Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Scene


__ADS_3

"Ada apa?" William bertanya saat melihat tingkah malu-malu Rina yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.


Rina menggeleng. Dia malu menjawab pertanyaan William.


Sebenarnya tanpa Rina jawab pun, William sudah tahu jawabannya, tapi dia merasa sangat gemas melihat wajah kekasihnya yang seperti itu.


Begitu adegan yang membuat Rina canggung usai, barulah gadis itu berani mengangkat kepalanya dan melihat kembali ke arah layar.


Dengan pandangan yang tetap fokus menatap layar, tangan Rina mencoba meraih botol minumannya. Tapi tanpa sengaja dia malah menyentuh punggung tangan William.


"Mm-maaf, Kak Will. Ak-aku tidak sengaja." Usai melihat adegan hot tadi secara sekilas, tiba-tiba Rina merasa sangat canggung dan malu-malu pada William.


William tersenyum, lalu menggenggam tangan Rina yang tadinya tidak sengaja menyentuh punggung tangannya.


Merasa tangannya digenggam oleh William, Rina pun menatap ke arah pria itu. Dan ternyata, William juga tengah menatapnya sambil masih tersenyum.


Aduh, sepertinya kak Will salah paham padaku. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyentuh tangannya tadi, aku hanya ingin mengambil minumanku saja, aku haus. Sungguh.


Seperti apa pun Rina memberikan penjelasan dalam batinnya, William tidak akan pernah bisa mendengarnya, karena pria itu bukanlah cenayang yang bisa membaca pikiran seseorang. Justru pria itu menganggap kalau kekasihnya sedang memberikan kode padanya.


William menatap Rina lekat-lekat, iris mata keduanya bertemu dan mereka berdua pun saling tatap. Lama kelamaan wajah William semakin mendekat ke arah wajah Rina. Melihat William yang sepertinya ingin menciumnya, Rina pun memutuskan untuk memejamkan matanya dengan pelan, seiring dengan semakin mendekatnya wajah William ke arah wajahnya.


Cup. Bibir keduanya saling menyatu. Hanya saling menempel satu sama lain tanpa adanya pergerakan tambahan sedikit pun. Cukup lama bibir keduanya saling bertemu, dan itu cukup untuk membuat jantung keduanya berdetak tidak karuan.


Ini bukan kali pertama mereka berciuman. Sebelumnya mereka memang sudah pernah berciuman saat Rina dalam pengaruh obat, tapi itu sebelum mereka terikat dalam satu hubungan yang dinamakan pacaran. Namun, setelah mereka berdua resmi menjadi sepasang kekasih, ini adalah kali pertamanya.


Setelah William melepaskan ciumannya, keduanya pun sama-sama membuka mata secara perlahan. Sejenak sepasang kekasih itu saling tatap. William tersenyum lalu kembali pada posisi duduknya semula.


Sebelum kembali menatap layar, William terlebih dahulu mencium punggung tangan kekasihnya lalu mengenggamnya dengan erat.

__ADS_1


Wajah Rina semakin memerah seperti tomat mendapat perlakuan manis seperti itu dari William. Ini adalah kencan pertama mereka. Rina tidak pernah menyangka kalau ternyata William adalah laki-laki yang romantis. Awalnya Rina berpikir kalau William itu adalah laki-laki yang kaku, ternyata anggapannya pada William selama ini salah besar.


Karena Rina masih merasa salah tingkah, gadis itu pun terburu-buru meraih botol minumannya lalu menyesap isinya banyak-banyak.


Lain kali aku tidak mau lagi salah sentuh. Aku takut kak William salah paham lagi seperti tadi.


...****************...


Tidak terasa sudah 1 jam lebih William dan Rina duduk di dalam bioskop. Film yang mereka tonton sudah berakhir, dan sekarang mereka sudah meninggalkan tempat tersebut.


"Aku merasa sangat lapar, Sayang, kamu mau makan siang apa?" tanya William. Dia dan Rina berjalan berdampingan sambil pria itu menggenggam tangan kekasihnya dengan erat.


