
Di Istana, Dylan berjalan dengan sangat tenang menuju ruang makan dimana sudah ada Ragnar yang menunggunya di sana.
Brak!
Pintu ruang makan terbuka, Dylan dengan penuh rasa hormat langsung menundukkan kepalanya ke arah Ragnar yang sedang duduk di kursinya.
"Selamat malam Yang Mulia."
"Duduklah!" jawab Ragnar singkat.
Tanpa mau menolak Dylan langsung duduk di kursi yang dekat dengan Ragnar, mendapatkan anggota kerajaan sudah duduk di kursi mereka, para pelayan pun dengan sigap langsung menaruh menu makan malam untuk diberikan pada Dylan dan juga Ragnar.
"Ada perlu apa kau menemui ku Pangeran?" tanya Ragnar dengan tenang.
Suasana dimalam itu begitu tenang, yang terdengar hanyalah suara piring yang sedang bertabrakan dengan alat makan, serta pembicaraan anak dan ayah yang begitu canggung.
"Mengenai Putri_"
"Bukankah aku sudah angkat tangan mengenai masalah itu?" tanya Ragnar yang langsung memotong ucapan Dylan.
Dengan tubuh yang begitu kaku, Dylan hanya bisa menunduk saat Ragnar secara terang-terangan menunjukan bahwa dirinya sangat tidak suka dengan pembahasan ini.
"Aku sudah memberimu kebebasan untuk memilih calon Putri Mahkota Pangeran, lantas kenapa kau masih menanyai soal itu lagi?" tekan Ragnar.
"Maaf Yang Mulia, saya hanya sedikit bingung mengenai masalah ini."
"Bingung? Untuk apa kau bingung Pangeran, bukankah calon mu saat ini ada didepan mata? Lantas apa lagi yang kau bingung kan?" kekeh Ragnar.
Dylan hanya diam tanpa mau sedikit pun untuk bergerak, tertera sekali di wajah Ragnar bahwa saat ini dirinya sudah tidak peduli lagi dengan apa yang saat ini putranya lakukan.
Ragnar tidak bicara lagi, dirinya hanya diam sambil menyantap makan malamnya dengan tenang, sedangkan Dylan sama sekali tidak bisa mencerna makan malamnya dengan baik, karena kepikiran dengan masalah yang saat ini dia alami.
"Saya tidak memiliki rasa dengan Nona Kalika Yang Mulia," akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya yang kaku.
Ragnar langsung menghentikan acara makannya setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Dylan.
"Lantas jika kau tidak ada rasa dengan Nona Kalika, apakah kau akan mengadakan pesta dansa untuk pemilihan calon Putri Mahkota?" tanya Ragnar langsung.
Dylan hanya diam, "Apa kau tau saat ini usia mu sudah menginjak berapa Pangeran? Apa kau pikir memilih calon Putri Mahkota harus sesuai dengan selera mu Pangeran?"
Brak!
Sebuah pukulan yang begitu keras membuat seisi ruangan menjadi hening, Ragnar langsung menghembuskan nafas kasar saat melihat Dylan yang hanya bisa diam, tanpa mau membatah ucapannya.
"Pendidikan! Etika! Bakat! Serta Keterampilan! Itu semua adalah poin penting yang harus dimiliki oleh Calon Putri Mahkota! Bukan hanya cantik tapi dia juga harus punya otak! kenapa? ini semua diperhitungkan kan untuk bisa mengatasi masalah yang akan dia hadapi di Istana nanti!" tekan Ragnar dengan nafas yang menggebu-gebu.
"Apa kau pikir saat ini Nona Kalika! Sudah punya itu semua?" tanya Ragnar lagi.
"Aku tanya Pangeran!" tekan Ragnar.
__ADS_1
"Maaf Yang Mulia, masih sulit bagi saya untuk menjawab," jawab Dylan apa adanya.
Mendengar jawaban Dylan, Ragnar hanya bisa terkekeh dan kembali melanjutkan makan malamnya.
"Terserah apa yang mau kau lakukan Pangeran, aku sebagai ayah mu hanya bisa diam menunggu kabar baik dari mu," balas Ragnar tidak peduli.
Tangan Dylan langsung terkepal kuat mendengar jawaban dari Ragnar, apakah sampai sini saja ayahnya mau ikut campur dalam pemilihan pasangan untuk dirinya
"Yang Mulia, hati saya belum bisa berpindah dari Nona Ronan," sebuah suara yang begitu kecil namun mampu membuat Ragnar membeku.
"Mungkin saya sudah menjadi laki-laki pengecut yang dengan tega membuang tunangannya sendiri ke dalam keburukan, padahal belum tentu dia bersalah."
