Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Honey Moon


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian.


Kaaran dan Rania baru sempat berbulan madu setelah hampir 4 bulan menikah. Meski pun terkesan terlambat, tapi itu tidak menjadi masalah bagi mereka berdua.


Karena istrinya sangat menyukai laut dan pantai, Kaaran pun memutuskan untuk memilih negara X untuk mereka tempati berbulan madu. Pantai di negara tersebut dinobatkan sebagai salah satu pantai terindah di seluruh dunia. Demi membuat Rania selalu bahagia, Kaaran rela makukan apa pun untuk belahan jiwanya tersebut.


Bagaimana dengan Zoe dan Zack? Apakah mereka berdua akan ikut? Jawabannya, tentu saja tidak. Karena kedua anak itu pasti akan mengganggu mama dan papanya bermesraan jika mereka berdua sampai dibawa ikut serta. Ditambah lagi Robot Papa juga pasti akan dibawa oleh Zack. Jadi akan lebih baik jika mereka berdua dititipkan saja pada bu Dian dan Rina. William juga akan ikut membantu mereka untuk mengurus anak kembar tersebut.


...___________...


Kediaman Keluarga Blanco


Selama Kaaran dan Rania di luar negeri, Zoe dan Zack akan tinggal di rumah neneknya, bukan di villa.


"Cucu Nenek, ayo sini sarapan dulu. Nenek sudah membuatkan nasi goreng dan omelet untuk sarapan kita bersama." Bu Dian berkata kepada kedua cucunya yang baru saja turun dari tangga.


Wanita paruh baya itu lalu mengisi dua buah piring kosong dengan nasi goreng yang baru saja selesai dia buat untuk Zoe dan Zack.


Zoe dan Zack yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya pun segera duduk di kursi meja makan. Melihat piring nasi goreng yang ada di depan mereka masing-masing, kedua anak itu justru saling menatap dan tidak langsung menyantapnya.


Bu Dian merasa heran melihat kedua cucunya itu. "Kenapa, Nak? Ayo dimakan nasi gorengnya, sebentar lagi asisten William akan datang menjemput kalian."


Zoe dan Zack masih terdiam. Bu Dian yang melihat tingkah aneh kedua cucunya itu segera menghampiri.


Kaaran dan Rania baru saja pergi kemarin sore, tapi sepertinya cucu-cucuku sudah merindukan mama dan papa mereka. Batin bu Dian.


"Nak, makanlah. Mama dan papa kalian baru pergi kemarin, kalian jangan terlalu berlebihan merindukan mereka, kalian harus tetap makan, ya. Kalau tidak, nanti kalian akan sakit. Kasihan 'kan kalau mama dan papa kalian harus terburu-buru pulang karena mengkhawatirkan kalian." Bu Dian berkata dengan lembut sembari membelai puncak kepala kedua cucunya.


"Nek, sebenarnya bukan karena itu. Kami hanya tidak terbiasa sarapan pakai nasi. Sarapan dengan nasi itu bisa membuat mengantuk dan berakibat pada kurangnya konsentrasi belajar kami nanti di sekolah," jawab Zoe.


"Iya, Nek itu benar sekali. Mengonsumsi nasi di pagi hari dalam jumlah yang banyak juga dapat meningkatkan berat badan, meningkatkan  gula darah, dan juga dapat menyebabkan terganggunya pencernaan, jika tidak diselingi dengan buah dan sayur." Zack ikut menjelaskan.


Bu Dian tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Badan mereka saja yang kecil, tapi soal pengetahuan, mereka jauh lebih pintar dariku.


"Kalau begitu, Nenek minta maaf ya, Sayang. Nenek tidak tahu menahu mengenai hal itu," kata bu Dian. "Lalu biasanya kalian sarapan pakai apa? Nenek akan buatkan sekarang sebagai gantinya."


Zoe menjawab, "Biasanya menu sarapan kami berupa telur, roti, sereal, sosis, sandwich, oatmeal, pancake, dan menu sarapan sehat lainnya, Nek."


"Tapi Nenek tidak usah repot-repot memasak lagi untuk kami. Untuk pagi ini kami akan sarapan dengan ini saja karena sebentar lagi kami akan segera berangkat ke sekolah. Mungkin tidak lama lagi paman William akan sampai di sini untuk menjemput kami," imbuh Zoe.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kalian. Besok Nenek akan menyiapkan menu sarapan seperti yang sering kalian santap sebelumnya," kata bu Dian.


"Oh iya, Nenek akan menyiapkan bekal untuk kalian berdua, kalian sarapanlah sekarang," imbuh bu Dian, lalu segera berjalan memasuki ruang dapur. Ruang dapur dan ruang makan di rumah mereka terpisah.


Saat bu Dian beranjak masuk ke dalam dapur, Zoe dan Zack pun mulai menyantap nasi goreng di piring mereka masing-masing. Alangkah terkejutnya saat nasi goreng suapan pertama itu sudah masuk ke dalam mulut mereka. Kedua anak itu membulatkan bola matanya sambil saling menatap.


"Kakak Zoe."


"Adik."


Senyuman keduanya seketika mengembang. "Umm ... nasi goreng buatan nenek enak sekali ...."


Beberapa menit kemudian.


Rina turun dari kamarnya di lantai atas. Dia juga sudah lengkap dan sudah siap ingin berangkat ke kampus pagi ini. Gadis itu menghampiri kedua keponakannya di ruang makan. Dia juga ingin sarapan sebelum berangkat ke kampus.


