
Note : Oke guys sudah bisa dibaca yaš
...----------------...
William sedang duduk di ruangannya sambil senyum-senyum sendiri. Ternyata saat dia memiliki waktu senggang di kantor, dia lebih memilih untuk menghabiskan waktu luangnya itu untuk mengawasi dan memperhatikan gerak-gerik Rina pada layar monitor yang tersambung dengan robot lebah pemberian Zack.
Semenjak Kaaran dan RaniaĀ kembali dari negara X, William tidak pernah lagi bertemu dengan Rina. Beberapa hari ini dia sangat sibuk mengurus ini dan itu. Sekarang barulah semua pekerjaannya itu selesai. Dan setelah beberapa hari tidak pernah bertemu, pria itu menjadi sangat merindukan gadis pujaan hatinya itu.
Melihat wajah cantik Rina di layar monitor bukannya mengobati rindunya malah membuatnya semakin ingin bertemu dengan gadis itu.
"Will!" Kaaran yang memasuki ruangan William tanpa permisi membuat pria pemilik ruangan tersebut terkesiap. Dengan cepat William menyembunyikan alat yang sedari tadi stay di dalam genggaman tangannya masuk ke dalam laci meja kerjanya.
"I-iya, Tuan." William terlihat gugup. Dia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya itu dalam waktu sekejap.
Jika sampai tuan Kaaran mengetahui kalau ternyata aku diam-diam selalu mengawasi Rina menggunakan robot lebah pemberian tuan muda kecil, bisa bahaya. Tuan Kaaran pasti akan marah besar padaku. Aku juga tidak tahu harus menjelaskan apa nanti jika sampai ketahuan.
"Kamu kenapa, Will? Kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa kamu sedang sakit?" tanya Kaaran, sambil berjalan menghampiri asistennya itu.
"Tidak, Tuan. Saya baik-baik saja."
William mengatur napasnya dengan baik dan berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja karena sepertinya Kaaran tidak menyadari apalagi sampai menaruh curiga kalau ternyata dirinya menyembunyikan sesuatu di dalam laci meja.
"Oh. Oh iya, tolong bawa amplop ini ke rumah ibu mertuaku." Kaaran meletakkan sebuah amplop berwarna coklat muda berbentuk persegi panjang di atas meja William. William bisa menebak kalau isinya pasti sejumlah uang, dilihat dari bentuk dan ukurannya.
Ibu mertua tuan Kaaran adalah calon ibu mertuaku. Hehe. William masih sempat-sempatnya bercanda di dalam hati.
"Sekarang, Tuan?" tanya William, ingin memastikan.
__ADS_1
"Iya, sekarang."
William melirik arloji yang melingkar di pergelanganĀ tangannya. Sebentar lagi Rina juga akanĀ pulang dari kampus, sekalian dia bisa menjemput gadis itu dulu sebelum menemui ibu Dian.
Kebetulan sekali. Aku memang sudah sangat merindukan Rina. Nantinya aku bisa menggunakan ini sebagai alasan untuk menjemputnya. William tersenyum dalam hati. Tiba-tiba dia menjadi sangat bersemangat. Bertemu dengan sang pujaan hati siapa yang tidak senang.
"Kalau begitu, aku kembali ke ruanganku dulu."
"Baik, Tuan. Silahkan."
Setelah memberikan tugas pada William, Kaaran kembali ke ruangannya. Setelah mengurus dan mengumpulkan semua bukti-bukti yang bisa memberatkan Boron nanti saat sidang, akhirnya mereka semua memiliki waktu senggang untuk bersantai hari ini. Kerjaan kantor yang menumpuk masih menunggu mereka di hari esok.
Mumpung hari ini mereka masih bisa bersantai, Kaaran pun memutuskan untuk mengajak istri cantiknya pergi jalan-jalan.
"Sayang!" panggil Kaaran pada Rania saat pria itu baru saja memasuki ruangannya. Saat itu istrinya sedang bersantai di atas sofa sambil membaca novel favoritnya.
"Hm." Rania meletakkan ponselnya lalu mendongakĀ menatap suaminya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kemana?"
"Terserah kamu."
Rania berpikir. "Mm ... bagaimana kalau kita pergi ke mall? Aku sudah lama tidak pernah jalan-jalan ke sana."
"Terserah kamu, Sayang. Aku akan membawamu ke mana pun kamu ingin pergi," jawab Kaaran, diiringi dengan senyuman termanisnya yang seperti candu dan mampu membuat Rania tiada bosannya saat menatap suaminya itu.
Cup. Rania mendaratkan ciuman lembut di pipi Kaaran. Dia terlihat sangat senang dan bersemangat. Akhirnya dia bisa keluar bersantai dan jalan-jalan setelah beberapa hari tidak bisa kemana-mana karena menemani Kaaran. Kaaran juga tidak akan mengijinkan istrinya itu pergi ke luar tanpa dirinya. Selama seminggu terakhir ini, kalau tidak tinggal seharian di kantor ya di villa, dan itu sangatlah membosankan.