Tak ada balasan untuk Dylan, suasana yang begitu tenang membuat Ragnar hanya bisa terdiam mendengar Dylan mengeluarkan isi hatinya saat ini.
"Apakah salah Yang Mulia, bagi saya untuk mengambil kembali cinta pertama saya? Saya tau saya salah? Saya telah membuangnya? Saya sudah menuduhnya? Bahkan saya pun mengusirnya! Yang Mulia...." Dylan langsung menundukkan kepalanya menahan air matanya yang ingin keluar.
"Saya ingin dia kembali, karena hanya dia orang yang mampu membuat saya seperti ini!"
"JANGAN SERAKAH PANGERAN!"
Deg!
Mata Dylan langsung terbuka lebar mendengar suara Ragnar yang begitu tinggi meneriaki dirinya.
"Sejak kapan aku ini mengajari mu untuk serakah Pangeran? Sifat serakah adalah, sifat yang paling ku benci! Selain penuh ambisi, sifat itu juga bisa menyakiti orang lain dan juga diri kita sendiri Pangeran!"
"Maaf Yang Mulia! Saya sudah kelewatan," jawab Dylan yang langsung menundukkan kepalanya.
Brak!
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Pangeran, aku hanya ingin memberitahu mu, apa pun yang sudah kau perbuat, mau itu baik atau tidak, kau harus siap menanggung itu semua!"
"Saya mengerti Yang Mulia!"
Setelah kejadian itu Ragnar langsung beranjak dari kursinya, meninggalkan Dylan yang masih termenung di sana.
"Aku seperti laki-laki yang paling rendah, diantara banyak sampah!" ucap Dylan pada dirinya sendiri.
...~*~...
Besok paginya, disaat Regis sudah pergi untuk bekerja, Luna ibu Teri mendatangi Ana di kamar untuk mengajaknya pergi ke kuil suci.
"Kau sudah siap sayang."
"Iya," jawab Ana tersenyum.
Dengan sangat gembira, Ana mengandeng tangan Luna sampai keluar rumah dimana di sana sudah ada kereta kuda yang menunggu mereka.
Kuil suci? seperti namanya pasti di sana tempat yang paling suci dari yang lain, dan... Pasti di sana ada saintess, seorang anak dewa yang mendapatkan anugrah untuk bisa berbicara dengan dewa serta bisa menyembuhkan orang sakit.
__ADS_1
"Aku harus bisa bertemu dengan Saintees," gumam Ana sambil menatap ke arah luar.
Tak!
Tak!
Tak!
"Sayang!"
Suara dari langkah kaki kuda, membuat Ana sama sekali tidak bisa mendengar suara Luna yang sedang memanggil dirinya.
"Sayang! Sayang! Sayang!"
Deg!
Mati Ana langsung terbuka lebar, saat suara Luna berhasil memanggil dirinya, "Iya?"
Luna langsung tersenyum melihat wajah Ana yang terlihat berbeda dari biasanya, "Kenapa kau melamun? Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan nak?" tanya Luna tersenyum.
"Maaf, Saya hanya sedang terpesona dengan pemandangan diluar," jawab Ana cepat.
"Benarkah?" tanya Luna memastikan.
"Ya sudah kalo begitu, sebaiknya kau mulai bersiap nak, sebentar lagi kita akan sampai di kuil suci."
"Baik," balas Ana tersenyum.
Tidak lama kemudian, kereta kuda yang ditumpangi Ana serta Luna telah sampai di halaman utama kuil suci, hal pertama yang dia lihat di sana ialah pilar-pilar yang begitu besar mirip seperti sebuah museum, serta bunga-bunga dan pepohonan yang tersusun dengan sangat rapi di sana.
Ana mendaratkan kakinya dengan pelan dihalaman kuil suci, tidak lama kemudian sepasang laki-laki dan perempuan datang menghampiri dirinya serta Luna menggunakan pakaian resmi dari kuil suci.
"Selamat datang di kuil Suci Safar, Nyonya dan Nona Ronan," sapa laki-laki itu dengan hangat.
"Dari sini kami akan menuntut anda ke ruang doa, sebelum itu perkenalkan nama saya Siva dan ini rekan saya Marwah."
"Salam kenal, mohon bantuannya selama kami berada di kuil suci," balas Luna dengan ramah.
Ana pun ikut tersenyum ke arah Siva dan juga Marwah hingga sebuah tatapan penuh intimidasi dari Marwah membuat Teri seketika merasa kurang nayaman.
"Hmm?"
"Energinya tercampur."
Deg!
Mata Ana langsung terbuka lebar saat mendengar perkataan Marwah yang membuat dirinya menjadi panas dingin.
Apa mereka tau bahwa aku bukan Teri.
__ADS_1
TBC