebelah tangan Rina.
"Sampai kapan kita harus menyembunyikan hubungan kita?" Pria itu menatap kekasihnya dengan serius.
Rina menggeleng. Dia tidak bisa memastikan sesuatu.
William tersenyum. Dia bisa langsung mengerti dengan maksud gadis itu.
"Baiklah. Kita jalani saja dulu."
...----------------...
Kaaran dan Rania sedang memasuki lift khusus CEO. Namun, sebelum pintu lifnya tertutup rapat, tiba-tiba Rania melihat sesosok pria mengenakan seragam OB sedang lewat di hadapan mereka.
Deg. Jantung Rania berdegup kencang.
Apa aku tidak salah lihat barusan? OB Itu, kenapa dia sangat mirip dengan kak Sam?
Tidak, tidak mungkin. Aku pasti hanya salah lihat. Untuk apa kak Sam bekerja sebagai office boy di perusahaan ini. Sangat tidak masuk akal.
...----------------...
...Note:...
...Buat para pembaca yang selera humornya tinggi dan suka cerita yang anti mainstream, kalian bisa mampir dan baca novel (Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO) keceh badai di bawah ini👇 Di sana juga ada Kaaran, Rania, William, dan menyusul si kembar Zoe & Zack juga🥰🤣🤣 Oops🤭 Saya serius ya readers, pemeran utama novel ini memang beneran ada di sana juga karena novel di bawah adalah tulisan Kakak/Mas saya😁😁...
...⚠️ WARNING!!!...
__ADS_1
...Yang gak mau disangka orang gila karena ketawa sendiri disarankan untuk tidak membaca novel di atas 👆 karena ceritanya emang separah itu🤣😂🤭👍👍Yang tidak keberatan, monggo😁 Saya ucapkan banyak terima kasih....