Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Pria Dari Masa Lalu


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih satu setengah jam di dalam bioskop dengan menonton film romantis, Kaaran dan Rania pun memutuskan untuk makan di restoran yang letaknya di lantai 4 gedung mall tersebut.


Saat sepasang suami istri itu sudah berada tidak jauh di depan restoran, tiba-tiba ada yang menyenggol bahu Rania dari belakang.


Bug.


"Auwh!" Rania mengaduh begitu orang tersebut menyenggol bahunya.


Ternyata orang yang menabraknya itu adalah seorang pria bertubuh tinggi, berbadan tetap, dan atletis. Siapa lagi kalau bukan Samuel. Pria itu memang sengaja melakukan hal tersebut.


"Eh, maaf, maaf. Saya tidak sengaja." Samuel berkata sambil mengusap-ngusap bahu Rania yang baru saja dia senggol.


Sementara itu, Kaaran melotot tajam begitu melihat !!wanitanya di sentuh oleh pria lain. Dengan cepat dia mendorong Samuel agar menjauh dari istrinya.


Deg.


Jantung Rania seketika berdetak dengan sangat cepat, seperti habis lari maraton begitu melihat siapa sosok laki-laki yang menyenggol dan menyentuhnya barusan.


Ka-kak Sam? Apa aku tidak salah lihat? Dia sudah kembali.


"Jangan sembarangan sentuh kamu ya, atau aku akan mematahkan tanganmu itu!" Kaaran memberikan peringatan pada Samuel.


Dari segi penampilan fisik, tinggi badan, dan kekekaran tubuh, Kaaran dan Samuel hanya beda tipis. Entah siapa yang akan menang jika mereka berdua adu fisik?


Tapi dalam hal ini, Samuel memang bersalah. Jadi dia berpura-pura mengalah dan pergi setelah meminta maaf pada Rania dan Kaaran. Dia sama sekali  tidak  peduli dengan tatapan mematikan yang dilemparkan oleh Kaaran padanya.


Saat Samuel berlalu pergi, pria itu tersenyum puas setelah melihat bagaimana ekspresi wajah Rania yang tidak bisa berkedip saat menatapnya tadi. Apalagi saat dirinya berpura-pura tidak mengenalinya gadis itu. Rania semakin menatapnya keheranan.


Rania pasti berpikir kalau aku sudah lupa padanya setelah 10 tahun kami tidak bertemu.


Meski pun pertemuan mereka berlangsung cukup singkat, tapi Samuel yakin bahwa pertemuan mereka itu sudah mampu membuat pikiran Rania terganggu karena memikirkan dirinya. Tidak mungkin tidak. Samuel sangat yakin akan hal itu, yakin seyakin-yakinnya. Ditambah lagi urusan mereka sebenarnya di masa lalu yang memang belum mereka selesaikan baik-baik, masih digantung seperti jemuran yang tidak kunjung kering saat musim penghujan.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, 'kan?" Kaaran bertanya sambil mengelus bahu istrinya dengan lembut, dan Rania pun menanggapi pertanyaan suaminya itu dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak apa-apa, lalu kenapa kamu terlihat pucat, Sayang? Apa perlu aku bawa kamu ke rumah sakit? Pasti orang itu menyakitimu tadi." Kaaran merasa sedikit panik. Dia berpikir kalau Rania merasa sangat kesakitan setelah disenggol oleh pria tadi.


Rania berdecak, "Ck. Jangan terlalu berlebihan. Aku benar-benar tidak apa-apa kok. Aku mungkin terlihat pucat karena aku sedang lapar." Rania menyunggingkan senyuman paksa diakhir kalimatnya.


Kaaran  mendengus. "Sayang ... kenapa kamu tidak bilang dari tadi sih? Bagaimana kalau kamu sakit?"


"Ayo kita masuk. Kamu mau makan apa?" imbuh Kaaran bertanya, sambil melingkarkan tangan kanannya pada pinggang ramping istrinya itu lalu berjalan bersama memasuki restoran.


"Apa saja. Terserah." Rania menjawab dengan singkat.  Selera makannya seketika menghilang setelah bertemu dengan pria dari masa lalunya.


Baru saja Kaaran dan Rania berjalan di ambang pintu, tiba-tiba saja seorang laki-laki berpakaian formal berlari ke arah mereka lalu membungkukkan badan dengan sopan menyambut kedatangan sepasang suami istri tersebut.


"Selamat datang di restoran kami, Tuan Kaaran, Nona Rania. Ada yang bisa saya bantu?" Manajer restoran itu berbicara dengan sangat sopan dan lemah lembut. Disertai dengan ekspresi wajah tersenyum yang terlihat sangat ramah dan bersahabat.


