Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Tolong Aku, Aku Sudah Tidak Tahan lagi


__ADS_3

"Kaaran, Papa ingin berbicara berdua dengan kamu. Ikut Papa sebentar." Tuan Dirgantara berdiri dari duduknya, kemudian berjalan keluar meninggalkan ruang makan.


"Sayang, jangan kemana-mana ya, aku ingin berbicara sebentar dengan Papa." Setelah berpesan pada Rania, Kaaran pun segera beranjak menyusul papanya.


Saat itu tuan besar Dirgantara sedang berdiri di teras sambil menghadap ke arah halaman rumahnya yang luas, yang dihiasi dengan air mancur serta bunga-bunga yang yang beraneka ragam jenis dan warna.


"Pa." Kaaran berdiri tidak jauh di belakang papanya.


Setelah mendengar suara Kaaran, barulah tuan Dirgantara memutar badan dan menghadap ke arah putranya.


"Kaaran, apa kamu tahu siapa gadis yang ingin kamu nikahi itu?" Tuan Dirgantara bertanya sambil menatap putra semata wayangnya dengan serius. "Apa kamu tahu seperti apa keluarganya?"


"Iya, Pa. Kaaran sudah mengenal Rania dengan baik, dan Kaaran juga sudah akrab dengan semua anggota keluarganya, Pa," jawab Kaaran.


Tuan Dirgantara tersenyum sinis. "Segera tinggalkan gadis itu Kaaran. Papa tidak setuju kamu menikah dengannya."


Kaaran terkejut. Hatinya tiba-tiba terasa nyeri mendengar penolakan dari sang ayahanda. "Tapi, Pa, Kaaran sangat mencintai Rania. Bagaimana mungkin Papa bisa menyuruh Kaaran untuk meninggalkannya begitu saja?"


"Itulah sebabnya, Kaaran, kenapa Papa tidak setuju kamu menikahi gadis itu. Kamu memang sangat mencintai gadis itu, tapi dia tidak mencintai kamu. Papa bisa melihatnya dengan jelas," tegas tuan Dirgantara. "Dengan cintamu itu, dia bisa memanfaatkan kamu untuk mengincar harta kita."


"Pa, Papa sudah salah menilai Rania. Rania tidak seperti itu, Pa. Rania bukan perempuan matre." Kaaran mencoba membela Rania di depan papanya. "Ya, Kaaran akui yang Papa katakan itu memang benar, Rania memang tidak mencintai Kaaran, tapi Kaaran sangat mencintai Rania, Pa. Kaaran tidak bisa hidup tanpanya."


"Persetan dengan cintamu itu Kaaran. Pengusaha kecil rendahan yang tahunya hanya menipu tidak pantas berbesan dengan Papa." Tuan Dirgantara memutar badannya membelakangi Kaaran. Pria paruh baya itu terlihat sangat kesal.


"Apa maksud Papa? Kaaran tidak mengerti," Kaaran berjalan lebih dekat di belakang Papanya.


"Ayah gadis itu, Rahadian Blanco adalah seorang penipu. Dulu, Rahadian dan Boron sudah berani bekerja sama menipu Papa."


"Apa?" Kaaran merasa sangat terkejut mendengarnya. "Apa maksud Papa, paman Boron? Adik tiri mama?"


"Ya, siapa lagi kalau bukan dia? Mereka berdua itu adalah saudara angkat," jawab tuan Dirgantara.


Kaaran terdiam sejenak memikirkan ucapan papanya. "Tapi, Pa, kalau Papa tidak memberikan kami restu, bagaimana dengan nasib anak-anak kami?"


Tuan Dirgantara sangat  terkejut. Dia berbalik menatap putranya. "Kamu bilang apa barusan? Apa Papa tidak salah dengar? Kamu bilang, anak-anak kalian? Sejak kapan kalian punya anak?" Tuan besar Dirgantara tidak mau percaya begitu saja pada ucapan putranya. "Kaaran, jangan coba-coba membohongi Papa hanya karena kamu ingin bersama dengan gadis itu. Papa tidak bisa dengan mudah kamu tipu."


