Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Dia Bukan Papamu


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam Kaaran berteriak meminta untuk dibukakan pintu, tapi Rania masih tidak bergeming. Dia masih tetap pada pendiriannya, tidak mau bertemu dengan pria itu.


Zoe yang sudah lelah menunggu pun segera menghubungi Zack menggunakan jam tangan canggihnya.


"Adik, apakah Mama ada dibalik pintu?" Zoe bertanya dengan berbisik.


"Iya Kakak Zoe, Mama ada di belakang pintu. Sepertinya Mama tidak tahu harus berbuat apa. Dari tadi dia hanya berjalan kesana kemari tanpa ada tujuan yang jelas."


Zoe tiba-tiba merasa sedih. Suaranya terdengar lemah dan tidak bersemangat. "Sepertinya ... Mama sangat tidak ingin bertemu dengan Papa kita."


"Kakak Zoe, jangan seperti itu, lakukanlah sesuatu. Jangan biarkan papa kita pergi karena menyerah membujuk Mama yang keras kepala. Kakak juga tidak mau kehilangan papa kita lagi, 'kan? Apalagi aku juga belum pernah bertemu dengannya secara langsung."


Zoe terdiam sejenak. "Baiklah Dik, sepertinya aku ada ide."


Setelah memutus sambungan teleponnya dengan Zack, Zoe pun mendongak menatap Kaaran yang sudah terlihat ingin putus asa memanggil mama mereka.


"Papa."


"Iya, Nak. Ada apa?" Kaaran berjongkok, mensejajarkan posisinya dengan tinggi badan Zoe. Dia mengulas senyuman paksa di depan putrinya, padahal sebenarnya dia juga merasa sedih gara-gara Rania.


"Papa. Apa Papa sayang pada kami?" Zoe menatap Kaaran dengan serius.


Kaaran menjawab sambil memegang kedua bahu putrinya. "Tentu saja, Sayang. Papa sangat sayang pada Zoe, Zack, dan juga mama kalian."


"Apa Papa bisa berjanji pada Zoe kalau Papa tidak akan pergi lagi?" Zoe masih menatap Kaaran dengan tatapan keseriusan.


Kaaran menangkup kedua pipi Zoe. "Zoe, dengarkan Papa. Asal kamu tahu, Nak. Sebenarnya bukan Papa yang pergi, tapi Mama kamu yang pergi menjauh karena tidak ingin bertemu dengan Papa."


"Apa sebelumnya Papa dan Mama ada masalah?" tanya Zoe, seolah gadis kecil itu bisa mengerti dengan masalah orang dewasa.


Kaaran tersenyum. "Menurut Papa, kami berdua tidak ada masalah, tapi mungkin Mama kamu memiliki pendapat lain tentang hal ini. Buktinya, hingga detik ini Mama kamu masih ingin menghindar dan tidak ingin bertemu dengan Papa."


Ternyata masalah orang dewasa jauh lebih rumit dari yang ku bayangkan. Batin Zoe.


"Papa, kemarilah. Zoe ingin membisikkan sesuatu."


"Apa, Sayang?" Kaaran mendekatkan telinganya ke arah Zoe. Gadis kecil itu mulai membisikkan sesuatu di dekat telinga papanya, kemudian mereka berdua mulai menyusun rencana untuk menghadapi sikap keras kepala Tan5ia.


Jika seandainya nanti Rania melarang mereka untuk bertemu, Zoe dan Zack akan berpura-pura menangis agar Rania kasihan pada kedua anaknya itu.

__ADS_1


"Oke Papa?" kata Zoe, sambil tersenyum.


"Oke Sayang. Kamu ini memang sangat cerdas sekali." Kaaran tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala putrinya.


Kali ini pria itu terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya. Senyuman yang dia pamerkan pun juga bukan senyuman palsu lagi. Kaaran lalu berdiri kembali dan menghadap ke arah pintu. Namun sebelum Kaaran kembali berteriak, dia mengatur napasnya terlebih dahulu.


