Anak Genius : Zoe & Zack

Anak Genius : Zoe & Zack
Keluarga Robot


__ADS_3

Hari sabtu telah tiba. Itu artinya, hari libur juga telah tiba. Kaaran bersama Rania, Zoe, Zack, beserta Robot Papa sedang melakukan syuting untuk pembuatan video klip untuk lagu terbaru Zoe.


Sebenarnya mereka berlima melakukan syuting bukan hanya hari ini saja, sebelumnya mereka juga sudah pernah melakukan syuting untuk kebutuhan beberapa adegan saat Kaaran dan Rania sedang membacakan dongeng sebelum menidurkan kedua buah hatinya. Ada juga adegan saat Kaaran dan Rania mengantar kedua anaknya itu pergi ke sekolah.


Setelah melewati proses pengambilan video selama berjam-jam, akhirnya syutingnya pun selesai.


"Terima kasih. Zoe sayang kalian semua." Zoe memeluk mama dan papanya secara bergantian, kemudian memeluk Robot Papa, dan yang terakhir memeluk adik kembarnya, Zack.


"Terima kasih Adik, berkat robot lebah ciptaanmu kita tidak perlu lagi capek-capek menyewa juru kamera untuk merekam semua adegannya." Zoe tertawa setelah mengucapkan kalimat itu.


"Sama-sama Kakak Zoe. Bukankah salah satu manfaat teknologi adalah untuk memudahkan aktifitas manusia." Zack berkata setelah Zoe melepas pelukan padanya.


"Iya, Dik. Kamu benar."


"Anak-anak, sudah waktunya makan malam. Ayo kita makan malam bersama sekarang. Bi Nining sudah menyiapkan makan malam spesial untuk kita semua," kata Rania.


"Baik, Mama."


"Karena tidak ada yang mengajakku untuk makan malam daging bersama, maka sebaiknya aku makan listrik sendirian," kata Robot Papa.


Semuanya tertawa mendengar candaan robot canggih tersebut. Robot Papa memang suka bercanda, sesuai dengan program yang dibuat oleh Zack saat merakitnya dulu. Hanya saja, di bab-bab sebelumnya, sebelum Autor hiatus selama 2 bulan, Author jarang menulis percakapan Robot Papa dengan tokoh yang lainnya.


"Robot Papa, kalau kami mengajakmu untuk makan daging, apa kamu akan ikut bergabung bersama kami di meja makan?" goda Rania.


Robot Papa terdiam sejenak, seperti seorang manusia yang sedang berpikir sebelum menjawab. "Mm ... kalau kalian juga mau aku ajak untuk makan listrik, kenapa tidak? Haha."


Yang Robot Papa maksud dengan makan listrik adalah mengisi dayanya. Itu pun dia lakukan 3 kali dalam sebulan.


"Jika kita masing-masing masih ingin tetap hidup, untuk apa membahayakan nyawa masing-masing?" Kali ini Kaaran yang angkat bicara.


"Benar juga. Aku masih ingin tetap hidup bersama kalian. Hehe." Robot Papa berkata sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, karena dia memang tidak bisa merasakan yang namanya gatal. ๐Ÿ˜…


"Kalau begitu, kalian berempat pergilah makan daging, aku ingin pergi makan listrik. Hehe," tambah Robot Papa sebelum memasuki ruangan pengisian dayanya.

__ADS_1


"Zack, apa sebaiknya kamu membuatkan pasangan untuk Robot Papa, seperti Papa dan Mama." Kaaran berkata sambil menunjuk dirinya bergantian dengan Rania.


"Kasihan dia, dia pasti kesepian saat makan listrik sendirian." Kaaran terkekeh setelah memberikan usulan tersebut pada putranya.


"Sepertinya itu ide bagus Papa, Zack sangat setuju. Kalau begitu, Zack akan membuatkan robot mama untuk menemani Robot Papa," ucap Zack lalu ikut terkekeh seperti papanya.


"Adik, jangan cuma buat robot mama saja yang kamu buat, sebaiknya kamu juga membuatkan keluarga robot yang utuh untuk Robot Papa," tambah Zoe, ikut mengemukakan pendapatnya.


"Kalian ini ada-ada saja, disaat lapar begini kalian malah membahas mengenai keluarga robot," kata Rania, sambil menggelengkan kepalanya.


"Jika mereka sudah menjadi keluarga yang utuh seperti kita, sebaiknya Papa Kaaran membuatkan rumah untuk mereka tinggali juga," tambah Rania.


