Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
28


__ADS_3

Ana tidak tau siapa yang ada dihadapannya ini, sosok perempuan bertudung putih lengkap dengan baju yang dibalut dengan warna emas, walaupun Ana tidak bisa melihat dengan jelas wajah dari perempuan itu, namun dirinya tau bahwa perempuan itu sedang tersenyum ke arah dirinya, ditambah lagi dirinya bisa merasakan hawa yang begitu berbeda yang keluar dari tubuh perempuan itu.


"Apa maksud anda saya tidak bisa kembali?" tanya Ana langsung.


Perempuan itu hanya diam dengan tampang yang begitu tenang, "Tuan Sean tinggalkan kami berdua, ada sesuatu yang perlu saya bicarakan dengan nona ini."


"Baik!"


Sean pun langsung beranjak pergi dari hadapan Ana serta Saintees yang ada di sana, setelah kepergian Sean Saintees itu langsung berjalan mendekati Ana yang masih berdiri ditempat.


"Duduklah Nona, saya akan menceritakan alasan anda tidak bisa kembali," ucapnya pada Ana.


Tanpa menolak Ana pun langsung duduk di samping Saintees yang sedang berdiam diri menatap ke depan.


"Mungkin ini terdengar aneh bagi anda, sebuah wahyu baru saja turun dari benda suci yang telah kami jaga dengan sepenuh hati."


"Tanpa saja jelaskan pun, pasti anda sudah tau isi dari wahyu itu kan?" tanya Saintees dengan tersenyum.


"Ya.. Tuan Sean sudah menjelaskan pada saya," jawab Ana.


"Saya sudah melihat isi jiwa anda tadi, bahkan disaat anda merasa putus asa mencari keberadaan saya."


"Apa? Tunggu! Apa sebenarnya anda sudah tau bahwa dari tadi saya mencari keberadaan anda?"


Saintees itu tanpa ragu namun tidak lama kemudian dirinya langsung menganggukkan kepalanya, "Kenapa? Kenapa anda tidak mau menunjukan diri anda pada saya?" tanya Ana.


"Itu... Karena saya merasa ragu," jawabnya dengan tenang, "Di dunia ini banyak sekali orang-orang nakal yang tidak mau mendengar perintah dewa, bahkan banyak dari mereka yang melanggar dan itu termasuk dengan orang-orang yang dengan terpaksa ingin bertemu dengan saya."


"Maaf kan saya Nona, saya tidak mau bertemu dengan anda tadi, karena saya mengira bahwa anda merupakan salah satu dari mereka."


"Namun setelah saya mengutus Tuan Sean untuk menemui anda, sebuah cahya yang menyilaukan muncul dari jiwa anda."


"Cahaya? cahaya seperti apa?" tanya Ana penasaran.


"Cahaya yang berisikan wahyu dari dewa, Nona saya sudah tau semuanya, sebenarnya Anda ini bukan asli dari pemilik tubuh itu kan?" tanyanya tersenyum.


"Jika anda sudah tau, apakah anda bisa membawa saya pulang?" tanya Ana dengan semangat.


Kepala Saintees itu langsung menggeleng dengan sangat pelan, "Tidak, saya tidak bisa membawa anda pergi."


"Apa?"


"Hanya ada satu cara agar anda bisa kembali itu pun jika anda berhasil."

__ADS_1


"Apa? Cara apa itu?"


"Kematian!"


"Hah?"


"Hanya kematian yang bisa membawa anda kembali, karena anda ada disini disebabkan karena Kematian!"


"Apa?" Ana merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja Saintees itu katakan.


Bagai disambar petir, bahkan tubuhnya pun terasa membeku menyadari bahwa dirinya ada disini karena kematian.


"Apa maksud anda, saya ada di sini karena kematian? Apa ini maksudnya bahwa saya ditempat tinggal saya sudah sudah meninggal?" tanya Ana tak percaya.


Dengan sangat pelan Saintees itu menganggukkan kepalanya, yang membuat Ana seketika menjadi terdiam.


"Tidak mungkin..."


"Nona, Saya yakin turunnya wahyu saat itu pasti mempunyai maksud lain dengan kehadiran anda ada di dunia ini."


