Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
25


__ADS_3

Tidak ingin anaknya mendapatkan penderitaan yang cukup berat, Regis ayah dari Teri terus memohon pada Ragnar Kaisar Homounculus agar meringankan hukuman yang telah pangeran Homounculus berikan.


"Tolong Yang Mulia, bukti atas tuduhan Nona Kalika terhadap putri saya belum terlihat jelas, maka dari itu saya memohon pada anda untuk keringanan hukuman yang sedang anak saya jalankan."


Ragnar terdiam menatap wajah penuh keputusan dari Regis, tak lama kemudian matanya kembali menoleh ke arah Dylan yang hanya diam menatap wajah Regis.


"Apapun persyaratannya pasti akan saya turuti demi anak saya bisa terbebas dari hukuman mematikan ini Yang Mulia."


Regis langsung bersujud dihadapan Ragnar sambil terus memohon agar Teri bisa terbebas dari hukuman yang sedang menjeratnya.


"Apapun? Apa... Omongan mu ini bisa ku percaya Tuan Duke?" tanya Dylan dengan mata menatap tajam wajah Regis.


"Ya. Pangeran, apapun."


"Kalo begitu. bagaimana dengan jabatan mu sekarang?"


"Apa?"


"Bukankah tadi kau bilang, bahwa kau akan bersedia melakukan apapun demi putri mu bisa terbebas?" tanya Dylan, Regis langsung diam mendengar tawaran dari Dylan.


"Pangeran! Cukup! Kau Sudah-"


"Tidak Yang Mulia!" jawab Regis yang langsung memotong ucapan dari Ragnar.


"Yang dikatakan Pangeran itu benar, demi kebebasan putri saya, maka saya rela menyerahkan jabatan saya sebagai ketua administrasi Kekaisaran ini pada orang pilihan dari Yang Mulia."


"Tuan Duke!" pekik Ragnar tak percaya dengan apa yang dikatakan Regis.


Tidak peduli dengan teriakan Ragnar, Regis tanpa pikir pajang langsung melepas semua lencana yang ada pada seragamnya, dengan tatapan tajam Regis menatap wajah Dylan dan juga Ragnar yang sedang menampilkan wajah datar tanpa ekspres.


"Saya sudah menuruti semua perintah anda Pangeran, sekarang bebaskan putri saya sekarang!"


...~*~...


Disisi lain lebih tempatnya penjara bawah tanah Teri hanya bisa termenung menunggu waktu penghukuman dirinya dilaksanakan, Terkurung selama 5 hari ditempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, membuat Teri merasa ingin mati saja karena harus menanggung semua perbuatan yang tidak seharusnya dia rasakan.


Bahkan matahari pun enggan menunjukan dirinya dihadapan Teri yang begitu menyedihkan.


"Aku benci mereka semua!"


Prang!


Pintu jeruji besi yang mengurung dirinya telah terbuka, menampilkan sosok Luna yang langsung berlari mendatangi Teri.

__ADS_1


"Nak! Kita pulang sekarang, sekarang kau sudah bebas," ucap Luna sambil memeluk erat tubuh Teri.


Dengan keadaan yang masih linglung Teri dibawah keluar dari penjara bahwa tanah ditemani oleh kedua orang tuanya serta para prajurit yang melindungi mereka.


Setelah mereka sampai diluar, sebuah cahaya matahari yang begitu menyilaukan menyerang dirinya, Teri mengedipkan matanya saat cahaya matahari kala itu menganggu penglihatannya.


Disaat penglihatannya kembali normal, mata Teri langsung terbuka lebar mantap ke arah luar dimana banyak para warga ataupun kelurga bangsawan menyoroti dirinya serta kedua orangtuanya saat mereka baru saja keluar dari penjara bawah tanah.


"Pergi kau jauh-jauh!"


"Jangan kembali lagi!"


"Dasar Pembunuh!"


"Usir mereka dari sini!"


Teri tidak tau kenapa mereka begitu membenci dirinya bahkan keluarganya yang sama sekali tidak ada hubungannya jadi ikut terseret.


Luna yang saat itu tidak pernah mendapatkan perilaku hina seperti ini hanya bisa terpejam dengan tangannya yang terus memeluk erat tubuh Teri, begitu pula dengan Regis yang sedang bersusah payah melindungi istri dan juga anaknya.


"Jangan didengarkan masuk saja ke dalam ke kereta," bisik Regis pada Luna dan Teri.