Kaaran tertawa. "Ide bagus Sayang. Apa kamu malu jika keluarga kita kalah harmonis oleh keluarga robot itu nantinya?" Kaaran menggoda istrinya.


Selama ini Rania memang sering mengambek karena masalah yang tidak jelas, dan itu terkadang membuat Kaaran frustasi. Apalagi ketika Rania menolak memberikan jatah untuknya.


"Enak saja, siapa takut? Mereka itu hanya robot, bukan manusia. Mereka semua diatur oleh program, jadi mana bisa mengalami fase PMS yang terkadang membuat emosi seorang wanita tidak stabil." Rania berusaha membela diri sendiri.


"Yang kamu katakan ada benarnya juga Sayang. Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke meja makan. Perutku terasa sangat lapar membahas keluarga robot."


Keesokan harinya, minggu pagi.


William dan Rina pergi jalan-jalan berdua. Tentunya tanpa sepengetahuan siapa pun. Saat ini sepasang kekasih yang terpaut usia cukup jauh itu memang sengaja merahasiakan status baru mereka.


William melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terdekat.


"Kak Will, hari ini kita jadi menonton film dengan genre apa? Romance atau action?" tanya Rina yang sedang duduk di samping William.


"Kalau kita bisa memilih keduanya, kenapa tidak kita pilih saja gabungan dari keduanya Sayang?" ucap William.


"Iya juga ya," gumam Rina.


"Memangnya Kak Will punya referensi film bagus yang bergenre romance sekaligus action?" Rina kembali bertanya.

__ADS_1


"Tentu saja Sayang, kamu tenang saja. Aku sudah mencari informasinya di internet dan filmnya itu akan tayang di bioskop mulai hari ini," jawab William.


.


.


1 Jam Kemudian, di dalam Bioskop.


William dan Rina sedang duduk di kursi penonton bagian tengah sambil menunggu film pilihan William itu ditayangkan.


"Kak Will, filmnya tidak ada adegan sadis berdarah-darah begitu 'kan? Aku paling takut melihat adegan seperti itu, Kak," ucap Rina.


"Aku juga tidak tahu pasti Sayang, Aku 'kan juga belum pernah menonton filmnya. Yang jelas, kalau kamu takut melihat salah satu atau beberapa adegan filmnya, kamu bisa bersembunyi di sini." William berkata sambil tersenyum dan menepuk pelan pundaknya.


Beberapa menit kemudian, film yang mereka tunggu-tunggu akhirnya mulai ditayangkan juga. Dengan perasaan tegang, Rina mulai memasukkan popcorn ke dalam mulutnya. Apalagi saat melihat film itu dimulai dengan aksi kejar-kejaran yang dilakukan oleh beberapa orang laki-laki bertubuh kekar lengkap dengan senjata di tangannya masing-masing.


Para pria bertubuh kekar itu berlari mengejar seorang anak muda yang sedang terluka parah di bagian kepalanya. Tapi anak muda itu masih berusaha keras sekuat tenaganya untuk menyelamatkan diri dari segerombolan pria yang mengejarnya di tengah malam gelap gulita.


"Yang terluka parah itu pemeran utamanya 'kan Kak?" Rina bertanya sambil berbisik pada William.


"Iya, Sayang." William menjawab seraya ikut berbisik.


"Kasihan sekali dia Kak."


William tersenyum. "Ini 'kan hanya film Sayang, dia tidak benar-benar terluka kok."


"Iya Kak, aku tahu."


Rina kembali terdiam. Dia mulai menyaksikan saat pemeran utama dalam film tersebut diselamatkan oleh seorang gadis cantik.


Beberapa waktu kemudian, tibalah film yang mereka tonton itu di pertengahan. Pemeran utama pria dan wanita sudah resmi menjadi sepasang kekasih setelah sekian lama hidup satu atap, dan keduanya tengah melakukan adegan panas di atas tempat tidur si pemeran utama wanita.


Melihat hal itu, Rina menjadi malu dan salah tingkah. Dia bingung harus menyembunyikan wajahnya di bahu William atau pura-pura tidak melihat adegan film tersebut.

__ADS_1


Aduh, kenapa kak William memilih film yang seperti ini sih? Aku 'kan jadi malu. Batin Rina.


Bukan hanya adegan filmnya yang membuat Rina malu, tapi adegan itu juga mengingatkannya pada suatu kejadian memalukan yang terjadi beberapa bulan lalu di dalam apartemen William. Saat itu dirinya sedang dalam pengaruh obat pera**sang.


__ADS_2