Ana tidak menjawab dia memilih untuk diam, mencerna semua kejadian yang selama ini dia alami, "Saya akan_"


"Sekarang... Saya paham kenapa saya tidak bisa kembali ke tempat tinggal saya," jawab Ana memotong ucapan Saintees.


Ana kembali diam dan Saintees juga masih


mendengarkan ucapan Ana, "Dia meminta pertolongan pada saya untuk membantunya dalam membersihkan namanya serta keluarganya, karena... Gara-gara dirinya orang tuanya yang tidak tau apa-apa ikut terseret."


"Ah..."


Suasana kembali hening Saintees pun tidak tau harus berkata apa. setelah dirinya mengetahui bahwa turunnya wahyu saat itu disebabkan oleh Ana dan Teri.


"Sepertinya memang sudah tidak ada cara untuk saya bisa kembali," kekeh Ana yang terlihat begitu sedih.


"Baiklah... Karena saya sudah tau apa tujuan hidup saya di sini, maka dari itu saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."


"Tunggu Nona! Apa maksud dari semangat anda ini?" tanya Saintees itu.


"Apa lagi, tentu saja membantu pemilik tubuh ini dalam membersihkan nama baiknya," balas Ana dengan tersenyum lebar.


Ana kembali terdiam senyumnya pun langsung menghilang digantikan dengan wajah datar, "Saya... Benar-benar akan membantu pemilik tubuh ini dalam mencari keadilan," kembali Ana diam dalam mencerna perkataannya, "saya berjanji akan menepati janji yang sudah kami buat waktu itu!" ucap Ana penuh percaya diri.


...~*~...

__ADS_1


Setelah selesai berbicara dengan Saintees, dirinya pun diantar kembali oleh Sean menuju ruang doa, dimana Luna masih menunggunya.


"Terima kasih sudah mau mengantar saya Tuan," ucap Ana tersenyum.


"Tidak masalah Nona."


Setelah sampai di ruang doa, Luna dengan cepat langsung menghampiri Ana, "Astaga sayang kau habis dari mana? Kenapa kau lama sekali baru muncul?" pekik Luna yang begitu khawatir.


"Tidak apa-apa bu, tadi saya tersesat saat ingin kembali, Untung saja ada Tuan Sean yang membantu saya dalam mencari jalan," balas Ana yang langsung melirik ke arah Sean.


"Benarkah? Wah... Terima kasih Tuan sudah mau mengantar anak saya ke sini."


"Tidak masalah Nyonya, kalo begitu saya izin pamit untuk kembali melanjutkan perkejaan saya."


"Iya Tuan, maaf sudah merepotkan anda," balas Luna yang langsung menundukkan badannya ke arah Sean.


Setelah Sean pergi, Ana dan Luna pun memutuskan untuk kembali pulang, kereta kuda yang tadi membawanya pun sudah menunggu mereka di luar.


"Sayang malam ini kau mau makan apa?" tanya Luna.


Ana hanya diam dengan matanya yang menatap ke depan, bahkan suara Luna pun hanya samar-samar dirinya dengar, didalam kepalanya Ana masih terus memikirkan ucapan yang Saintees tadi bilang.


Tidak ada jalan untuk anda kembali, kecuali kematian yang bisa membawa mu pulang.


"Sayang?" panggil Luna lagi.


"Iya?"


"Sayang apa kau sadar, seharian ini kau lebih banyak melamun, apa jangan-jangan kau tersesat juga karena melamun?" tanya Luna curiga.


"Hahaha maaf bu, saya hanya sedang banyak pikiran," jawab Ana terkekeh.


"Banyak pikiran? Sayang apa kau masih belum bisa melupakan Pangeran?" tanya Luna hati-hati.


"Iya?"


"Soalnya yang ibu tau, hanya Pangeran yang bisa membuat mu seperti ini."


Tidak tau harus berkata apa, Ana lebih memilih untuk tidak membalas perkataan Luna dari pada dia salah bicara lagi.


"Ibu sebaiknya kita membahas yang lain saja, saya sudah cukup lelah jika harus membahas Pangeran lagi," jawab Ana dengan ramah.


"Ah... Baiklah."

__ADS_1


TBC


__ADS_2