"Terserah Kak Willaim saja." Rina menjawab dengan malu-malu. Sepertinya adegan ciuman mereka berdua tadi cukup membuat gadis itu salah tingkah.


William tersenyum tipis. Lalu menarik tangan Rina menuju restoran jepang yang berada tidak jauh dari tempat mereka berjalan saat itu.


.


.


"Yang tadi itu filmnya sangat bagus 'kan Sayang? Apa kamu menyukainya?" William bertanya saat dirinya mulai melajukan mobilnya keluar dari parkiran mall, dan pertanyaannya itu dijawab anggukan oleh Rina.


"Lain kali aku masih ingin mengajakmu untuk menonton satu film lagi. Aku masih ada satu film lagi yang ingin aku tonton bersamamu," kata William.


"Film apa Kak Will? Jangan sampai filmnya ada adegan dewasanya lagi seperti tadi, aku tidak suka." Spontan Rina menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak sadar telah mengucapkan kalimat tersebut.


Meski pun sangat wajar, tapi gadis itu tetap saja merasa malu. Rina ingin terlihat polos di mata William, tapi kelakuannya beberapa waktu lalu menyatakan kalau dirinya tidak lah sepolos itu.


Mendengar Rina membahas mengenai hal itu, William pun menatap ke arah kekasihnya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau ada adegan dewasanya Sayang? Bukankah kita berdua juga sudah sama-sama dewasa. Jadi, untuk apa malu-malu? Lagi pula ... kita berdua 'kan-"


"Stop! Jangan bicara lagi." Rina tiba-tiba memotong ucapan William. Mengingat kejadian itu saja membuatnya sangat malu, apalagi jika William ingin membahas mengenai hal sensitif tersebut.


Rina tidak mau membahasnya, dia merasa sangat malu. Mau disimpan di mana harga dirinya? Apalagi ketika mengingat dirinya memohon-mohon agar William segera memasukinya. Benar-benar kejadian yang sangat memalukan.


Seandainya saja aku bisa mengalami Transient Global Amnesia, aku ingin sekali melupakan semua kejadian memalukan yang terjadi waktu itu.


(Note : Trasient Global Amnesia, pengidap amnesia jenis ini biasanya akan mengalami hilang ingatan pada kejadian tertentu secara total, walaupun kejadian tersebut baru saja dialaminya.)


William terus melajukan mobilnya. Namun, saat berada di pertigaan, William mengambil jalan yang lain, bukan jalan menuju rumah Rina.


"Kak Will, kita mau ke mana? Ini 'kan bukan jalan pulang menuju rumahku."


"Sayang, apa kamu lupa? Ini jalan menuju apartemenku," jawab William.


Ap-apa? Apartemen? Untuk apa kak William mau membawaku ke apartemennya? Apa jangan-jangan dia mau ...?


Ah, tidak mungkin. Kak William bukan laki-laki seperti itu. Dia tidak mungkin membawaku ke apartemennya hanya untuk melakukan hal yang tidak-tidak.


Rina please ... jangan over thingking. Kak William bukan laki-laki seperti itu, kamu harus yakin akan hal itu. Kamu ingat 'kan kejadian waktu itu, jika dia memang ingin mengambil keuntungan, sudah pasti dia melakukannya waktu itu.


Rina berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, lalu berprasangka baik tentang William.


Gadis itu menoleh dan menatap wajah kekasihnya. Sebaiknya aku bertanya langsung padanya, kenapa kami harus pergi ke apartemennya setelah pulang dari bioskop? Siapa tahu dia memiliki alasan tersendiri.


"Kak Will, untuk apa kita pergi ke apartemenmu, dan kenapa kamu tidak langsung mengantarku pulang ke rumah?" Rina memberanikan diri untuk bertanya.


"Ada berkas yang ingin aku ambil di sana Sayang, tuan Kaaran yang memintanya." William menjawab sambil tetap fokus melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Oh." Rina mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Tuh 'kan. Aku saja yang over thingking.


__ADS_2