Kaaran menarik napasnya dalam-dalam, lalu berkata, "Sebelum Papa terlalu banyak berkomentar, sebaiknya Papa lihat ini dulu."


Kaaran memutar badannya menghadap ke arah pintu.

__ADS_1


"Pak Harun! Bawa mereka masuk!" titah Kaaran. Tidak lama kemudian, Pak Harun keluar bersama Zoe dan Zack.


...----------------...


Rina mulai mendapatkan kesadarannya kembali setelah 15 menit tidak sadarkan diri. Kini gadis itu tengah berada di dalam gendongan Andre. Jarak kafe dengan apartemen Andre cukup dekat, jadi mereka bisa sampai dengan cepat di lokasi tempat tinggal Andre.


Rina yang baru saja tersadar mulai merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Dia merasakan ada hawa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya. Lib***nya juga semakin lama semakin meningkat. Dia membutuhkan sesuatu untuk melepaskan sesuatu yang tengah bergejolak di dalam dirinya.


Rina mendongak menatap Andre. Napasnya sudah mulai memburu. Bibir pria yang tengah menggendongnya itu terlihat sangat menggoda, tapi Rina berusaha menahan dirinya.


Ada apa denganku? Kenapa aku bisa seperti ini? Jangan-jangan, kak Andre memasukkan sesuatu ke dalam jus jeruk yang aku minum tadi.


"Ka-Kak Andre, kita ada dimana? Emh ...." Rina menggeliat di dalam gendongan Andre. Rasanya dia sudah tidak tahan untuk segera melakukannya. Tapi dia masih memiliki kesadaran untuk tidak melakukannya dengan pemuda yang tidak dicintainya itu.


"Sabar Sayang. Kita akan segera sampai, tahan sebentar." Saat itu mereka sudah berada di ruang basement apartemen dan sedang berjalan menuju lift.


Rina menggelengkan kepalanya. Kali ini dia semakin yakin kalau Andre pasti sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya tadi.


"Kak An-dre." Napas Rina semakin memburu. "Ke-napa kamu ja-hat sekali? Dasar brengsek! Emh aah ...." Rina mengerang tidak jelas. Dia sudah tidak tahan ingin segera dimasuki.


Kenapa semakin lama aku tidak bisa menahannya? Rina merasa semakin tersiksa. Dia mulai meronta di dalam gendongan Andre.


Rina, pokoknya kamu harus segera menjadi milikku secepatnya. Tidak peduli aku harus menggunakan cara kotor seperti ini sekali pun. Andre berjalan memasuki lift yang tersedia di ruang basement tidak jauh dari tempat mobilnya dia parkir.


Ting. Pintu lift terbuka. Andre segera memasuki lift tersebut. Setelah masuk, dia menekan angka 5 di lantai mana unit apartemennya berada.


Rina terus mengerang dan meracau tidak jelas. Obat perangsang dosis tinggi itu benar-benar bisa membuatnya gila jika tidak segera dimasuki. Gadis itu sudah tidak tahan lagi.


Rina mengalungkan tangannya di leher jenjang Andre, lalu menciuminya. Gadis itu benar-benar tidak bisa lagi menahan diri.


Andre tertawa senang. "Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita akan segera sampai."


Ting. Pintu lift terbuka tepat di lantai 5. Seorang pria bertubuh jangkung mengenakan baju kaos serta celana joger berwarna abu-abu sedang berdiri di depan pintu lift. Kedua tangan pria itu dia masukkan ke dalam saku celananya. Terlihat sangat cool.


Andre tidak memperdulikan keberadaan pria itu. Dia lalu keluar dari dalam lift sambil menggendong Rina yang sedari tadi mengeluarkan suara-suara aneh, membuat pria bertubuh jangkung itu menatap mereka berdua dengan tatapan jijik.