"Siapkan makanan apa saja yang enak dalam waktu 5 menit, tidak boleh kurang. Istriku sekarang sangat lapar."


Terkadang Kaaran memang terkesan begitu mengintimidasi saat berbicara pada orang lain. Tapi tidak selalu, hanya pada waktu-waktu tertentu. Seperti saat ini karena dia tidak mau Ranianya kelaparan lebih lama lagi.


What? 5 menit?


"Baik, Tuan."


Rania mendongak menatap Kaaran, lalu mencubit lengan suaminya itu. "Kamu tidak boleh seperti itu. Menyiapkan makanan enak dalam waktu 5 menit, apa itu masuk akal? Kecuali mereka hanya membuatkan telur ceplok untuk kita berdua."


"Kamu tenang saja, Sayang. Kita lihat saja bagaimana mereka melakukannya. Aku hanya tidak mau istri kesayanganku ini kelaparan." Kaaran mencubit hidung mancung Rania seraya tersenyum.


Tidak sampai 5 menit kemudian, berbagai jenis menu makanan sudah memenuhi meja Kaaran dan Rania. Diantaranya ada hidangan pembuka, makanan utama, dan hidangan penutup. Rania sampai melongo tidak percaya melihat bagaimana manajer dan para pelayan itu melakukannya.


Bagaimana mungkin makanan sebanyak ini bisa siap dalam waktu singkat? Jangan-jangan semua makanan ini adalah pesanan orang-orang dari meja lain. Batin Rania.


"Kami tidak tahu makanan apa yang Tuan Kaaran dan Nona Rania inginkan. Jadi, kami berusaha keras menyiapkan semua ini," kata manajer restoran tersebut.


"Hm, kerja bagus. Kalian boleh keluar sekarang," ucap Kaaran, sambil mengusir manajer itu beserta pelayan-pelayannya keluar dari ruang VVIP yang sedang dirinya dan Rania tempati saat ini.

__ADS_1


"Baik, Tuan, Nona. Selamat menikmati hidangan Anda."


Namun belum sempat manajer itu memutar badannya, Rania sudah mencegahnya.


"Tunggu dulu, Pak!"


"Iya, Nona. Ada apa?" tanya Manajer tersebut dengan sopan.


"Ada apa, Sayang? Apa masih ada yang kurang? Katakan saja," ujar Kaaran.


Rania menggeleng.


"Pak, bisa minta tolong bawa makanan-makanan ini kepada pemiliknya masing-masing? Saya yakin, ini pasti pesanan pelanggan lain yang sudah lebih dulu datang daripada kami. Menyiapkan makanan sebanyak ini dalam waktu 5 menit saja sangatlah tidak masuk akal."


Manajer dan para pelayan itu saling menatap secara bergantian. Yang dikatakan Rania memang benar, tapi mereka tidak berani melakukannya jika bukan Kaaran yang memberikan titah pada mereka.


"Loh, kenapa, Sayang? Bukannya kamu lapar?" Kaaran menatap Rania dengan tatapan keheranan.


"Iya, aku memang lapar. Tapi kita berdua tidak akan mungkin bisa menghabiskan semua makanan ini hanya berdua saja."


"Begini saja, ayo kita pilih salah satu menu yang kita inginkan masing-masing. Selebihnya, biarkan dibawah oleh para pelayan itu dan diantarkan kepada pemilik yang sesungguhnya," imbuh Rania memberikan usul.


Setelah Kaaran setuju, barulah para pelayan itu membawa semua menu makanan yang tidak dipilih oleh Kaaran dan Rania. Manajer dan para pelayan tersebut akhirnya bisa bernapas lega begitu keluar dari ruangan. Hampir saja mereka diamuki oleh pelanggan lain.


Saat sepasang suami istri itu tengah menikmati makanan mereka, tiba-tiba saja Rania menyudahi makannya padahal makanan di piringnya belum habis.


"Kenapa, Sayang. Kenapa makanmu sedikit sekali? Bukannya tadi kamu kelaparan sampai terlihat pucat."


Rania menggeleng pelan lalu menjawab, "Aku sudah kenyang."


"Baru makan segitu kamu sudah kenyang?" tanya Kaaran kebingungan.


Namun sesaat kemudian, senyum pria itu tiba-tiba mengembang. "Sayang. Apa jangan-jangan, kamu hamil lagi?"

__ADS_1


"Uhuk, uhuk." Ucapan Kaaran membuat Rania tersedak air minum.


__ADS_2