
Sebelum Ana dan Siva pergi dari wilayah kaum Elf, jauh-jauh hari Ana sudah membuat rencana memang untuk bisa keluar dari wilayah ini.
Setiap hari Ana melatih Siva dalam melatih mana serta cara yang benar untuk bisa terbang, walau para Elf melihat mereka seperti sedang bermain, namun hal itu sangat berbeda dengan apa yang saat ini Ana lakukan.
"Bagus Siva, sekarang... Tebas kayu ini disaat aku ingin melemparnya!"
Dengan patuh Siva langsung menganggukkan kepalanya, Ana mulai melempar tinggi kayu itu, hingga Siva dengan cepat terbang ke arah kayu itu dan mulai menebasnya dengan ekornya yang tajam.
"Hebat Siva..."
"Kyu~"
Hari terus berlalu, Ana terus melatih Siva dengan giat dan itu semua sama sekali tidak membuat para Elf yang melihat mereka merasa curiga, hingga tibalah bagi mereka untuk memulai balas dendam.
"Kau sudah cukup kuat Siva," ucap Ana sambil mengelus dagu Siva yang keras.
"Apa kau siap untuk pergi jauh!"
Dengan semangat Siva langsung berteriak dihadapan Ana, yang membuat Ana langsung tersenyum lebar.
"Baiklah ayo kita pergi sekarang!" pekik Ana yang langsung duduk di atas punggung Siva.
Dengan percaya diri, Siva mulai membentak kan sayapnya yang membuat beberapa angin menyapu kuat diri mereka.
"Ayo!"
Syut.
Dengan sekali ayunan Siva sudah bisa terbang meninggalkan tempat mereka tinggal, serta wilayah kaum Elf yang saat itu sedang mereka lewati.
Brak!
Melihat ada bayangan yang cukup besar lewat di atas mereka membuat beberapa Elf seketika langsung dibuat shock, dengan kehadiran Siva yang baru saja terbang melewati mereka.
"Nona Siva!"
"Itu bukan Nona Siva saja, tapi di sana juga ada Ratu Achilles!"
"Apa?" pekik salah satu Elf yang ada di sana.
"Mau ke mana mereka?"
"Hey! Bukankah mereka sudah terbang cukup jauh?"
"KALIAN!" Pekik salah satu Elf di sana, yang membuat para Elf di sana langsung menoleh ke arahnya.
"Apa kalian sudah bodoh hah? Mereka itu bukan sedang jalan-jalan, tapi mereka sedang melarikan diri!"
"Apa?"
"Mereka itu sedang kabur! Cepat laporkan hal ini pada Yang Mulia," pekiknya yang membuat beberapa Elf di sana langsung menjadi heboh.
"Sisanya! Kejar Nona Siva dan Yang Mulia Ratu Achilles Sekarang! Kita harus buat Nona Siva dan Ratu Achilles kembali, sebelum perang antar Homounculus kembali terulang!"
"BAIK!" jawab mereka serempak, yang langsung beranjak pergi untuk mengejar Siva dan juga Ana.
...~*~...
Angin kencang menyapu kuat wajah mereka saat Ana dan Siva sudah terbang cukup jauh meninggalkan wilayah Elf, wajah penuh datar dan tangan yang terkepal kuat, kini Ana mulai bertekad akan menyerang Wilayah Homounculus sendirian dengan bantuan Siva anak dari Tessia.
"Siva kita sudah mau sampai."
"Apa ibu baik-baik saja?"
__ADS_1
Dengan mata terpejam Ana menghembuskan nafas kasar, "Iya... Aku tidak pernah sebaik ini," jawab Ana yang langsung menatap tajam ke depan.
"Siva, setelah sampai nanti, kau harus menghembuskan nafas api mu ke kumpulan manusia di sana."
"Baik."
"Karena... Karena manusia itulah yang telah membunuh Tessia ibu kandung mu!"
Deg!
Jantung Ana semakin kuat berdetak, kini Ana mulai merasakan sensasi aneh dari tubuhnya, apakah seperti ini rasanya? Jika balas dendam yang selama ini dia pendam akan segera tersalurkan.
"SEKARANG SIVA!"
Dengan sekali semburan Siva sudah mengeluarkan nafas apinya, yang mengakibatkan beberapa rumah di sana menjadi terbakar, termasuk para warga yang mulai berteriak ketakutan.
Byur
Lagi-lagi Siva menyemburkan nafas apinya, teriakan dari para warga yang meminta pertolongan terus terdengar ditelinganya, namun dirinya tetap tidak peduli dengan suara itu.
"Siva terbang ke sana!" perintah Ana menunjuk pada sebuah bangunan istana milik negara Homounculus.