"Kak Andre ... aah emh .... " Rina mengerang sambil menatap Andre dengan tatapan memelas. Berharap pria itu akan segera menolongnya dari rasa yang tengah menyiksa dirinya.


Mendengar suara Rina, pria bertubuh jangkung yang tidak lain adalah William, segera berbalik dan menatap punggung Andre dengan tatapan penuh kecurigaan.

__ADS_1


"Sabar Sayang, sabar. Sebentar lagi kita sampai," kata Andre.


Tit tet tit. Andre mulai menekan kunci sandi apartemennya. Namun sebelum pintunya sempat terbuka, tiba-tiba seseorang memegang pundak Andre dari belakang. Andre menoleh.


Bug! Bogem mentah mendarat di pipi pemuda itu. Hampir saja Andre menjatuhkan Rina dari gendongannya. Untungnya dia masih bisa menjaga keseimbangan.


"Hei, siapa kamu? Kenapa kamu memukulku?" Andre bertanya pada William.


"Siapa aku, itu tidaklah penting. Sekarang, lepaskan gadis itu!" bentak William, sambil menatap Andre dengan tatapan tajam.


"Kalau aku tidak mau bagaimana? Hah?!" Andre menurunkan Rina dari dalam gendongannya, lalu menantang William untuk berkelahi.


"Terpaksa aku harus memberikanmu pelajaran," jawab William.


"Coba saja kalau berani. Kkiaak!" Andre mulai menyerang William. Dalam hitungan detik saja, Andre sudah tumbang di tangan William. Jangan heran, asisten sekaligus pengawal pribadi seorang konglomerat besar seperti William, tentunya sudah dibekali dengan ilmu bela diri yang mumpuni. Dan jelas, William bukanlah tandingan Andre. Sepuluh orang Andre dan satu orang William juga masih belum bisa mengalahkan pria itu.


William segera menggendong Rina yang sudah terlihat setengah sadar menuju lift. Pria itu lalu membawa Rina naik ke apartemennya yang berada di lantai 11.


Badannya panas sekali. Apa yang terjadi? Apa dia sedang sakit demam? William tidak tahu kalau Rina sedang dalam pengaruh obat perangsang dosis tinggi.


Beberapa saat kemudian. Sampailah mereka di dalam apartemen William. William membaringkan tubuh Rina di atas sofa, lalu berusaha untuk menyadarkan gadis itu.


"Hei, Rina, bangun. Kamu kenapa?" William bertanya sambil menepuk pelan pipi Rina.


"Kak Will, emh ... tolong aku." Rina mengerang sambil menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan di atas sofa.


"Kamu masih sadar. Sebenarnya kamu kenap-" Ucapan William seketika terhenti ketika Rina tiba-tiba membungkam bibirnya dengan bibir.


William membulatkan matanya. Dia sangat terkejut dengan perlakuan Rina.


Apa jangan-jangan anak muda tadi sudah memberikan Rina obat perangsang? Kenapa dia begitu agresif sekali?


Rina terus ******* bibir William dengan buas, tapi tiba-tiba William mendorongnya karena pria itu tahu kalau apa yang Rina lakukan padanya itu tidaklah benar.


"Hentikan, Rina!" William berjalan mundur menjauh beberapa meter dari Rina.


"Kak Will, tolong aku. Aku sudah tidak tahan. Emh ...." Rina menatap William dengan tatapan memelas, lalu segera bangun dan duduk di atas sofa sambil melucuti bajunya sendiri, hingga nampaklah sesuatu yang sangat menggoda iman bagi seorang William.


William menelan salivanya. Dia begitu terkejut melihat ukuran milik Rina. Pria itu segera memalingkan wajahnya karena malu. Dia baru sadar, jika ternyata gadis remaja yang dulu menyatakan cinta padanya kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa.

__ADS_1


__ADS_2