
Berbeda dengan tempat Iris, Di luar Istana Ana dibawa pergi oleh Dylan menuju taman istana yang dekat dengan ruang aula.
Tap
Tap
Tap
"Pangeran.... Anda mau membawa saya ke mana?" tanya Ana dengan tangannya yang masih dipegang oleh Dylan.
Dylan tidak menjawab, dirinya terus membawa Ana menuju taman istana, hingga mereka sampai disebuah gazebo yang berada cukup jauh dengan aula.
"Kau ingat tempat ini?" tanya Dylan sambil tersenyum.
Tempat ini? Ana tidak tau harus menjawab apa dia sama sekali tidak ingat ada tempat seperti ini, di waktu dia menulis cerita.
Sebuah pohon yang begitu besar mirip seperti pohon beringin berdiri dengan kokoh dihadapannya, dibawah pohon itu terdapat sungai yang dihiasi oleh bunga teratai, serta Gazebo yang terlihat tidak asing untuknya.
"Ayo."
Dylan melepas genggamannya dari tangan Ana, dirinya mengajak Ana untuk masuk kedalam gazebo.
Apa-apaan ini kenapa rasanya aku seperti sering ke sini.
"Kenapa? Kau tidak mau masuk?" tanya Dylan.
"Bukan seperti itu maksud saya Pangeran," jawab Ana langsung.
Dengan langkah yang pelan Ana masuk kedalam gazebo itu, di sana Dylan sudah menyiapkan sebuah kursi untuk dirinya bisa duduk.
"Terima kasih Pangeran," ucap Ana setelah dirinya duduk.
Dylan langsung tersenyum dirinya kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan Ana.
"Teri, perlu kau tau bahwa saat ini aku benar-benar senang melihat mu mau datang ke pesta ini, sesuai dengan apa yang aku harapkan," ucap Dylan sambil tersenyum.
Ana hanya diam dengan matanya yang terus menatap ke meja, dimana di sana hanya ada satu tanaman hias yang membuat Ana tertarik.
"Ha... Aku sungguh tidak menyangka bahwa, kau akan benar-benar datang."
Tangan Ana langsung terkepal kuat disaat Dylan berkata seperti itu, "Bukankah anda sendiri yang memberi perintah kepada saya untuk bisa datang ke pesta ini Pangeran?" tanya Ana.
Senyum Dylan kembali hilang disaat Ana lagi-lagi menunjukan wajah dinginnya pada, seolah-olah mengatakan bahwa saat ini dirinya tidak begitu menarik.
"Apa... Sebenarnya kau tidak mau datang ke sini?" tanya Dylan.
Tanpa berpikir pajang Ana langsung menganggukkan kepalanya, yang membuat Dylan kembali diam.
"Pria yang bersama mu tadi, apakah kau memiliki hubungan spesial dengannya?" tanya Dylan langsung, yang membuat Ana seketika langsung terdiam.
"Sepertinya pertanyaan anda tidak perlu saya jawab Pangeran, karena mau saya punya punya hubungan atau tidak dengan pria itu, semua itu bukanlah urusan anda Pangeran," jawab Ana, yang langsung membuat Dylan terdiam.
"Dibanding anda membahas Pria yang berjalan dengan saya, lebih baik anda menjawab pertanyaan saya, Pangeran kenapa anda mau berjalan bersama dengan saya? yang merupakan mantan tunangan anda ini?"
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Dylan yang mulai tidak nyaman dengan ucapan Ana.
__ADS_1
"Apa yang sudah saya katakan ini salah? Saya hanya ingin tau alasan anda memperlakukan saya seperti ini Pangeran, bukankah ini terlihat aneh, seorang Pangeran Homounculus bertemu kembali dengan matan tunangannya yang telah diusir dari ibu Kota."
"Ana!"
"Pangeran apa tidak apa-apa anda membawa saya seperti ini? Disaat Nona Kalika yang merupakan calon dari Putri Mahkota sedang berada di dalam aula."
"Bisakah kita tidak membicarakan orang lain di sini?" tanya Dylan yang mulai emosi.
"Maafkan saya Pangeran, saya hanya merasa kasian dengan Nona Kalika yang sudah anda tinggal di aula tadi."
Dengan mencoba menahan emosinya, Dylan menghembuskan nafas kasar yang membuat Ana sedikit bingung.