__ADS_1
Rania melingkarkan tangannya pada lengan kekar Kaaran. Sepasang suami istri itu berjalan keluar dari ruangannya sambil bergandengan tangan dengan mesra.
Kali ini mereka pergi berdua saja, tidak ada William yang menjadi sopir mengantar mereka pergi ke mana pun. Tidak ada pengawal yang selalu mengikuti dan mengawasi kemana pun mereka bergerak, serta yang terakhir tidak ada anak-anak yang ikut dan mengganggu mereka bermesraan. Kali ini Kaaran memilih untuk menyetir mobilnya sendiri menuju pusat perbelanjaan terdekat. Dia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi pasangan biasa seperti orang-orang kebanyakan.
Saat Kaaran melajukan mobilnya dengan santai, sebuah mobil sedan hitam tengah membuntutinya dari belakang. Mobil tersebut dikemudikan oleh seorang pria tampan yang sedang mengenakan pakaian santai, baju kaos ketat berwarna putih polos yang dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam. Tidak ada penyamaran, tidak ada topi, tidak ada kaca mata, dan tidak ada masker yang dia pakai untuk menutupi sebagian besar wajahnya. Dia memang sengaja melakukan hal tersebut, agar supaya orang yang tengah dia buntuti sekarang itu bisa langsung mengenalinya begitu melihat dirinya.
Ya, tebakan para pembaca sekalian benar. Orang yang mengikuti Kaaran dan Rania adalah Samuel. Setelah mengetahui banyak informasi mengenaiĀ Kaaran melalui artikel yang dia baca di internet, pria itu sudah membulatkan tekad untuk merebut Rania dari Kaaran. Ditambah lagi ujaran-ujaran kebencian yang terlontar dari mulut busuk Boron yang sifatnya menular sehingga membuat Samuel menjadi ikut membenci Kaaran tanpa alasan yang jelas.
Kaaran dan Rania tidak menyadari hal tersebut. Apalagi suasana jalan raya di tengah kota begitu padat dan ramai dengan kendaraan pengemudi lainnya. Ditambah lagi mereka berdua juga sedang asyik bercanda ria sambil bermesraan. Jarang-jarang juga mereka bisa pergi berdua seperti sekarang ini.
Begitu Kaaran selesai memarkirkan mobilnya di perkiraan mall, dia dan Rania pun turun bersama dari dalam mobil. Setelah itu sepasang suami istri tersebut lalu berjalan sambil bergandengan dengan sangat mesra dan lengket seperti perangko memasuki gedung mall.
Sementara itu di waktu yang bersamaan dan dari jarak 20 meter di belakang mereka, Samuel terus membuntuti keduanya kemana pun mereka pergi.
Sebenarnya kali ini sasaran utama Samuel adalah Rania, dia ingin mencari kesempatan untuk bertatap muka dengan gadis itu. Dia merasa penasaran, kira-kira akan seperti apa nanti reaksi Rania ketika bertemu kembali dengannya. Samuel sangat berharap, semoga saja perasaan cinta di dalam hati Rania untuk dirinya belum terkikis habis oleh cinta Rania untuk pria lain, yaitu Kaaran, yang sekarang sudah resmi menjadi suami sah gadis itu.
"Sayang, kamu mau belanja apa?" Kaaran bertanya saat mereka berdua tengah berdiri di atas eskalator.
"Mm ... sebenarnya tidak ada. Aku tidak ingin belanja apa-apa. Aku mengajakmu kemari karena aku hanya ingin melepas penat setelah kamu mengurungku selama berhari-hari di dalam kantor dan di dalam villa."
Kaaran tersenyum lalu mencubit hidung Rania dengan gemas. "Aku minta maaf, Sayang. Kamu tahu sendiri 'kan kalau akhir-akhir ini aku benar-benar sangat sibuk."
"Semoga saja urusan kita dengan paman Boron bisa segera beres secepatnya. Biarkan dia mendekamĀ di dalam penjara setelah semua bukti-bukti yang kita serahkan pada polisi bisa memberatkan hukumnya saat sidang nanti," imbuh Kaaran.
"Hm, semoga saja. Dan semoga paman Boron bisa menyadari semua kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan selama ini, lalu menyesali semuanya."
Saat mereka berdua sampai di lantai atas.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kalau kita menonton film? Kita 'kan tidak pernah berpacaran, bagaimana kalau kita berpacaran dulu mumpung anak-anak tidak ikut?" tanya Kaaran, dan Rania langsung mengangguki usulan sang suami.
Sementara itu, Samuel merasa gerah sendiri melihat kemesraan Rania dengan Kaaran. Padahal saat itu dia sedang berada di dalam gedung mall yang suhu AC-nya lumayan dingin. Ternyata dinginnya AC tidak mampu menghangatkan hati Samuel yang sedang terbakar api cemburu.