Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Ingin Bermalam?


__ADS_3

...Hai semuanya! Budayakan tekan tombol like setiap membaca bab cerita ya, karena itu adalah bentuk penghargaan kalian untuk menghargai usaha keras penulis karena telah melanjutkan cerita ini....


...~Selamat Membaca~...


...Sekali lagi jangan lupa tekan tombol like-nya ya karena itu GRATIS!...


...----------------...


Kaaran sangat terkejut mendengar ucapan Rania. Setahu Kaaran, Boron dan ayah mertuanya adalah sahabat sekaligus saudara angkat.


Apakah papa dan mama sudah salah paham kepada ayah mertuaku selama ini? Mereka berpikir kalau selama ini mendiang ayah mertuaku bersama paman Boron sudah bersekongkol untuk menipu, tapi nyatanya beliau juga ditipu oleh paman Boron.


Paman Boron ini benar-benar seorang cacingan. Dia tidak bisa dipercaya sama sekali. Demi harta, dia tega menipu saudara angkat dan saudara tirinya sendiri. Batin Kaaran.


"Sayang, kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita mengenai hal itu?" Kaaran bertanya pada Rania.


"Mana aku tahu kalau kamu juga mengenal rubah tua ini," jawab Rania.


"Iya juga, ya? Ya sudah, kalau begitu, kita bawa saja dia ke hotel."


...----------------...


Kaaran dan Rania sudah menyekap Boron di dalam kamar mandi kamar hotel yang mereka sewa. Kali ini dia tidak akan membiarkan rubah tua jantan itu meloloskan diri lagi. Boron harus segera menjalani hukuman di penjara untuk membayar semua kejahatan-kejahatan yang pernah dia lakukan selama ini.


"Sayang, sepertinya aku harus meminta maaf padamu." Kaaran berkata sambil membelai rambut Rania dengan lembut. Saat itu mereka berdua sedang beristirahat di atas tempat tidur.


"Untuk apa kamu minta maaf padaku?" Rania menatap Kaaran dengan ekspresi keheranan.


"Mm ... karena sepertinya bulan madu kita harus segera diusaikan. Kita harus kembali ke kota Merkurius secepatanya, aku sudah tidak sabar ingin segera menjebloskan paman Boron ke penjara."


Rania tersenyum. "Aku pikir tadi ada apa. Untuk hal itu ... aku juga setuju. Mengenai waktu bulan madu kita yang diharus dipangkas, aku sama sekali tidak ada masalah. Tempat di sini benar-benar sangat indah, dan aku sangat menyukainya. Tapi sebenarnya aku juga sudah tidak sabar ingin segera pulang, karena rasa rinduku pada anak-anak jauh lebih besar lagi. Ini pertama kalinya aku jauh dari mereka."


Kaaran tersenyum sambil mengelus lembut pipi Rania. "Baiklah, Sayang. Karena kamu sudah setuju, aku akan segera memesan tiket pesawat untuk kita bertiga."


...----------------...


Saat jam pulang kampus, Rina berdiri di pinggir jalan sambil menunggu taksi online yang baru saja dia pesan untuk dia tumpangi kembali ke rumah.

__ADS_1


Namun, saat taksi yang dia pesan sudah datang, di saat yang bersamaan William juga datang menjemputnya.


Mau apa dia kemari? Rina menatap William yang baru saja turun dari mobilnya. 


"Rina, aku datang kemari karena aku ingin menjemputmu." William berkata saat dirinya berjalan menghampiri gadis itu.


"Tidak perlu. Aku sudah memesan taksi." Rina berkata dengan ketus.


Meski pun begitu, William sangat bersyukur karena selama beberapa hari ini mereka bekerja sama mengurus Zoe dan Zack, Rina sudah mau berbicara dengannya meski pun dengan nada bicara yang selalu terdengar ketus seperti barusan. William sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Rina mau membalas ucapannya saja dia sudah sangat senang, apalagi jika gadis itu mau membalas cinta dan perhatiannya. Eaaa.


"Tapi aku sudah datang menjemputmu kemari. Ayolah. Pesanan taksimu itu bisa kamu batalkan, 'kan?"


"Mana bisa begitu? Aku sudah terlanjur memesan taksinya, kasihan 'kan kalau aku harus membatalkannya."


"Jika itu alasanmu, serahkan saja padaku, aku bisa mengurusnya dengan mudah." William berjalan menghampiri mobil taksi yang sudah datang menjemput Rina.


"Hei, kamu mau apa?" Rina bertanya tapi William tidak menggubrisnya.