"Tidak mudah bagi ku untuk bisa bertemu dengan mu lagi Teri, apa lagi saat ini kau semakin jauh dari ku."
Ana masih diam mendengar ucapan Dylan, tangan Dylan secara pelan mendarat ke atas meja yang membuat Ana langsung terfokus ke arahnya.
"Apa kau tidak merindukan suasana seperti ini?" tanya Dylan tiba-tiba.
"Suasana?"
"Anda tidak pergi latihan lagi ya Pangeran?"
Dylan yang saat itu berusia 14 tahun langsung menolehkan kepalanya ke arah Teri yang baru saja datang.
"Bukannya aku tidak mau latihan, hanya saja saat ini aku sedang istirahat."
"Hmm Istirahat?"
Buk!
"Apa yang kau lakukan?"
"Pangeran... Apa setelah kita menikah nanti, penderitaan ini akan berakhir?"
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"
Dengan kepala yang menunduk Teri mencoba untuk menahan air matanya yang ingin sekali keluar, rasanya dia ingin sekali mengadu pada Dylan betapa beratnya untuk dirinya bisa belajar peraturan-peraturan kerajaan.
"Hah... Pangeran bolehkan saya sedikit merengek pada anda?" tanya Teri dengan kepalanya yang dia sandarkan pada bahu Dylan.
"Saya hanya butuh sandaran untuk bisa melepaskan rasa lelah ini."
Deg!
Mata Ana langsung berkedip dengan kencang disaat ingatan Teri kembali dia rasakan, sekarang Ana tau kenapa tempat ini terlihat tidak asing untuknya.
Karena disinilah tempat Dylan dan Teri sering bertemu, mengingat itu membuat nafas Ana seketika menjadi tidak teratur.
"Teri apa kau baik-baik saja?" tanya Dylan saat dirinya melihat ada yang aneh pada diri Ana.
"Iya?"
Tubuh Ana langsung membeku saat kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain, yang membuat suasana di sana semakin dibuat canggung.
Duar!
__ADS_1
Suara petir yang begitu kuat menyambar, bersamaan dengan hujan yang begitu deras, membuat Ana merasa sedikit khawatir dengan keadaan jalan yang akan dia lalui nanti.
"Apa kau takut tidak bisa Pulang?" tanya Dylan.
"Iya, karena saya sudah bilang pada orang tua saya, bahwa saya akan pulang setelah acara selesai."
"Begitu, tapi melihat keadaan cuaca sekarang, sangat sulit untuk mu bisa pulang."
Dylan kembali menoleh ke arah Ana, "Apa kau tidak mau menginap saja? Aku akan menyuruh para pelayan menyiapkan satu kamar tidur untuk mu."
Dengan kepala yang sedikit menunduk Ana mengucapkan terima kasih pada Dylan yang mau menerima ya.
"Terima kasih atas tawaran anda Pangeran."
Dylan hanya tersenyum, tangannya kembali menghampiri tangan Ana yang ada di atas meja, kali ini tangannya digenggam kuat oleh Dylan.
"Teri... Aku benar-benar senang kau ada di sini."
Ana hanya diam, entah kenapa dirinya merasa bersalah telah menipu Dylan yang menganggap dirinya sebagai Teri.
"Menurut mu, apakah salah jika aku meminta mu untuk kembali lagi seperti dulu?"
"Apa?"
"Aku masih belum bisa melupakan mu Teri."
Deg!
Lepaskan tangan itu Ana!
Dia itu jahat!
Deg!
Dengan cepat Ana menarik tangannya yang sedang disentuh oleh Dylan nafasnya langsung naik turun, disaat dirinya seperti merasakan ada bisikan dari Teri.
"Teri ada apa?"
Pergi dari sana Ana!
Deg!
Lagi-lagi Ana mendengar suara Teri, kepalanya langsung menoleh kesana-kemari untuk mencari keberadaan Teri.
"Teri ada apa? Apa kau baik-baik saja?"
Deg!
Dengan cepat Ana berdiri dari duduknya, kakinya langsung mendur kebelakang, disaat Dylan lagi-lagi ingin menyentuh tangannya.
"Teri?"
"Maaf Pangeran, saya harus pergi sekarang."
Dengan langkah yang terburu-buru Ana pergi dari hadapan Dylan dengan kondisi cuaca yang sedang hujan deras.
__ADS_1
TBC