
Sejak kejadian kemarin hubungan Teri dan Dylan kembali baik, bahkan para pelayan yang berkerja di Istana turut senang saat melihat Teri yang kembali datang ke Istana.
Dylan yang saat itu berada di ruang kerjanya dibuat diam saat dirinya kembali diingatkan dengan nasehat Teri yang memintanya untuk selalu berhati-hati jika ingin bertemu dengan Iris.
Walaupun masih terbilang muda namun entah kenapa Teri seperti wanita dewasa yang penuh wibawa beda sekali dengan Iris yang terlihat ramah dan juga hangat.
Kau jadi bingung memikirkan sifat mereka berdua.
Tok
Tok
Tok.
"Pangeran... Apa saya boleh masuk?" tanya Teri yang sedang berdiri didepan pintu kerja Dylan.
"Masuklah."
Pintu kembali terbuka menghadirkan sosok Teri yang sedang tersenyum tipis ke arahnya, walaupun banyak yang bilang bahwa Teri memiliki sifat yang begitu dingin, tapi entah kenapa jika dirinya yang melihat Teri secara langsung dirinya lebih mirip dengan wanita dewasa.
"Apa Pangeran ada waktu? Saya ingin mengajak anda untuk makan siang bersama," ajak Teri sambil tersenyum ramah.
Dylan langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Ya... Ayo kita makan siang bersama," jawab Dylan yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
...~*~...
Hari terus berlalu dan acara pembentukan negara sebentar lagi akan diadakan lebih tepatnya akan dimulai pada malam hari ini.
Semua persiapan sudah dilaksanakan jauh-jauh hari sebelum acara pembentukan negara dilaksanakan, dari dekorasi, hiburan, hidangan, bahkan kebersihan aula pun sudah dicek satu-satu.
Begitu juga dengan Teri yang dari pagi tadi sudah melakukan persiapan untuk menyambut hari besar ini, semua pelayannya sibuk membantu Teri dalam melakukan persiapan entah itu perawatan, pakaian, perhiasan, hingga penampilannya semuanya mereka lakukan dengan penuh kehati-hatian.
"Bagaiman Nona, apa anda puas dengan hasil kerja keras kami?" tanya Rita saat melihat penampilan Teri dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Cantik, aku suka, Terima kasih kalian sudah bekerja dengan sangat baik hari ini."
"Sama-sama Nona kepuasaan anda adalah bonus untuk kami," jawab Rita sambil tersenyum.
"Baiklah kalo begitu aku akan pergi sekarang."
...~*~...
Di lain sisi lebih tepatnya di Istana, Iris yang sedari tadi tiba di Istana, tanpa pikir panjang langsung berjalan ke ruang kerja Dylan, untuk mencari keberadaan Dylan di sana.
Brak!
__ADS_1
"Dylan!" pekik Iris saat dirinya secara langsung membuka pintu ruang kerja Dylan.
"Iris?"
Dylan sedikit terkejut saat melihat Iris yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang kerjanya, wajahnya yang terlihat ceria itu langsung berjalan ke arah Dylan yang sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen penting.
"Kau masih bekerja ya? Padahal kan ini adalah hari istimewa, kenapa kau masih bekerja?" tanya Iris tak suka.
Dylan hanya tersenyum mendengar ucapan Iris, "Tidak apa, lagian acaranya kan malam hari juga, masih ada waktu untuk ku menyelesaikan ini," jawab Dylan yang kembali fokus pada pekerjaannya.
"Ha... Kau ini masih saja ya... Menilai bahwa semua pekerjaan itu mudah," sahut Iris sebari melipat kedua tangannya didepan dada.
"Ya... Jika itu memang mudah, mau bagaimana lagi," Kekeh Dylan.
"Pangeran!"
Deg!
Mata Dylan langsung terbuka lebar saat dirinya mendengar ada suara Teri yang sedang memanggil dirinya.
Dengan cepat Dylan langsung menoleh ke depan ruang kerjanya, dan benar saja Teri sudah ada di sana berdiri dengan ekspresi wajah yang begitu datar.
"Nona Ronan?"
"Saya sungguh tidak tau bahwa Nona Kalika ada di sini?" tanya Teri menatap wajah Iris.
"Ah... Nona Ronan, apa anda belum diberitahu oleh Pangeran, bahwa saya ini teman dekat Pangeran? Bukan hal aneh jika saya sering datang ke sini kan?"
"Owh ya?" balas Teri tersenyum, "Bahkan disaat Pangeran sudah memiliki pasangan pun anda juga sering datang?"
"Ya?"
"Teri!" Pekik Dylan yang langsung memukul meja kerjanya.