Sesaat kemudian, mobil taksi pesanan Rina pun kembali melaju.


"Eh, eh, eh! Kenapa taksinya malah pergi?"


Rina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sepertinya dia sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak ajakan pria itu.


"Ayo." William langsung menggenggam tangan Rina dan menariknya menuju mobilnya.


"Lepaskan tanganku. Jangan berani pegang-pegang, ya?" Rina berusaha melepaskan tangannya tapi tidak bisa terlepas karena William menggenggamnya dengan sangat erat.


Hati dan ucapan Rina tidak sinkron. Bibirnya selalu saja berkata kasar dan menolak semua perlakuan William, tapi hatinya berkata sebaliknya. Dia sebenarnya merasa sangat senang dan bahagia karena selama beberapa bulan ini William terus berusaha mengejarnya tanpa mengenal kata menyerah. Tapi gadis itu menyembunyikan ekspresi tersebut dan malah menampakkan raut wajah sebaliknya. Dia tidak ingin pria yang disukainya itu menjadi besar kepala. Rina berharap, William akan terus-menerus mengejarnya sampai kapan pun sampai dirinya menyerah dan mau menerima cinta pria itu.


Setelah William dan Rina masuk ke dalam mobil, William pun segera melajukan mobilnya menuju arah yang berlawanan dengan arah menuju jalan pulang ke rumah Rina.


"Loh, loh? Kita mau ke mana?" tanya Rina sedikit panik.


"Kita ke apartemenku sebentar."


"Untuk apa? Jangan macam-macam, ya?" Rina menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai William.

__ADS_1


William tertawa kecil sambil berdecak. "Ck, ck, ck. Gadis sepertimu, kenapa pikirannya selalu mengarah pada hal-hal jorok? Apa mungkin karena kita sudah-"


"Diam!" Rina berkata dengan cepat. Dia tidak ingin William meneruskan kalimat yang menurutnya sangat memalukan itu.


Rina menggigit sudut bibirnya sambil membuang muka. Benar-benar memalukan. Kenapa dia selalu ingin menyinggung hal memalukan itu? Apa mungkin dia memang sengaja melakukannya karena dia ingin mempermalukan aku? Sangat menyebalkan.


Beberapa saat kemudian. William mulai memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen.


"Apa kamu ingin ikut naik bersamaku atau memilih untuk menungguku di sini?" tanya William, sambil melepas safety beltnya.


"Aku menunggu di sini saja." Rina menjawab sambil melihat ke arah lain. Dia tidak berani menatap pria itu.


"Ya sudah, kalau begitu aku akan naik sekarang. Aku akan mengunci pintu mobilnya agar kamu bisa terhindar dari bahaya saat aku naik ke atas. Kamu masih ingat 'kan kalau laki-laki yang ingin menjebakmu waktu itu juga tinggal di sini?"


"Hem. Terserah kamu."


...----------------...


Tidak sampai 10 menit kemudian, William sudah turun kembali sambil membawa koper berukuran kecil di tangannya. Rina juga tidak menanyakan apa-apa pada pria itu. Jika bukan William yang membuka pembicaraan terlebih dahulu, gadis itu akan memilih diam dan tidak akan berbicara sama sekali.


Setelah mobil melaju selama kurang lebih 30 menit, sampailah mereka berdua di kediaman keluarga Blanco. Usai memarkirkan mobilnya, William pun ikut turun bersama Rina sambil membawa koper kecil yang dia ambil tadi dari dalam unit apartemennya.


Rina menatap William dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa kamu juga ikutan masuk? Pakai acara bawa-bawa koper segala lagi."


William tersenyum, lalu berjalan memasuki rumah mendahului Rina. Pria itu tidak menjawab pertanyaan anak pemilik rumah tersebut.


Jangan-jangan dia mau bermalam di rumah ini. Oh tidak, jangan sampai itu terjadi. Mata Rina membulat. Dia segera berlari kecil menyusul pria itu.


"Hei! Berhenti!" teriak Rina. "Jangan bilang kamu ingin bermalam di rumahku."


William menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Rina yang sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Kalau memang iya kenapa? Kamu keberatan?"


...----------------...

__ADS_1


Note : Hari ini dobel up ya karena kemarin Author tidak sempat up karena sibuk di dunia nyata. Oh iya, jangan lupa berikan vote, like, dan komentar kalian agar Author makin semangat update lebih banyak bab lagi.


...~Terima Kasih Sudah Membaca~...


__ADS_2