"Rania! Ini terakhir kalinya aku memintamu untuk membukakan pintu untukku! Jika kamu tidak membukanya sekarang juga, aku akan membawa pergi Zoe bersamaku! Karena biar  bagaimana pun, aku juga punya hak atas putri kita!"


Rania yang mendengar Kaaran berkata seperti itu menjadi semakin marah dan kesal.


Apa yang pria brengsek itu katakan? Hak apa yang dia maksud? Selama ini, aku sendiri yang sudah mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan kedua anakku dengan susah payah seorang diri. Jadi, tidak ada yang berhak atas kedua anakku melainkan diriku seorang. Pria itu tidak punya hak sama sekali atas Zoe dan Zack.


Dengan emosi yang sudah memenuhi dirinya, Rania langsung bergegas membuka pintu. Saat pintu terbuka, yang pertama kali Rania lihat adalah Kaaran. Rania menatap pria itu dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh. Sedangkan Kaaran menatapnya dengan tatapan sebaliknya, tatapan yang hangat, penuh cinta dan juga kerinduan.


Rania tidak mau terlalu lama saling menatap dengan Kaaran. Dia segera menggendong Zoe yang sedang berdiri tepat di samping papanya, lalu memeluk gadis kecil itu dengan sangat erat seolah tidak rela melepaskannya lagi.


Mama tidak akan pernah rela kamu sampai direbut oleh orang itu sayang. Dia tidak berhak merebut kamu dari mama.


Tanpa berkata apa-apa, Rania langsung membawa Zoe masuk ke dalam rumah lalu dengan cepat menutup kembali pintu rumahnya hingga rapat.


Ppang!


"Rania, Rania! Hai! Kenapa pintunya ditutup kembali?! Aku juga ingin masuk!" Kaaran ingin mencegah Rania menutup pintunya tapi sayangnya dia sudah terlambat. Rania sudah terlanjur menutup dan mengunci kembali pintu rumahnya.


"Ma, kenapa pintunya ditutup, Ma? Kenapa Mama tidak membiarkan Papa masuk?" Zoe memasang wajah sedih. Gadis kecil itu sudah memulai aktingnya.


"Orang itu bukan papamu, Nak. Siapa bilang dia adalah papamu?" Rania mencoba menutupi kebenaran dari putrinya.


"Tidak, Ma. Dia memang papa kami, wajahnya saja sama persis dengan wajah Zack," kata Zoe.


"Bukan, Sayang. Dia bukan papa kamu dan Zack. Papa kalian orang lain. Mama yang paling tahu hal itu." Rania masih mencoba menyangkal dan membohongi putrinya.


"Kalau dia bukan papa kami, lalu kenapa wajahnya sangat mirip dengan wajah adik, Ma?" Zoe tidak mau percaya begitu saja dengan ucapan Rania. Dia tahu betul kalau mamanya membenci papanya.


"Zoe sayang. Asal kamu tahu, di dunia ini, setiap satu orang itu memiliki tujuh kembaran. Orang itu adalah salah satu dari tujuh kembaran Zack, wajah mereka berdua hanya mirip, dia bukan papa kalian berdua, Nak."


"Tidak, Ma. Mama jangan membohongi Zoe lagi. Zoe mau Papa, Ma. Zoe mau Papa Kaaran." Zoe mulai menangis dan merengek.


"Turunkan Zoe, Ma ... Zoe mau ketemu Papa. Jangan menggendong Zoe lagi, Zoe sudah besar, Ma."

__ADS_1


"Diam Zoe!" Untuk pertama kalinya Rania membentak putrinya. Dia merasa sangat kesal karena Zoe tidak mau mendengarkan ucapannya. Zoe yang dibentak seperti itu merasa terkejut dan langsung berakting menangis kejer.


"Mama jahat, turunkan Zoe, turunkan Zoe ...." Zoe berusaha keras untuk melepaskan diri dari gendongan mamanya. Setelah lepas, gadis kecil itu berlari membuka pintu.


"Papa!"


"Zoe-" Rania mengusap wajahnya frustasi. Apalagi saat melihat putrinya dalam sekejap sudah berada dalam pelukan Karaan.