Setelah mereka berhasil masuk kedalam kereta kuda, kusir pun langsung membawa mereka pergi dari amukan para warga, didalam kereta Teri menatap ke arah luar dimana di sana ada Dylan dan juga Iris yang sedang menatap dirinya.


"Aku benci mereka semua!"


Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Teri sebelum akhirnya Regis membawa kepala Teri untuk bersandar pada pundaknya.


"Tidak apa-apa nak, lupakan saja semua kejadian ini, hidup itu pasti akan indah jika keburukan sudah kau lewati."


Tak lama Regis mengelus kepala Teri, setetes air mata keluar dari pelupuk mata Teri, dirinya tidak menyangka bahwa orang yang sangat dia cintai berhasil membuat dirinya seperti ini, bahkan keluarganya pun ikut terseret.


"Ayah... Ku mohon setelah kejadian ini, jangan pernah jodohkan saya lagi," isak Teri yang membuat Luna ikut merasa sedih.


"Iya sayang, maafkan ayah yang telah salah memilihkan mu pasangan," balas Regis yang kembali meneteskan air mata.


...~*~...


2 Minggu setelah Teri bebas, Regis masih dibuat sibuk dengan pekerjaan yang saat ini sedang dijalaninya, tak ada satupun yang tersisa dari harta yang dulu dia miliki.


Yang ada hanya pakaian, serta sedikit tabungan yang sudah dia simpan jauh-jauh hari, bahkan pelayannya yang dulu dekat dengan dirinya pun memutuskan untuk mengundurkan diri.


Bukan salah mereka juga memilih untuk berpisah mengingat bahwa saat ini kelurganya sudah bukan siapa-siapa lagi, bahkan dirinya seperti bukan putri bangsawan lagi, namun lebih kepada rakyat jelata yang telah diusir ke pinggir desa.

__ADS_1


"Teri ayo... Turun kita makan bersama."


Teri hanya diam mendengar suara Luna yang sedang memanggil dirinya, pikirannya kembali kalut dengan matanya yang terus menatap botol kecil berisikan racun yang begitu berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia.


"Aku memilih untuk menyerah..." Lirih Teri dengan tatapan yang begitu sayu.


"Ayah, ibu, maaf saat ini anak kesayangan kalian akan pergi untuk selama-lamanya."


Dengan memejamkan matanya Teri meminum semua botol itu tanpa tersisa, ingatan soal dirinya yang pertama kali bertemu dengan Dylan pun terlintas, hingga pada saat Dylan yang membuang dirinya layaknya sebuah sampah.


"Agh! Agh! Sakit! Sakit!"


Teri berputar kesana-kemari layaknya orang yang sedang kehilangan akal, matanya menatap ke atas merasakan sesi panas yang begitu menyakitkan di seluruh tubuhnya.


"AGH!"


Walaupun dia berteriak sangat keras, namun suaranya sama sekali tidak keluar apakah pita suaranya sudah rusak? Sebelum dirinya menutup mata hal pertama yang dia lihat adalah sosok Lina yang sedang membuka pintu kamarnya.


"Ibu..."


...~*~...


Deg!


Dengan jantung yang berdetak kencang, Ana membuka matanya dengan perasaan campur aduk.


Dirinya langsung duduk di ranjang dengan kepalanya yang masih terasa sakit, matanya langsung beralih ke arah jendela dimana matahari sudah mulai tenggelam, tidak terasa hari sudah mau menjelang malam, cukup lama juga dirinya tertidur.


"Sayang kau sudah bangun?" tanya Luna yang baru saja membuka pintu kamar Teri.


"Iya Bu."


"Kalo begitu turunlah, bantu ibu mempersiapkan makan malam."


"Baik bu."


Setelah Luna pergi, Ana langsung turun dari ranjang tempat dia tidur, menunju kamar mandi, kali ini dirinya akan membersihkan diri dulu sebelum dia turun ke bawah untuk membantu Luna menyiapkan makan malam.


"Aku sedikit bingung, kira-kira yang tadi itu mimpi atau ingatan, Agh! Entah kenapa tiba-tiba saja aku lupa dengan alur Novel yang sudah aku tulis."


"Tapi... Kenapa rasanya begitu nyata? Apa... Yang tadi itu benar-benar ingatan Teri?" tanya Ana yang semakin dibuat Penasaran.


TBC

__ADS_1


__ADS_2