"Maaf Pangeran jika tindakan saya ini agak sedikit lancang, namun saya akan berterus terang pada anda atau pun pada Nona Kalika. bahwa saat ini saya begitu merasa tidak nyaman dengan kehadiran Nona Kalika di antara kita, walaupun dia teman dekat anda sekali pun!"
Brak!
Dylan berdiri dari tempat duduknya dengan wajah memerah menahan emosi, dirinya langsung berjalan mendatangi Teri, "Teri ayo kita bicara di luar," ajak Dylan menarik tangan Teri.
"Kenapa harus saya yang keluar? kenapa tidak Nona Kalika saja, apa karena Nona Kalika orang istimewa makanya anda tidak berani menyuruhnya keluar?" tanya Teri menatap tajam wajah Dylan.
Jantung Dylan langsung berdetak sangat kencang disaat dirinya melihat kedua mata Teri yang begitu berkaca-kaca.
Apakah saat ini Teri sudah cukup sabar menghadapi gosip yang sedang tersebar disekitar dirinya, dari Dylan yang berselingkuh, hubungan antara Iris dan Dylan, hingga kenyataan bahwa Dylan yang sering membawa masuk Iris ke ruangannya.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan Pangeran, saya sudah cukup paham melihat kedekatan kalian berdua," Teri berucap dengan nada yang begitu serak.
"Silahkan dilanjutkan, saya akan pergi sekarang."
Tidak mau berdebat lebih panjang lagi, akhirnya Teri memutuskan untuk membiarkan Dylan dan Iris bersama, sekarang dia sadar mau dibicarakan bagaimana pun Dylan pasti akan tetap kembali pada Iris, karena bagi Teri Dylan itu sangat menyayangi Iris bukan dirinya.
Dengan langkah yang begitu berat, Teri berjalan melewati lorong istana dengan air mata yang terus keluar, hatinya begitu sakit, menyadari bahwa tidak akan pernah ada tempat untuk dirinya di kehidupan Dylan.
Bahkan pada saat mereka awal bertemu pun semuanya pasti Dylan lakukan karena perintah dari ayahnya ataupun karena merasa kasihan pada dirinya bukan karena rasa suka.
"Kembali ke rumah!" perintah Teri saat dirinya sudah masuk ke dalam kereta kuda miliknya.
Walau terasa sakit tapi inilah yang terbaik untuk dirinya, mulai sekarang dia tidak akan percaya lagi dengan Dylan atau pun orang-orang yang selalu memuji hubungannya dengan Dylan.
Dia akan melupakan Dylan mulai saat ini, bahkan sikap hangat Dylan yang dulu pernah dia rasakan, walau terasa sakit namun ini adalah jalan terbaik untuk dirinya.
...~*~...
2 Minggu kemudian, setelah kejadian di Istana kemarin, Rita datang ke kamar Teri, dengan membawa beberapa surat kepada Teri yang saat itu sedang bersantai membaca sebuah buku.
"Jika itu undangan pergaulan kelas atas, maka tolak saja!"
"Astaga Nona! ini sudah ke sepuluh kalinya anda menolak undangan pergaulan kelas atas, jika yang ini anda tolak juga maka reputasi anda akan turun Nona!" pekik Rita dengan wajah memelas.
"Tolong lah Nona, paling tidak ada salah satu dari mereka yang anda terima, karena jika anda tidak mau menerimanya, maka mau tidak mau SAYA AKAN MELAPORKAN HAL INI PADA NYONYA!" pekik Rita yang sudah pasrah.
"Astaga Rita kau ini berisik sekali," balas Teri dengan malas.
"Baiklah, berikan mapan itu pada ku, akan ku pilih undangan mana yang akan ku terima."
"Ah... Benarkah? silahkan diliat Nona!" pekik Rita yang terlihat begitu senang.
Dengan wajah yang begitu malas Teri membaca semua asal dari surat itu. kebanyakan surat yang dia terima berasal dari pergaulan kelas atas, sisanya adalah balasan surat dari kakak sepupunya.
"Menjengkelkan, kenapa orang ini selalu mengirim surat tampa henti," gumam Teri menatap datar surat yang bersalah dari kakak sepupunya.
Dengan santainya Teri langsung melempar surat dari kakak sepupunya itu ke sembarang tempat yang membuat Rita langsung membesarkan kedua matanya, setelah surat itu terlempar Teri kembali melihat kumpulan surat itu setelah dirinya telah memisahkan beberapa surat yang penting dan tidak penting.
"Ini!"
"Ada apa Nona?" tanya Rita penasaran.
"Kenapa? Kenapa dia mengirim surat undangan pada ku?" tanya Rita bingung.
TBC
__ADS_1