"Sayang ...." Kaaran memeluk putrinya dengan erat lalu mencium kepalanya.


"Papa jangan pergi lagi."


"Tidak, Nak. Papa tidak akan pergi lagi. Papa berjanji, kita semua tidak akan terpisahkan lagi." Kaaran mencoba menghibur Zoe dan mengelus punggungnya dengan lembut.


Ayah dan anak itu benar-benar sangat kompak berakting dengan maksimal. Sehingga Rania tidak pernah menyangka kalau itu hanyalah bagian dari rencana mereka.


Rania menatap adegan itu dengan perasaan campur aduk. Dia merasa marah bercampur sedih. Marah karena menganggap Kaaran sudah meracuni otak putrinya. Sedih karena dia sudah membentak putrinya dengan tidak sengaja.


Rania merasa tidak tahan melihat pemandangan di depannya. Rasanya saat itu dia sangat ingin merebut Zoe dari pelukan Kaaran, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia merasa bersalah sudah membentak Zoe dan tidak tega melihat putrinya menangis karena keegoisannya.


Rania tahu betul kalau selama ini anak-anaknya memang kekurangan dan membutuhkan figur sosok seorang ayah yang asli, bukan kasih sayang palsu dari sebuah robot seperti Robot Papa yang sudah diatur oleh program.


Di waktu yang sama, tiba-tiba Zack datang dari dalam dan berlari keluar sambil berteriak, "Papa!"


Rania terkejut. Dia bingung bagaimana bisa Zack tahu kalau Kaaran ada di luar. Dan panggilan barusan itu membuat hati Rania benar-benar hancur berkeping-keping.


Apa yang terjadi? Kenapa Zack juga ikut-ikutan memanggil orang itu dengan sebutan papa? Dari mana Zack tahu kalau orang itu ada di luar bersama Zoe?


"Zack! Berhenti, Nak." Rania ingin mencegah putranya keluar tapi Zack berhasil menghindar hingga akhirnya putranya itu berhasil keluar menemui papa kandungnya untuk yang pertama kalinya.


"Papa!" teriak Zack.


"Zack ...." Kaaran juga membawa Zack masuk ke dalam pelukannya. Dia memeluk kedua anak kembarnya itu dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis haru dan bahagia, dan kali ini bukan sandiwara lagi.


Seketika terbesit perasaan bersalah yang mendalam di dalam hati Kaaran pada Rania. Dia memikirkan bagaimana cara Rania melalui kehidupannya selama hampir 6 tahun belakangan ini. Bagaimana perjuangan Rania mengandung dan membesarkan kedua anak kembar mereka seorang diri, tanpa kehadiran sosok seorang suami dan jauh dari kerabat terdekat.


William yang menyaksikan pemandangan itu ikut menitikkan air matanya. Dia langsung membuang pandangannya ke arah samping karena malu jika sampai ada yang memergokinya sedang menangis.


Sementara itu, Rania juga ikut membuang muka. Dia juga tidak ingin melihat pemandangan mengharukan itu. Perasaan bencinya pada Kaaran masih saja tetap ada meski pun sudah tidak sebesar dulu. Karena Rania sadar, jika bukan karena Kaaran, dia pasti tidak akan pernah bisa memiliki kedua anak kembarnya. Kalau pun misalkan dia memiliki anak dari pria lain, belum tentu dia bisa memilki sepasang anak kembar yang setampan, secantik, selucu, dan segenius Zoe dan Zack.

__ADS_1


Namun, yang Rania takutkan sekarang hanya satu, yaitu jika seandainya Kaaran ingin merebut Zoe dan Zack darinya. Dia tidak akan pernah rela sampai kapan pun. Rania tahu persis, ayah dari anak-anaknya itu bisa melakukan apa saja dengan uang dan kekuasan yang pria itu miliki.


Sebelum dia berhasil mengambil hati anak-anakku, aku harus melakukan sesuatu untuk mencegah agar mereka tidak terlanjur dekat.


__ADS_2