"Kalian berdua kenapa?" tanya Rina, saat melihat Zoe dan Zack duduk bersandar di kursi meja makan sambil mengusap-usap perutnya masing-masing.


"Kekenyangan?" imbuh Rina bertanya. Zoe dan Zack hanya mengangguk. Mereka berdua tidak sanggup lagi menjawab.


"Makanya kalau sarapan itu jangan kebanyakan. Kalian berdua bisa mengantuk nanti saat belajar di kelas."


"Iya, Tante. Kami baru pertama kali makan nasi goreng seenak nasi goreng buatan nenek," tambah Zoe.


"Loh, loh, loh. Nasi goreng di piring kalian kemana?" tanya bu Dian. Dia heran saat kembali dari dapur nasi goreng yang ada di tempat nasi pun ikut ludes semuanya.


Zoe dan Zack yang ditanyai oleh neneknya hanya bisa cengengesan sembari mengusap-usap perutnya yang terasa sangat penuh.


Bu Dian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Wanita paruh baya itu lalu menggoda kedua cucunya. "Katanya tidak boleh sarapan nasi berlebihan."


"Hehehe. Habis nasi goreng buatan Nenek sangat enak." Zoe memuji sambil mengacungkan jari jempolnya.


"Iya, Nek, nasi gorengnya benar-benar enak. Bisa minta tolong buatkan lagi untuk makan siang kami nanti?" tanya Zack.


Bu Dian menjawab, "Tentu saja. Nenek akan membuat lebih banyak lagi untuk cucu-cucu kesayangan nenek."


"Itu akibatnya kalau kalian selalu memakan makanan yang dimasak oleh mesin dan robot. Kalian jadi tidak tahu betapa nikmatnya masakan ibu," kata Rina.


"Mama juga terkadang memasak untuk kami, tapi tidak seenak masakan nenek," kata Zoe, jujur.


"Hust. Jangan berbicara seperti itu Kakak Zoe, kalau mama tahu dia pasti akan mengambek." Zack menegur Zoe.

__ADS_1


"Makanya jangan ada yang melapor. Kalau tidak ada yang melapor, bagaimana mungkin mama bisa tahu?"


...___________...


Beberapa hari kemudian.


Hari ini adalah hari ke tiga Kaaran dan Rania berbulan madu di negara X dan besok malam mereka akan kembali ke negaranya.


"Pakai ini, Sayang. Aku tidak suka mata para lelaki itu menatapmu dengan nakal karena pakaianmu terbuka seperti ini." Kaaran membuka kemeja motif floral yang dia kenakan lalu memakaikannya pada Rania.


Saat itu Rania mengenakan baju renang model tankini yang merupakan perpaduan antara tanktop dan bawahan yang sangat pendek.


"Lalu bagaimana denganmu? Aku juga tidak suka kamu bertelanjang dada dan memamerkan otot-ototmu itu," protes Rania.


Sejenak Rania menatap satu per satu para gadis bule yang berlalu lalang di hadapan mereka. Dia merasa tidak suka melihat para gadis itu berbisik-bisik sambil tertawa kecil saat melewati dirinya dengan Kaaran. Apalagi para gadis itu semuanya fokus menatap suaminya yang sangat tampan dengan otot-otot kekar yang menggoda iman bagi sebagian kaum hawa.


"Lihat. Apa itu yang kamu inginkan, memamerkan semua otot-ototmu itu untuk menarik perhatian mereka?" Rania tidak rela sesuatu yang sudah resmi menjadi miliknya harus dinikmati oleh wanita lain. Meski pun hanya sekedar melihat dan tidak menyentuhnya sedikit pun.


"Tapi laki-laki dan perempuan itu berbeda, Sayang. Kamu tidak menger-" Ucapan Kaaran tiba-tiba dipotong oleh Rania.


"Sama saja. Aku tidak suka wanita lain menatapmu dalam keadaan seperti ini. Ini, pakai kembali bajumu." Rania memberikan baju Kaaran kembali.


Kaaran tersenyum. Melihat wajah cemburu Rania sungguh membuatnya sangat senang.


"Sayang, ayo kita kembali ke hotel," ajak Kaaran.


"Loh, kenapa? Kita 'kan belum setengah jam di sini. Baru juga sampai."


"Kamu membuatku lapar. Rasanya aku ingin segera memakanmu sekarang juga." Kaaran berbisik di dekat telinga istrinya.


Rania mencubit pinggang Kaaran. "Dasar mesum."


Mendapat cubitan mesra dari sang istri, Kaaran pun tertawa. "Apa salahnya mesum pada istri sendiri? Justru itu sangat bagus untuk hubungan kita ke depannya Sayang, agar kita berdua semakin mesra dan lengket."


"Dasar." Rania tersenyum malu-malu.


Kaaran berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangan pada Rania. "Sayang, kita kembali ke hotel sekarang, ya?"


Rania mengangguk. Dia tidak punya pilihan lain selain menuruti apa kemauan suaminya. Menolak pun Kaaran pasti akan terus memaksa untuk dituruti kemauannya.


Mereka berdua lalu berjalan sambil bergandengan tangan menuju hotel yang letaknya tidak jauh dari pantai. Namun, baru beberapa puluh meter mereka berjalan, Rania tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Pandangannya seketika terfokus pada seorang pria paruh baya yang sedang bersantai sambil dimanjakan oleh dua gadis bule yang cantik dan se*si.

__ADS_1


__ADS_2