Dengan sekali melihat saja Siva sudah mengerti dengan pelan dirinya langsung meninggikan kembali badannya untuk bisa terbang secara bebas menuju istana Homounculus.
"Tolong! Tolong!"
"Ibu... Ibu..."
"Tolong, apa kalian ada melihat anak ku?"
"Ibu..."
Asap hitam serta beberapa api yang masih terus menyala, membuat pemandangan di sana menjadi sedikit terganggu, bahkan suara anak kecil yang meminta pertolongan pun tidak membuat Ana merasa sedikit kasian sekalipun.
Api semakin membesar, membuat asap hitam itu semakin cepat menguasai udara yang ada di sana, dari jauh para bangsawan serta kelurga kaisar yang melihat kejadian itu pun dibuat terkejut dengan kehebohan yang telah dibuat oleh Ana dan juga Siva.
"Bunuh naga dan manusia itu sekarang!"
"Baik Yang Mulia!"
Para pasukan Homounculus mulai berbaris untuk melindungi istana kerjaan mereka, dari banyaknya pasukan di sana, sebagian dari mereka ada yang mulai bersiap untuk melontarkan anak panah ke arah Siva yang sudah terbang mendekat ke arah mereka.
"Bahkan mereka sama sekali tidak ada yang mau menolong rakyatnya yang sedang berteriak meminta pertolongan."
"Ibu?" panggil Siva tiba-tiba.
Senyum licik terbit dibibir Ana, yang membuat dirinya semakin bersemangat untuk menyerang pasukan Homounculus.
"Siva bawa aku ke menara yang ada di sana, sisanya kau bereskan orang-orang yang menganggu di luar."
"Baik ibu."
Dengan sekali kibasan, Siva kembali meninggikan badannya untuk bisa membawa tubuh Ana menuju menara tertinggi yang ada di istana Homounculus.
Syuut
Perang
"Ibu!"
"Aku Baik-baik saja Siva," jawab Ana langsung.
Mata Ana langsung berubah tajam saat sebuah anak panah secara tiba-tiba muncul menyerang dirinya, dengan tatapan yang begitu dingin Ana langsung melirik ke arah pasukan Homounculus yang tadi telah melemparkan anak panah ke arahnya.
__ADS_1
"Siva bereskan orang yang telah menganggu dibawah!"
Mendapatkan perintah dari Ana tentu saja Siva langsung menurutinya, sebuah semburan api kembali menyerang mereka yang membuat beberapa pasukan Homounculus menjadi panik akibat semburan api yang dikeluarkan Siva.
"AGH!!!"
"TOLONG!
"AGH!!!"
Sebuah teriakan dari pasukan Homounculus yang terkena semburan api dari Siva, seperti sebuah nyanyian merdu untuk Ana dengar.
"Bagus Siva," Sahut Ana yang langsung menepuk pulan kepala Siva.
Mendapatkan pujian dari Ana tentu saja dirinya merasa senang, kini Siva kembali mengayunkan sayapnya menuju sebuah menara tertinggi yang ada di istana Homounculus.
Brak.
Ana mendaratkan kakinya di balkon menara itu dengan Siva yang saat itu masih melayang di udara.
"Baiklah Siva kau bisa pergi sekarang, basmi semua manusia yang ada diluar, untuk yang didalam biar aku saja."
"Apa ibu yakin?"
Dengan penuh percaya diri Ana langsung menganggukkan kepalanya, "Jika ibu mengalami kesulitan, segeralah panggil aku," ucap Siva yang langsung dibalas Ana dengan senyuman hangat.
"Tentu saja, kalo begitu pergilah sekarang."
"Iya," jawab Siva dengan senang.
Setelah melihat Ana yang sudah pergi meninggalkan dirinya, Siva pun ikut pergi dari sana, diluar sudah begitu banyak pasukan Homounculus yang telah bersiap ingin menyerangnya.
Berbeda dengan diluar, didalam istana Homounculus Ana sama sekali tidak menemukan prajurit Homounculus sekalipun, sepanjang lorong yang dia lalui semuanya terlihat begitu sepi dan sunyi, bahkan semua ruangan pun terlihat begitu kosong.
Brak!
"Ini juga kosong, lalu ada dimana sebenarnya mereka?"
Tak
Tak
Tak.
"Lama tidak berjumpa."
Deg!
Mata Ana langsung terbuka lebar, saat dirinya mendengarkan suara yang tidak asing dibelakang tubuhnya.
Shut!
Dengan cepat Ana langsung membelikan badannya ke belakang untuk melihat siapa yang telah mengajaknya berbicara.
"Kau!"
"4 tahun tidak bertemu, ternyata kau sekarang tumbuh menjadi gadis yang cantik ya?"
"Yang mulia Ratu Achilles."
"Tutup mulut kotor mu itu!"
TBC
__ADS_1